← Garansi Seumur Hidup

Chapter Forty Eight

Datang Tanpa Membawa Apa-apa

[POV: Kanaya] · [Tiga puluh satu Desember]


Keretanya berangkat jam enam empat puluh dan sampai jam dua siang.

Tujuh jam dua puluh menit.

Aku tidak menghitungnya. Aku tahu angkanya karena tertulis di tiket, dan aku duduk di kursi yang menghadap belakang — karena itu yang tersisa, dan karena aku memesannya jam empat lewat dua puluh pagi — dan aku memandangi sawah yang bergerak menjauh selama tujuh jam dua puluh menit.

Aku tidak menyusun apa pun di kereta itu.

Aku memeriksanya. Aku memeriksa diriku sendiri berkali-kali, seperti orang membalik kain di bawah lampu, dan setiap kali aku mendapati kepalaku mulai menyusun sesuatu — urutan, kemungkinan, kalimat pembuka — aku menghentikannya.

Aku menghentikannya sembilan kali antara jam tujuh dan jam sepuluh.

Lalu berhenti sendiri.

Dan sisa empat jam itu aku duduk di kursi yang menghadap belakang tanpa satu pun rencana di kepalaku, dan aku ingin mencatat bahwa itu perasaan paling menakutkan yang pernah aku rasakan seumur hidup.

Aku bahkan tidak tahu aku akan mengetuk pintu apa.


Kotanya besar.

Lebih besar dari kotaku, dengan jalan yang lebih lebar dan angkot yang lebih banyak dan orang yang jalan lebih cepat, dan aku berdiri di depan stasiun selama mungkin lima menit sambil memegang tas ranselku dan tidak tahu harus ke arah mana.

Alamat yang dikirim Fikri: gang di belakang pasar, kecamatan yang namanya belum pernah aku dengar.

Aku naik angkot dua kali dan salah satu kali.

Aku sampai di gang itu jam empat sore.


Gangnya lebih sempit dari Gang Melati.

Itu hal pertama yang aku sadari. Gang Melati muat dua motor berpapasan; gang ini tidak. Terasnya tidak ada — pintu rumah langsung ke gang, dan di depan beberapa pintu ada kursi plastik dan ember.

Rumah nomor sebelas.

Pintunya kayu, catnya biru yang sudah pudar, dan di sebelahnya ada jendela kecil dengan tirai kain yang aku kenali dalam waktu kurang dari dua detik.

Kain itu bermotif bunga kecil. Aku pernah melihatnya tergantung di paku di dinding ruang jahit di Gang Melati nomor empat, di antara seratus dua puluh dua potong yang lain.

Aku mengetuk.


Yang membuka Sekar.

Dia lebih tinggi.

Empat setengah bulan, dan dia lebih tinggi, dan rambutnya dipotong pendek yang jelas bukan dipotong di salon, dan dia berdiri di ambang pintu memegang gagangnya dengan dua tangan.

Dia tidak berteriak.

Itu yang membuatku harus berpegangan ke kusen pintu.

Anak itu tidak berteriak. Dia berdiri di situ dan memandangiku selama mungkin lima detik dengan wajah yang tidak berubah sama sekali.

“Sekar.”

“Kak Kanaya.”

“Sekar, aku—”

Dan dia menabrakku.

Tidak memeluk. Menabrak — kepalanya masuk ke perutku dan tangannya melingkar di pinggangku dan seluruh badannya menekan ke depan, dan aku hampir jatuh ke belakang, dan aku memegang kusen pintu dengan satu tangan dan kepalanya dengan tangan yang lain.

Dia tidak bersuara sama sekali.

Aku berdiri di gang sempit di kota yang bukan kotaku, jam empat sore tanggal tiga puluh satu Desember, dengan anak berumur sepuluh tahun yang menabrakku dan tidak bersuara.

“Sekar.”

“Aku nggak nangis.”

“Iya.”

“Aku nggak nangis, Kak.”

“Iya, Sekar.”


Rumahnya satu ruangan dan satu kamar.

Aku menuliskan itu apa adanya karena kalau aku menghaluskannya berarti aku sedang melakukan hal yang persis dilarang oleh seluruh cerita ini.

Ruang depan tiga kali empat. Ada kasur lipat di sudut yang jelas dipakai tidur. Ada meja plastik. Ada satu lemari kain yang aku kenali karena aku pernah membantu memindahkan isinya.

Dan di dekat jendela, di atas meja kayu yang bukan meja kayu yang itu, ada mesin jahit.

Bukan yang hitam.

