Chapter Forty Nine
Tambalan yang Kelihatan
[POV: Hari] · [Hari ke-871]
Setahun setelah lorong rumah sakit itu, ini yang berubah.
Aku menuliskannya dalam bentuk daftar karena itu satu-satunya bentuk yang aku bisa, dan karena aku sudah berhenti berpura-pura akan berubah soal itu.
Kanaya datang sebulan sekali. Kereta jam enam empat puluh, sampai jam dua siang, pulang Minggu sore. Dua belas kali dalam setahun; aku menghitungnya, dan dia tahu aku menghitungnya, dan dia berhenti memprotes di kali keempat.
Fikri datang dua kali. Yang pertama tanpa memberi tahu, di bulan Maret, dan dia berdiri di gang sempit itu selama empat puluh detik sambil melihat ke sekeliling dan berkata “oke” dan masuk. Dia tidur di lantai ruang depan dua malam dan tidak mengucapkan satu kalimat yang berarti dan membetulkan HP Sekar yang layarnya sudah retak sejak bulan Oktober.
Bagas mengirim uang di bulan Mei.
Aku mengembalikannya.
Dia mengirimnya lagi di bulan Juni.
Aku mengembalikannya lagi.
Di bulan Juli dia menelepon dan berkata, “Har, gue nyerah. Tapi gue mau nawarin sesuatu yang lain,” dan yang dia tawarkan adalah pekerjaan: dia menghubungkan ibu ke sepupunya yang punya usaha seragam sekolah, dua puluh setel per bulan, dikirim, dikerjakan di rumah.
Aku menerimanya.
Aku ingin mencatat bahwa aku menerimanya dalam waktu kurang dari empat detik, dan bahwa aku menghabiskan tiga bulan sebelumnya mengembalikan amplop, dan bahwa isinya secara matematis kurang lebih sama.
Perbedaannya cuma satu, dan perbedaannya adalah seluruh isi kepalaku.
Dan ini yang tidak berubah.
Ibu cuci darah Selasa dan Jumat.
Nomor urutnya di daftar tunggu donor naik dari seribu sekian ke delapan ratus sekian dalam setahun. Kalau naiknya segitu terus, giliran ibu datang dalam waktu sekitar empat tahun.
Aku menghitung itu tiga kali dan mendapat angka yang sama tiga kali dan berhenti menghitungnya.
Aku bekerja di konveksi jam tujuh sampai jam enam.
Lalu borongan sendiri dari jam tujuh malam sampai jam sebelas.
Lalu, sejak bulan Agustus, dua puluh setel seragam dari sepupunya Bagas, yang aku kerjakan hari Minggu.
Tujuh hari seminggu. Empat belas jam sehari di lima hari, sepuluh jam di dua hari lainnya.
Aku tahu angkanya karena aku menghitungnya.
Aku ingin mencatat bahwa aku tahu angkanya selama setahun penuh dan tidak sekali pun berhenti untuk menanyakan angka itu kepada diriku sendiri.
Aku jatuh tanggal delapan belas Januari, jam dua siang, di lantai dua konveksi.
Aku tidak akan menceritakan bagian itu panjang-panjang karena aku tidak mengingatnya panjang-panjang.
Yang aku ingat: aku sedang berdiri di depan meja potong, dan aku sedang menghitung sesuatu — lebar kain dikali jumlah setel — dan angkanya tidak selesai.
Angkanya berhenti di tengah.
Dan aku ingat berpikir, dengan sangat jelas, aku belum selesai ngitung, dan itu pikiran terakhir yang aku punya sebelum lantai lantai dua konveksi itu naik ke arah wajahku.
Aku sadar di IGD jam empat sore.
Anemia berat. Tensi tujuh puluh per empat puluh. Dehidrasi. Dan satu kata yang dipakai dokternya yang aku ingat karena aku belum pernah mendengarnya dipakai untuk orang: kelelahan kronis.
Dokternya berumur mungkin tiga puluh dan kelihatan lebih capek dari aku.
“Kamu tidur berapa jam?”
“Empat.”
“Sehari?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
Aku memikirkan itu di brankar IGD dengan infus di tangan.
“Sebelas bulan,” kataku.
Dan dokter itu menaruh penanya dan memandangiku dengan wajah yang aku kenal, karena aku pernah melihat wajah itu di ruang guru, di parkiran, di ruang jahit di Gang Melati nomor empat.
