← Garansi Seumur Hidup

Chapter Thirteen

Dua Jam

[POV: Hari] · [Hari ke-19]


“Bus dua, absen enam belas sampai tiga puluh dua.”

Aku absen dua puluh sembilan. Kanaya absen sepuluh.

Aku menghitung itu di hari Senin waktu daftar bus ditempel di papan pengumuman, dan aku ingat aku merasa sesuatu yang aku tolak untuk sebut kecewa, karena kecewa itu memerlukan harapan, dan aku tidak sedang berharap apa-apa.

Hari Rabu pagi, di parkiran, Kanaya sudah berdiri di depan pintu bus dua dengan daftar di tangan.

“Aku tukeran sama Dimas.”

“Kenapa?”

“Dimas mabuk darat. Bus satu berhenti lebih sering.”

“Oh.”

“Itu alasan resminya,” katanya, sudah naik duluan.


Studi wisata itu enam jam pergi, satu malam menginap, enam jam pulang.

Aku tidak akan menceritakan bagian museumnya, karena bagian museumnya persis seperti semua museum: Bagas berfoto di depan papan larangan berfoto, Fikri mencari colokan, dan Bu Sari kehilangan tiga anak selama dua puluh menit.

Kecuali satu hal.

Di ruang tekstil — ruang yang dilewati semua orang dalam empat puluh detik karena isinya cuma kain di balik kaca — aku berhenti dua puluh menit.

Ada kain tenun dari seratus tiga puluh tahun lalu di sana, dengan label yang menjelaskan bahwa bagian tengahnya pernah robek dan diperbaiki oleh pemiliknya sendiri.

Kamu bisa melihat perbaikannya. Benangnya beda warna, jalurnya tidak rata, dan orang yang mengerjakannya jelas bukan ahli.

Dan kain itu ada di museum, dan yang dipajang justru bagian tambalannya.

“Kamu ngapain di sini terus?”

Kanaya sudah berdiri di sebelahku entah sejak kapan.

“Lihat.”

“Itu kain robek.”

“Iya.”

“Kenapa dipajang kalau robek?”

“Karena yang robek itu bisa diliat orang,” kataku. “Kalau nggak pernah robek, nggak ada yang tahu ada yang pernah ngerjain.”

Kanaya membaca labelnya. Lalu membaca lagi.

“Har.”

“Hm.”

“Kamu kalau ngomong gitu, aku jadi nggak bisa mikir apa-apa seharian.”

Yang mau aku ceritakan cuma dua jam.


Perjalanan berangkat, kami banyak bicara.

Itu sesuatu yang aku sadari belakangan: Kanaya bicara paling banyak justru waktu dia paling capek. Dia mengisi ruang. Aku baru mengerti kenapa jauh di kemudian hari, waktu aku pernah masuk ke rumahnya dan berdiri di ruang tamu yang lampunya menyala semua.

“Har, kalau kamu bisa milih satu barang buat dibenerin selamanya, apa?”

“Maksudnya?”

“Satu barang. Sekali benerin, nggak pernah rusak lagi.”

“Nggak ada.”

“Ya makanya milih.”

“Nggak, maksudku—” Aku memikirkan cara mengatakannya. “Barang yang nggak pernah rusak itu nggak ada gunanya.”

“Kok gitu?”

“Kalau nggak pernah rusak, kamu nggak perlu ngerawat.” Aku melihat ke jendela. “Terus lama-lama kamu nggak lihat dia lagi.”

Kanaya diam beberapa detik.

“Itu jawaban paling aneh yang pernah aku denger,” katanya. “Dan aku setuju banget.”

Kami membahas hal-hal kecil sampai kilometer entah berapa. Dia bertanya kenapa jahitan celana jeans warnanya oranye. Aku menjawab kepanjangan. Dia bilang aku kalau menjelaskan sesuatu yang aku suka, suaraku berubah.

“Berubah gimana?”

“Lebih rendah. Terus lebih pelan.” Dia menirukan. “‘Karena kalau benangnya kuning, dia nggak keliatan waktu kotor—‘”

“Aku nggak gitu.”

“Kamu persis gitu.”

Vania duduk empat baris di depan.

Dia menoleh ke belakang tiga kali sepanjang perjalanan. Aku menghitungnya karena aku menghitung segala sesuatu, dan karena dua minggu terakhir mengajariku bahwa yang paling penting untuk dihitung bukan yang paling keras.


