← Garansi Seumur Hidup

Chapter Forty Five

Aku Cuma Niru Kamu

[POV: Hari] · [Hari ke-354]


Aku bangun jam lima.

Aku menyetrika kemejaku sendiri — kerah dulu, lalu bahu, lalu lengan, lalu badan.

Aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya.

Empat belas bulan lalu, pagi hari ketiga puluh, aku bangun jam lima dan menyetrika seragamku dan Sekar bertanya kenapa aku menyetrika dua kali.

Pagi itu Sekar tidak bertanya apa-apa.

Dia duduk di anak tangga dengan susu kotak di tangan dan memandangiku selama sekitar sepuluh menit, dan waktu aku selesai, dia berkata:

“Kak.”

“Hm?”

“Kak Kanaya dateng jam sembilan?”

“Iya.”

“Kakak bakal cerita semuanya?”

Aku mematikan setrika.

“Iya.”

Dan Sekar menaruh susu kotaknya di anak tangga dan berkata sesuatu yang membuatku harus duduk di lantai:

“Bagus,” katanya. “Aku capek.”


Dia datang jam sembilan kurang tujuh menit.

Aku tahu waktunya karena aku berdiri di teras sejak jam delapan.

Bu Nur tidak berteriak dari warungnya pagi itu. Aku memperhatikan itu. Dia melihat Kanaya lewat, dan mengangkat tangannya setengah, dan menurunkannya lagi, dan kembali ke wajannya.

Gang itu tahu.

Gang ini selalu tahu. Aku sudah delapan belas tahun tinggal di sini dan aku belum pernah sekali pun berhasil menyembunyikan apa pun dari Gang Melati; yang bisa aku sembunyikan cuma dari orang di luar gang.

“Har.”

“Masuk.”

“Ibumu—”

“Ibu di dalam,” kataku. “Ibu yang minta ada di dalam.”


Kami duduk di ruang jahit.

Aku memilih ruangan itu dengan sengaja, dan aku ingin mencatat itu, karena aku memilihnya semalam sambil tidak bisa tidur.

Ruang tengah lebih nyaman. Teras lebih terang. Dapur ada tehnya.

Aku memilih ruang jahit karena di ruang jahit ada tempat kosong berbentuk persegi panjang di lantai dekat jendela, dan aku tidak mau ada satu pun bagian dari pagi itu yang lebih halus dari yang seharusnya.

Kanaya duduk di kursi kecil di sudut.

Aku duduk di kursi di seberangnya — kursi yang biasanya ibu pakai, karena kursiku sudah tidak ada mejanya.

“Har.”

“Ibu gagal ginjal,” kataku.


Aku mengucapkannya dalam empat kata karena aku sudah mencoba mengucapkannya dengan cara lain semalam, sembilan kali, dan semua versi yang lebih halus ternyata lebih kejam.

Kanaya tidak bergerak.

“Kronis,” kataku. “Stadium lima. Hasilnya keluar tanggal dua puluh sembilan Januari.”

“Har—”

“Ginjalnya nggak bisa balik. Nggak ada obatnya. Yang ada cuma cuci darah.”

Ruang jahit itu sunyi sekali.

“Dua kali seminggu,” kataku. “Empat jam sekali cuci. Seumur hidup, sampai ada donor, dan daftar tunggu donor itu tahunan.”

“Tante Ratih—”

“Ibu udah cuci darah dari bulan Februari,” kataku. “Selasa sama Jumat. Pagi.”

Dan aku melihat wajahnya waktu dia menghitung, karena orang itu selalu menghitung, karena itu penyakitnya sama seperti aku.

Selasa dan Jumat pagi.

Empat pagi aku tidak ada di gerbang.


“Puskesmasnya nggak ada unit cuci darah,” lanjutku. “Yang terdekat di rumah sakit pinggir kota. Kami dapet slot pagi karena ada yang mundur.”

“Har, kamu—”

“BPJS nutup cuci darahnya,” kataku. “Itu bener. Aku nggak bohong soal itu. Yang nggak ditutup itu obat penunjang, transportasi, sama makanan khusus.”