Wajah orang yang mau memarahi seseorang dan menyadari bahwa memarahi tidak akan berguna.
Ibu turun dari lantai dua jam setengah lima.
Hari Jumat.
Ibu sedang cuci darah waktu aku masuk IGD, dan tidak ada satu pun orang yang berani memberitahunya sampai selesai, dan begitu selesai — dengan tangan kiri masih diperban di tempat fistulanya, empat jam setelah darahnya dicuci, dengan tekanan darah yang selalu turun setelah cuci — perempuan lima puluh empat tahun itu turun satu lantai dengan perawat yang memegangi sikunya.
Dan berdiri di ujung brankarku.
“Bu—”
“Diem.”
“Bu, aku nggak apa-apa—”
“HAR.”
Aku belum pernah mendengar ibuku berteriak.
Delapan belas tahun. Dua puluh, sekarang. Dan aku belum pernah sekali pun mendengar perempuan itu menaikkan suaranya di ruangan yang ada orang lainnya.
IGD itu berhenti bergerak selama mungkin dua detik.
“Kamu tahu ibu barusan ngapain?” katanya, dan suaranya sudah turun lagi, dan yang tersisa jauh lebih buruk dari teriakan. “Ibu baru selesai cuci darah, terus ibu turun satu lantai, buat lihat anak ibu di brankar.”
“Bu—”
“Ibu berdiri di sini, Har.” Dia memegang besi brankar dengan tangan yang tidak diperban. “Sambil diperban. Buat lihat kamu.”
Dan aku berbaring di brankar IGD dengan infus di tangan dan tidak punya satu pun kalimat.
Aku dirawat dua malam.
Malam kedua, jam sepuluh, ibu duduk di kursi di sebelah tempat tidur dan berkata:
“Har, ibu mau ngomong. Kamu nggak usah jawab.”
“Iya, Bu.”
“Ibu udah mikirin ini sepuluh bulan dan ibu nggak pernah nemu cara ngomongnya. Sekarang ibu nggak peduli caranya bagus atau enggak.”
Ruangan itu — kamar kelas tiga, enam tempat tidur, tirai di antaranya — berisik oleh orang lain.
“Kamu inget nambal cabut benang?”
Aku menoleh.
“Iya, Bu.”
“Ibu ngajarin kamu umur sebelas.”
“Iya.”
“Kenapa ibu ngajarin?”
Aku sudah tahu jawabannya sejak bulan November tahun lalu, karena Kanaya menceritakannya kepadaku di teras rumah di Gang Melati, karena ibuku menceritakannya kepada Kanaya dan tidak pernah kepadaku.
“Karena sepatuku solnya lepas dua kali,” kataku. “Karena seragamku dipakai sampai kelas dua SMP.”
Ibu mengangguk.
“Sekarang ibu mau ngomongin bagian yang ibu nggak pernah ceritain ke siapa-siapa,” katanya. “Termasuk ke Nak Kanaya.”
“Nambal cabut benang itu nggak ibu temuin sendiri,” katanya. “Bapakmu yang ngajarin ibu.”
“Iya, Bu.”
“Dan ibu ngajarin kamu setahun setelah dia meninggal, waktu kita nggak punya apa-apa.”
Dia melipat tangannya di pangkuan.
“Har, ibu salah.”
Aku mengangkat kepalaku dari bantal.
“Ibu ngajarin anak umur sebelas cara bikin kerusakan jadi nggak kelihatan,” katanya. “Di tahun paling jelek dalam hidup kita.”
“Bu—”
“Ibu pikir ibu ngasih kamu keterampilan.” Suaranya rata sekali, dan aku sudah cukup lama hidup untuk tahu apa artinya nada itu di mulut perempuan itu. “Ibu nggak sadar ibu lagi ngajarin kamu aturan hidup.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Sembilan tahun, Nak.” Dia memandangi tanganku yang ada infusnya. “Sembilan tahun kamu ngerjain semua yang rusak biar nggak kelihatan pernah rusak. Baju orang. Kancing orang. Diri kamu sendiri.”
“Bu.”
“Ibu belum selesai.”
“Iya, Bu.”
Dan ibuku duduk di kursi plastik di kamar kelas tiga rumah sakit umum jam sepuluh malam, dan berkata:
“Ada robek yang nggak bisa dijahit tak kasat mata, Har.”
