← Zero Thread

Chapter Twenty

Koridor

[POV: Kanzaki Rei]

Kami latihan enam malam berturut-turut.

Hoshimiya benar soal satu hal: biayanya memang turun. Malam pertama, satu benang selama empat puluh menit membuat tanganku kejang tingkat empat. Malam keenam, satu benang selama satu jam sepuluh menit cuma sampai tingkat dua.

Hoshimiya salah soal hal lain, dan aku belum memberitahunya.

Biaya per benang memang turun.

Yang tidak turun adalah dasarnya. Genkai Kaijo tetap berjalan dua puluh empat jam selama seribu seratus lima puluh hari, dan sekarang aku menambahkan sesuatu di atasnya.

Ibarat orang yang sudah menggendong satu karung selama tiga tahun, lalu belajar mengangkat karung kedua dengan teknik yang lebih baik. Tekniknya memang membaik.

Karung pertamanya tidak pergi ke mana-mana.


Hari Rabu, jam istirahat kedua, koridor lantai satu.

Koridor itu yang paling ramai di seluruh gedung karena menghubungkan kelas dengan kantin, dan pada jam istirahat kedua isinya mungkin seratus orang.

Aku berjalan pelan di sisi kiri, seperti biasa.

Kepalaku sudah berdenyut sejak pagi. Aku sudah menghitung: kalau aku jalan pelan dan tidak berhenti, aku bisa sampai kantin tanpa masalah. Kalau aku berhenti, orang akan menabrakku dari belakang, dan itu lebih merepotkan daripada terus jalan.

Aku berhenti di dekat pilar ketiga.

Bukan pilihan. Pandanganku menyempit di pinggir dan aku menaruh tangan di pilar itu, dan begitu aku menaruh tangan di pilar, aku sadar aku tidak akan bisa melepaskannya selama beberapa detik.

Ada yang menabrak bahuku. “Aduh—eh, maaf.”

“Nggak apa-apa.”

Ada yang lain lewat. Lalu yang lain.

Aku berdiri di situ memegang pilar dengan seratus orang mengalir di sekitarku, dan aku menghitung mundur dari dua puluh dalam hati sambil menunggu pinggirannya kembali.

Lalu ada yang memegang tanganku.


“Kanzaki! Kebetulan banget.”

Amamiya Koharu, suara penuh, ceria seperti biasa.

Dia menarik tanganku dari pilar — tangan kiri, yang untung saja yang kiri — dan menggenggamnya, dan mulai berjalan.

Aku ikut karena tidak punya pilihan lain selain jatuh.

“Aku dari tadi nyariin kamu,” katanya, keras, kepada tidak seorang pun. “Kotaknya ketinggalan di kelas kan? Ya ampun, aku juga lupa. Untung ketemu.”

Kami berjalan.

Aku bisa merasakan tempo langkahnya. Dia jalan pelan. Sangat pelan, tapi bukan pelan yang kelihatan seperti menuntun — pelan yang kelihatan seperti dua orang yang sedang mengobrol dan tidak buru-buru.

Dan dia terus bicara. Volume penuh, sepanjang koridor, tentang hal-hal yang tidak penting.

Tentang kotak bekal. Tentang Mochi yang kemarin masuk ke lemari sapu. Tentang ujian teori.

Sekitar setengah koridor, aku mulai mendengar hal lain di sekitar kami.

“Eh, itu—”

“Amamiya sama Kanzaki?”

“Pegangan tangan?”

“Seriusan?”

Amamiya tidak berhenti bicara. Tidak menoleh sedikit pun. Tidak menurunkan volume suaranya satu tingkat pun.

Genggamannya juga tidak berubah.


Kami sampai di ujung koridor dan dia membelokkanku ke tangga samping yang sepi, dan begitu tidak ada orang lagi, dia melepaskan tanganku dan langsung berbalik menghadapku.

“Duduk.”

“Aku nggak—”

“Kanzaki.”

Aku duduk di anak tangga.

Dia mengeluarkan botol air dari tasnya, membuka tutupnya, dan menyerahkannya. Sudah terbuka. Aku baru sadar kenapa beberapa detik kemudian: karena membuka tutup botol butuh dua tangan yang berfungsi.

Aku minum.

Dia duduk di anak tangga di bawahku, membelakangi, memandangi jendela.

“Kamu tahu nggak,” katanya, “koridor itu ada seratus dua puluh langkah.”

“Kamu ngitung?”

“Iya. Sejak lama.”

Aku tidak bertanya sejak kapan.

“Kalau kamu jalan sendirian,” lanjutnya, “kamu bakal berhenti dua kali. Sekali di pilar ketiga, sekali di dekat papan pengumuman.”

“...Kamu ngitung itu juga?”

“Aku ngitung banyak hal, Kanzaki. Aku cuma nggak nulisnya di buku.”


Aku duduk di situ memegang botol air yang sudah dibuka.

“Amamiya.”

“Ya?”

“Orang-orang akan ngomong.”

