← Garansi Seumur Hidup

Chapter Fifteen

Sisa Delapan

[POV: Hari] · [Hari ke-22]


Ibu memakai kebaya.

“Bu, ini cuma ambil rapor.”

“Ibu tahu.”

“Yang lain pakai daster juga ada.”

“Ya itu yang lain.” Dia membetulkan peniti di bahunya sendiri di depan cermin ruang tengah. “Ibu cuma keluar rumah tiga kali setahun, Har. Masa iya nggak dandan.”

“Ibu keluar tiap hari ke pasar.”

“Itu bukan keluar rumah. Itu kerja.”

Sekar duduk di anak tangga sambil makan roti.

“Ibu cakep.”

“Nah.”

“Kak Hari juga cakep.”

“Sekar, kamu lagi butuh apa.”

“Aku butuh tiga ribu.”


Aku menyerahkan dua surat ke Bu Sari jam delapan lewat sepuluh.

Yang pertama surat kuasa punyaku, yang standar, yang formatnya sudah ada di grup kelas.

Yang kedua aku tulis tangan sendiri semalam, empat kali, karena tiga yang pertama bunyinya seperti orang mengemis.

Bu Sari membaca yang kedua dua kali.

“Kanaya tahu?”

“Tahu, Bu.”

“Dia setuju?”

Aku ingat aku berhenti sebentar sebelum menjawab.

“Dia bilang nggak usah,” kataku. “Terus aku tanya lagi besoknya. Terus dia bilang ya udah.”

Yang tidak aku ceritakan ke Bu Sari adalah jeda di antaranya.

Aku bertanya lagi hari Jumat pagi, di kelas, sebelum bel. Aku sudah menyiapkan tiga kalimat dan kehilangan dua di jalan.

“Nay.”

“Hm?”

“Ibuku ambil dua.”

“Har, aku udah bilang—”

“Aku tahu kamu bisa sendiri,” kataku. “Aku nggak nawarin karena kamu nggak bisa.”

Kanaya berhenti menulis.

“Terus kenapa?”

“Karena kursinya kosong.”

“...Apa?”

“Kursi tamu di ruang kelas cuma ada satu per anak.” Aku menatap mejaku. “Kalau nggak ada yang duduk, kursinya tetep di situ, kosong, sepanjang sesi. Semua orang lewat.”

Kanaya diam sangat lama.

“Kamu mikirin sampai situ?”

“Iya.”

Dia menutup bukunya, menaruh pulpen di atasnya, dan meluruskan keduanya sampai sejajar dengan tepi meja — persis seperti yang aku lakukan setiap pagi, kebiasaan yang aku tidak sadar dia contoh.

“Ya udah,” katanya. Suaranya pelan sekali. “Makasih.”

Bu Sari menatapku dari balik kacamatanya.

Lalu dia melepas kacamatanya, melipatnya, dan menaruhnya di meja — yang di sekolah ini adalah tanda bahwa ada sesuatu yang tidak akan dilaporkan ke mana-mana.

“Sesi dua, ya,” katanya. “Ibumu duduk dulu.”


Kanaya datang jam setengah sembilan dan berhenti di pintu ruang kelas.

Aku melihat wajahnya waktu dia melihat ibuku duduk di kursi tamu, dengan kebaya, dengan tas kecil di pangkuan, dengan punggung tegak seperti orang yang sedang menunggu giliran di kantor kelurahan.

Wajahnya melakukan tiga hal dalam waktu kurang dari dua detik.

Yang pertama bingung. Yang kedua mengerti. Yang ketiga — dan ini yang aku ingat — dia langsung menoleh ke arah lain dan menarik napas satu kali, dalam, seperti orang yang harus mengunci sesuatu sebelum masuk ruangan.

Lalu dia masuk sambil tersenyum.

“Tante.”

“Nak Kanaya.” Ibu berdiri. “Duduk sini.”

“Tante nggak perlu—”

“Ibu udah antre, lho.” Ibu menepuk kursi di sebelahnya. “Masa antreannya dibuang.”

Kanaya duduk.

Bu Sari memanggil nama ibu untuk raporku duluan. Prosesnya empat menit: nilai fisika naik, nilai olahraga stagnan, catatan wali kelas mengatakan bahwa saya pendiam namun dapat diandalkan, yang menurutku adalah dua kalimat yang cara menuliskannya di rapor sudah dihafal semua guru di Indonesia.