Aku menutup mataku.
“Kalau robeknya kegedean, kalau kainnya udah tipis, kalau benangnya nggak cukup — kamu nggak bisa cabut benang dari kelim terus dianyam balik,” katanya. “Nggak ada bahannya. Kalau dipaksain, kainnya sobek di sebelahnya.”
“Iya, Bu.”
“Yang bisa cuma satu.”
“Ditambal.”
“Ditambal,” katanya. “Kamu potong kain lain, kamu pasang di atasnya, kamu jahit keliling.”
Dia menoleh ke arahku.
“Dan tambalannya kelihatan, Har,” katanya. “Selamanya. Warnanya beda, teksturnya beda, jahitannya kelihatan dari luar. Semua orang yang lihat baju itu bakal tahu bajunya pernah robek.”
Kamar itu berisik oleh orang lain, dan sunyi sekali di antara kami.
“Dan itu bukan kegagalan,” kata ibuku. “Itu bajunya masih bisa dipakai.”
Aku menangis di kamar kelas tiga rumah sakit umum itu untuk yang ketiga kalinya sejak ayah meninggal.
Ibu tidak menyentuhku.
Dia duduk di kursi itu sampai aku selesai, dengan tangan di pangkuan, dengan tangan kiri yang diperban.
Lalu dia berkata:
“Ginjal ibu nggak bisa dijahit tak kasat mata, Nak.”
“Bu—”
“Dan hidup kita nggak bisa dibikin kelihatan kayak nggak pernah kejadian apa-apa.” Dia mengangkat bahu. “Kamu nyoba setahun. Kamu kerja empat belas jam sehari biar nggak ada satu pun orang yang tahu kita lagi susah.”
“Aku nggak—”
“Har.”
Aku menutup mulutku.
“Kamu ngembaliin amplop Bagas dua kali,” katanya. “Kamu nolak Nak Kanaya sepuluh kali. Kamu bilang ke Bude Wati sebelah bahwa kita nggak butuh apa-apa, dan Bude Wati itu ngasih sayur ke Sekar tiap Selasa sama Jumat selama sebelas bulan karena dia tahu kamu bohong.”
Aku menoleh.
“...Apa?”
“Sebelas bulan, Nak.” Ibu tersenyum dengan cara yang sangat capek. “Kamu pikir Sekar makan apa hari Selasa sama Jumat waktu kita di rumah sakit sampai jam sembilan malem?”
Ini yang berubah setelah dua malam itu.
Aku menuliskannya dalam bentuk daftar juga, dan aku ingin mencatat bahwa daftar ini jauh lebih susah aku tulis daripada daftar mana pun dalam hidupku.
Satu. Aku berhenti dari borongan malam. Semuanya. Empat belas jam jadi sepuluh.
Penghasilan turun sekitar sepertiga.
Dua. Ibu kembali bekerja, dengan aturan yang dia buat sendiri dan yang tidak bisa aku bantah: empat jam sehari, lima hari seminggu, tidak pada hari cuci darah.
Aku menolak selama enam hari.
Aku kalah karena ibu berkata satu kalimat: “Har, kalau ibu nggak boleh ngerjain apa-apa, ibu itu bukan orang sakit. Ibu barang.“
Tiga. Bude Wati.
Aku mengetuk pintunya hari Minggu pagi dan mengucapkan terima kasih untuk sebelas bulan sayur, dan perempuan itu berdiri di ambang pintunya dan berkata “aduh, Nak, itu mah nggak seberapa” dan menangis di depanku selama dua puluh detik dan menyuruhku masuk dan memberiku dua bungkus rendang.
Aku menerimanya.
Empat. Kanaya.
Aku menelepon tanggal dua puluh dua Januari jam sembilan malam.
“Nay.”
“Har.”
“Nay.”
Dan aku mendengar dia menegakkan punggungnya di ujung sana, karena dia selalu menegakkan punggungnya, karena sistem itu dia yang buat.
“Iya, Har?”
Aku sudah menyiapkan kalimat ini selama empat hari dan aku tetap butuh sepuluh detik untuk mengeluarkannya.
“Aku butuh,” kataku.
Ada bunyi seperti orang menarik napas terlalu cepat di ujung sana.
“Butuh apa?”
Dan aku duduk di lantai ruang depan rumah kontrakan tiga kali empat itu dan menyebutkan tiga hal, dengan urutan yang sudah aku susun, karena aku tidak bisa melakukannya tanpa daftar dan aku sudah berhenti minta maaf soal itu.
“Satu, aku butuh kamu dateng dua minggu sekali, bukan sebulan sekali, kalau kamu bisa.”
“Har—”
“Aku belum selesai.”
“...Oke.”
“Dua.” Aku menelan ludah. “Sekar butuh les Matematika dan aku nggak sanggup ngajarin karena aku pulang jam enam dan otakku udah habis.”
“Aku bisa lewat video call.”
“Tiga.”
Aku berhenti agak lama di nomor tiga.
“Har?”
“Tiga,” kataku. “Aku butuh ada yang tahu angkanya.”
“...Angka apa?”
“Semuanya,” kataku. “Penghasilan, pengeluaran, tanggal, nomor urut donor, semuanya. Aku butuh ada satu orang di dunia ini yang tahu semua angkanya selain aku.”
Dan Kanaya Larasati berkata, di ujung telepon, dengan suara yang hancur total:
“Har, kamu ngerti nggak kamu barusan minta apa?”
“Ngerti.”
“Kamu minta aku nyusun.”
“Iya.”
“Har—”
“Nay, aku nggak minta kamu nyusun di belakang aku,” kataku. “Aku minta kamu nyusun di sebelah aku.”
Aku ke Pasar Lama bulan Maret.
Kanaya ikut. Kami naik kereta pagi dan sampai jam dua siang dan berjalan lewat gang kain yang penuh, dan aku tidak tersesat sekali pun karena aku tidak pernah tersesat di gang itu.
Toko Pak Hasan di ujung, di sebelah kios yang menjual kancing dalam ember.
“HAR!”
Dia berdiri dari kursinya.
Aku belum pernah melihat Pak Hasan berdiri dari kursinya untuk siapa pun.
“Pak, saya mau nebus.”
Aku menaruh amplopnya di meja kasir.
Jumlahnya persis. Aku menghitungnya empat kali di kereta.
Pak Hasan memandangi amplop itu, lalu memandangiku, lalu memandangi Kanaya yang berdiri satu langkah di belakangku.
“Non ini yang cerita?”
“Bukan, Pak,” kata Kanaya. “Saya nggak cerita apa-apa selama setahun tujuh bulan.”
“Beneran?”
“Beneran, Pak.”
“Terus kamu tahu dari mana, Har?”
Dan aku berdiri di toko kain itu dan berkata:
“Bapak nggak pernah jual, kan?”
Pak Hasan tidak menjawab.
“Pak, saya belanja di sini dari umur dua belas,” kataku. “Bapak nggak punya tempat, Bapak nggak punya pembeli, dan Bapak nggak ngerti mesin.”
“Har—”
“Bapak beli mesin bekas satu-satunya dalam empat puluh tahun,” kataku. “Terus Bapak nggak jual selama satu tahun tujuh bulan.”
Laki-laki enam puluh dua tahun itu duduk kembali di kursinya.
“Kamu nyebelin,” katanya.
Dia menyibak tirai plastik di belakang toko.
Mesin hitam. Meja kayu yang catnya hilang total di dua tempat berbentuk telapak tangan. Roda tangan yang masih licin. Pedal besi di bawahnya.
Aku berdiri di depannya selama mungkin lima menit.
Dan aku menyentuh meja kayunya — bagian yang catnya hilang, bagian yang bentuknya seperti dua telapak tangan — dan aku berdiri di situ dengan tangan di situ dan tidak berkata apa-apa.
“Har,” kata Kanaya pelan.
“Iya.”
“Kamu nggak ambil, ya.”
Aku menoleh ke arahnya.
Dia sudah tahu. Dia sudah tahu sebelum aku tahu, dan aku baru sadar belakangan bahwa dia sudah tahu sejak di kereta, dan bahwa dia tidak mengatakan apa pun selama tujuh jam dua puluh menit.
“Enggak,” kataku.
“Kenapa nggak?”
Pak Hasan yang bertanya.
Dan aku berdiri di belakang toko kain di gang paling ujung Pasar Lama dengan tangan di meja kayu ayahku, dan aku memberikan jawaban yang aku susun sejak malam kedua di kamar kelas tiga rumah sakit umum.
