Chapter Five
Data
[POV: Hoshimiya Shion]
Orang mengira aku pendiam.
Itu tidak akurat. Aku bicara kalau ada yang perlu dibicarakan. Masalahnya, dalam sehari, jarang sekali ada yang perlu dibicarakan, dan aku tidak pernah paham kenapa orang lain sanggup menghabiskan empat puluh menit membicarakan cuaca yang sedang mereka alami bersama-sama.
Orang juga mengira aku tidak mau berteman.
Itu lebih tidak akurat lagi. Tapi aku sudah berhenti mengoreksinya sekitar tahun pertama, karena mengoreksinya butuh percakapan, dan percakapan adalah hal yang justru sedang dipermasalahkan.
Jadi begini caranya berjalan: aku berdiri di suatu tempat, tiga orang mendekat, lalu berhenti dua langkah sebelum sampai. Mereka melihat wajahku, memutuskan bahwa aku sedang tidak ingin diganggu, lalu pergi.
Aku tidak sedang tidak ingin diganggu. Aku memang mukanya begini.
Tiga tahun. Selalu berhenti di dua langkah.
Ada satu hal tentangku yang tidak tertulis di berkas mana pun, karena waktu diukur pertama kali, alatnya cuma melaporkan kelas dan tier. Bakat pasif tidak masuk hitungan kecuali kamu melaporkannya sendiri.
Aku tidak melaporkannya.
Namanya 観測眼 — Kansokugan. Mata Pengamat. Aku bisa melihat aliran mana.
Kedengarannya keren. Kenyataannya sangat membosankan.
Yang kulihat bukan cahaya dramatis atau simbol berputar. Yang kulihat lebih mirip asap yang sangat tipis, atau uap panas di atas aspal. Kalau Kuroba menebas, ada garis putih tebal yang keluar dari bahunya dan pecah di ujung pedang. Kalau Sakuraba merapal, ada gumpalan yang mengumpul di depan telapak tangannya, biasanya sedikit miring ke kanan, yang mungkin menjelaskan kenapa dia sering membakar hal-hal yang tidak dimaksudkan untuk dibakar.
Semua orang memancar. Semua orang bocor sedikit, bahkan waktu diam.
Kecuali satu orang.
Aku memperhatikan Kanzaki Rei jauh lebih awal dari yang kuakui pada siapa pun, termasuk pada diriku sendiri.
Bukan karena dia menarik. Karena dia tidak ada.
Di ruangan berisi tiga puluh orang, aku melihat tiga puluh gumpalan tipis yang bergerak-gerak. Lalu ada satu titik di pojok belakang dekat jendela di mana udaranya benar-benar bersih.
Bukan sedikit. Bersih total. Seperti lubang.
Aku pikir itu efek dari tier nol. Masuk akal — tidak punya mana, jadi tidak memancarkan apa pun. Selesai. Aku berhenti memikirkannya selama hampir dua tahun.
Yang membuatku mulai memikirkannya lagi adalah hal yang sangat kecil.
Bulan Maret, latihan lapangan. Aku sedang menunggu giliran dan tidak ada yang bisa dikerjakan, jadi aku memperhatikan Amamiya Koharu menahan benturan.
Amamiya tier A. Guardian yang bagus. Tapi ada satu hal yang selalu sama padanya: waktu perisainya kena, ada kilatan mana yang berhenti sekitar dua pertiga dari lengannya, lalu berbalik. Itu bukan teknik. Itu tubuh yang berkata cukup. Semua orang punya batas seperti itu. Aku juga.
Hari itu kilatannya tidak berhenti di dua pertiga.
Kilatannya sampai ke bahu.
Aku menghitung ulang jarak benturannya. Aku bandingkan dengan minggu lalu. Aku pikir aku salah lihat.
Minggu berikutnya kejadian lagi.
Dan aku mulai membawa buku catatan.
Ada yang perlu kuklarifikasi soal buku catatan itu.
Aku tidak mulai mencatat karena curiga pada Kanzaki. Waktu itu aku belum menghubungkannya sama sekali dengan siapa pun. Aku mencatat karena ada anomali, dan anomali yang tidak dicatat akan berubah jadi perasaan, dan perasaan tidak bisa dipakai untuk apa-apa.
Tiga bulan.
Sembilan puluh baris.
Aku memasukkan semua variabel yang bisa kupikirkan. Jadwal makan asrama, karena gizi berpengaruh. Instruktur yang bertugas, karena Kirisawa memang menekan lebih keras dari yang lain. Urutan latihan. Suhu. Jam tidur, yang kuperkirakan dari jam lampu asrama dimatikan.
Semuanya berubah-ubah. Grafiknya tidak mau rapi.
Sampai suatu malam aku duduk di meja kamar, sudah lewat tengah malam, dan menambahkan satu kolom baru yang sebenarnya kutambahkan setengah bercanda.
Apakah Kanzaki hadir di lapangan.
Aku mengisi kolom itu dari catatan absensi. Butuh dua jam.
Lalu aku melihat hasilnya, dan aku duduk di situ cukup lama tanpa bergerak.
Empat tanda silang. Empat hari dia izin sakit dalam tiga bulan.
Dan di keempat hari itu, angkanya jatuh. Semuanya. Tanpa kecuali.
Setelah itu aku mulai memperhatikan dia secara langsung, dan di situlah aku menyadari betapa buruknya aku selama ini dalam memperhatikan orang.
Karena begitu aku benar-benar melihat, semuanya ada di permukaan.
Dia jalan pelan. Bukan santai — pelan seperti orang yang sedang menghemat sesuatu. Dia berhenti di tangga. Dua kali, selalu di anak tangga yang sama, dan aku curiga dia sendiri tidak sadar bahwa itu selalu anak tangga yang sama.