Lalu Bu Sari memanggil nama Kanaya.

Dan ibuku maju.


Aku menunggu di koridor karena aku tidak sanggup ada di ruangan itu.

Aku berdiri di dekat jendela nako, memandangi lapangan, dan menghitung anak yang lewat.

Sembilan menit.

Rapor Kanaya butuh sembilan menit, dan raporku empat, dan aku tahu persis kenapa: karena kalau yang mengambil rapor adalah orang tua yang jarang datang, Bu Sari selalu bercerita lebih banyak.

Waktu mereka keluar, mata Kanaya merah tapi keringnya sudah selesai.

“Har,” katanya. “Rangking dua.”

“Aku tahu.”

“Kok tahu?”

“Kamu selalu dua.”

“Aku bisa satu kalau aku nggak ngurusin acara.”

“Iya.”

“Aku bisa.”

“Aku tahu,” kataku. “Aku nggak bilang enggak.”

Ibu berjalan di depan kami sambil membetulkan tali tasnya.

Di depan ruang guru, Fikri sedang duduk sendirian di kursi tunggu, dengan HP di tangan dan tanpa siapa-siapa di sebelahnya.

“Fik.”

“Har.”

“Ortumu mana?”

“Nggak dateng.” Dia tidak mengangkat kepala. “Gue ambil sendiri. Udah dari kelas sepuluh gini.”

“Boleh?”

“Boleh kalau kita yang minta.” Dia menggulir layarnya. “Bu Sari udah hafal.”

Aku berdiri di situ agak lama.

“Har, jangan nengokin gue kayak gitu.”

“Aku nggak—”

“Muka lo persis Bagas.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.” Fikri akhirnya mengangkat kepalanya, dan dia melihat ke arah Kanaya, lalu ke arah ibuku yang sedang menunggu di ujung koridor dengan kebayanya. “Har.”

“Hm.”

“Yang tadi itu bagus.”

“Apanya?”

“Nyokap lo, dua rapor.” Dia kembali ke layarnya. “Serius. Itu bagus.”

“Fik.”

“Hm?”

“Kamu mau ikut? Ibu bawa lontong.”

Fikri berhenti menggulir.

“Berapa?”

“Enam.”

“Gue ikut.”

Ibu berjalan di depan kami bertiga sekarang, dan Sekar muncul entah dari mana dengan es lilin, dan Bagas berteriak dari lapangan menanyakan apakah kami mau main, dan kami bilang tidak, dan dia tetap ikut.

Aku tidak menyadari waktu itu bahwa itu terakhir kalinya kami berlima berjalan keluar dari gerbang sekolah tanpa ada satu pun dari kami yang tahu apa-apa.

Di ujung koridor, ibu memperlambat langkahnya sampai Kanaya sejajar dengannya.

“Nak Kanaya.”

“Iya, Tante?”

“Kata Bu Sari kamu nolak jadi ketua OSIS tahun ini.”

“Iya, Tante. Kelas dua belas soalnya, takut nggak fokus.”

“Bagus.” Ibu mengangguk. “Kadang berhenti ngurusin orang itu perlu.”

Kanaya tertawa kecil. “Iya, Tante.”

“Tapi ibu heran.”

“Kenapa, Tante?”

Ibu berhenti di ujung koridor, memutar badan, dan menatap Kanaya dengan cara ibu menatap kain sebelum menggunting.

“Kalau kamu nolak yang gede,” katanya, “kenapa yang kecil-kecil masih kamu pegang semua?”

Kanaya tidak menjawab.

Ibu tersenyum, menepuk lengannya sekali, dan berjalan ke parkiran.

Dan aku berdiri di koridor sekolah pada hari Sabtu pagi dengan perasaan bahwa ibuku baru saja mengatakan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang dia sadari, kepada orang yang mengerti persis apa maksudnya.

Vania berdiri di ujung koridor.

Dia datang untuk sesi tiga, dengan mamanya yang memakai kacamata hitam di dalam gedung, dan dia berdiri di situ entah sejak kapan.

Dia melihat ibuku. Lalu melihat Kanaya. Lalu melihat aku.

Waktu kami berpapasan, dia berkata satu kalimat, pelan, hampir ramah.

