Chapter One
Angka Nol
Antriannya panjang dan ruangan itu bau keringat.
Tiga puluh anak SMA berdiri berbaris di ruangan batu yang langit-langitnya terlalu tinggi, semuanya masih memakai seragam dari dunia yang sudah empat hari kami tinggalkan. Ada yang dasinya hilang. Ada yang sepatunya tinggal sebelah. Sakuraba masih memakai jas almamater lomba debat, entah kenapa dia bangga sekali dengan benda itu.
Di depan, sebuah bola kristal seukuran semangka duduk di atas tiang perunggu. Namanya Bola Ukur. Fungsinya menentukan tier sihir seseorang. Kalau disentuh, angka dan huruf akan muncul di permukaannya, dan sejak saat itu seluruh hidupmu di dunia ini ditentukan oleh apa yang tertulis di sana.
Sederhana. Cukup mengerikan kalau dipikirkan. Tapi tidak ada yang memikirkannya, karena semua orang sedang sibuk gugup.
Aku berdiri di barisan paling belakang. Bukan karena rendah hati atau apa. Waktu disuruh berbaris, langkahku sedikit lebih pelan, dan orang-orang otomatis menyalip. Selalu begitu. Sejak SD juga begitu.
“Kanzaki.” Tsukumo Daichi menoleh ke belakang. Badannya paling besar di kelas, suaranya juga paling besar, dan matanya sudah merah dari tadi. “Kamu nggak gugup?”
“Gugup, kok.”
“Kok mukanya begitu?”
“Memang begini.”
Dia mengangguk-angguk seperti baru menerima jawaban yang dalam, lalu berbalik lagi. Percakapan kami hari itu resmi selesai. Total dua belas kata. Untuk ukuranku, itu sudah termasuk rekor.
Yang pertama maju namanya Kuroba Jin. Tentu saja.
Dia menyentuh kristal itu dengan gaya orang membayar parkir, dan kristal itu langsung menyala terang sampai beberapa orang mundur selangkah.
〔WARRIOR — TIER S〕
Ruangan langsung riuh. Ada yang bertepuk tangan. Para kesatria yang berjaga di pinggir ruangan saling berpandangan, lalu salah satunya buru-buru keluar — mungkin melapor ke atasannya, mungkin mengambil formulir yang lebih bagus.
Kuroba turun dari podium sambil mengelap tangan ke celana, ekspresinya seperti orang yang baru diberi tahu bahwa air itu basah.
Setelah itu berturut-turut.
Sakuraba Ren mendapat 〔WIZARD — TIER A−〕, dan dia langsung berpose. Betul-betul berpose. Tangan kanan di depan dada, tangan kiri menunjuk langit, poni disibak. Tidak ada yang meminta. Tidak ada yang memotret. Dia bertahan di posisi itu sekitar delapan detik sebelum turun.
Isuzu Nono mendapat 〔SUMMONER — TIER B〕. Dia mengucek mata, bilang “oh,” lalu kembali ke barisan sambil menguap. Malamnya dia memanggil makhluk kontrak pertamanya: sesuatu yang bentuknya seperti beruang bercampur kukang, warnanya putih, ukurannya sebesar anjing besar. Namanya jadi Mochi. Kerjanya cuma dua, tidur dan makan. Sampai sekarang belum berubah.
Tsukumo Daichi mendapat 〔WARRIOR — TIER B+〕 dan langsung menangis. Menangis betulan, sesenggukan, ingusan.
“Aku bisa jadi pahlawan—”
Dia dipapah turun oleh dua orang.
Amamiya Koharu mendapat 〔GUARDIAN — TIER A〕. Dia melompat kecil, lalu menoleh ke barisan dan mengacungkan jempol ke semua orang sekaligus, seolah tidak mau ada satu pun yang merasa terlewat. Aku ikut terkena. Sepertinya. Sulit dipastikan.
Lalu Hoshimiya Shion maju.
Ruangan mendadak sepi sendiri, padahal tidak ada yang menyuruh diam. Dia berjalan pelan, rambut hitam panjangnya diikat tinggi, wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Ketika dia menyentuh kristal itu, cahayanya tidak meledak seperti punya Kuroba. Cahayanya naik pelan, terus, terus, sampai seluruh ruangan menjadi putih dan aku harus menutup mata dengan lengan.
〔SWORD SAINT — TIER S〕
Salah satu kesatria menjatuhkan tombaknya. Ada yang bergumam “mustahil” dengan suara kecil. Instruktur kepala buru-buru maju dan berbicara pada Hoshimiya dengan sopan sekali, sampai sedikit membungkuk.
Hoshimiya mengangguk sekali. Lalu turun. Lalu berdiri sendirian di pinggir ruangan, agak jauh dari semua orang, dan tidak ada satu pun dari tiga puluh anak di ruangan itu yang menghampirinya.
Aku ingat sempat berpikir: oh. Dia juga sendirian.
Aku mengingatnya, karena setelah itu aku tidak memikirkan dia lagi selama dua tahun.
Giliranku yang terakhir.
Bukan karena diurutkan begitu. Waktu tinggal berlima, aku mundur sedikit. Waktu tinggal bertiga, aku mundur lagi. Kebiasaan.