Malamnya di penginapan, kami dipisah per kamar berlima.

Fikri tidur jam sembilan seperti orang yang punya jadwal kereta. Bagas mengajak semua orang main kartu, kalah delapan kali berturut-turut, dan tetap bersikeras dia hampir menang.

Aku keluar ke koridor jam sebelas untuk mengambil air.

Kanaya sedang duduk di tangga darurat, sendirian, dengan HP di tangan dan layar yang menyala tapi tidak dia lihat.

“Nay.”

“Eh.” Dia menegakkan badan cepat sekali. “Kamu belum tidur?”

“Ambil air.”

“Oh.”

Aku berdiri di situ dengan botol kosong di tangan seperti orang yang lupa naskahnya.

“Kamu... kenapa di sini?”

“Rame di kamar.”

“Kamu suka rame.”

“Iya.” Dia melihat ke layar HP-nya, lalu mematikannya. “Kadang enggak.”

Ada dua puluh anak tangga di antara lantai dua dan lantai tiga, dan aku duduk di anak tangga kelima dari atas, dan dia di kedelapan, dan tidak ada satu pun dari kami yang mengusulkan pindah lebih dekat atau lebih jauh.

Kami tidak bicara apa-apa yang penting.

Dia cerita soal panitia yang salah pesan konsumsi. Aku cerita soal Sekar yang menaikkan bunga jadi dua setengah persen secara sepihak dan mengumumkannya lewat kertas yang ditempel di kulkas.

“Har.”

“Hm.”

“Kamu pernah nggak, ngerasa kamu lagi ngelakuin sesuatu yang kamu tahu bakal kamu sesalin?”

Botol air di tanganku sudah tidak dingin lagi.

“Pernah,” kataku.

“Terus kamu berhenti?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

Aku menghitung sesuatu yang tidak perlu dihitung: jumlah anak tangga di antara kami. Tiga.

“Karena nyesel itu nanti,” kataku. “Yang sekarang itu sekarang.”

Kanaya menunduk ke tangannya.

“Itu jawaban orang yang jahat,” katanya.

“Iya.”

“Tapi aku ngerti.”

“Iya.”

Dia mengangkat wajahnya, dan di lampu koridor yang kuning itu matanya kelihatan basah di bagian bawah, tapi cuma sebentar, dan mungkin cuma lampunya.

“Har, kalau nanti aku ngelakuin sesuatu yang bikin kamu marah—”

“Aku nggak bakal marah.”

“Aku belum selesai ngomong.”

“Aku tahu,” kataku. “Aku tetep nggak bakal marah.”

Kanaya menatapku lama sekali.

Lalu dia berdiri, menepuk celananya, dan berkata dengan suara yang terlalu ringan untuk tangga darurat jam sebelas malam:

“Ya udah. Aku tidur.”

Sebelas hari lagi.

Aku ingat aku menghitungnya di tangga itu, dan aku ingat angkanya terasa seperti tangan yang menekan pelan di antara tulang rusuk.


Perjalanan pulang berangkat jam dua siang.

Semua orang habis. Bagas tidur dengan mulut terbuka sebelum bus keluar dari parkiran. Fikri menyumbat telinganya. Bu Sari berhenti menghitung anak setelah percobaan ketiga.

Kanaya duduk, memasang sabuk, bilang “aku merem bentar”, dan tiga menit kemudian kepalanya jatuh ke bahuku.


Aku mau menjelaskan bagian ini dengan tepat, karena ini satu-satunya bagian dari seluruh cerita yang aku ingat detik per detiknya.

Yang pertama terjadi bukan bahagia.

Yang pertama terjadi adalah panik teknis: bahuku salah tinggi. Aku seratus tujuh puluh lima, dia seratus enam puluh dua, dan bahu orang yang lebih tinggi itu terlalu tinggi untuk dijadikan bantal. Lehernya akan sakit. Kalau lehernya sakit, dia akan bangun. Kalau dia bangun, semuanya selesai.

Jadi aku menurunkan bahuku.

Dua senti. Lalu satu senti lagi.

Aku menahannya di posisi itu, dan aku menahannya selama dua jam empat menit.

Aku tahu angkanya karena aku melihat jam di dashboard bus setiap kali kami lewat lampu jalan.

Yang terjadi pada lengan manusia kalau kamu menahan satu posisi selama dua jam, kalau kamu penasaran, ada tiga tahap.

Tiga puluh menit pertama: biasa saja.

Empat puluh menit berikutnya: panas di satu titik di pangkal bahu, seperti ada yang menekan dengan ibu jari.

Sisanya: hilang. Bukan sakit. Lengannya cuma berhenti menjadi milikmu.

Ada satu cara untuk menjelaskan ini yang mungkin lebih jujur.

Ibu pernah cerita, waktu ayah masih ada, kalau ada pesanan yang harus selesai subuh, ayah bisa duduk di mesin dari jam sepuluh malam sampai jam empat tanpa berdiri sekali pun. Ibu bilang itu bukan karena ayah kuat. Ayah tidak kuat; ayah kurus dan gampang masuk angin.

Ibu bilang, “Bapakmu itu cuma nggak ngerasa capek kalau tahu buat siapa.”

Aku selalu menganggap itu kalimat yang dilebih-lebihkan orang yang kehilangan.

Di kilometer entah berapa, dengan lengan kiri yang sudah bukan milikku, aku menariknya kembali dan minta maaf ke ibuku di dalam kepala.

Aku tidak menyesalinya sedetik pun, dan aku ingin mencatat itu juga, supaya jelas bahwa aku bukan sedang menderita. Aku sedang tidak menderita sama sekali.

Rambutnya bau sabun biasa. Napasnya pelan. Sekali dia bergerak sedikit dan bergumam sesuatu yang bukan kata, dan aku berhenti bernapas sampai dia diam lagi.

Di kilometer entah berapa, seorang anak di depan membuka jendela dan angin masuk, dan aku memindahkan tangan kananku — pelan sekali, sepuluh detik untuk gerakan yang seharusnya satu detik — untuk menarik jaketku dari pangkuan dan menaruhnya di bahunya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi kalau ada yang melihat.

Aku juga tidak mengecek apakah ada yang melihat.

Itu pertama kalinya dalam empat tahun aku tidak mengecek.


Dan di jam kedua, aku mulai menulis.

Bukan di kertas. Di kepala.

Aku sudah lama tidak bisa mengucapkan hal-hal penting keras-keras. Mulutku dan kepalaku tidak pernah akur; kepalaku menyusun kalimat yang bagus dan mulutku mengeluarkan “nggak apa-apa”. Itu sudah aku terima sebagai kondisi permanen, seperti minus di mata.

Tapi tangan itu lain.

Tanganku tidak pernah gemetar untuk hal-hal yang bisa dikerjakan.

Jadi malam-malam itu, di bus, dengan lengan yang sudah bukan milikku lagi dan kepala seseorang di bahu yang aku turunkan tiga senti, aku mulai menyusun kalimat.

Nay,

Coret. Terlalu dekat.

Kanaya,

Coret. Terlalu jauh.

Aku nggak tahu cara ngomong ini, jadi aku tulis.

Itu boleh. Itu benar. Aku menyimpannya.

Aku bukan orang yang gampang ngomong. Kamu udah tahu. Kamu tiga kali bilang aku cuma punya tiga jawaban.

Aku memikirkan bagian berikutnya lama sekali. Bus lewat jembatan, lampu-lampu jalan lewat di kaca, terang-gelap-terang-gelap di wajahnya.

Sebelum kamu duduk di sebelahku, aku nggak pernah kepikiran kalau ada bagian dari sekolah yang bisa aku tungguin.

Terlalu sedih. Coret.

Kamu tanya kenapa aku selalu nyiapin tempat buat diriku sendiri di bagian yang paling jelek. Aku nggak jawab waktu itu. Jawabannya: karena kalau aku udah di sana duluan, nggak ada yang bisa naruh aku di sana.

Itu benar. Itu terlalu benar. Aku menyimpannya di tempat yang sama dengan hal-hal yang mungkin tidak akan pernah aku pakai.

Dan bagian terakhirnya — bagian yang aku susun waktu bus sudah masuk kota dan lampu-lampu jadi lebih rapat — aku susun dengan sangat hati-hati, karena itu bagian yang harus benar sekali jadi.

Aku tidak akan menuliskannya di sini.

Aku menuliskannya sebelas hari kemudian, dengan tangan, di kertas, dengan pulpen yang tutupnya ada bekas gigitan di dua tempat.


Bus masuk parkiran sekolah jam empat lewat dua puluh.

Lampu kabin menyala. Semua orang bangun sekaligus, ribut sekaligus, berdiri sekaligus.

Kanaya bangun di detik ketiga, dengan cara orang yang tidur nyenyak: bingung dulu, baru sadar.

Lalu dia sadar di mana kepalanya.

“Ya ampun.”

“Nggak apa-apa.”

“Berapa lama?”

“Nggak lama.”

“Har, ini udah sampai.”

“...Sebentar, kok.”

Dia menegakkan badan, mengumpulkan rambutnya ke belakang, dan menatapku dengan mata yang masih setengah.

“Lengan kamu.”

“Kenapa?”

“Kamu nggak gerakin dari tadi, ya.”

“Enggak.”

“Coba angkat.”

“Nggak usah.”

“Hari. Angkat.”

Aku mengangkat lengan kiriku.

Naik sekitar sepuluh senti, lalu turun lagi, sepenuhnya di luar kendaliku, seperti kain yang dilepas dari gantungan.

Kanaya menutup mulutnya dengan tangan.

“YA AMPUN.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu diem dua jam?”

“Sejam.”

“Bohong.”

“Sejam lebih.”

“HARI.”

“Nay, ini biasa. Nanti juga jalan lagi.”

Dia memegang lenganku dengan dua tangan dan mulai memijatnya — kasar, tidak tahu caranya, seperti orang meremas handuk basah — sambil terus mengulang ya ampun dengan nada yang sudah bukan nada kaget lagi.

Aku duduk di kursi bus dengan lengan yang mati rasa dan seluruh isi kepala yang sangat, sangat jelas.

“Kamu kenapa nggak bangunin aku?”

Ada beberapa jawaban jujur untuk itu.

Aku memilih satu yang paling kecil.

“Kamu keliatan capek,” kataku.

Kanaya berhenti memijat.

Dia tidak melepaskan lenganku.

Anak-anak turun di sekeliling kami, tas dijatuhkan, ada yang berteriak mencari sepatu, Bu Sari menghitung untuk keempat kalinya.

“Har,” katanya pelan.

“Iya.”

“Kamu tuh kadang bikin aku pengen nangis, tahu nggak.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Jadi aku bilang, “Maaf.”

Dan Kanaya tertawa — pendek, lewat hidung, agak jelek, bagus — lalu menempelkan dahinya ke bahuku yang tadi selama satu setengah detik, lalu berdiri dan mengambil tasnya seperti tidak terjadi apa-apa.

Di lorong bus, waktu semua orang berdesakan turun, Vania berhenti tepat di sebelah kursi kami.

“Enak tidurnya, Nay?”

“Enak banget.”

“Bantalnya empuk?”

Kanaya tidak menjawab.

Vania melihat ke arahku. Bukan ke wajahku — ke lengan kiriku, yang masih tergeletak di pangkuan seperti barang bawaan orang lain.

“Hari.”

“Iya.”

“Kamu nggak capek?”

Ada banyak cara untuk menjawab itu, dan aku tahu Vania tidak sedang bertanya soal lengan.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Vania mengangguk pelan, lalu berjalan turun.

Fikri, yang dari tadi pura-pura tidur di kursi seberang, membuka satu mata.

“Har.”

“Hm.”

“Kamu tahu nggak, kalau di game ada timer yang jalan terus walaupun kamu nggak buka aplikasinya?”

“Tahu.”

“Itu namanya real-time event.” Dia memasang tasnya. “Yang paling bahaya dari itu bukan waktunya abis. Yang paling bahaya, kamu keasyikan main sampai lupa ngecek.”

“Fik.”

“Aku nggak nuduh apa-apa.” Dia berdiri. “Aku cuma ngomongin game.”

Sebelas hari lagi.

Malam itu lenganku baru benar-benar kembali jam sembilan, dan aku menjahit dua kancing dengan tangan kanan sambil menunggu tangan kiriku selesai kesemutan, dan aku terus mengulang satu kalimat di kepala sampai bentuknya betul.

Kalimatnya belum aku tulis.

Tapi aku sudah tahu kertas mana yang akan aku pakai.