Chapter Nineteen
Satu Benang
[POV: Kanzaki Rei]
Ruang latihan lantai dua, pukul sembilan malam.
Lantai kayu, satu lampu, jendela menghadap lapangan. Tempat yang sama dengan tempat kami duduk membelakangi selama dua puluh sekian malam terakhir.
Aku sampai lebih dulu. Aku sengaja sampai lebih dulu, karena aku butuh waktu untuk berdiri di ruangan itu sendirian dan memastikan aku masih mau melakukannya.
Dia datang pukul sembilan lewat dua menit.
“Duduk,” kataku.
“Kamu berdiri.”
“Aku nggak bisa duduk.”
Dia duduk. Aku tetap berdiri.
“Namanya Kugutsu-ito: Renjin.”
Aku sudah menyusun urutannya sepanjang siang, dan aku memutuskan untuk mengucapkan nama itu duluan supaya benda itu ada di ruangan dan tidak bisa lagi kutarik kembali.
“Benang Boneka. Formasi Berantai.” Aku menelan. “Tingkat Kōi. Rapalannya lima baris.”
Dia tidak mencatat. Aku baru sadar itu setelah beberapa detik — dia tidak membawa buku catatan hitamnya sama sekali malam itu.
“Cara kerjanya,” lanjutku, “benang keluar dari jariku. Satu benang per orang. Maksimal sepuluh untuk sekarang, karena jariku sepuluh.”
“Benang untuk apa?”
Ini bagian yang sudah kuulang di kepalaku sekitar empat puluh kali sepanjang siang, dan tidak ada satu pun versi yang terdengar bisa diterima.
Jadi aku memakai versi yang paling jujur.
“Untuk menggerakkan tubuh orang lain.”
Ruangan hening.
“Bukan mengarahkan,” kataku, sebelum dia sempat salah paham ke arah yang lebih ringan. “Bukan memberi aba-aba. Menggerakkan. Kalau aku mengikatmu dan aku ingin lenganmu naik, lenganmu naik. Kamu bisa merasakannya, kamu sadar penuh, kamu tahu persis apa yang sedang terjadi. Tapi lengannya tetap naik.”
Dia tidak bergerak.
“Anggota party yang terikat bisa menyerang, mengelak, merapal — semuanya sesuai arahanku, dengan presisi yang nggak mungkin mereka capai sendiri. Termasuk kalau mereka sudah kehabisan tenaga. Tubuh yang sudah nggak sanggup berdiri tetap berdiri, karena yang menyuruh bukan mereka lagi.”
“Seratus persen?”
“Seratus lima puluh.”
Dia menutup mata sebentar.
“Itu yang kurang tadi siang,” katanya.
“Iya.”
“Lima belas orang, satu detik yang sama.”
“Iya.”
“Kenapa kamu tidak pakai?”
Aku sudah menunggu pertanyaan itu, dan aku sudah tahu aku belum bisa menjawabnya dengan jujur sepenuhnya.
Jadi aku menjawab bagian yang bisa kujawab.
“Karena kalau aku salah hitung, yang salah bukan aku.”
Dia menunggu.
“Kalau aku salah menghitung berat seseorang,” kataku, “tubuh orang itu bergerak ke arah yang salah. Bukan tubuhku. Tubuh mereka. Mereka sadar penuh dan mereka melihatnya terjadi dan mereka nggak bisa apa-apa.”
“Berapa jauh salahnya?”
“Setengah langkah.”
Aku melihat sesuatu berubah di wajahnya.
Bukan besar. Cuma alisnya bergerak sedikit, seperti orang yang baru mendengar kata yang pernah dia tulis di suatu tempat.
Dia tidak bertanya. Aku bersyukur dia tidak bertanya.
“Ada syaratnya,” kataku.
“Apa.”
“Benangnya nggak akan mengikat orang yang menahan diri. Sedikit pun.” Aku mengangkat tanganku dan melihatnya sendiri. “Ini bukan sihir yang bisa dipaksakan. Nggak bisa dipakai ke musuh. Nggak bisa dipakai ke orang yang ragu. Nggak bisa dipakai ke orang yang bilang ‘ya’ tapi masih menyimpan seperempat.”
“Jadi orangnya harus—”
“Menyerahkan diri. Sepenuhnya. Dan harus diucapkan.”
“Diucapkan?”
“Iya.”
“Kenapa harus diucapkan?”
“Aku nggak tahu.” Aku benar-benar tidak tahu, dan aku sudah membaca sembilan puluh halaman dan tidak ada yang menjelaskannya. “Mungkin karena kalau cuma dipikir, orang bisa membohongi dirinya sendiri. Kalau diucapkan keras-keras, susah.”
Dia berdiri.
“Aku belum selesai.”
“Kamu sudah selesai.”