“Nay.”

“Hm?”

“Ibunya pakai kebaya.”

Kanaya tidak menjawab.

“Nggak apa-apa,” kata Vania. “Aku cuma bilang.”

Dia berjalan lewat.

Dan aku ingat aku berpikir, sambil melihat punggungnya menjauh, bahwa Vania Alessandra adalah satu-satunya orang di sekolah ini yang mengerjakan pekerjaannya dengan sangat teliti, dan bahwa kalau dia lahir di keluarga lain, dia mungkin akan jadi orang yang sangat baik.


“Har.”

“Hm.”

“Ibumu tahu?”

Kami sedang berjalan ke gerbang. Ibu sudah jalan duluan bersama Sekar yang muncul entah dari mana dengan es lilin.

“Tahu apa?”

“Soal aku.” Kanaya menggeser tali tasnya. “Soal rumahku, soal— ya, soal itu.”

“Aku nggak cerita apa-apa.”

“Terus kok dia bisa ngomong gitu?”

“Ibuku itu ngukur orang,” kataku. “Nggak bisa dimatiin.”

Kanaya berjalan beberapa langkah tanpa bicara.

“Har.”

“Iya.”

“Aku nggak bisa bales ini.”

“Nggak usah.”

“Aku nggak bisa bales ini.” Dia berhenti. “Kamu ngerti nggak? Tante Ratih pakai kebaya. Buat aku. Dia bahkan nggak kenal aku.”

“Dia kenal.”

“Tiga minggu, Har.”

“Ibuku ngukur badanmu di hari kedelapan,” kataku. “Buat ibuku itu udah kenal.”

Kanaya menutup wajahnya dengan satu tangan dan tertawa dengan suara yang setengah rusak.

“Aku bakal jadi orang jahat,” katanya.

Dia bilang itu sambil tertawa, dengan nada bercanda, di trotoar depan sekolah, jam sepuluh pagi.

“Kenapa gitu?”

“Karena orang yang nggak bisa bales itu biasanya jadi jahat,” katanya. “Dari dulu gitu.”

“Nay.”

“Aku bercanda.”

“Oke.”

“Aku bercanda, Har.”

“Iya,” kataku. “Aku tahu.”


Malam itu aku membuka buku catatan coklat itu lagi.

Bukan ke halaman yang tidak punya tanggal. Aku sudah menulis apa yang perlu di sana kemarin malam, dan aku belum siap melihat kata coba itu lagi.

Aku membuka halaman kosong pertama di bagian belakang, dan aku menulis judul baru dengan huruf yang sama rapinya dengan seluruh halaman lain di buku itu:

YANG SUDAH DIBAYAR

Lalu aku mulai menulis daftarnya.

  1. Payung biru tua. Hujan, hari kelima. Dua puluh senti yang nggak ketutup jatuh ke bahu kiri.
  2. Pulpen. Tutupnya digigit di dua tempat. Dikembalikan hari keenam.
  3. Tawa: bahu naik dulu, baru suara. Tangan naik setengah jalan lalu berhenti.
  4. Es teh manis setengah, dibeliin di tembok belakang kantin.
  5. Kalimat: “Aku nanya capek atau enggak, bukan biasa atau enggak.”
  6. Meja tengah. Empat orang. Ketawa buat lelucon yang nggak lucu.
  7. Tangan, gang kain Pasar Lama. Lima kali geser cari posisi.
  8. Dua jam empat menit. Bahu diturunin tiga senti.
  9. Dahi di bahu, satu setengah detik, di parkiran bus.
  10. Pelukan. Dia yang lepas duluan.

Aku berhenti di nomor sepuluh dan memandangi daftar itu cukup lama.

Aku ingin menjelaskan kenapa aku menulisnya, karena kalau tidak dijelaskan, ini kelihatan seperti perbuatan orang yang tidak sehat.

Begini.

Kalau kamu mengerjakan pesanan orang, kamu harus tahu persis apa yang sudah selesai dan apa yang belum. Kalau tidak, kamu akan menyerahkan barang setengah jadi, atau — lebih sering — kamu akan terus mengerjakan sesuatu yang sebenarnya sudah beres, dan tidak pernah bisa berhenti.

Sepuluh hal itu sudah beres.

