Chapter Nine
“Aku Tahu Kamu Bukan Nol”
[POV: Kanzaki Rei]
Aku izin sakit dua hari setelah pulang dari Sarang Bawah.
Itu keputusan yang berat, karena izin sakit berarti dua tanda silang di tabel Hoshimiya. Tapi alternatifnya adalah berdiri di lapangan dan jatuh di depan tiga puluh orang, dan itu jauh lebih banyak tanda.
Jadi aku di kamar. Tirai ditutup. Lampu tidak dinyalakan.
Ternyata melebarkan radius sampai lima puluh meter itu bukan sekadar dua kali lipat dari dua puluh lima. Aku sudah menduga skalanya tidak lurus, tapi aku tidak menduga sejauh ini.
Dua hari penuh, kepalaku terasa seperti ada yang menekan dari dalam. Kalau aku berdiri terlalu cepat, pandanganku menyempit di pinggir dan butuh beberapa detik untuk kembali. Aku muntah sekali di pagi hari pertama, dan yang keluar cuma cairan bening karena aku memang tidak makan apa-apa.
Aku tidak mematikannya. Sekali pun tidak. Tapi aku menariknya kembali ke dua puluh lima, dan bahkan itu terasa seperti mengangkat sesuatu.
Aku mencatat di buku cokelat, dengan tulisan yang jelek karena tanganku belum stabil:
Hari ke-1.112. Radius 50 m, durasi ±6 menit. Pemulihan: >48 jam. Jangan diulang tanpa perhitungan.
Lalu aku menambahkan, di baris bawahnya:
Tujuh belas dan tujuh belas.
Aku tidak menghapusnya, walaupun itu bukan data.
Amamiya datang di sore hari kedua.
Dia mengetuk dua kali, lalu langsung masuk tanpa menunggu jawaban, yang mana sudah biasa dan sudah lama kuterima sebagai hukum alam.
“Gelap banget.” Dia membuka tirai sedikit. Tidak seluruhnya — sedikit, sekitar sejengkal, seperti orang yang tahu bahwa cahaya penuh akan membuat penghuninya menyipit. “Kamu makan nggak dari kemarin?”
“Makan.”
“Bohong.”
Dia menaruh dua kotak di meja kecil di samping ranjang. Yang satu bekal seperti biasa. Yang satu lagi lebih kecil, isinya bubur, masih hangat, dan aku tahu bubur itu tidak ada di menu kantin karena kantin tidak pernah membuat bubur.
“Kamu masak ini?”
“Kebanyakan,” katanya.
“Amamiya.”
“Iya?”
“Bubur kebanyakan?”
“Aku memang nggak bisa ngukur.” Jawaban yang sama seperti selalu, dengan senyum yang sama seperti selalu, dan tanpa berkedip sama sekali.
Aku menyerah dan makan.
Dia duduk di lantai bersandar ke dinding, kakinya diluruskan, dan mulai bicara tentang hal-hal yang tidak penting.
Tsukumo yang sekarang tidak berhenti melatih ayunan ketiganya sampai instrukturnya menyuruh dia berhenti karena berisik. Isuzu yang katanya jadi agak dingin ke Mochi karena kaget ternyata makhluk itu punya gigi. Sakuraba yang membuat surat pembelaan resmi sepanjang dua halaman soal insiden sup, ditujukan kepada tidak seorang pun.
Aku menjawab seperlunya. Dia tidak keberatan.
Lalu, di tengah-tengah cerita tentang tukang roti di gerbang timur yang katanya sekarang buka lebih pagi, dia berkata:
“Aku tahu kamu bukan nol.”
Nadanya tidak berubah sama sekali.
Itu bagian yang paling aneh. Kalimat itu masuk di antara harga roti dan jam buka toko, dengan irama yang sama persis, seolah-olah memang bagian dari daftar hal-hal tidak penting.
Aku berhenti mengunyah.
Aku ingin bilang bahwa aku bereaksi dengan tenang. Bahwa aku mengangkat bahu, atau tertawa kecil, atau mengucapkan salah satu dari empat kalimat yang sudah kusiapkan selama tiga tahun untuk keadaan seperti ini.
Yang sebenarnya terjadi adalah aku duduk di sana memegang sendok, dan tidak melakukan apa-apa selama entah berapa lama.
Amamiya tidak melihat ke arahku. Dia sedang memandangi celah tirai.
Dia juga tidak melanjutkan. Tidak ada “jadi apa yang sebenarnya kamu sembunyikan”, tidak ada “aku sudah lama curiga”, tidak ada tuntutan penjelasan.
Dia menunggu sekitar lima detik.
Lalu dia berkata, dengan nada yang persis sama:
“Oh iya, tukang rotinya sekarang jual yang isi kacang merah. Aku belum coba. Kamu mau nitip nggak besok?”
Dan itu saja.
Topiknya lewat. Betul-betul lewat.
Dia bicara sekitar dua puluh menit lagi setelah itu, tentang roti, tentang cuaca, tentang rencana ujian teori. Lalu dia mengambil kotak yang sudah kosong, bilang aku harus tidur, dan pergi.
Aku duduk di kamar gelap itu cukup lama setelah pintunya tertutup.
Ada beberapa hal yang harus kupikirkan, dan aku memikirkannya dengan urutan yang salah.
Yang pertama kupikirkan adalah: seberapa banyak yang dia tahu.
Jawabannya, setelah kuputar ulang di kepala berkali-kali: tidak banyak. Dia bilang aku bukan nol. Itu saja. Dia tidak menyebut skill, tidak menyebut radius, tidak menyebut benang. Kalau dia tahu detailnya, dia akan menyebut sesuatu yang lebih spesifik, karena Amamiya bukan tipe orang yang menyimpan kartu.
