← Garansi Seumur Hidup

Chapter One

Anak yang Tidak Dilihat

[POV: Hari] · [Hari ke-1]


Kancing kedua dari atas di seragam Regita cuma disangga satu helai benang. Aku sudah tahu itu sejak Rabu.

Cara mengenalinya gampang, sebenarnya. Kancing yang sehat itu diam. Kancing yang sebentar lagi lepas bergoyang setengah putaran lebih lama dari yang lain setiap kali pemiliknya bergerak, seperti gigi susu yang tinggal nunggu waktu. Regita banyak bergerak. Regita bicara pakai seluruh badan. Jadi menurut hitunganku, kancing itu punya sisa umur dua hari.

Meleset satu hari. Kancing itu jatuh Senin pagi, jam pelajaran pertama, tepat ketika Regita membalik badan untuk membantah sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dibantah.

Bunyinya kecil. Tik. Lalu menggelinding tiga meja, berputar dua kali, dan berhenti di dekat kaki mejaku.

Tidak ada yang menoleh.

Itu hal yang paling sering aku pikirkan tentang sekolah ini: begitu banyak yang jatuh di sini dan begitu sedikit yang berbunyi cukup keras untuk membuat orang menoleh.

Aku menunduk, pura-pura mengambil pensil, dan memungutnya.

Kancing seragam standar, empat lubang, warna putih tulang yang sudah agak kekuningan karena terlalu sering kena deterjen murah. Aku memasukkannya ke kaleng bekas permen di dalam tas. Kalengnya berdenting pelan waktu kututup.

Empat puluh empat.

Empat puluh empat kancing dari orang-orang yang tidak tahu kancingnya hilang.


“Har.”

Fikri menyodorkan layar HP-nya ke arahku sebelum bel istirahat selesai berbunyi. Di layarnya ada animasi bintang-bintang berputar, lalu berhenti di warna ungu.

“Ungu itu bagus?” tanyaku.

“Ungu itu sampah.” Dia menarik HP-nya kembali dengan wajah orang yang baru saja kehilangan warisan keluarga. “Delapan puluh pull. Delapan puluh, Har. Secara statistik aku harusnya udah dapet.”

“Statistik nggak ngutang.”

“Nah itu dia. Itu yang salah dari dunia.” Fikri menyandarkan punggungnya ke tembok. “Semua orang ngerasa dunia ngutang sama mereka. Padahal enggak. Dunia itu gacha. Kamu bisa jadi orang baik seumur hidup terus tetep dapet ungu.”

Aku mengangguk. Kadang Fikri mengatakan hal-hal yang kalau ditulis di kaus bisa laku.

Fikri satu-satunya orang di kelas ini yang bicara sama aku tanpa harus punya alasan. Bukan karena dia baik. Dia cuma benar-benar tidak peduli siapa yang duduk di sebelahnya, selama orang itu tidak menghalangi cahaya ke layar HP-nya. Buatku itu jauh lebih berharga daripada baik. Orang baik biasanya baik dulu, baru pergi.

Dari koridor, suara Kanaya Larasati terdengar duluan sebelum orangnya kelihatan.

“—jangan dua-duanya hari Kamis, itu bentrok sama try out. Geser yang dekorasi ke Sabtu, terus panitia konsumsi jangan anak IPA-3 semua, nanti kelasnya kosong.”

Dia lewat depan pintu sambil memegang map, ditempeli tiga orang yang mengangguk-angguk seperti bebek. Rambutnya diikat rapi. Seragamnya kelihatan lebih mahal daripada seragamku, padahal aku tahu persis itu bahan yang sama; dia cuma tahu cara memakainya.

“Dia itu aneh,” gumam Fikri.

“Kenapa aneh?”

“Dia inget nama semua orang.” Fikri menguap. “Semua orang, Har. Termasuk anak kelas sepuluh yang cuma pernah dia temuin sekali pas MPLS. Itu bukan ramah. Itu database.”

Aku tidak menjawab. Aku sedang memperhatikan hal lain.

Waktu Kanaya lewat, dia melirik ke dalam kelas — sekali, cepat — dan berhenti sepersekian detik di sudut belakang. Di mejaku.

Aku menunduk sebelum sempat memastikan.

Poniku cukup panjang untuk itu. Itu memang gunanya.


“BAGUS! Har! Baguuus!”