Mesin portable, plastik, merek yang aku tidak kenal, yang harganya mungkin seperlima dari yang dijual di Toko Pak Hasan.

Aku berdiri di ruangan itu memandangi mesin itu selama beberapa detik.

“Kak Kanaya.”

“Hm?”

“Itu punya Ibu,” kata Sekar. “Kak Hari beli bulan Oktober.”

“Oh.”

“Bunyinya jelek.”

Dan aku berdiri di ruang depan rumah kontrakan di gang yang tidak muat dua motor dan berkata “iya” dan tidak melanjutkan.


“Sekar, Kak Hari mana?”

“Rumah sakit.”

Aku menoleh.

“Ini hari Jumat,” katanya. “Ibu cuci darah hari Selasa sama Jumat.”

“Jam berapa?”

“Masuk jam satu, keluar jam lima.”

Aku melihat jam di HP-ku.

Empat lewat dua puluh.

“Sekar.”

“Iya?”

“Rumah sakitnya jauh?”

“Naik angkot satu kali.” Dia sudah mengambil sandalnya. “Aku anter.”

“Sekar, kamu sendirian di rumah?”

“Ada Bude Wati, tetangga sebelah.” Dia menunjuk pintu di seberang. “Tapi aku udah sepuluh tahun, Kak.”

Dan dia menutup pintu rumah itu dan menguncinya dengan gembok dari luar, dengan gerakan yang jelas sudah dilakukan ratusan kali, dan berjalan di depanku di gang sempit itu tanpa menoleh.


Rumah sakitnya besar dan tua dan penuh.

Sekar berjalan seperti orang yang tahu jalannya. Dia tahu pintu masuk mana yang tidak diperiksa, dia tahu lift mana yang lebih cepat, dia tahu bahwa lantai dua ujung kiri itu unit hemodialisis dan bahwa keluarga pasien menunggu di lorong karena ruang tunggunya cuma muat dua belas orang.

Anak itu berumur sepuluh tahun dan hafal denah rumah sakit.

“Kak Kanaya.”

“Hm?”

“Kak Hari duduknya selalu di situ.” Dia menunjuk ke ujung lorong. “Yang deket jendela. Kursi keempat.”

“Kenapa yang keempat?”

Dan Sekar menjawab dengan nada anak sepuluh tahun yang menjelaskan hal yang sangat jelas:

“Soalnya dari situ kelihatan pintunya,” katanya. “Jadi kalau ada apa-apa dia yang pertama tahu.”


Aku berdiri di ujung lorong itu selama mungkin dua menit.

Lorong lantai dua rumah sakit umum jam setengah lima sore itu penuh. Ada dua puluh sekian orang di sepanjang tembok — duduk di kursi besi, duduk di lantai beralas koran, berdiri sambil bersandar.

Ada bau yang tidak bisa aku sebutkan namanya.

Dan di kursi keempat dari ujung, dekat jendela, ada seseorang yang duduk dengan punggung tegak dan dua tangan di pangkuan dan kepala sedikit miring.

Kaus abu-abu. Celana kerja. Sandal.

Dia lebih kurus.

Aku menghitungnya dalam waktu kurang dari dua detik, dan aku benci diriku karena menghitungnya, dan aku menghitungnya karena aku belajar itu dari orang yang duduk di kursi keempat itu:

kerah kausnya longgar. Tulang selangkanya kelihatan. Pergelangan tangannya lebih kecil dari yang aku ukur di ruang jahit bulan Februari.

Dia tidak memegang HP.

Itu bagian yang membuatku harus berpegangan ke tembok.

Dua puluh sekian orang di lorong itu, dan hampir semuanya memegang HP, dan satu orang duduk di kursi keempat dekat jendela dengan dua tangan di pangkuan dan tidak memegang apa pun sama sekali.

Dia cuma duduk.

Empat jam.


Sekar berjalan duluan.

Aku tidak menahannya.

Dia menghampiri kakaknya dan menarik lengan kausnya, dan aku melihat Hari menoleh, dan aku melihat dia berkata sesuatu, dan aku melihat Sekar menunjuk ke ujung lorong dengan ibu jari.

Dan aku melihat orang itu mengangkat kepalanya.


Dia tidak berdiri.

Aku sudah menyiapkan diriku untuk berdiri — untuk dia berdiri, untuk berjalan ke arahku, untuk sesuatu yang bergerak.

Dia tidak berdiri.

Dia duduk di kursi keempat dari ujung dan memandangiku dari jarak dua puluh meter di lorong yang penuh orang, dan tidak melakukan apa pun selama mungkin sepuluh detik.

