Chapter Twenty Eight
Aku Ngitung Maju
[POV: Hari] · [Hari ke-158 sampai ke-189]
Dia membuka pagar sebelum aku sempat memencet bel.
“Kamu jalan kaki?”
“Iya.”
“Dari Gang Melati?”
“Iya.”
Kanaya berdiri di balik pagar besi rumahnya dengan kaus rumahan dan rambut yang tidak diikat, dan wajahnya melakukan hal yang sama seperti wajah Sekar tiga jam sebelumnya.
Dia tahu.
“Sekar cerita, ya,” katanya.
“Nggak sengaja.”
“Aku tahu.” Dia membuka pagarnya lebih lebar. “Masuk.”
“Nggak usah.”
“Har, ini jam enam—”
“Nggak usah,” kataku.
Dan dia berhenti.
Itu hal pertama yang berbeda malam itu, dan aku tidak menyadarinya sampai berhari-hari kemudian: dia berhenti waktu aku bilang tidak.
Empat bulan lalu dia akan menemukan cara. Dia akan bilang ya udah di teras aja, atau bentar aku ambil kursi, atau salah satu dari seratus kalimat yang kelihatan seperti pilihan padahal sudah diatur.
Malam itu dia cuma berdiri di balik pagarnya sendiri dan menunggu.
“Kenapa kamu nggak bilang.”
“Karena kalau aku bilang, kamu bakal nolak.”
“IYA. AKU BAKAL NOLAK.”
Aku belum pernah berteriak dua kali dalam satu hari seumur hidupku.
“Itu hak aku,” kataku. “Nolak itu hak aku, Nay. Kamu ngambil itu.”
“Iya.”
“Kamu ngambil itu.”
“Iya, Har.” Dia tidak membela diri sama sekali. “Aku ngambil itu.”
“Terus?”
“Terus nggak ada terusnya,” katanya. “Kamu bener.”
Dan itu membuatku lebih marah, karena aku datang empat puluh menit jalan kaki dengan tujuh argumen di kepala dan dia menyerahkan semuanya tanpa dilawan.
“Kamu tahu rasanya gimana?” kataku.
“Enggak.”
“Aku bangun tiap pagi selama empat bulan mikir akhirnya aku sanggup.” Suaraku pecah di kata terakhir dan aku benci itu. “Empat bulan, Nay. Aku bilang ke ibuku aku sanggup. Aku naruh uang di kaleng. Aku ngerasa—”
Aku berhenti.
“Ternyata itu dibeliin.”
Kanaya memegang jeruji pagarnya dengan dua tangan.
“Har.”
“Aku bukan proyek.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?” Aku tertawa, dan bunyinya jelek. “Nay, kamu nyusun map sembilan belas dokumen sama jam buka kelurahan. Itu proyek.”
“Iya.”
“Kamu nggak ngebantuin aku. Kamu ngerjain aku.”
Dan di situ dia diam agak lama.
“Iya,” katanya akhirnya. “Itu bener.”
“Kamu nggak bantah?”
“Enggak.”
“Kamu bisa bilang niatmu baik.”
“Niatku emang baik.” Dia memegang jeruji pagarnya. “Dan itu nggak ngebedain apa-apa. Aku udah pernah pakai alasan niat baik selama tiga puluh hari, Har. Aku tahu rasanya dari dalam.”
Aku memandangi trotoar.
“Bu Sari bilang mapnya kepake buat sembilan anak,” kataku.
“Iya.”
“Tujuh di antaranya kamu nggak kenal.”
“Iya.”
“Itu bagus.”
“Aku tahu itu bagus.” Suaranya berubah sedikit. “Dan aku nggak bikin itu buat sembilan orang, Har. Aku bikin buat satu. Sisanya kebetulan.”
“Kenapa kamu ngaku?”
“Karena kalau aku diem, kamu bakal mikir aku orang yang mikirin sembilan anak,” katanya. “Dan aku udah capek dianggep versi diriku yang lebih bagus dari aslinya.”
“Aku berhenti.”
“Apa?”
“Semuanya.” Dia mengucapkannya dengan cepat, seperti orang yang takut kalau melambat dia akan menawar. “Sabtu di rumahmu, berhenti. Ibu-ibu komplek, aku nggak akan ngirim satu pesan pun lagi. Map itu udah punya sekolah, aku nggak bisa narik, tapi aku nggak akan nyentuh apa-apa lagi soal itu.”