Sepuluh hal itu sudah terjadi, sudah lunas, sudah tidak bisa ditarik kembali oleh siapa pun, termasuk oleh orang yang memberikannya tanpa tahu dia sedang memberi.

Kalau tanggal tiga puluh datang dan semuanya berhenti, aku tidak akan berdiri di sana dan berpikir aku nggak dapet apa-apa.

Aku akan berdiri di sana dan tahu bahwa aku dapat sepuluh.

Itu bukan penghiburan. Aku tidak sedang menghibur diri.

Itu pembukuan.

Ibu masuk ke ruang jahit sekitar jam sembilan untuk mengambil benang, melihat aku sedang menulis, dan berhenti.

“Nyatet pesanan?”

“Iya, Bu.”

Ibu tidak percaya. Aku tahu dari cara dia mengambil benangnya lebih lama dari yang perlu.

“Har.”

“Iya.”

“Kalau kamu udah nyiapin diri buat sesuatu yang belum kejadian,” katanya, “itu artinya kamu udah tahu bakal kejadian.”

Aku tidak menjawab.

“Ibu nggak nanya apa,” lanjutnya. “Ibu cuma mau bilang, orang yang nyiapin diri itu biasanya nggak siap-siap amat.”

“Bu.”

“Hm?”

“Kalau ada barang yang cuma bisa dipinjem,” kataku, “mendingan nggak usah dipegang sama sekali, atau dipegang sampai waktunya habis?”

Ibu berdiri di ambang pintu dengan gulungan benang di tangan.

“Kamu nanya ke ibu,” katanya, “atau kamu nyari orang buat ngiyain jawaban yang udah kamu pilih?”

“...Yang kedua.”

“Ya udah.” Dia mematikan lampu ruang tengah. “Ibu ngiyain.”

“Bu.”

“Apa?”

“Serius.”

Ibu berhenti.

“Dipegang,” katanya akhirnya. “Tapi jangan sampai lupa itu pinjeman, Har. Yang bikin orang hancur itu bukan barangnya balik. Yang bikin hancur itu waktu dia sadar dia udah lupa itu bukan punya dia.”

Delapan hari lagi.


Aku mengambil satu lembar kertas dari lemari ibu.

Bukan kertas HVS. Kertas yang biasa ibu pakai untuk membungkus pesanan yang mahal — agak tebal, warnanya krem, permukaannya sedikit kasar, jadi tinta tidak lari.

Aku memotongnya jadi ukuran yang pas untuk amplop kecil.

Lalu aku menaruhnya di laci meja, di bawah buku catatan, dan aku menutup lacinya.

Aku belum menulis apa-apa di kertas itu.

Aku cuma ingin tahu bahwa kertasnya sudah ada.

“Kak.”

Sekar di pintu. Rambutnya basah, bau sabun, memeluk bantal.

“Kenapa?”

“Kak Kanaya besok dateng?”

“Nggak tahu.”

“Kalau lusa?”

“Nggak tahu, Sekar.”

“Kakak selalu tahu.” Dia menyandarkan kepalanya ke kusen. “Kakak tahu semuanya.”

Aku mematikan lampu meja.

“Nggak semuanya,” kataku.

“Kakak tahu ukuran orang cuma dari lihat.”

“Itu beda.”

“Bedanya apa?”

Aku memikirkan itu sambil menaruh gunting ke laci.

“Aku bisa tahu ukuran,” kataku. “Aku nggak bisa tahu berapa lama.”

Sekar tidak mengerti, tentu saja. Dia sembilan tahun. Dia cuma menguap dan bertanya apakah aku mau susu.

Aku bilang tidak.

Lalu aku bilang iya.

Kami duduk di lantai ruang jahit, minum susu kotak berdua, jam sepuluh malam, sambil mendengar mesin ibu dari ruang tengah.

Dan aku memutuskan bahwa ini juga masuk daftar, jadi aku menyalakan lampu meja lagi dan menulis nomor sebelas.

  1. Susu kotak, lantai ruang jahit. Hari kedua puluh dua.

Sekar melongok ke buku itu.

“Kak, itu daftar apa?”

“Utang.”

“Utang Kakak?”

“Iya.”

“Ke siapa?”

Aku menutup bukunya dan melingkarkan karet gelangnya dua kali.

“Belum tahu,” kataku.