Jadi aku yang berjalan.

Dua puluh meter, lewat dua puluh sekian orang yang duduk di sepanjang tembok, dengan tas ransel di satu bahu dan tidak ada apa pun di tangan.

Aku sampai di kursi kelima — yang kosong, di sebelahnya — dan aku duduk.

Aku tidak mengucapkan satu pun kalimat.


Kami duduk di situ mungkin lima menit tanpa bicara.

Yang bicara duluan dia.

“Nay.”

“Iya.”

“Kamu naik apa?”

“Kereta.”

“Jam berapa berangkat?”

“Enam empat puluh.”

Dia mengangguk pelan.

“Tujuh jam dua puluh,” katanya.

“Iya.”

“Kamu makan?”

“Belum.”

Dan dia berdiri — akhirnya, setelah lima menit — dan berjalan ke ujung lorong dan kembali empat menit kemudian dengan satu roti dan satu air mineral dari kantin lantai satu, dan menaruhnya di pangkuanku, dan duduk lagi.

“Har.”

“Makan dulu.”

“Har, aku—”

“Nay.” Dia tidak melihat ke arahku. “Aku nggak bisa ngobrol sama orang yang belum makan tujuh jam. Aku nggak bisa. Itu bukan sopan santun, itu beneran nggak bisa.”

Jadi aku makan rotinya.

Seluruhnya, di lorong rumah sakit, jam setengah lima sore, sambil duduk di kursi besi di sebelah orang yang belum berbicara denganku selama dua puluh tiga hari.


“Nay.”

“Hm?”

“Kenapa kamu ke sini?”

Dan aku sudah menunggu pertanyaan itu selama tujuh jam dua puluh menit, dan aku tidak menyiapkan jawabannya, dan waktu pertanyaannya datang yang keluar dari mulutku adalah yang sebenarnya.

“Aku nggak tahu,” kataku.

Dia menoleh.

“Har, aku beneran nggak tahu.” Aku memegang botol air itu dengan dua tangan. “Aku beli tiket jam empat pagi. Aku nggak nyusun apa-apa. Aku nggak bawa apa-apa.”

“Nay—”

“Aku nggak bawa map,” kataku. “Aku nggak bawa daftar. Aku nggak nyari tahu jam kerja konveksimu, aku nggak nyari tahu jadwal cuci darah, aku nggak nyiapin satu pun kalimat.”

Aku menelan ludah.

“Aku nggak punya apa-apa buat kamu, Har.”


Dia tidak menjawab selama beberapa detik.

“Kamu tahu jadwal cuci darah.”

“...Sekar yang bilang. Tadi. Di rumah.”

“Kamu nggak nanya duluan?”

“Enggak.”

“Kamu dateng ke kota ini hari Jumat tanpa tahu ibuku cuci darah hari Jumat.”

“Iya.”

Dan Hari Baskara duduk di kursi keempat dari ujung di lorong lantai dua rumah sakit umum dan berkata:

“Kamu bisa cek itu dalam dua menit, Nay.”

“Aku tahu.”

“Kamu bisa telepon Sekar dari kereta.”

“Aku tahu, Har.”

“Kenapa nggak?”

Dan aku duduk di kursi besi itu dan memberikan jawaban yang aku susun tanpa sadar selama tujuh jam dua puluh menit menghadap belakang.

“Karena kalau aku ngecek,” kataku, “aku bakal nyusun.”


Dia tidak berkata apa-apa.

“Aku nyoba, Har,” kataku. “Di kereta. Sembilan kali kepalaku mulai nyusun sesuatu dan aku hentiin.”

“Nay—”

“Aku hitung. Sembilan kali antara jam tujuh sama jam sepuluh.” Aku menutup mataku. “Terus abis jam sepuluh berhenti sendiri, dan empat jam terakhir itu aku duduk tanpa satu pun rencana, dan itu paling serem yang pernah aku rasain.”

Lorong itu ramai. Ada anak kecil menangis di ujung sana. Ada perawat lewat mendorong sesuatu yang beroda.

“Aku bikin map donor,” kataku. “Sebelas hari. Aku nyusun kolomnya, aku nelepon tiga rumah sakit, aku tes di klinik, aku pake nama ibumu.”

“Aku tahu.”

“Dan itu semua aku kerjain,” kataku, “supaya aku punya sesuatu buat dibawa ke sini.”

Aku membuka mataku.