Bagas Mahardika menepuk bahuku waktu masuk kelas, dengan tenaga seseorang yang tidak pernah dalam hidupnya harus memperhitungkan berat tangannya sendiri.

“Aku belum ngapa-ngapain,” kataku.

“Nah, itu dia. Kamu tuh selalu tenang.” Dia menunjuk mukaku pakai dua jari, seperti pelatih. “Aku tuh kalau ulangan panik. Kamu enggak. Kamu tuh stabil.”

“Aku... nggak apa-apa.”

“Nah!” Dia tertawa, senang sekali, entah pada apa. “Itu maksudku!”

Lalu dia pergi ke mejanya sambil masih mengacungkan jempol ke arahku dua kali.

Aku duduk pelan-pelan.

Masalah dengan Bagas adalah dia benar-benar tulus. Tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang mengejek. Kalau dia mengejek, aku tahu harus bagaimana — aku sudah punya seluruh sistem untuk itu, sudah dipasang sejak kelas sembilan, jalannya otomatis. Tapi orang yang menyemangatiku dengan sungguh-sungguh membuat sistemku macet.

Aku tidak punya prosedur untuk dilihat dengan baik.

“Dia naksir Kanaya,” kata Fikri tanpa mengangkat kepala dari HP.

“Ya.”

“Semua orang tahu.”

“Ya.”

“Kamu juga tahu?”

“Aku duduk paling belakang, Fik. Dari sini kelihatan semuanya.”

Fikri diam sebentar. Lalu, “Itu creepy kalau diucapin gitu.”

Mungkin.

Tapi kalau kamu duduk di pojok belakang selama dua tahun, kamu akhirnya belajar membaca ruangan seperti membaca kain: dari arah seratnya, dari mana tarikannya datang.

Dan tarikan di kelas ini selalu datang dari meja belakang sebelah kanan.

Vania Alessandra duduk di tengah, punggungnya menempel ke tembok, kakinya menyilang di lorong seolah lorong itu bagian dari mejanya. Di kirinya Nadine, yang setiap kali ada yang keterlaluan akan menoleh ke jendela — bukan menegur, cuma menoleh, seperti orang yang ingin percaya dia tidak ada di ruangan itu. Di kanannya Regita, yang tugasnya di dunia ini adalah menyuarakan hal yang sedang dipikirkan Vania supaya Vania tidak perlu menyuarakannya sendiri.

Waktu Kanaya lewat di koridor tadi, Vania melihatnya.

Bukan melirik. Melihat. Lama. Dengan senyum tipis yang sama sekali tidak sampai ke matanya, seperti orang yang sedang menaksir harga sesuatu di etalase dan sudah tahu dia akan membelinya.

Aku mencatat itu, lalu melupakannya.

Itu kesalahan pertamaku, tapi waktu itu aku belum tahu.


Bu Sari masuk lima menit sebelum jam terakhir dan mengumumkan hal yang paling kubenci di dunia ini setelah kamera.

“Rolling tempat duduk, ya. Bulan ini ganti.”

Kelas langsung ribut. Kursi ditarik-tarik, ada yang berdiri, ada yang langsung menawar dengan suara keras seolah ini pasar hewan.

Aku tidak ikut ribut. Aku tidak perlu.

Dalam empat semester terakhir, aku selalu berakhir di pojok belakang dekat jendela, dan bukan karena keberuntungan. Ada teknik untuk itu. Kamu cuma perlu tidak mengajukan diri untuk apa pun, tidak menolak apa pun, dan berdiri sedikit di luar lingkaran waktu orang membagi kelompok. Manusia punya kebiasaan menaruh barang yang tidak jelas mau ditaruh di mana ke tempat yang paling jauh.

Aku bukan mengeluh. Pojok belakang dekat jendela itu properti terbaik di kelas ini. Cahayanya bagus untuk melihat jahitan, dan tidak ada yang duduk di belakangku.

“Kanaya, bantu atur, ya,” kata Bu Sari. “Ibu ada rapat.”

“Siap, Bu.”

Tentu saja.

Kanaya berdiri di depan kelas dan seluruh keributan itu mereda dalam sepuluh detik. Bukan karena dia teriak. Dia tidak pernah teriak. Dia cuma mulai menyebut nama, satu per satu, dengan kecepatan orang yang sudah menyusun semuanya di kepala sebelum berdiri.