Mukanya pucat setiap hari. Bukan pucat sakit. Pucat yang stabil, konsisten, seperti kondisi normalnya memang begitu.
Dia hampir tidak pernah bicara, dan aku selalu mengira itu karena dia pemalu. Bukan. Aku memperhatikan waktu Tsukumo mengajaknya bicara. Dia menjawab, tapi jawabannya sependek yang bisa dia buat, dan setelah tiga kalimat dia kelihatan seperti orang yang baru naik tangga.
Bicara pun melelahkan baginya.
Dan sepanjang itu, di sekelilingnya, seluruh angkatan sedang memecahkan rekor mereka satu per satu sambil bilang “entah kenapa badanku enak hari ini.”
Aku bukan orang yang gampang marah. Tapi aku ingat berdiri di tepi lapangan waktu itu dan merasakan sesuatu yang cukup dekat dengan marah, dan aku tidak tahu ditujukan ke siapa.
Suatu malam aku sengaja datang ke menara latihan pukul sebelas, karena aku ingin melihat lapangan waktu kosong.
Dia ada di sana. Bukan di lapangan — di tangga batu di pinggirnya, duduk, memegang buku yang tidak dia baca.
Dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu.
Bukan gumpalan. Bukan pancaran.
Garis.
Sangat tipis, hampir tidak ada, seperti benang laba-laba yang cuma kelihatan kalau kena cahaya dari sudut tertentu. Keluar dari jari-jarinya — semuanya, sepuluh — lalu melebar keluar, melewati pagar, melewati lapangan, terus sampai ke gedung asrama tahun pertama yang jendelanya masih menyala.
Aku berdiri di sana selama mungkin dua menit.
Lalu dia bergerak sedikit, dan garisnya menghilang dari pandanganku, dan aku tidak yakin lagi apakah aku benar-benar melihatnya atau tidak.
Itu bagian yang paling mengganggu. Bukan karena aku takut. Karena aku tidak bisa memastikan, dan aku sangat tidak suka tidak bisa memastikan.
Aku duduk di depannya di kantin keesokan harinya dengan satu tujuan: aku ingin melihat reaksinya.
Bukan jawabannya. Jawabannya sudah bisa kutebak — dia akan mengelak, karena orang yang menyembunyikan sesuatu selama tiga tahun tidak akan menyerah karena satu tabel.
Yang kuperlukan cuma reaksi.
Dan aku mendapatkannya.
Bukan waktu aku bertanya. Bukan waktu aku menyebut dua belas koma tiga persen.
Waktu aku bilang “Aku sudah cek cuaca.”
Sendoknya berhenti.
Setengah detik saja, dan dia menutupinya dengan sangat baik setelah itu — dia mengangkat bahu, dia bilang tidak tahu, dia menyebut tiernya nol dengan nada orang yang sudah mengucapkan kalimat itu ratusan kali.
Tapi sendoknya berhenti.
Orang yang tidak tahu apa-apa tidak berhenti. Orang yang tidak tahu apa-apa akan bingung, atau tertawa, atau bertanya balik. Dia tidak melakukan satu pun dari itu.
Dia melakukan hal yang jauh lebih spesifik.
Dia langsung mengukur seberapa banyak yang sudah kutahu.
Ada satu hal lagi yang kudapat hari itu, dan itu di luar rencana.
Amamiya Koharu meletakkan kotak bekal di depan Kanzaki tanpa melihat. Tanpa melihat. Seperti orang yang sudah melakukannya begitu sering sampai tangannya hafal jaraknya.
Dari tahun pertama, katanya.
Dua tahun lebih.
Aku mengulang tabelku malam itu dan menambahkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan mana sama sekali. Berapa kali Kanzaki makan sendirian. Berapa kali namanya disebut dalam sehari, dan dalam konteks apa. Berapa lama dia berdiri di lapangan sebelum ada yang menyadari dia belum masuk kelompok mana pun.
Angka terakhir itu yang paling lama kutulis, karena aku harus menghitungnya sendiri dengan menghitung detik dalam kepala.
Tiga puluh delapan detik.
Aku menutup buku catatan itu dan duduk di kamarku yang gelap cukup lama.
Aku tidak tahu apa yang dia sembunyikan. Aku masih belum tahu sampai sekarang, waktu menulis ini. Aku cuma tahu tiga hal.
Yang pertama, dia menyembunyikan sesuatu yang besar.
Yang kedua, apa pun itu, harganya dibayar oleh dia sendiri, setiap hari, selama tiga tahun, sementara tiga puluh orang di sekitarnya memecahkan rekor sambil mengucapkan terima kasih pada cuaca.
Yang ketiga, dan ini yang membuatku tidak bisa tidur malam itu:
Selama tiga tahun, aku juga berdiri di ruangan yang sama, dengan mata yang bisa melihat aliran mana, dan aku tidak pernah sekali pun memeriksa pojok belakang dekat jendela.
Besok paginya aku memindahkan barang-barangku ke bangku sebelahnya.
Aku tidak meminta izin, tidak pada guru dan tidak padanya. Kalau aku meminta izin, akan ada percakapan, dan percakapan akan membuka kemungkinan penolakan.
Jadi aku cuma pindah.
Seluruh kelas diam sekitar empat detik, lalu meledak.
Kanzaki melihat mejaku, lalu melihatku, lalu melihat mejaku lagi.
“...Apa ini salah kelas?”
“Bukan.”
“Salah bangku?”
“Bukan.”
Dia diam agak lama.
“Oke,” katanya akhirnya.
Dan dia kembali menghadap ke depan, seolah-olah itu penjelasan yang cukup.
Yang mana, anehnya, memang cukup.
[Bersambung — Bab 6: Sebangku]