“Karena kalau saya bawa pulang, Pak,” kataku, “saya bakal ngerawat mesin ini kayak orang ngerawat bukti.”
“Bukti apa?”
“Bukti kalau setahun kemarin nggak pernah kejadian.”
Pak Hasan tidak menjawab.
“Rumah kami sekarang tiga kali empat,” kataku. “Nggak muat. Tangan ibu nggak stabil, dia nggak bisa lagi pakai pedal. Dan yang jahit sekarang saya, dan saya pakai mesin plastik yang bunyinya jelek dan harganya seperlima.”
Aku menepuk meja kayu itu sekali.
“Kalau mesin ini masuk ke rumah itu,” kataku, “saya bakal ngeliat dia tiap hari sambil mikirin rumah yang udah nggak ada.”
“Terus mau diapain?”
“Jual, Pak.”
“Har—”
“Jual ke kolektor,” kataku. “Bapak bilang tiga kali lipat. Ambil semuanya.”
“Saya nggak—”
“Bapak nyimpen mesin ini satu tahun tujuh bulan,” kataku. “Bapak nggak pernah nyebut itu ke siapa-siapa. Bapak nggak pernah nagih. Bapak beli barang yang Bapak nggak butuh dari anak yang Bapak kasihanin, terus Bapak simpen di belakang tirai selama dua puluh bulan.”
Aku menaruh amplopku kembali ke saku.
“Ambil selisihnya, Pak,” kataku. “Itu bukan sedekah. Itu ongkos gudang.”
Pak Hasan memandangi mesin itu lama sekali.
“Kamu nyebelin,” katanya lagi.
“Iya, Pak.”
“Bapakmu juga nyebelin.”
Aku menoleh.
“Dia beli kain di sini dua belas tahun,” kata Pak Hasan. “Dan dia nggak pernah sekali pun nawar.”
Aku minta satu hal sebelum pulang.
“Pak, boleh saya minta satu bagian?”
“Bagian mana?”
Dan aku menunjuk meja kayunya.
“Papan atasnya,” kataku. “Yang catnya hilang.”
Pak Hasan berdiri.
“Har, kalau papannya dilepas, mesinnya nggak bisa dipasang di meja lain.”
“Bapak bisa bikin meja baru,” kataku. “Kolektor beli mesinnya, bukan mejanya.”
“Harganya turun.”
“Turun berapa, Pak?”
Dia menyebut angkanya.
“Ya udah,” kataku. “Berarti ongkos gudangnya berkurang segitu.”
Dan laki-laki enam puluh dua tahun itu berdiri di belakang tokonya dengan tangan di pinggang dan berkata, “Ya Allah, anak ini,” dan mengambil obeng.
Kami pulang naik kereta malam membawa satu papan kayu sepanjang delapan puluh senti yang dibungkus kain.
Kanaya memegangnya di pangkuannya sepanjang perjalanan karena aku memegang tas dan karena dia menolak bertukar.
“Har.”
“Hm?”
“Ini mau ditaruh di mana?”
“Tembok.”
“Ha?”
“Digantung,” kataku. “Di ruang depan. Yang kelihatan dari pintu.”
Kanaya menoleh ke arahku.
“Har, itu papan kayu bekas.”
“Iya.”
“Orang yang masuk bakal nanya.”
Dan aku duduk di kereta malam yang berangkat jam tujuh dengan papan kayu berbungkus kain di pangkuan orang di sebelahku, dan berkata:
“Iya,” kataku. “Itu gunanya.”
Aku menggantungnya hari Minggu.
Delapan puluh senti, di tembok ruang depan, di antara jendela dan pintu kamar, di ketinggian mata orang dewasa.
Papan kayu tua dengan cat yang sudah hilang total di dua tempat berbentuk telapak tangan.
Sekar berdiri di depannya selama mungkin dua menit.
“Kak.”
“Hm?”
“Ini punya Ayah.”
“Iya.”
“Yang ini tangannya.”
“Iya.”
Dia mengangkat tangannya sendiri dan menaruhnya di atas salah satu bekas itu.
Tangannya jauh lebih kecil.
“Kak.”
“Iya?”
“Kalau ada orang nanya ini apa,” katanya, “aku jawab apa?”
Dan aku berdiri di ruang depan rumah kontrakan tiga kali empat di gang yang tidak muat dua motor, dan menjawab adikku yang berumur sebelas tahun:
“Jawab yang bener,” kataku.