“Nay—”
“Dan aku nggak akan minta izin buat ngelakuin apa pun buat kamu lagi,” katanya. “Nggak akan nawarin, nggak akan nanya, nggak akan nyusun. Nol.”
Aku berdiri di depan pagar rumahnya dan tidak tahu harus bilang apa.
Karena aku datang untuk menuntut persis itu, dan sekarang aku mendapatkannya dalam waktu kurang dari satu menit, dan ternyata mendapatkan yang kamu tuntut itu tidak terasa seperti apa pun.
“Kenapa gampang banget,” kataku.
“Karena kamu minta.”
“Empat bulan kamu ngelakuin itu semua terus sekarang berhenti gara-gara aku ngomong sekali?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Kanaya menatapku lewat jeruji pagar.
“Karena empat bulan itu aku ngelakuin tanpa nanya,” katanya. “Sekarang kamu ngomong. Kalau aku nerusin sekarang, itu bukan salah lagi, Har. Itu jahat.”
Kami berdiri di situ dalam diam selama mungkin dua menit.
Lampu jalan komplek menyala. Ada mobil masuk ke rumah tiga pintu dari situ, dan pintu garasinya terbuka sendiri, dan orangnya masuk tanpa turun dari mobil.
“Nay.”
“Hm.”
“Kamu maunya apa.”
“Apa?”
“Dari semua ini.” Aku memegang tali tasku. “Kamu ngerjain empat bulan. Kamu berdarah tiap Sabtu. Kamu buang kepanitiaan. Buat apa?”
“Aku nggak tahu.”
“Kamu tahu.”
“Har—”
“Semua orang tahu,” kataku. “Orang nggak ngerjain sesuatu empat bulan tanpa tahu buat apa.”
Dan aku mengucapkan kalimat berikutnya dengan nada yang aku sesali sampai sekarang, karena nadanya bukan nada orang yang bertanya. Itu nada orang yang menagih.
“Kasih aku angkanya,” kataku. “Berapa lama sampai kamu ngerasa lunas?”
Kanaya tidak menjawab selama beberapa detik.
Lalu dia membuka pagarnya, dan keluar, dan menutupnya di belakangnya — jadi kami berdua berdiri di trotoar, di luar, di sisi yang sama.
“Tiga puluh hari,” katanya.
Aku merasakan sesuatu turun di perutku.
“Nay.”
“Tiga puluh hari,” ulangnya. “Mulai besok.”
“Kamu ngerti nggak kamu barusan ngomong apa.”
“Aku ngerti persis.”
“Nay—”
“Aku minta tiga puluh hari,” katanya, dan suaranya rata dan pelan dan sama sekali tidak gemetar. “Aku nggak akan ngelakuin apa-apa di belakang kamu. Nggak ada satu pun. Semua yang aku lakuin, kamu bakal lihat sendiri, di depan mata kamu.”
“Terus?”
“Terus tanggal tiga puluh, kamu yang mutusin.”
Lampu jalan itu berdengung pelan di atas kami.
“Mutusin apa?”
“Apa aja,” katanya. “Kamu mau aku pergi, aku pergi. Kamu mau aku pindah sekolah, aku pindah — aku serius, aku udah cek, semester dua masih bisa. Kamu mau aku diem aja seumur hidup, aku diem.”
“Kamu—”
“Kamu yang pegang tanggalnya, Har.”
Dan di situ aku mengerti apa yang sedang dia lakukan, dan aku mengerti dengan sangat jelas, dan aku benci bahwa aku mengerti.
Dia sedang mengembalikannya.
Persis. Bentuk yang sama. Tiga puluh hari, satu tanggal mati, dan satu orang yang memegang keputusannya di ujung.
Cuma sekarang aku yang memegang.
“Kenapa tiga puluh?”
“Kamu tahu kenapa.”
“Aku mau denger kamu bilang.”
Kanaya menatapku, dan untuk pertama kalinya malam itu ada yang bergerak di wajahnya.
“Karena aku ngambil tiga puluh hari dari kamu,” katanya. “Jadi aku ngasih tiga puluh hari ke kamu.”
“Itu nggak sama.”