Aku menyebutkan angkanya.

Aku menyebutkannya karena aku sudah memutuskan semalam bahwa aku tidak akan menghaluskan satu pun bagian, dan karena angka itu satu-satunya bahasa yang aku punya untuk menjelaskan kenapa.

Kanaya menutup mulutnya dengan tangan.

“Har, itu per bulan?”

“Iya.”

“Itu—”

“Iya.”


“Terus rumah sakitnya bilang apa?”

“Bulan Juni mereka bilang slot pagi kami ditarik,” kataku. “Ada tiga pasien baru yang tinggalnya lebih deket. Kami dapet slot sore, jam empat.”

“Terus?”

“Terus pulangnya jam sembilan malem, dua kali seminggu, naik angkot dua kali sama jalan kaki dua puluh menit.” Aku memandangi tempat kosong di lantai. “Ibu lima puluh tiga tahun dan baru selesai cuci darah empat jam.”

Aku tidak melanjutkan kalimat itu karena tidak ada yang perlu dilanjutkan.

“Jadi kami pindah,” kataku.


“Ke mana.”

“Ke ibu kota provinsi,” kataku. “Unit cuci darahnya empat, slotnya banyak, dan ada konveksi yang nerima aku.”

“Konveksi.”

“Iya.”

“Har, kamu keterima Teknik Industri.”

“Iya.”

“Kamu bilang kamu nunda setahun.”

“Iya.”

“Har.”

Dan aku menjawabnya, karena aku sudah berjanji semalam bahwa aku tidak akan membiarkan satu pun kalimat setengah jadi keluar dari ruangan ini.

“Aku nggak nunda,” kataku. “Aku nggak daftar ulang. Batas daftar ulangnya lewat tanggal sembilan Juni.”


Kanaya berdiri.

Dia berdiri terlalu cepat dan kursi kecil itu jatuh ke belakang, dan bunyinya keras sekali di ruangan yang tidak ada mesinnya.

“Kamu bilang setahun.”

“Iya.”

“Kamu bilang kamu daftar lagi tahun depan.”

“Iya.”

“KAMU BOHONG?”

“Enggak,” kataku.

Dan itu jawaban yang paling jahat yang aku berikan sepanjang pagi itu, dan aku tahu itu waktu mengucapkannya, dan aku tetap mengucapkannya karena itu benar.

“Aku bilang aku kerja dulu setahun terus daftar lagi tahun depan,” kataku. “Aku emang mau daftar lagi. Kalau bisa.”

“Har—”

“Aku nggak bilang aku masih megang tempatnya.”

Kanaya berdiri di tengah ruang jahit dan menatapku, dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya, dan yang berubah itu bukan kemarahan.

Yang berubah adalah dia mulai mengerti bentuknya.


“Berapa banyak,” katanya.

“Apa?”

“Berapa banyak yang kayak gitu, Har.” Suaranya rendah sekali. “Berapa banyak kalimat yang bener tapi bukan semuanya.”

Aku sudah menghitungnya semalam.

Aku menghitungnya dari bulan Januari, satu per satu, sambil duduk di lantai ruang jahit di sebelah tempat kosong berbentuk persegi panjang.

“Dua puluh satu,” kataku.

Dan Kanaya duduk kembali di lantai, bukan di kursi, karena kursinya masih jatuh dan tidak ada satu pun dari kami yang mengangkatnya.


“Sebutin.”

“Nay—”

“Sebutin, Har.”

Jadi aku menyebutkannya.

Aku menyebutkan semuanya, dua puluh satu, berurutan, dengan tanggalnya, karena aku sudah menyusunnya semalam persis seperti aku menyusun urutan pekerjaan sebelum memotong kain.

Empat pagi di bulan Januari — bener, itu memang ngantar pesanan, TU, dan ibu minta tolong. Tapi di antara ketiganya ada rumah sakit.