“Hoshimiya—”
“Kamu akan menjelaskan risikonya sekarang,” katanya. “Lalu kamu akan menjelaskan kenapa sebaiknya jangan aku. Lalu kamu akan bilang bahwa aku boleh berpikir dulu beberapa hari.”
Aku menutup mulut, karena itu memang persis tiga hal berikutnya.
“Aku sudah berpikir,” katanya. “Sejak jam dua siang tadi.”
“Kamu belum tahu apa-apa jam dua siang.”
“Aku tahu wajahmu waktu berdiri di depan kios buah selama empat belas menit.”
Dia berdiri di tengah ruangan, sekitar tiga langkah dariku.
“Bagaimana caranya?”
“Kamu yakin?”
“Kanzaki.”
“Aku serius. Ini bukan—”
“Aku juga serius.”
Aku menarik napas.
“Kalimatnya bebas,” kataku. “Nggak ada rapalan khusus untuk yang diikat. Yang penting isinya benar dan kamu betul-betul memaksudkannya. Kalau nggak, benangnya nggak akan nempel dan kita berdua akan tahu dalam dua detik.”
“Contohnya?”
“Aku nggak mau kasih contoh.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku kasih contoh, kamu akan mengulang kalimatku, dan itu bukan kalimatmu.”
Dia diam sekitar sepuluh detik.
Lalu dia berdiri lebih tegak — bukan gerakan besar, cuma bahunya turun sedikit, cara orang berdiri waktu berhenti bersiap-siap.
Dan dia berkata, dengan suara yang sama datarnya seperti semua kalimat yang pernah dia ucapkan padaku:
“Aku menyerahkan diriku. Sepenuhnya. Gerakkan aku.”
Aku ingin mencatat apa yang terjadi di dalam kepalaku selama tiga detik berikutnya, karena itu tiga detik terpanjang dalam tiga tahun terakhir.
Yang pertama kupikirkan bukan rapalan.
Yang pertama kupikirkan adalah jalur hutan Amberfell, kereta bagian belakang, dan seorang anak perempuan yang menoleh ke arahku setengah detik sebelum semuanya terjadi.
Yang kedua kupikirkan adalah bahwa aku bisa berhenti sekarang. Aku bisa bilang aku berubah pikiran. Dia tidak akan memaksa. Dia sudah membuktikan itu selama dua bulan terakhir.
Yang ketiga kupikirkan adalah empat belas menit di depan kios kain, dan balok yang naik lima senti lalu turun lagi, enam kali.
Aku mengangkat tangan kanan.
Dan aku mulai merapal.
“Ulurkan tangan, wahai jemari yang tak memegang pedang.
Suaraku serak di baris pertama dan aku hampir berhenti.
Aku tidak akan bertarung — aku akan menuntun.
Ada yang bergerak di ujung jariku. Bukan perasaan fisik. Lebih seperti waktu kamu masuk ke ruangan dan langsung tahu ada orang lain di dalamnya, sebelum melihat apa pun.
Serahkan berat kalian, dan aku hitung sampai baris terakhir.
Dan di situ aku merasakannya.
Dua puluh sekian malam duduk membelakangi di lantai kayu ini. Napas yang tiga normal, satu tertahan, dua normal, satu tertahan. Punggung yang lebih hangat dari seharusnya. Tumpuan yang jatuh sedikit ke kaki kanan waktu dia berdiri diam, karena dia terbiasa siap menarik pedang.
Semuanya ada di sana. Semuanya sudah kuhafal tanpa pernah berniat menghafalnya.
Yang jatuh akan tetap berdiri, yang habis akan tetap melangkah.
Ikuti aku. Ikuti aku. Ikuti aku.”
Satu benang.
Keluar dari telunjuk kananku, melintasi tiga langkah di antara kami, dan berhenti di tulang dadanya.
Dia bisa melihatnya. Tentu saja dia bisa melihatnya — dia satu-satunya yang bisa.
Aku melihat matanya mengikuti garis itu dari dadanya sendiri sampai ke jariku.
“Angkat tangan kirimu,” kataku.
“Aku angkat sendiri?”
“Nggak. Diam saja.”
Aku menggerakkan jariku sekitar satu sentimeter.
Tangan kirinya naik.
Dia tidak berteriak. Dia tidak menarik diri. Dia tidak melakukan satu pun hal yang kutakutkan selama tiga tahun.
Yang dia lakukan adalah menatap tangannya sendiri yang terangkat setinggi bahu, memiringkan kepala sedikit, dan berkata:
“Aneh.”
“...Aneh gimana?”
“Aku merasa seperti aku yang mengangkatnya.” Dia menggerakkan jari-jarinya sendiri — itu miliknya, aku tidak menyentuh itu. “Bukan seperti didorong. Lebih seperti aku baru saja memutuskan untuk mengangkatnya, dan aku baru sadar aku memutuskan setelah tangannya naik.”