“Aku tahu itu nggak sama.”
“Punya kamu ada kemenangannya di ujung,” kataku. “Punya kamu ada hadiahnya. Ini nggak ada apa-apa.”
“Iya,” katanya. “Makanya nggak sama.”
Aku bilang iya.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur: aku bilang iya karena aku marah.
Bukan karena aku penasaran, bukan karena aku memberi kesempatan, bukan karena apa pun yang bagus.
Aku bilang iya karena selama tiga puluh hari di bulan Mei aku duduk di pojok belakang sambil menghitung mundur sesuatu yang bukan punyaku, dan malam itu ada yang menyodorkan tanggal ke tanganku dan bilang ini punya kamu, dan bagian dari diriku yang paling jelek mengambilnya.
Aku pulang jalan kaki empat puluh menit lagi.
Aku sampai rumah jam delapan.
Ibu masih duduk di ruang tengah dengan lampu menyala dan tidak menjahit apa pun, yang berarti dia menunggu sejak jam lima, yang berarti dia tidak makan.
Aku duduk di lantai di depan kursinya dan bilang maaf, dan ibuku mengelus kepalaku satu kali, dan tidak ada dari kami yang membicarakan kalimat itu lagi selama bertahun-tahun.
Tiga puluh hari itu isinya begini.
Hari pertama dia menunggu di gerbang jam enam lima belas dan berkata, “Aku di sini.” Lalu tidak berkata apa-apa lagi sampai bel.
Hari ketiga dia menceritakan sesuatu tanpa aku tanya: bahwa waktu dia menemukan enam simpul benang merah di lemarinya, hal pertama yang dia ingin tanyakan ke ibuku bukan sejak kapan.
Yang dia ingin tanyakan adalah: berapa punya orang lain?
“Kenapa kamu cerita itu?” tanyaku.
“Karena itu bagian yang paling jelek,” katanya. “Dan aku janji kamu bakal lihat semuanya.”
Hari kelima dia bercerita bahwa dia sempat menangis di kamar mandi rumahnya sendiri di bulan September, bukan karena capek, tapi karena tidak ada yang menyadari tangannya berubah.
Hari kedelapan dia bilang dia menyimpan enam benda itu di kardus di rak paling atas lemarinya dan menulis “Dibayar” di sisinya, dan bahwa dia baru sadar tiga hari kemudian bahwa dia sedang menyimpan struk.
Hari kesebelas dia tidak bicara sama sekali. Dia cuma jalan di sebelahku sampai simpang, lalu belok.
Hari keempat belas Fikri ikut jalan pulang bersama kami sampai halte, tidak diundang, sambil main HP, dan tidak mengucapkan satu kata pun selama dua puluh menit.
Waktu Kanaya sudah naik bus, dia berkata:
“Gue nggak lagi ngebelain dia.”
“Aku nggak nuduh apa-apa.”
“Gue cuma pengen liat.”
“Liat apa?”
“Dia nggak ngelakuin apa-apa.” Fikri memasukkan HP-nya ke saku. “Dua puluh menit, Har. Gue perhatiin. Dia nggak ngatur satu pun.”
“Terus?”
“Gue nggak tau lo tau atau enggak,” katanya, “tapi orang kayak dia diem dua puluh menit itu kayak orang lain lari maraton.”
Hari ketujuh belas hujan, dan dia membawa dua payung.
Bukan satu.
Dua.
Dia memberikan satu tanpa berkata apa-apa, dan kami berjalan ke halte dengan jarak satu setengah meter di bawah dua payung yang terpisah, dan seluruh perjalanan itu terasa jauh lebih berisik daripada hujan.
Hari kedua puluh dia bilang, di simpang, tanpa aku tanya:
“Har, aku ngerti kalau kamu mutusin aku pergi.”
“Nay.”
“Aku cuma mau kamu tahu aku nggak bakal ngerusuh.” Dia menggeser tali tasnya. “Aku nggak akan telepon, nggak akan dateng, nggak akan nitip apa-apa lewat Sekar.”
“Kamu udah nyiapin itu?”
“Iya.”
“Udah lama?”
“Dari hari pertama.”
Dan aku pulang malam itu memikirkan bahwa orang itu berjalan di sebelahku selama dua puluh hari sambil membawa rencana lengkap untuk pergi.