Obat di laci bulan Maret — bener, itu memang buat maag sama tensi. Dua strip itu obat penunjang cuci darah.

Kertas terlipat empat — hasil lab. Kamu megang delapan detik.

Ukuran empat belas plus enam, bulan Februari — bener, penjahit nyatet. Yang enam itu buat ibu, biar ibu bisa ngerjain punyamu kalau aku nggak di sini.

Kelim tiga senti — bener, biar bisa diturunin dua kali. Yang nurunin nanti bukan aku.

Benang Jepang di rak — bener, yang biasa juga bisa. Aku nggak beli karena selisihnya dua puluh dua ribu dan dua puluh dua ribu itu ongkos angkot pulang pergi rumah sakit sekali.

Bahan gaun dua ratus empat puluh — bener, dari delapan belas pesanan. Delapan belas pesanan itu buat bulan Maret. Bahan gaunnya dari sisa yang harusnya buat bulan April.

Lengan kemeja ayah dipotong satu dari satu setengah — bener, aku masih tumbuh. Aku juga mau kemeja itu masih muat kalau nanti Sekar yang pakai.

Aku menyebutkan semuanya sampai nomor dua puluh satu.

Kanaya tidak menangis sekali pun selama aku menyebutkannya.

Dia duduk di lantai ruang jahit dengan punggung ke tembok, mendengarkan, dan sekali dia mengangkat tangannya untuk minta berhenti, dan aku berhenti, dan dua puluh detik kemudian dia bilang “lanjut” dan aku melanjutkan.


“Nomor dua puluh dua,” katanya waktu aku selesai.

“Cuma dua puluh satu.”

“Ada dua puluh dua, Har.”

“Nay—”

“Tanggal dua belas Agustus,” katanya.

Aku menutup mulutku.

“Kamu ngitung dari kalender akademik bulan Januari,” katanya. “Kamu ngukur aku bulan Februari. Kamu jahit tanggal itu di kerah gaunku bulan Mei.”

“Iya.”

“Kenapa.”

Dan aku memberikan jawaban yang aku susun selama tiga bulan dan yang aku tidak pernah kira akan aku ucapkan keras-keras.

“Karena aku butuh tanggalnya,” kataku.


“Apa?”

“Nay, aku nggak bisa hidup di sesuatu yang nggak ada ujungnya.”

Aku mendengar suaraku sendiri dan suaraku rata sekali dan itu membuatku benci diriku.

“Ibu cuci darah dua kali seminggu seumur hidup,” kataku. “Nggak ada tanggalnya. Nggak ada ‘sampai bulan depan’, nggak ada ‘setelah ini sembuh’. Cuma Selasa sama Jumat, terus Selasa lagi, terus Jumat lagi, sampai ada donor yang mungkin nggak akan ada.”

Kanaya tidak bergerak.

“Aku nyoba, Nay.” Aku memandangi tanganku. “Aku nyoba dari tanggal dua puluh sembilan Januari sampai sekitar minggu kedua Februari. Aku nyoba hidup tanpa tahu kapan berhenti.”

“Terus?”

“Terus aku nggak bisa,” kataku. “Aku nggak sanggup. Aku bangun tiap pagi dan yang ada di depan aku itu nggak ada ujungnya sama sekali, dan aku nggak punya satu pun cara buat berdiri di situ.”

Aku menelan ludah.

“Jadi aku bikin satu.”


Ruang jahit itu sunyi selama mungkin setengah menit.

“Kamu bikin tanggal,” katanya.

“Iya.”

“Kamu ambil tanggal keberangkatanku terus kamu pakai buat—”

“Iya.”

“Har, itu—”

“Aku tahu.”

“Kamu jadiin aku tanggal kadaluarsa kamu.”

Dan aku duduk di kursi ibuku di ruang jahit yang tidak ada mesinnya dan berkata:

“Iya.”


Dia berdiri lagi.

“KENAPA KAMU NGGAK BILANG.”

Aku tidak menjawab.