“Har, aku nggak bisa dateng ke tempat orang tanpa megang sesuatu,” kataku. “Aku nggak pernah bisa. Seumur hidup. Kalau aku nggak megang apa-apa aku ngerasa aku nggak berhak ada di ruangannya.”

Dan aku menoleh ke arahnya, di lorong rumah sakit itu, jam lima kurang sepuluh, dengan tangan kosong.

“Jadi aku nggak bawa apa-apa,” kataku. “Sengaja. Itu satu-satunya yang bisa aku kasih.”


Dia menutup matanya.

Cuma itu. Dia tidak menangis, dia tidak bergerak, dia cuma menutup matanya selama mungkin sepuluh detik dengan dua tangan tetap di pangkuan.

“Nay.”

“Hm?”

“Kamu ngerti nggak kamu barusan ngomong apa?”

“Aku ngerti.”

“Kamu bilang kamu nggak bisa benerin apa-apa.”

“Iya.”

“Kamu bilang itu keras-keras di lorong rumah sakit.”

“Iya.”

Dan dia membuka matanya dan memandangi tembok di seberang, dan berkata dengan suara yang untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga hari tidak rata sama sekali:

“Nay, aku nunggu ada yang bilang itu sepuluh bulan.”


“Semua orang bilang bisa,” katanya. “Semua orang. Bude Sri bilang nanti juga ada jalan. Bu Nur bilang sabar aja nanti ada rezeki. Orang di kantor konveksi bilang tenang, semua ada waktunya.”

Dia memegang lututnya sendiri.

“Dan aku duduk di kursi ini dua kali seminggu sejak bulan Februari,” katanya, “dan nggak ada satu pun dari itu yang bener.”

“Har—”

“Nggak ada jalan, Nay.” Suaranya patah di tengah. “Ginjalnya nggak balik. Daftar tunggu donor itu tahunan dan ibu masuk daftar bulan Juli dan sekarang urutan seribu sekian. Nggak ada rezeki yang tiba-tiba dateng, yang ada cuma aku kerja empat belas jam.”

Aku tidak bergerak.

“Dan tiap kali ada orang bilang ‘pasti ada jalan’,” katanya, “aku harus bilang makasih. Tiap kali. Karena mereka baik dan mereka nggak salah apa-apa.”

Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan.

“Kamu orang pertama yang dateng ke sini terus bilang nggak bisa,” katanya. “Sepuluh bulan, Nay.”


Aku menghitung sesuatu di lorong itu, dan aku menghitungnya karena aku tidak bisa berhenti, dan aku menyebutkannya keras-keras karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan.

“Har.”

“Hm?”

“Ini ke berapa?”

Dia menoleh.

“Apanya?”

“Kamu duduk di kursi ini,” kataku. “Sejak Februari, dua kali seminggu.”

Dan Hari Baskara — yang menghitung segala sesuatu, yang menghitung berapa kancing yang jatuh dan berapa detik orang diam dan berapa orang menoleh dalam seratus dua puluh meter — menjawab tanpa berpikir sedetik pun:

“Delapan puluh sembilan,” katanya.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Delapan puluh sembilan kali empat jam,” katanya. “Tiga ratus lima puluh enam jam.”

“Har.”

“Sendirian tiga ratus lima puluh enam jam,” katanya, dan suaranya sudah tidak ada lagi. “Nay, aku ngitung semuanya. Aku nggak bisa berhenti. Aku duduk di kursi ini terus otak aku ngitung ubin, ngitung orang lewat, ngitung berapa lama sekali ada yang keluar dari pintu itu.”

Aku mengulurkan tanganku.

Aku tidak memutuskan untuk melakukannya. Tanganku yang memutuskan, sama seperti tanganku memutuskan membalik kerah gaun itu di depan cermin bulan Agustus.

Aku menaruh tanganku di atas tangannya di pangkuannya.

Dan orang itu — yang tidak berdiri waktu aku datang, yang duduk tegak dengan dua tangan di pangkuan selama tiga ratus lima puluh enam jam — akhirnya membalik telapak tangannya dan menggenggam tanganku, dan menunduk, dan menangis di lorong lantai dua rumah sakit umum jam lima kurang lima sore di antara dua puluh sekian orang yang tidak ada satu pun menoleh.


Tidak ada yang menoleh.

Aku memperhatikan itu, dan aku memikirkannya sampai sekarang.

Dua puluh sekian orang di lorong itu, dan tidak ada satu pun yang menoleh ke arah anak laki-laki delapan belas tahun yang menangis di kursi keempat dari ujung.