“Itu memang yang paling berbahaya.”
“Kenapa?”
“Karena kamu nggak akan sadar kalau aku salah.”
Kami mencobanya selama sekitar empat puluh menit.
Gerakan sederhana dulu. Melangkah. Berbalik. Mengangkat pedang latihan dan menurunkannya.
Lalu yang lebih rumit — dan di sinilah aku mulai mengerti apa sebenarnya yang kupegang selama tiga tahun ini.
Aku menyuruhnya menebas. Bentuk dasar, tebasan diagonal dari kanan atas, yang sudah dia latih ribuan kali sejak umur enam tahun.
Dia menebas.
Dan tebasannya lebih cepat delapan persen dari tebasan tercepat yang pernah dia lakukan.
Aku tahu angka itu karena kami mengukurnya dua puluh menit kemudian, empat kali, dengan penghitung waktu pasir yang ada di ruang latihan.
Delapan persen di atas rekor pribadi seorang Sword Saint tier S, yang sudah dinaikkan seratus persen oleh Genkai Kaijo sejak tiga tahun lalu.
Dia berdiri di tengah ruangan setelah pengukuran keempat, memandangi pedang latihannya sendiri.
“Ini bukan aku,” katanya.
“Ini kamu. Ototmu, pedangmu, latihanmu enam belas tahun.” Aku menurunkan tangan. “Aku cuma menghapus keraguan. Tubuhmu berhenti bertanya-tanya apakah gerakan ini aman, jadi dia langsung mengerjakannya.”
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Kalau kamu punya sepuluh orang seperti ini—”
“Iya.”
“Dan kamu menyembunyikannya selama tiga tahun.”
“Iya.”
Dia melepaskan benangnya sendiri sekitar setengah jam kemudian — atau lebih tepatnya, aku yang melepaskannya, karena yang terikat tidak bisa melepaskan diri sendiri.
Itu satu lagi hal yang tidak kukatakan padanya malam itu.
Aku menurunkan tangan dan benangnya larut.
Dan begitu larut, tanganku mulai.
Bukan seperti setelah sebelas jam di lapangan. Ini beda. Ini bukan menutup pelan-pelan — ini kejang, langsung, dan cukup keras sampai aku menjatuhkan diri ke lantai dengan satu lutut.
Satu benang. Empat puluh menit.
Aku sudah memperkirakannya akan mahal. Aku tidak memperkirakan sejauh ini.
Dia sudah di sebelahku sebelum aku sempat bilang aku baik-baik saja.
“Tangan.”
“Aku bisa—”
“Kanzaki, tangan.”
Aku menyerahkannya.
Dia mengerjakannya di lantai ruang latihan, dengan lampu satu-satunya di atas kami, kelingking dulu lalu jari manis, seperti dua puluh sekian malam sebelumnya.
Butuh empat puluh menit. Lebih lama dari biasanya.
Dan sepanjang empat puluh menit itu tidak ada satu pun dari kami yang bicara, sampai di menit terakhir dia berkata, tanpa mengangkat wajah:
“Sekali lagi besok.”
“Apa?”
“Latihannya. Sekali lagi besok.”
“Hoshimiya, kamu lihat sendiri harganya—”
“Aku lihat.” Dia menekan pangkal telunjukku dan aku menahan diri untuk tidak bersuara. “Makanya sekali lagi besok. Kalau kamu latihan, biayanya turun. Semua keterampilan begitu.”
“Ini bukan keterampilan biasa.”
“Kamu sudah pernah mengujinya?”
Aku tidak menjawab.
“Berarti belum,” katanya. “Berarti kita uji.”
Malam itu aku menulis di buku cokelat dengan tangan kiri.
Hari ke-1.148. Renjin, 1 benang, 40 menit. Kejang tingkat 4. Sudut tebasan +8%.
Lalu aku berhenti cukup lama.
Lalu aku menulis satu baris lagi, dan aku ingat menulisnya dengan sangat pelan karena tanganku memang tidak stabil dan karena aku sedang memilih kata-katanya:
Dia mengucapkannya tanpa ragu sedikit pun. Tanpa jeda. Tanpa bertanya lagi.
Aku belum pernah dipercaya seperti itu oleh siapa pun.
Aku menutup bukunya dan meletakkannya di dasar tas.
Dan aku duduk di lantai kamar cukup lama, memandangi tangan kananku yang masih belum bisa lurus, dan menyadari bahwa dari semua hal yang terjadi malam itu — benangnya, delapan persen itu, seratus lima puluh persen yang belum kucoba — yang paling tidak bisa kulepaskan dari kepalaku cuma satu.
Tiga langkah jarak di antara kami, dan dia tidak mundur satu pun.
[Bersambung — Bab 20: Digandeng]