Malam itu Kanaya mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Tas gaun abu-abu. Yang belum pernah dibuka lagi sejak tanggal satu Agustus tahun lalu.
“Har.”
“Nay—”
“Aku bawa dari Yogya,” katanya. “Aku bawa tiap kali aku ke sini. Dua belas kali.”
Aku memandangi tas itu.
“Kenapa nggak dikasih dari dulu?”
“Karena kamu belum siap,” katanya, dan duduk di lantai. “Sekarang kamu udah gantung papan kayu di tembok yang kelihatan dari pintu.”
Dia menariknya keluar.
Biru tua yang kalau dimiringkan jadi agak hijau. Polyester campur, rak tengah, gulungan ketiga dari kiri.
Aku membaliknya.
Kerah bagian dalam, sisi kiri. Pita kain putih empat senti. Empat tusuk di setiap sudut.
GARANSI SAMPAI 12/8
Aku mengambil gunting kecil dari kotak jahit.
Bukan gunting kain. Yang kecil, yang untuk benang, yang ada di kotak plastik seukuran telapak tangan yang aku berikan kepada orang ini di bulan Agustus tahun lalu dan yang dia bawa kembali malam itu tanpa aku minta.
“Har, kamu mau ngapain?”
“Motong.”
“Labelnya?”
“Bukan.”
Dan aku menggunting pita itu — bukan melepasnya dari kain, bukan membongkar empat tusuk di setiap sudutnya.
Aku menggunting bagian kanannya.
Satu koma delapan senti, dari ujung kanan sampai setelah kata SAMPAI.
Tanggalnya lepas.
Dua belas garis miring delapan, di potongan pita sepanjang satu koma delapan senti, jatuh ke lantai ruang depan rumah kontrakan itu.
Yang tersisa di kerah gaun itu:
GARANSI SAMPAI
Menggantung. Tidak selesai. Dengan ujung kanan yang berserabut karena aku memotongnya dengan gunting benang dan bukan gunting kain.
“Har.”
“Hm?”
“Kamu nggak rapiin ujungnya.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
Dan aku duduk di lantai ruang depan tiga kali empat itu, jam sepuluh malam, dengan potongan pita satu koma delapan senti di lantai dan papan kayu ayahku tergantung di tembok di belakangku.
“Karena kalau aku rapiin,” kataku, “nanti kelihatan kayak dari dulu emang cuma segitu.”
Kanaya memegang kerah gaun itu dengan dua jari.
“Har, ini jelek.”
“Iya.”
“Ini bakal kelihatan selamanya.”
“Iya,” kataku. “Itu tambalannya.”
Dia memungut potongan pita satu koma delapan senti itu dari lantai.
Dan dia tidak membuangnya.
Dia melipatnya sekali, dan memasukkannya ke kotak jahit plastik seukuran telapak tangan itu, di antara jarum tiga ukuran dan benang putih dan benang hitam dan benang biru dan satu batang korek api yang sudah patah ujungnya.
“Nay, itu sampah.”
“Enggak.”
“Itu potongan pita.”
“Har.” Dia menutup kotaknya. “Tambalan itu kelihatan karena robeknya nggak ilang.”
Dia menaruh kotak itu di lantai di antara kami.
“Kalau aku buang, nanti tinggal jahitannya,” katanya. “Terus lima tahun lagi kamu bakal lihat kerah ini terus mikir kenapa dulu aku motongnya jelek banget.”
Aku memandangi kotak itu.
“Nay.”
“Hm?”
“Nay.”
Dia menegakkan punggungnya.
“Iya, Har?”
Dan aku duduk di lantai ruang depan rumah kontrakan di kota yang bukan kotaku, dengan ibuku tidur di kamar dan adikku tidur di sebelahnya dan papan kayu ayahku tergantung di tembok setinggi mata, dan aku mengucapkan sesuatu yang butuh dua puluh tahun untuk sampai ke mulutku.
“Aku capek,” kataku.
Dan Kanaya Larasati tidak berkata nggak apa-apa, dan tidak menawarkan satu pun solusi, dan tidak menyusun apa pun.
“Iya,” katanya. “Aku tahu.”
Dan dia duduk di sebelahku di lantai itu sampai jam satu pagi.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan reading
- 50 Seumur Hidup