“Regita depan, biar nggak ngobrol terus. Dimas jangan dekat jendela, kamu tidur mulu. Nadine sama Vania jangan sebelahan—” ada protes, dia mengangkat tangan tanpa melihat, protesnya berhenti, “—nggak, kalian sebelahan itu ribut. Fikri di tengah.”

“Kenapa aku di tengah?” protes Fikri.

“Biar HP-nya kelihatan Bu Sari.”

Kelas tertawa. Fikri menggerutu dan pindah, tapi dia pindah.

Itu bagian yang membuatku selalu heran. Kanaya tidak memaksa siapa-siapa. Orang cuma... bergerak. Seperti kain yang ditarik satu benang di tempat yang tepat, lalu seluruh lipatannya jatuh sendiri ke posisi yang benar.

Aku memperbaiki barang. Dia menata orang.

Bedanya, barang tidak pernah tersinggung kalau kamu memperbaikinya diam-diam.

Namaku disebut paling akhir.

“Hari.”

Aku mengangkat kepala sedikit. Cuma sedikit.

“Kamu tetap di situ.”

Aku mengangguk. Bahuku turun setengah senti karena lega, dan aku sempat berpikir bahwa hari ini akan selesai seperti semua hari lainnya — rapi, tidak berbunyi, tidak ada yang jatuh.

Lalu Kanaya mengangkat tasnya sendiri, berjalan melewati enam meja, dan menaruhnya di kursi kosong di sebelahku.

Kelas hening satu detik.

Satu detik itu panjang sekali.

“Nay,” Vania memanggil dari belakang, suaranya terdengar geli. “Serius?”

“Serius kenapa?” Kanaya menarik kursinya, duduk, membuka map-nya di meja seperti tidak ada yang aneh sama sekali. “Aku butuh yang nggak berisik. Aku banyak kerjaan panitia.”

“Oh,” kata Vania. “Iya juga.”

Ada yang tertawa kecil di barisan belakang. Bukan tawa yang jahat. Tawa yang bahkan tidak repot-repot jahat, karena tidak menganggap ini cukup penting untuk dijahati.

Aku menatap mejaku.

Serat kayunya berjalan miring dari kiri atas ke kanan bawah, ada bekas tipe-x yang sudah menghitam, dan ada tulisan R + D yang digores pakai jangka oleh orang yang mungkin sudah lulus tiga tahun lalu.

Aku menghafal semua itu supaya tidak menoleh.

“Hari, ya?” katanya.

Suaranya lebih pelan dari yang tadi dipakai di depan kelas. Setengah nada lebih rendah.

“...Iya.”

“Aku Kanaya.”

“Aku tahu.”

Astaga.

“Maksudku—” Aku menelan ludah. “Sekelas. Jadi. Ya. Tahu.”

Dia tidak menertawakanku. Itu justru yang membuatku panik.

“Nggak ganggu, kan?” tanyanya.

“Nggak apa-apa.”

“Kalau ganggu bilang, ya.”

“Nggak apa-apa,” kataku lagi, karena ternyata itu satu-satunya kalimat yang tersisa di kepalaku.

Dia mengangguk, lalu kembali ke map-nya, dan mulai menulis dengan cepat.

Aku duduk diam sambil menghitung sesuatu yang tidak masuk akal untuk dihitung: jarak antara siku kami. Dua belas sentimeter. Kadang delapan, kalau dia menggeser badan untuk menulis.

Delapan sentimeter itu ternyata sangat, sangat dekat.

Menjelang bel, dia berhenti menulis dan menoleh sedikit.

“Boleh nanya?”

Aku mengangguk ke arah meja.

“Seragam kamu dijahit di mana?”

Kalimat itu masuk ke kepalaku dan tidak menemukan satu pun tempat untuk mendarat.

“...Kenapa?”

“Kampuh bahunya rapi.” Dia menunjuk dengan dagu, tidak menyentuh. “Punyaku ketarik terus di sini. Sudah tiga kali dipermak masih ketarik.”

Aku tahu jawabannya. Aku tahu persis kenapa bahunya ketarik — karena badannya turun sedikit di sebelah kiri, mungkin kebiasaan menggendong tas satu bahu, dan penjahitnya memotong pola simetris tanpa mengoreksi. Aku bisa menjelaskan itu dalam dua kalimat.

Yang keluar dari mulutku adalah:

“Nggak tahu.”

“Oh.” Dia mengangguk. “Ya udah.”