Karena mereka semua sudah pernah.


Bu Ratih keluar jam lima lewat sepuluh.

Aku berdiri terlalu cepat.

Dia berjalan pelan sekali, dengan perawat di sebelahnya, dan tangan kirinya dibalut perban di tempat yang aku tidak sanggup lihat lama-lama, dan wajahnya lebih tipis dari empat setengah bulan lalu.

Dia melihatku.

Dan perempuan lima puluh tiga tahun itu berhenti di tengah lorong rumah sakit umum, dan berdiri di situ selama beberapa detik, dan berkata:

“Eh.”

Cuma itu.

Eh.

Sama persis seperti bulan Juni tahun lalu, waktu dia membuka pintu rumah di Gang Melati nomor empat dan melihat aku berdiri di teras dengan tangan kosong.

Setengah detik pertama.

Lalu setengah detik itu lewat, dan wajahnya menyesuaikan diri, dan aku sudah menyiapkan diri untuk nada yang rata.

Nada yang rata itu tidak datang.

“Nak Kanaya,” katanya, dan dia mengulurkan tangannya yang tidak diperban. “Ibu pegangan, ya.”


Kami pulang naik angkot berempat.

Aku, Bu Ratih, Sekar, dan orang yang duduk di sebelahku dan tidak melepas tanganku sepanjang jalan.

Di rumah kontrakan itu ada empat piring.

Aku menghitungnya waktu Sekar menaruhnya di meja plastik, dan aku menghitungnya karena aku tidak bisa berhenti, dan aku memikirkan kalimat yang diucapkan perempuan itu di ruang tengah rumah di Gang Melati bulan Mei tahun lalu:

Ibu masak buat empat orang tiap hari. Yang makan tiga.

Malam itu yang makan empat.

Dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebutkannya.


Aku menginap di kamar, bersama Bu Ratih dan Sekar.

Hari tidur di kasur lipat di ruang depan, seperti setiap malam sejak bulan Agustus.

Dan jam sebelas malam, waktu aku keluar untuk minum, dia masih duduk di depan mesin plastik itu dengan lampu meja menyala.

“Har.”

“Kamu belum tidur?”

“Kamu juga belum.”

“Ini harus selesai Senin.”

Aku duduk di lantai di sebelah kursinya, di ruang depan tiga kali empat itu, di rumah kontrakan di gang yang tidak muat dua motor.

“Har.”

“Hm?”

“Aku besok pulang jam sembilan.”

“Iya.”

“Aku nggak bisa lama, aku ada ujian tanggal empat.”

“Iya.”

“Har.”

“Hm?”

Dan aku duduk di lantai itu dan mengucapkan kalimat yang aku putuskan di kereta, di kursi yang menghadap belakang, di jam kesembilan waktu kepalaku akhirnya berhenti menyusun.

“Aku nggak bisa benerin apa-apa,” kataku.

Dia berhenti menjahit.

“Aku nggak bisa bayarin. Aku nggak bisa jadi donor. Aku nggak bisa mindahin kamu balik, aku nggak bisa ngembaliin kuliahmu, aku nggak bisa bikin ginjal ibumu balik.”

Aku menarik napas.

“Aku cuma nggak mau pergi.”


Mesin plastik itu tidak jalan selama mungkin satu menit.

“Nay.”

“Hm?”

“Nay.”

Aku menegakkan punggungku.

“Iya, Har?”

Dan dia menaruh kain yang sedang dia pegang, dan menoleh ke arahku, dan berkata satu kalimat yang isinya cuma dua kata dan satu hari.

“Besok Selasa,” katanya.

Aku tidak mengerti selama satu detik.

“...Apa?”

“Cuci darahnya,” katanya. “Selasa sama Jumat.”

Dan aku duduk di lantai ruang depan rumah kontrakan itu dan mengerti bahwa aku baru saja menerima permintaan ketiga dalam hidup orang itu, dan bahwa permintaan itu tidak berbentuk permintaan sama sekali, dan bahwa itu satu-satunya bentuk yang dia bisa.

“Aku nggak bisa Selasa,” kataku. “Ujianku tanggal empat.”

“Aku tahu.”

“Har—”

“Aku nggak minta kamu dateng Selasa, Nay.”

Dia mengambil kainnya lagi.

“Aku cuma ngasih tahu jadwalnya,” katanya.

Dan dia menjalankan mesin plastik yang bunyinya jelek itu, dan aku duduk di lantai di sebelahnya sampai jam satu pagi tanpa memegang apa pun sama sekali.