Persis seperti aku, di bulan Mei, membawa amplop di kantong dalam tas selama empat hari.
Kami dua-duanya begitu, ternyata.
Kami dua-duanya menyiapkan perpisahan lebih dulu daripada apa pun yang lain.
Aku ingin menuliskan sesuatu tentang tiga puluh hari itu yang membuatku tidak nyaman.
Marahku habis di hari kesembilan.
Bukan karena dia melakukan sesuatu. Justru karena dia tidak melakukan apa-apa.
Kemarahan itu ternyata butuh bahan bakar, dan bahan bakarnya adalah lawan. Kalau kamu marah kepada orang yang membela diri, kamu bisa marah berbulan-bulan. Kalau kamu marah kepada orang yang bilang “iya, kamu bener” setiap kali, kemarahanmu kehabisan tempat berdiri.
Dan yang tersisa setelah marahnya habis bukan maaf.
Yang tersisa adalah kenyataan bahwa ada orang berjalan di sebelahku setiap pagi selama tiga puluh hari, dan aku sudah pernah merasakan itu sebelumnya, dan aku sudah tahu berapa harganya waktu berhenti.
Hari kelima belas aku mulai menghitung mundur lagi.
Bukan disengaja. Aku menyadarinya waktu sudah berjalan — aku sedang menjahit malam itu dan tanganku berhenti, dan angka lima belas ada di kepalaku tanpa aku panggil.
Lima belas.
Dan aku duduk di depan mesin ayah dengan jarum di tangan dan merasakan sesuatu yang lebih menakutkan dari apa pun di bulan Mei:
aku senang ada tanggalnya.
Karena kalau ada tanggalnya, aku tahu kapan berhenti berharap.
Hari kedua puluh sembilan dia membawa kotak kecil.
“Ini apa?”
“Nggak apa-apa.” Dia menaruhnya di meja. “Nggak usah dibuka sekarang.”
“Nay, kamu bilang nggak ada yang di belakang aku.”
“Ini nggak di belakang kamu.” Dia mengangkat bahu. “Ini di depan kamu. Aku naruhnya di depan kamu.”
Isinya kain perca putih dengan titik coklat kecil.
Sepuluh kali sepuluh senti. Penuh lubang bekas jarum, ratusan, sampai seratnya sendiri hampir menyerah. Empat kancing dengan jarak yang rata dan tusukan kelima yang meleset.
Dan di sudut kiri atas — di bagian yang masih utuh — ada sepuluh tusukan jelujur.
Jaraknya sama semua.
Aku mengukurnya di rumah malam itu dengan penggaris dan kaca pembesar, karena ternyata itu penyakit yang menular.
Tiga koma satu milimeter. Kesepuluh-sepuluhnya.
Aku duduk di depan mesin ayah dan memandangi sepuluh tusukan itu selama mungkin dua puluh menit.
Empat bulan, dua puluh dua hari Sabtu, jari yang tertusuk sampai berhenti dihitung.
Untuk sepuluh tusukan lurus.
Hari ketiga puluh jatuh hari Rabu.
Aku bangun jam lima. Aku menyetrika seragamku sendiri — kerah, bahu, lengan, badan. Aku sudah menyiapkan tiga jawaban semalam, dan aku menyiapkannya sungguh-sungguh, berbaring di kasur, seperti orang menghafal untuk lisan.
Aku belum memutuskan yang mana.
Itu bohong. Aku sudah memutuskan. Aku cuma belum berani menyebutnya di kepala sendiri.
Dia menunggu di gerbang jam enam lima belas seperti dua puluh sembilan hari sebelumnya.
“Pagi.”
“Pagi.”
Kami jalan ke kelas. Bel. Pelajaran pertama. Kedua. Istirahat.
Aku menunggu.
Pelajaran ketiga. Keempat. Istirahat kedua.
Aku menunggu.
Bel pulang.
Dia membereskan tasnya, menyampirkannya di bahu kanan, dan berjalan ke pintu.
“Nay.”
Dia berhenti.
“Hm?”
Dan aku berdiri di kelas 12 IPA-3 dengan tiga jawaban di kepala dan tidak ada satu pun yang bisa aku pakai, karena tidak ada yang bertanya.