Lalu dia kembali menulis, dan aku menghabiskan enam menit berikutnya untuk membenci diriku sendiri dengan sangat sistematis.

Sepanjang sisa pelajaran aku tidak berani bergerak, karena kalau aku bergerak dia mungkin sadar bahwa dia sedang duduk di sebelah orang yang tidak seharusnya diduduki sebelahnya, lalu semuanya kembali normal.

Dan aku ingin menunda itu selama mungkin.


Jaket Regita ketinggalan di sandaran kursi waktu semua orang sudah pulang.

Aku menunggu sampai koridor benar-benar sepi, baru mengambilnya.

Di rumah, ruang depan kami bukan ruang tamu. Itu ruang jahit. Meja mesin ayah di dekat jendela, kain-kain digantung di paku sepanjang dinding, dan kotak-kotak plastik berisi resleting, kancing, benang, karet, disusun ibu dengan sistem yang cuma dimengerti ibu.

Ibu masih menyelesaikan kebaya pesanan orang, jadi aku pakai meja kecil di sudut.

Aku mengeluarkan kaleng permen, mencari kancing yang cocok, dan menemukannya di tumpukan bawah. Warnanya tidak persis sama. Selalu tidak persis sama. Tapi kalau dijahit dengan jarak benang yang sama dengan kancing-kancing lainnya, mata orang tidak akan pernah menangkapnya.

Itu rahasianya, sebenarnya. Orang tidak melihat warna. Orang melihat pola.

Kalau kamu tidak merusak polanya, kamu bisa menaruh apa saja di dalamnya dan tidak ada yang sadar.

Ibu berhenti mengayuh pedalnya dan melihat ke arahku dari balik kacamata bacanya.

“Punya siapa?”

“Anak sekelas.”

“Yang mana? Yang bahunya lebar itu?”

“Bukan.”

“Yang pinggangnya kecil tapi lengannya panjang?”

“Bu.”

“Ibu cuma tanya.” Ibu kembali menunduk ke kebayanya, tapi senyumnya kelihatan dari samping. “Kamu itu kalau menjahitkan punya orang, jarumnya beda.”

“Beda apanya.”

“Lebih pelan.” Mesin mulai berbunyi lagi. “Kalau punya sendiri kamu asal. Kalau punya orang kamu itung-itung dulu.”

Aku tidak menjawab, karena kalau aku menjawab, ibuku akan tahu bahwa dia benar, dan kalau ibuku tahu dia benar, itu akan diungkit sampai lebaran.

“Kak.”

Sekar muncul di pintu sambil menggigit sedotan susu kotak, dengan rambut yang jelas belum disisir sejak pulang sekolah.

“Itu bukan baju Kakak.”

“Bukan.”

“Itu baju cewek.”

“Iya.”

“Cewek siapa?”

“Temen.”

“Kakak nggak punya temen.”

Aku berhenti sebentar, lalu melanjutkan menjahit. “Aku punya Fikri.”

“Fikri itu bukan temen, itu tetangga meja.” Sekar duduk di lantai, di depanku, dengan wajah orang yang datang untuk memeriksa pembukuan. “Kak, Ibu bilang jangan gratisan terus.”

“Ini bukan gratisan. Ini nggak ada transaksinya.”

“Itu artinya gratisan, Kak.”

Kadang aku curiga adikku sembilan tahun ini akan jadi orang paling kaya di keluarga kami.

Aku mengunci benang di sisi dalam kain, memotongnya, dan membalik jaket itu. Dari luar, kancing kedua terlihat sama persis dengan lima kancing lainnya.

Besok pagi jaket ini akan tersampir lagi di kursi Regita sebelum bel pertama, dan Regita tidak akan pernah tahu bahwa kancingnya sempat hilang.

Itu bagian favoritku.

Bukan karena aku ingin dipuji diam-diam. Justru sebaliknya. Kalau orang tahu, mereka harus berterima kasih. Kalau mereka berterima kasih, mereka harus melihat. Dan kalau mereka melihat, cepat atau lambat mereka akan menemukan sesuatu di wajahku yang lebih menarik untuk ditertawakan daripada untuk disyukuri.

Jadi lebih baik begini. Semuanya rapi, semuanya kembali ke tempatnya, dan tidak ada yang berutang apa-apa padaku.

Aku mematikan lampu meja.

Malam itu, sebelum tidur, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan seumur hidup.

Aku menghitung.

Hari pertama.