“Har, tanggal dua puluh sembilan Januari.” Suaranya sudah pecah total. “Itu tujuh bulan. Aku ke rumah ini tiap Sabtu selama tujuh bulan—”

“Tiga puluh empat kali.”

“—AKU NGGAK NANYA JUMLAHNYA.”

“Maaf.”

“Aku duduk di kursi itu tiga puluh empat kali dan ibumu cuci darah dua kali seminggu di ruangan sebelah kota dan aku nggak tahu.”

“Iya.”

“Kenapa kamu nggak bilang.”

Dan aku memberikan jawabannya, dan jawabannya bukan jawaban yang baik, dan aku tidak berusaha membuatnya terdengar baik.

“Karena kalau aku bilang bulan Januari, kamu bakal nyusun,” kataku.


Kanaya berhenti.

“Kamu bakal buka laptop malem itu juga,” kataku. “Kamu bakal nyari daftar unit cuci darah di kota ini, kamu bakal nelepon tiga rumah sakit, kamu bakal nyusun map berisi jam operasional sama nama petugasnya.”

“Har—”

“Kamu bakal nemuin cara buat kami tetep di sini.” Aku mengangkat kepalaku. “Dan kamu bakal berhasil, Nay. Kamu selalu berhasil.”

Dia tidak membantah.

Itu bagian yang paling penting dari seluruh pagi itu, dan aku ingin mencatatnya: dia tidak membantah satu detik pun.

“Terus kenapa itu jelek?” katanya akhirnya, dan suaranya sangat kecil.

“Karena kamu bakal bayarin.”

“Aku punya—”

“Aku tahu kamu punya.”

“Har, kalau aku punya kenapa nggak—”

“Karena aku udah pernah,” kataku.


“Empat bulan,” kataku. “Juli sampai November tahun lalu.”

Kanaya menutup matanya.

“Kamu nyusun map beasiswa. Kamu nyariin ibu sebelas pelanggan. Kamu ngerjain itu empat bulan tanpa nama.”

“Har, aku minta maaf soal itu—”

“Aku nggak lagi nagih,” kataku. “Aku lagi jelasin.”

Aku memandangi tempat kosong di lantai dekat jendela.

“Empat bulan itu aku bangun tiap pagi ngerasa aku akhirnya sanggup,” kataku. “Aku naruh uang di kaleng ibu. Aku bilang ke ibu aku bisa. Bulan Oktober itu bulan pertama sejak ayah meninggal di mana kami nggak ngitung apa-apa di akhir bulan.”

“Har—”

“Terus aku tahu itu dibeliin orang.”

Ruangan itu tidak ada suaranya sama sekali.

“Dan aku ngamuk sama ibuku di dapur,” kataku. “Aku bilang ibu jual aku. Aku bilang itu ke ibuku sendiri, Nay, di dapur, dan ibuku waktu itu belum tahu ginjalnya rusak.”

Aku berhenti karena aku harus berhenti.

“Delapan bulan aku nggak bisa ngelupain kalimat itu,” kataku. “Delapan bulan.”


“Jadi kamu diem,” kata Kanaya.

“Iya.”

“Biar kamu nggak jadi proyek lagi.”

“Iya.”

“Har, itu—”

“Aku mau tujuh bulan,” kataku, dan suaraku akhirnya tidak rata lagi. “Aku mau tujuh bulan di mana aku bukan orang yang lagi diurus.”

Aku mengusap wajahku dengan telapak tangan.

“Aku mau ada satu bagian dari hidup aku di mana kamu ketawa gara-gara kangkungnya kayak lap,” kataku. “Bukan bagian di mana kamu nyusun jadwal cuci darah ibuku.”


Dan lalu Kanaya mengucapkan kalimat yang sudah aku tunggu sejak jam lima pagi.

“Kamu ngambil hak aku buat milih.”

Aku mengangkat kepalaku.

Dan aku menjawabnya dengan kalimat yang persis sama seperti yang dia berikan kepadaku di depan pagar rumahnya bulan November, dengan urutan yang sama, tanpa satu pun kata yang aku ubah.

“Iya,” kataku. “Aku ngambil itu.”

“Har—”

“Kamu bener.”

“Aku belum—”

“Kamu bener, Nay,” kataku. “Aku nggak bantah. Nggak ada bagian yang aku bantah.”

Dan dia berdiri di tengah ruang jahit itu dengan mulut terbuka, dan tidak ada satu pun kalimat yang keluar, dan aku sudah tahu itu akan terjadi karena aku pernah berdiri persis di tempat dia berdiri.

Aku tahu persis rasanya berteriak ke orang yang bilang “iya, kamu bener” setiap kali.

Aku tahu persis berapa lama kemarahan bertahan kalau tidak ada yang melawan.

Aku tahu semuanya, karena orang di depanku yang mengajari aku, empat belas bulan lalu, di kelas kosong jam empat sore.


“Kenapa kamu nggak marah,” katanya.

“Aku marah.”

“Kamu nggak keliatan—”

“Nay, aku marah tiap hari sejak tanggal dua puluh sembilan Januari,” kataku. “Aku cuma nggak marah sama kamu.”

Dia menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Har, ini nggak adil.”

“Iya.”

“Aku nggak boleh marah sama kamu.”

“Kamu boleh.”

“AKU NGGAK BOLEH, HAR.” Dia menurunkan tangannya dan wajahnya berantakan total. “Aku ngelakuin ini duluan. Tiga puluh hari. Aku bohongin kamu tiga puluh hari terus aku minta kamu marah dan kamu nggak mau marah, dan sekarang kamu ngelakuin hal yang sama selama tujuh bulan dan aku—”

Dia berhenti.

Dan aku mengucapkan enam kata yang aku susun semalam dan yang aku tahu akan menutup seluruh ruangan itu.

“Aku cuma niru kamu, Nay.”


Dia menangis di lantai ruang jahit itu selama mungkin sepuluh menit.

Aku tidak mendekat.

Aku ingin mencatat itu karena itu satu-satunya bagian dari pagi itu yang aku sesali sampai sekarang: aku duduk di kursi ibuku dan tidak bergerak sama sekali selama sepuluh menit, dan aku tidak melakukannya karena kejam.

Aku melakukannya karena kalau aku mendekat, aku akan bilang nggak apa-apa.

Aku sudah bilang nggak apa-apa ke orang itu ratusan kali dalam empat belas bulan, dan setiap kali aku mengucapkannya aku menutup satu pintu, dan pagi itu aku memutuskan untuk tidak menutup satu pun.

Jadi aku duduk di situ dan membiarkannya menangis sampai selesai.


Ibu masuk jam sepuluh.

Aku tidak memanggilnya. Dia masuk sendiri, pelan, dengan tangan di kusen pintu, dan berdiri di ambang ruang jahitnya sendiri.

“Nak Kanaya.”

Kanaya berdiri terlalu cepat lagi.

“Tante—”

“Duduk.”

“Tante, saya—”

“Nak.” Ibu berjalan ke kursi dan duduk dengan satu tangan di sandaran, pelan sekali, dengan cara yang sudah aku hafal sejak bulan Februari. “Ibu mau ngomong satu hal terus abis itu ibu masuk lagi.”

Ruangan itu diam.

“Ibu nyuruh dia nggak cerita.”

Aku menoleh.

“Bu—”

“Diem, Har.” Ibu tidak melihat ke arahku. “Nak Kanaya, ibu yang nyuruh.”

“Tante, dia—”

“Bulan Februari ibu bilang ke anak ibu: jangan cerita ke siapa-siapa sebelum semuanya jelas.” Ibu melipat tangannya di pangkuan. “Ibu yang bilang. Ibu inget hari apa, ibu inget jamnya.”

Kanaya tidak bisa mengeluarkan suara.

“Dan waktu semuanya udah jelas bulan April,” kata ibu, “ibu nggak nyuruh dia cerita.”

Ruang jahit itu betul-betul sunyi.

“Kenapa nggak, Tante?”

Dan ibuku duduk di kursinya di ruangan yang mesinnya sudah tidak ada, dan berkata:

“Karena anak ibu keliatan seneng, Nak.”


“Dua bulan itu,” kata ibu. “Februari sama Maret. Ibu lihat anak ibu ketawa di ruangan ini. Ibu lihat dia pulang jam sembilan malem terus langsung cerita soal kangkung.”

Dia mengusap tangannya sendiri, satu kali.

“Ibu udah lima puluh tiga tahun, Nak Kanaya. Ibu udah ngubur suami ibu. Ibu tahu persis apa yang ibu lakuin waktu ibu diem.”

“Tante—”

“Ibu milih dua bulan,” katanya. “Ibu tahu harganya, dan ibu tetep milih, dan ibu nggak nyesel.”

Dan ibu berdiri, pelan, dengan satu tangan di sandaran kursi.

“Jadi kalau kamu mau marah, Nak,” katanya, “marah sama ibu dulu. Baru anak ibu.”

Dia berjalan keluar.

Dan Kanaya duduk di lantai ruang jahit itu dan tidak bisa marah kepada siapa pun sama sekali, dan itu yang paling buruk dari seluruh pagi itu, karena aku sudah pernah berdiri di tempat itu juga.


Kami duduk di ruangan itu sampai jam dua belas.

Sekar datang jam sebelas membawa dua gelas teh dan menaruhnya di sudut meja, jauh dari kain, di tempat yang tidak akan tumpah kalau siku bergerak — di meja yang sekarang tidak ada kainnya sama sekali.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia duduk di lantai di sebelah kursi kecil itu, seperti tiga puluh empat hari Sabtu, dan tidak menggambar apa pun.

Jam dua belas kurang, Kanaya bicara.

“Har.”

“Iya.”

“Tanggal dua belas.”

“Iya.”

“Kamu berangkat tanggal berapa?”

Dan aku menjawabnya, karena aku tidak akan berbohong satu kali pun lagi seumur hidupku kepada orang itu.

“Tiga belas,” kataku.

Kanaya menutup matanya.

“Sehari setelah aku.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku duluan, kamu harus nganter aku.” Aku memandangi lantai. “Terus kamu bakal berangkat ke Yogya dua hari kemudian sambil bawa itu.”

“Har—”

“Dan kalau bareng, kita harus pisah di stasiun.” Aku menggeleng. “Aku nggak sanggup, Nay. Aku udah ngitung semua versinya dan yang itu aku nggak sanggup.”

Dia membuka matanya.

“Jadi kamu ngatur biar aku pergi duluan.”

“Iya.”

“Biar aku nggak lihat kamu pergi.”

“Iya.”

Dan Kanaya Larasati duduk di lantai ruang jahit rumahku, di sebelah adikku yang berumur sepuluh tahun, dengan dua gelas teh yang sudah dingin di meja yang tidak ada kainnya, dan berkata:

“Har, itu bukan buat aku.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Itu buat kamu,” katanya. “Semuanya. Semua yang kamu susun tujuh bulan ini.”

Dan aku duduk di kursi ibuku dan tidak bisa membantah satu pun kalimatnya, karena dia benar, dan karena dia orang pertama yang mengatakannya, dan karena aku sudah menunggu tujuh bulan supaya ada yang mengatakannya.

“Iya,” kataku.

Dan aku menangis untuk kedua kalinya sejak ayahku meninggal.


Sebelas hari.

Aku menghitungnya sambil duduk di situ, karena aku selalu menghitung, karena itu penyakitku dan aku sudah berhenti berpura-pura akan sembuh.

Sebelas hari.

Dan Kanaya berdiri, dan mengangkat kursi kecil yang tadi jatuh, dan mengembalikannya ke posisinya di sudut ruangan.

Lalu dia berkata satu kalimat, dan kalimat itu satu-satunya hal dari pagi itu yang aku bawa ke kota lain dan tidak pernah aku taruh:

“Ya udah,” katanya. “Sebelas hari.”