“Hari ini tanggal berapa?” kataku.
Kanaya melihat ke kalender di dinding kelas.
“Tanggal delapan,” katanya.
Lalu dia keluar.
Aku berdiri di kelas kosong itu selama mungkin lima menit.
Dia tidak menagih.
Dia tidak bertanya. Dia tidak berhenti di depanku dan bilang ya udah, tiga puluh hari, kamu udah mutusin?. Dia tidak memberi satu pun tanda bahwa dia ingat.
Dan dia ingat. Aku tahu dia ingat, karena orang itu menghitung segala sesuatu, karena itu penyakitnya, sama seperti aku.
Aku pulang jalan kaki dan aku marah lagi — untuk yang terakhir kalinya — dan marahnya kali ini bentuknya aneh, karena aku marah kepada orang yang tidak menagih hutangnya kepadaku.
Malam itu aku duduk di depan kalender bunga di dinding ruang jahit.
Kalender tahun ini. Gambarnya bunga juga, karena Toko Pak Hasan mengeluarkan model yang sama setiap tahun.
Ada satu kotak yang kertasnya sudah menipis dan warnanya beda dari kotak-kotak di sekitarnya.
Tanggal delapan.
Hari ini.
Aku memandanginya lama sekali, dan aku menunggu perasaan yang seharusnya datang — lega, atau selesai, atau apa pun yang datang waktu hitungan mundur sampai di nol.
Tidak ada.
Yang datang justru sesuatu yang lain, dan aku butuh waktu sampai jam satu pagi untuk mengenalinya.
Bulan Mei, hari ketiga puluh, aku berdiri di kelas dan menyerahkan amplop dan pulang dengan perasaan bahwa sesuatu sudah ditutup dengan benar.
Sakit. Tapi ditutup.
Malam itu tidak ada yang ditutup.
Dan aku sadar, sambil duduk di depan kalender bunga di ruang jahit, bahwa selama tujuh belas tahun aku tidak pernah sekalipun berada dalam keadaan di mana sesuatu tidak punya ujung.
Ayah punya ujung. Kelas sembilan punya ujung — empat puluh menit, lalu selesai. Tiga puluh hari punya ujung.
Bahkan pesanan punya ujung: kamu terima kainnya, kamu kerjakan, kamu antar, kamu tulis di buku, selesai.
Aku bisa bertahan menghadapi apa pun yang ada tanggalnya.
Aku tidak punya satu pun keterampilan untuk hal yang tidak berhenti.
Hari ketiga puluh satu dia ada di gerbang jam enam lima belas.
Aku berhenti sepuluh meter dari situ.
“Pagi,” katanya.
“Nay.”
“Hm?”
“Kemarin hari ketiga puluh.”
“Iya.”
“Kamu nggak nanya apa-apa.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
Dan Kanaya Larasati berdiri di gerbang sekolah jam enam lima belas pagi, dengan tas di bahu kanan, dan mengatakan kalimat yang aku ulang di kepalaku setiap kali aku hampir menghitung mundur lagi selama bertahun-tahun sesudahnya:
“Karena kamu ngitung mundur, Har.”
Dia menyampirkan tasnya lebih tinggi.
“Aku ngitung maju.”
“Nay.”
“Aku nggak minta apa-apa,” katanya, cepat, seperti orang yang takut dipotong. “Beneran. Tiga puluh hari itu buat kamu, bukan buat aku. Kalau kamu mau mutusin, kamu bisa mutusin kapan aja — kemarin, hari ini, tahun depan.”
“Terus kalau aku nggak mutusin?”
“Ya nggak apa-apa.”
“Sampai kapan?”
Dan dia menjawabnya seperti orang yang menjawab pertanyaan tentang cuaca:
“Nggak tahu,” katanya. “Aku nggak pakai angka lagi.”
Bel pertama berbunyi.
Dia berjalan masuk.
Aku berdiri di gerbang selama beberapa detik lagi, dan aku memikirkan hal yang paling sederhana dan paling merepotkan yang pernah aku pikirkan seumur hidupku:
kalau tidak ada tanggalnya, aku tidak tahu berapa banyak yang boleh aku ambil.
Dan untuk pertama kalinya sejak umur sebelas, aku berjalan ke kelas tanpa tahu sisa berapa.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju reading
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup