← Garansi Seumur Hidup

Chapter Twenty Six

Setahun yang Lalu

[POV: Kanaya] · [Hari ke-152]


Tante Ratih mengajariku satu kebiasaan yang tidak pernah dia sebut sebagai pelajaran.

Sabtu keenam, aku menyerahkan kain hasil latihanku, dan dia langsung membaliknya sebelum melihat sisi luarnya.

“Tante, sisi luarnya yang di situ.”

“Ibu tahu.”

“Kenapa dibalik duluan?”

“Karena sisi luar itu buat pelanggan,” katanya. “Sisi dalam itu buat yang ngerjain.”

Sejak itu aku tidak bisa berhenti.

Aku membalik kerah baju di toko waktu belanja. Aku membalik kelim celana Sekar waktu dia meninggalkannya di lantai. Aku membalik jaket Nadine waktu dia menyampirkannya di kursi, dan Nadine bertanya aku sedang apa, dan aku bilang tidak apa-apa.

Empat bulan.

Aku sudah membalik ratusan kain dan tidak pernah sekali pun membalik punyaku sendiri.


Hari Minggu di bulan Oktober, mamaku mengirim pesan.

Nay, seragam kelas 11 nya kalau udah kekecilan disortir ya. Mama sumbangin ke yayasan lewat Bu Endang.

Centang dua. Aku membalasnya dengan jempol.

Itu percakapan terpanjang kami bulan itu.

Jadi hari Minggu sore aku duduk di lantai kamar dengan lemari terbuka dan mulai memisahkan tumpukan: yang masih muat, yang sudah kekecilan, yang sudah tidak layak.

Seragam kelas sepuluh ada di rak paling atas. Sudah setahun lebih tidak disentuh. Dua setel, plus satu blazer OSIS yang aku pakai di semester dua.

Aku menarik yang paling atas.

Dan tanganku, tanpa aku suruh, membaliknya.


Kerah bagian dalam. Jahitan bahu kiri.

Ada simpul.

Benang merah.

Kecil sekali, sebesar kepala jarum, di balik lipatan, di tempat yang tidak akan pernah kelihatan kecuali kamu membalik seluruh kerahnya keluar.


Aku mau menjelaskan apa yang terjadi di kepalaku dalam sepuluh detik berikutnya, karena sepuluh detik itu punya urutan yang sangat jelas dan aku ingat semuanya.

Detik pertama sampai ketiga: aku tidak mengerti. Betul-betul tidak. Otakku melihat benang merah dan mengeluarkan kata “benang merah” dan berhenti di situ, seperti mesin yang benangnya putus dan jarumnya masih naik-turun.

Detik keempat: aku ingat gulungan benang merah di laci meja belajarku, empat meter dari tempatku duduk.

Detik kelima: aku ingat kalimatnya. Kebiasaan ayahku. Setiap kerjaan yang selesai dikunci pakai simpul merah di sisi dalam.

Detik keenam: aku melihat tanggal.

Bukan tanggal di kain. Tidak ada tanggal di kain.

Aku melihat seragamnya. Rok dan atasan kelas sepuluh. Yang aku pakai dari Juli sampai Juni tahun lalu. Yang aku pensiunkan di bulan Juni karena lengannya sudah kependekan.

Taruhan itu dimulai bulan Mei tahun ini.

Detik ketujuh sampai kesepuluh: aku duduk di lantai kamarku dengan seragam di pangkuan dan tidak bergerak sama sekali.


Aku memeriksanya.

Aku memeriksanya seperti orang gila, dan aku tidak punya kata yang lebih sopan untuk itu.

Aku mengeluarkan seluruh isi lemariku ke lantai. Semuanya. Seragam, jaket, blazer, kaus olahraga, kemeja, rok — semua yang pernah aku pakai ke sekolah selama dua setengah tahun.

Aku membaliknya satu per satu.

Aku mulai jam empat sore.


Yang pertama: seragam kelas sepuluh, jahitan bahu kiri.

Yang kedua: blazer OSIS. Di ketiak kanan, di jahitan sisi. Sekitar enam senti. Kalau diangkat ke cahaya, kamu bisa lihat bekas robek lama yang sudah dianyam ulang, dan warnanya beda kira-kira setengah nada dari kain sekitarnya, dan aku cuma bisa melihatnya karena empat bulan terakhir aku menghabiskan dua puluh dua hari Sabtu belajar melihat hal-hal seperti itu.

Aku ingat blazer ini.

Aku ingat karena aku pernah menyampirkannya di kursi ruang OSIS selama tiga hari dan lupa mengambilnya, dan waktu aku ambil aku sempat berpikir kok kayaknya kemarin ada sobek di sini ya, dan aku menganggap aku salah ingat, karena aku sedang mengurus tiga acara sekaligus dan aku tidak punya waktu untuk mempertanyakan blazer.

Aku duduk di lantai dan memaksa diriku mengingat lebih jauh.

Bulan November tahun lalu. Bakti sosial pertama yang aku ketuai. Aku mengangkat kursi lipat dari gudang ke aula, sendirian, dua puluh delapan kursi, karena anak-anak yang lain belum datang dan aku tidak sabar menunggu.

Ada bunyi waktu aku mengangkat yang kesembilan belas. Pendek. Kering.

Aku ingat aku memeriksa ketiakku di kamar mandi dan menemukan robek sekitar lima senti, dan aku ingat aku berdiri di kamar mandi selama beberapa detik menghitung: acara mulai empat puluh menit lagi, aku ketua panitia, aku tidak bawa baju ganti.

Aku memakainya seharian.

Aku menjaga tangan kananku supaya tidak terangkat di atas bahu selama enam jam.

Dan aku ingat, sekarang aku ingat, bahwa ada anak laki-laki kelas sepuluh yang membantu mengangkat sisa kursinya di aula, yang tidak aku kenal, yang tidak mengucapkan sepatah kata pun, yang mengangkat delapan kursi terakhir sendirian sementara semua orang sibuk dengan dekorasi.

Aku bahkan tidak melihat wajahnya.

Poninya menutupi mata.

Yang ketiga: kaus olahraga. Kelim bawah.

Yang keempat: rok kelas sebelas yang lama — yang robek di lab bulan April. Aku sudah tahu yang ini. Ini yang aku cari ke seluruh kelas selama dua hari sambil bilang nggak mungkin, aku inget bentuknya, kayak huruf L.

Simpulnya ada di balik kelim, kecil, terkunci rapi.

Aku menemukannya dalam empat detik karena sekarang aku tahu di mana harus mencari.

Bulan April.

Waktu itu aku sudah kenal dia. Hari ketiga.

Yang kelima: kemeja seragam Jumat. Kancing kedua. Benangnya beda dari kancing yang lain — jarak tusukannya lebih rata.

Aku tidak ingat kancing ini pernah lepas.

Yang keenam.


Yang keenam ada di jaket olahraga.

Jaket yang aku pakai setiap hari. Yang aku sampirkan di sandaran kursi sejak kelas sepuluh. Yang saku dalamnya bolong, yang membuat pulpenku jatuh tembus ke bawah entah berapa kali.

Bolongnya masih ada.

Tapi di sekeliling bolong itu, di sisi dalam, ada jahitan penguat. Melingkar. Rapat. Supaya bolongnya tidak melebar.

Bolongnya dibiarkan.

Bolongnya dibiarkan, dan pinggirnya dikunci, supaya berhenti membesar.

Aku memandangi jahitan melingkar itu lama sekali.

Karena kalau kamu mau memperbaiki saku bolong dengan benar, kamu tambal. Kamu potong kain, kamu pasang, selesai. Itu satu jam kerja.

Kalau kamu menambalnya, orangnya akan tahu.

Saku dalam itu satu-satunya bagian dari jaket yang pemiliknya pegang setiap hari. Kalau tiba-tiba ada kain baru di situ, tanganku akan merasakannya dalam sepuluh detik.

Jadi dia tidak menambalnya.

Dia mengunci pinggirnya supaya kerusakannya berhenti di situ, dan membiarkan bolongnya, karena bolong yang tidak melebar itu tidak akan pernah ditanyakan siapa pun.

Aku memasukkan jariku ke lubang itu.

Ukurannya sama persis seperti dua tahun lalu.

Aku duduk di lantai kamarku jam tujuh malam dengan enam benda di pangkuanku dan seluruh isi lemari berserakan di sekelilingku, dan aku menghitung untuk yang terakhir kalinya malam itu.

Enam.


Aku mengambil penggaris.

Aku tahu ini kelihatan tidak waras. Aku menuliskannya juga.

Aku mengambil penggaris dari meja belajar dan mengukur jarak antar tusukan di keenam jahitan itu, satu per satu, dengan kaca pembesar bekas praktikum yang masih ada di laci.

Lalu aku mengambil seragam kelas sebelas yang lain.

Yang bahu kirinya dia bongkar total di bulan Mei. Yang di balik kerahnya ada pita kain putih empat senti dengan tulisan huruf kapital kecil-kecil, jaraknya sama semua.

GARANSI 30 HARI

Aku mengukur jarak antar tusukan di label itu.

Dua koma dua milimeter.

Aku kembali ke seragam kelas sepuluh. Yang setahun lalu. Yang sebelum semuanya.

Dua koma dua milimeter.

Aku mengukur keempat yang lain.

Dua koma dua. Dua koma dua. Dua koma tiga — dan aku mengukur ulang yang itu empat kali sebelum menerima bahwa satu per sepuluh milimeter itu bukan orang yang berbeda, itu cuma jahitan yang dikerjakan di tempat yang lebih gelap.

Aku menaruh penggarisnya.

Ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan ke Tante Ratih, dan tidak akan pernah, karena aku tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa terdengar seperti orang yang kehilangan akal.

Selama empat bulan aku berlatih membuat sepuluh tusukan dengan jarak yang sama, dan aku belum pernah berhasil sekali pun.

Punyaku tiga milimeter, lalu lima, lalu dua, lalu empat.

Ada anak umur lima belas tahun yang menjahit di bawah lampu meja jam sebelas malam, tanpa tahu untuk siapa dia mengerjakannya, tanpa satu pun orang yang akan memeriksa hasilnya —

dan jaraknya dua koma dua milimeter setiap kali.

Enam kali. Selama setahun lebih. Di enam benda yang berbeda, di enam malam yang berbeda, di tempat yang tidak akan pernah dibalik siapa pun.

Itu bukan keterampilan.

Itu orang yang tidak pernah, sekali pun, mengizinkan dirinya mengerjakan sesuatu dengan setengah hati, bahkan waktu tidak ada satu pun alasan untuk tidak.


Aku tidak menangis.

Aku ingin menuliskan itu, karena aku menangis di hampir setiap bagian lain dari cerita ini, dan malam itu tidak.

Yang terjadi malam itu lebih mirip seperti waktu kamu berdiri terlalu cepat dan pandanganmu menghitam di pinggir. Semuanya masih ada di tempatnya, tapi tidak ada yang bisa aku proses.

Aku duduk di lantai sampai jam sepuluh.

Dan pelan-pelan, satu per satu, aku mulai menyusun apa artinya.


Artinya begini.

Bulan Mei tahun ini, Vania mengaduk es kopi di kantin lantai dua dan bilang tiga puluh hari, siapa saja, bebas memilih.

Dan aku melihat ke pojok belakang dekat jendela dan berpikir jangan dia, dan aku mengambilnya, dan selama tiga puluh hari aku merasa seperti orang yang sedang memberikan sesuatu kepada anak yang tidak punya apa-apa.

Selama tiga puluh hari itu, aku memakai lima benda yang pernah dia perbaiki.

Setiap hari.

Aku duduk di sebelahnya dengan jahitan tangannya di bahuku dan aku tidak tahu.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya selama dua jam empat menit di bus, dengan jaket olahraga yang bolongnya dia kunci supaya tidak melebar, dan aku tidak tahu.

Aku berdiri di depan pagar rumahku sendiri dan menangis di dadanya, memakai blazer yang ketiaknya dia anyam ulang setahun sebelum dia tahu namaku, dan aku tidak tahu.


Dan artinya juga begini, dan bagian ini yang membuatku tidak tidur.

Aku selalu berpikir tiga puluh hari itu punyaku.

Aku yang mulai. Aku yang mengambil taruhannya, aku yang pindah duduk, aku yang membeli es teh manis setengah, aku yang memotong poninya. Bahkan waktu aku mengaku di depan kelas, aku mengaku sebagai orang yang melakukan sesuatu kepada seseorang.

Ternyata dia sudah mulai duluan.

Setahun lebih awal. Tanpa alasan. Tanpa taruhan. Tanpa satu pun orang yang menyuruh atau menonton.

Waktu aku duduk di sebelahnya di hari pertama, aku bukan sedang memulai sesuatu.

Aku sedang masuk ke tengah-tengah sesuatu yang sudah berjalan.


Aku memikirkan buku catatan coklat itu jam satu pagi.

Buku yang pernah aku pegang selama mungkin dua puluh detik di hari kedelapan, sebelum dia menutupnya dan bilang “berdebu”.

Bu Ningsih — kebaya, resleting — 14/3
Rania 10 IPS 2 — rok, sobek kecil — 19/4
Bagas M — kancing blazer, 2 buah — 30/4

Halaman demi halaman. Nama, barang, tanggal.

Namaku ada di sana.

Bukan sekali. Enam kali.

Dan yang paling awal bertanggal setahun lebih sebelum aku mengucapkan satu kata pun kepadanya.

Aku memikirkan itu berbaring di kasur jam satu pagi: bahwa selama dua setengah tahun aku berjalan di sekolah itu sebagai orang yang tahu segalanya lebih dulu, sebagai orang yang namanya ada di semua daftar panitia, sebagai orang yang diingat semua orang.

Dan ada satu daftar di kota ini, di dalam laci meja jahit di Gang Melati nomor empat, di mana namaku ditulis enam kali oleh orang yang tidak pernah menyebutnya sekali pun.


Aku turun ke dapur jam dua pagi.

Rumahnya terang. Semua lampunya menyala.

Aku minum air di depan kulkas dan aku memikirkan sesuatu yang aku belum bisa susun kalimatnya sampai beberapa hari kemudian.

Dia menghitung mundur.

Aku sudah tahu itu sejak malam hari ketiga puluh, sejak aku menghitung kotak kalender yang menipis. Dua puluh lima malam, ibu jari, kertas yang tipis.

Tapi itu baru bagian yang terakhir.

Sebelum dia belajar menghitung mundur, dia sudah menghitung maju selama bertahun-tahun.

Enam simpul di lemariku. Empat puluh empat kancing di kaleng bekas permen. Ratusan nama di buku catatan.

Semuanya bertambah. Tidak ada yang berkurang. Tidak ada tanggal berakhirnya, karena memang tidak pernah ada yang tahu itu ada.

Dan lalu ada yang mengajari dia menghitung mundur.

Aku.


Aku kembali ke kamar dan duduk di lantai di antara seluruh isi lemari yang masih berserakan.

Dan aku melakukan satu hal yang membuatku merasa seperti pencuri, dan aku tetap melakukannya, dan aku akan tetap melakukannya kalau diulang.

Aku memisahkan enam benda itu dari tumpukan sumbangan.

Seragam kelas sepuluh yang sudah kekecilan. Blazer OSIS yang sudah tidak aku pakai. Kaus olahraga yang sudah tipis. Semuanya.

Mama menyuruh menyumbangkan yang sudah tidak muat.

Aku memasukkan keenamnya ke kardus terpisah, aku menulis sesuatu di sisinya dengan spidol, dan aku menaruhnya di rak paling atas lemari, di belakang.

Yang aku tulis di kardus itu cuma satu kata.

Dibayar.

Aku tidak tahu kenapa kata itu yang keluar.

Aku baru mengerti tiga hari kemudian, waktu aku sadar bahwa selama empat bulan terakhir aku terus menghitung apa yang sudah aku bayar — Sabtu, jari, map, pelanggan — dan bahwa aku menyimpan hitungan itu di kepalaku seperti orang menyimpan struk.

Dan bahwa di lemariku, selama setahun lebih, ada enam struk yang ditulis orang lain, dan orang itu tidak pernah sekali pun menagihnya.


Sabtu berikutnya aku hampir bertanya.

Aku duduk di kursi kecil di ruang jahit dengan kain perca putih bertitik coklat di pangkuanku, dan kalimatnya sudah ada di mulutku selama dua jam.

Tante, dia benerin baju orang di sekolah dari kelas sepuluh, ya?

Aku tidak mengucapkannya.

Bukan karena aturan kedua. Aturan kedua sudah aku langgar sekali dan Tante Ratih memaafkannya.

Aku tidak mengucapkannya karena aku sadar, tepat sebelum bicara, apa yang sebenarnya sedang aku cari.

Aku mau tahu apakah aku spesial.

Enam simpul. Enam. Dan sepanjang minggu itu, di balik semua yang aku pikirkan tentang setahun dan tentang tidak ditagih dan tentang orang yang menghitung maju, ada satu pertanyaan kecil yang tidak mau aku akui:

Berapa punya orang lain?

Kalau ada anak lain di sekolah itu yang punya enam simpul juga, artinya aku bukan siapa-siapa.

Dan begitu aku menyadari bahwa itu pertanyaan yang sedang aku susun, aku merasa jijik pada diriku sendiri dengan cara yang sangat spesifik dan sangat pantas.

Karena itu berarti, bahkan setelah semuanya, aku masih mengukur.

Aku masih mau tahu posisiku di daftar.

Tante Ratih mengambil kain percaku, membaliknya, melihat sisi dalamnya sepuluh detik, dan menaruhnya kembali tanpa menyuruhku membongkar.

“Nak Kanaya.”

“Iya, Tante?”

“Tanganmu berhenti dari tadi.”

“Maaf, Tante.”

“Ada yang mau ditanya?”

Aku menatap kain di pangkuanku.

“Nggak ada, Tante,” kataku.

Dan itu adalah kalimat paling jujur yang aku ucapkan di rumah itu selama empat bulan, karena memang tidak ada yang boleh aku tanya.


Hari Senin aku masuk sekolah dengan seragam yang bahunya dia bongkar total di bulan Mei.

Aku duduk di barisan tengah.

Dia duduk di dekat pintu, membelakangi seluruh ruangan.

Kami tidak bicara. Kami sudah tidak bicara selama seratus dua puluh satu hari, dan aku tahu angkanya karena aku menghitung, karena itu penyakitku, karena aku tidak pernah bisa berhenti.

Tapi hari Senin itu aku menghitung sesuatu yang berbeda.

Aku duduk di kelas 12 IPA-3 dan aku menghitung mundur — bukan sisa hari, karena tidak ada tenggat, karena tidak ada taruhan lagi, karena tidak ada apa pun yang akan berakhir tanggal berapa pun.

Aku menghitung mundur dari enam.

Enam simpul.

Satu, di bahu kiri seragam kelas sepuluh, bulan entah kapan, waktu aku bahkan belum tahu ada anak bernama Hari di pojok belakang dekat jendela.

Dan pada hitungan itu aku mengerti apa yang harus aku lakukan, dan itu bukan sesuatu yang bisa disusun jadi rundown, dan itu bukan sesuatu yang punya tanggal selesai.

Kalau dia menghabiskan setahun menambahkan sesuatu ke lemariku tanpa satu pun orang tahu —

aku bisa menghabiskan setahun juga.

Atau dua.

Atau berapa pun yang diperlukan, dan tanpa memberi tahu siapa-siapa berapa lamanya, karena begitu aku menyebutkan angkanya, itu jadi tenggat.

Dan aku sudah cukup banyak merusak dengan tenggat.