“Iya.”

“Tentang kamu.”

Dia menoleh, dan wajahnya benar-benar bingung, seperti aku baru saja mengucapkan sesuatu dalam bahasa asing.

“Terus?”

“Kamu tier A. Guardian. Bulan depan ada perwakilan resimen datang lagi.” Aku memandangi botol itu. “Kalau ada gosip aneh tentang kamu dan anak bertier nol, itu—”

“Kanzaki.”

“—itu bisa berpengaruh ke—”

“Kanzaki.” Dia bilang itu lebih keras, dan itu pertama kalinya sepanjang tiga tahun aku mendengar Amamiya Koharu memotong seseorang. “Aku nggak peduli.”

Aku menutup mulut.

“Aku nggak peduli dan aku nggak akan pernah peduli, dan kalau kamu bahas ini lagi aku bakal jawab yang sama persis.” Dia berbalik ke jendela lagi. “Kamu berdiri di koridor sambil megang pilar. Aku lihat. Selesai. Nggak ada hitungan lain di kepalaku waktu itu.”


Aku ingin menuliskan sesuatu di sini karena aku sudah memikirkannya berkali-kali sejak hari itu.

Selama tiga tahun aku sudah membangun sistem yang cukup baik untuk menghadapi orang.

Kalau ada yang menghina, aku diam dan itu selesai. Kalau ada yang curiga, aku mengalihkan. Kalau ada yang menekan, aku punya empat kalimat cadangan yang sudah teruji.

Yang tidak pernah kubangun adalah cara menghadapi orang yang berdiri di koridor penuh seratus orang, menggenggam tanganku, dan tidak menghitung apa pun.

Aku tidak punya sistem untuk itu.

Aku bahkan tidak tahu harus meletakkan itu di kolom mana.


Waktu kami berdiri untuk kembali ke kelas, dia menepuk debu di roknya dan berkata, dengan nada yang sama seperti waktu membicarakan tukang roti:

“Kamu mulai pakai yang lain, ya.”

Aku berhenti bergerak.

Dia tidak melihat ke arahku. Dia sedang membetulkan tali tasnya.

“Yang tanganmu,” lanjutnya. “Yang dulu.”

Ruangan tangga itu sepi sekali dan aku bisa mendengar suara kantin dari kejauhan.

Aku sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan lanjutan. Aku sudah menyusun tiga jawaban dalam dua detik, yang untuk ukuranku sudah cepat.

Dia menunggu sekitar lima detik.

Lalu dia berkata:

“Oh iya, tukang rotinya yang isi kacang merah ternyata enak. Aku beliin besok, ya.”

Dan dia naik tangga duluan.

Persis seperti tiga bulan lalu. Persis irama yang sama.

Aku berdiri di tangga itu memegang botol air yang sudah dibuka, dan untuk beberapa saat aku tidak bisa memikirkan apa pun kecuali satu hal:

Dia bilang yang dulu.

Yang berarti dia tahu ada yang dulu.

Yang berarti apa pun yang dia lihat di Amberfell tiga tahun lalu, dia melihatnya cukup jelas untuk bisa membedakan.


Hoshimiya sedang berdiri di ujung koridor waktu kami kembali.

Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di situ. Bisa jadi baru sampai. Bisa jadi sejak pilar ketiga.

Amamiya melambai. “Hoshimiya! Kamu belum makan kan? Ayo.”

“Ya.”

Mereka berjalan ke kantin bersama seperti biasa, Amamiya bicara delapan puluh persen, Hoshimiya menjawab dua puluh persen.

Aku berjalan di belakang mereka.

Dan sepanjang jalan ke kantin, Hoshimiya tidak menoleh ke belakang sekali pun, dan itu sendiri sudah aneh, karena dia selalu menoleh ke belakang. Dia menoleh ke belakang di podium turnamen. Dia menoleh ke belakang di lorong Sarang Bawah.

Dia menoleh ke belakang karena dia selalu menghitung.

Hari itu dia tidak menghitung.


Malam itu di ruang latihan lantai dua, dia sudah ada di sana lebih dulu, duduk di lantai, tidak membaca apa-apa.

“Kanzaki.”

“Ya.”

“Tadi siang di koridor.”

Aku sudah menduga ini akan dibahas, dan aku sudah menyiapkan penjelasan yang wajar dan sopan tentang bagaimana Amamiya cuma membantu.

“Berapa langkah?” tanyanya.

Aku berhenti.

“...Apa?”

“Koridor lantai satu. Dari kelas ke kantin. Berapa langkah.”

“Seratus dua puluh.”

Dia mengangguk sekali.

“Kamu tahu?” tanyaku.

“Sekarang tahu.”

Dia membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatan hitam — yang sudah tidak dia bawa ke ruang latihan selama beberapa malam terakhir — dan membukanya ke halaman kosong.

Lalu dia menulis sesuatu, satu baris, dan menutupnya lagi.

“Ayo mulai,” katanya.


[Bersambung — Bab 21: Dua Arah]