Yang kedua kupikirkan adalah: sejak kapan.
Dan di situlah aku berhenti, karena jawabannya cuma ada satu kemungkinan.
Dia bilang bekalnya dimulai dari tahun pertama.
Bukan tahun kedua. Bukan setelah nilaiku aneh, bukan setelah ada yang curiga, bukan setelah dia mengamati sesuatu di lapangan.
Tahun pertama. Dari awal.
Yang berarti dia sudah tahu — atau setidaknya sudah menduga — sejak sebelum ada apa pun yang bisa diduga.
Yang berarti satu-satunya tempat dia bisa melihat sesuatu adalah di jalur hutan Amberfell.
Aku duduk di sana dan mencoba mengingat. Aku sudah mengulang sembilan detik itu di kepalaku ribuan kali, jadi seharusnya aku hafal. Siapa di mana, siapa jatuh ke arah mana, siapa yang berteriak.
Dan aku menemukannya.
Amamiya Koharu berada di sisi kanan kereta, terlempar keluar, tertelungkup di tanah menghadap ke arahku.
Menghadap ke arahku.
Selama beberapa detik dia tidak bergerak, dan aku mengira dia pingsan.
Ternyata tidak.
Ini bagian yang membuatku tidak bisa tidur malam itu, dan bukan karena sakit kepala.
Kalau dia melihat sesuatu di Amberfell, maka dia sudah tahu selama tiga tahun.
Tiga tahun.
Dan dalam tiga tahun itu, dia tidak pernah sekali pun memintaku melakukan apa pun.
Dia tidak pernah bilang, tolong bantu aku waktu ujian praktik. Dia tidak pernah bilang, kamu bisa nolongin adikku nggak. Dia tidak pernah bilang, kenapa kamu diam saja padahal kamu bisa.
Tidak sekali pun.
Yang dia lakukan cuma datang setiap hari, meletakkan kotak bekal di mejaku tanpa melihat, dan bicara tentang tukang roti.
Aku sudah menyiapkan diri untuk banyak hal selama tiga tahun ini. Aku sudah menyiapkan jawaban untuk tuduhan, untuk paksaan, untuk surat resmi dengan dua pengawal. Aku sudah membayangkan bagaimana rasanya kalau ada yang mengetahui dan memanfaatkannya.
Aku tidak pernah menyiapkan apa pun untuk kemungkinan bahwa ada orang yang tahu dan memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dengan pengetahuan itu, selain memastikan aku makan.
Ternyata itu jauh lebih berat.
Besoknya aku kembali masuk kelas.
Amamiya menyapa seperti biasa, berisik seperti biasa, bilang bekalnya kebanyakan seperti biasa.
Dia tidak menyinggung percakapan kemarin sedikit pun. Tidak dengan tatapan, tidak dengan nada, tidak dengan jeda yang mencurigakan.
Kalau aku tidak yakin bahwa aku mendengarnya dengan jelas, aku mungkin akan mengira aku berhalusinasi karena demam.
Dan dia akan terus begitu selama waktu yang sangat lama. Berbulan-bulan. Dia tidak akan menyinggungnya lagi, sama sekali, sampai hari ketika semuanya terbongkar di depan seluruh sekolah dan dia jadi satu-satunya orang di aula yang tidak terkejut.
Tapi itu masih jauh.
Hari itu, yang terjadi cuma dia meletakkan kotak bekal di mejaku, dan aku bilang terima kasih, dan dia bilang tidak usah, kan cuma kelebihan.
Aku menulis satu baris di buku cokelat malam itu.
Bukan angka. Bukan radius. Bukan gejala.
Amamiya tahu. Sejak awal. Tidak pernah minta apa-apa.
Aku memandanginya sebentar, lalu menutup bukunya.
Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan informasi itu.
Ternyata memang tidak ada yang harus dilakukan. Itu bukan informasi yang bisa dipakai untuk apa-apa.
Itu cuma sesuatu yang harus kubawa.
[Bersambung — Bab 10: Benang]
- 1 Angka Nol
- 2 Rutinitas Tak Terlihat
- 3 Lantai Empat
- 4 “Kamu Ini Apa?”
- 5 Data
- 6 Sebangku
- 7 Latihan Dungeon
- 8 Yang Tidak Ada di Peta
- 9 “Aku Tahu Kamu Bukan Nol” reading
- 10 Benang
- 11 Berapa Lama
- 12 Tiga Hari
- 13 Jam Empat Pagi
- 14 Jari yang Kejang
- 15 Penjelasan Setengah
- 16 Piala
- 17 Berat
- 18 Distrik Selatan
- 19 Satu Benang
- 20 Koridor
- 21 Dua Arah
- 22 Jalan Memutar
- 23 Vellmoor
- 24 Dua Menit
- 25 Sepuluh Detik
- 26 Hak untuk Menderita
- 27 Dapur
- 28 Dua Jam
- 29 Empat Puluh Lima Detik
- 30 Dua Malam
- 31 Festival
- 32 Grafik
- 33 Tiga Tahun
- 34 Ayunan Ketiga
- 35 Setengah Langkah
- 36 Jam Empat Pagi, Lagi
- 37 Tawaran
- 38 Tangga Asrama
- 39 Bukan Pergelangan
- 40 Langit
- 41 Menara Barat
- 42 Seratus, Lalu Seribu
- 43 Halaman Ketiga
- 44 Yang Kupilih Sendiri
- 45 Empat Ribu Seratus
- 46 Seratus Lima
- 47 Tiga Puluh Satu Hari
- 48 Ikuti Kami
- 49 Pemulihan
- 50 Kristal