Instruktur yang memegang daftar hadir sudah tampak lelah. Dia melihat papan jalannya, lalu melihatku, lalu kembali ke papan jalannya.
“Kanzaki... Rei?”
“Iya.”
Ada yang tertawa kecil di barisan. Aku sudah tahu kenapa. Ini akan jadi bahan selama tiga tahun ke depan, dan waktu itu aku belum tahu, tapi tebakanku tidak jauh meleset.
Aku naik ke podium. Batunya dingin. Dari dekat, bola kristal itu kelihatan lebih jelek dari yang kubayangkan — ada retak halus di permukaannya, seperti gelas yang pernah kena air panas.
Aku meletakkan telapak tangan di atasnya.
Kristal itu menyala.
Cuma sebentar. Satu kedipan. Cahayanya bahkan sempat naik sedikit — aku melihatnya, dan instrukturnya juga melihatnya, karena dia sempat mengangkat alis.
Lalu mati.
Bukan meredup. Mati. Seperti lampu yang saklarnya diturunkan.
Ruangan hening sesaat.
Lalu angkanya muncul.
〔— — —〕 〔0〕
“...Hah?”
“Nol?”
“Memangnya bisa nol?”
“Rusak kali alatnya.”
Instrukturnya mengetuk kristal itu dengan buku jari. Dua kali. Tidak berubah. Dia memintaku mengangkat tangan, lalu meletakkannya lagi. Aku menurut. Hasilnya sama.
Dia menghela napas panjang, helaan napas orang yang jam kerjanya sudah lewat tiga jam dan masih punya tiga puluh formulir untuk disetor sebelum makan malam.
“Ya sudah,” katanya sambil menulis. “Tulis nol saja.”
Begitu saja. Empat kata. Kurang dari dua detik.
Kelas meledak.
“Nol! Namanya Rei, tiernya nol!”
“Kanzaki nol koma nol!”
“Eh, serius, memangnya bisa ya nol?”
“Bisa dong. Buktinya ada di depan.”
Tsukumo tertawa paling keras, lalu tiba-tiba berhenti dan menoleh ke arahku dengan wajah panik, seperti baru sadar ada yang salah. Dia membuka mulut. Menutupnya lagi. Bingung harus bilang apa.
Sakuraba menyeletuk, “Nggak apa-apa, Kanzaki. Nanti kamu jadi... apa, ya. Tukang bawa barang?” Lalu dia tertawa duluan sebelum ada yang tertawa, yang justru membuat suasananya lebih canggung.
Amamiya tidak tertawa. Dia menoleh ke arahku dari seberang ruangan, dan wajahnya bukan wajah kasihan — cuma bingung, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu dan hasilnya tidak masuk.
Aku turun dari podium.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Tidak protes, tidak minta diukur ulang, tidak bertanya apakah alatnya sedang rusak.
Aku hanya berjalan ke barisan paling belakang dan berdiri di sana.
Dan sejujurnya, sejak saat itu, semuanya justru jadi jauh lebih mudah.
Malamnya kami dikumpulkan di aula asrama. Ada pengumuman pembagian kelas, penjelasan kurikulum, dan pidato panjang dari orang yang jabatannya tidak sempat kucatat.
Di ujung pidatonya, dia berkata begini:
“Kami turut berduka atas kejadian di Amberfell. Kalian sudah kehilangan satu teman bahkan sebelum sempat memulai. Kami tidak akan berpura-pura itu ringan.”
Ruangan langsung berubah rasanya.
Empat hari lalu, sebelum sampai ibu kota, rombongan kami diserang di jalur hutan. Dua puluh tiga orang berada di kereta bagian belakang. Dua puluh dua selamat.
Yang tidak, namanya Nanase Yuki.
Dia satu-satunya orang yang mengajakku bicara di bus, waktu kami masih di duniaku sendiri, sebelum semua ini terjadi. Bukan obrolan penting. Dia cuma bertanya apakah aku membawa permen, dan aku bilang tidak, lalu dia memberiku satu.
Malam itu di aula, semua orang menunduk. Ada yang menangis. Tsukumo menangis lagi, tentu saja. Amamiya menggenggam tangan anak perempuan di sebelahnya.
Aku ikut menunduk.
Bedanya cuma satu.
Mereka menunduk karena sedih.
Aku menunduk karena kalau aku mengangkat kepala, mungkin ada yang bisa melihat wajahku, dan waktu itu aku belum yakin wajahku bisa dipercaya.
Ada satu hal yang tidak kuceritakan pada siapa pun malam itu. Tidak pada instruktur, tidak pada teman sekelas, tidak pada petugas yang mencatat keterangan saksi.
Waktu kristal itu menyala sebentar lalu mati, aku tidak kaget.
Aku juga tidak bingung.
Aku tahu persis kenapa angkanya nol.
Karena Bola Ukur itu — detailnya baru kutahu beberapa hari kemudian, tapi malam itu aku sudah menebak sembilan puluh persennya — mengukur mana yang keluar dari tubuh. Sihir itu dilempar. Api dilontarkan ke depan, pedang dialiri, penyembuhan dipancarkan. Semuanya keluar. Kristal itu berdiri di sana entah sudah berapa ratus tahun, dengan setia menghitung seberapa deras sesuatu memancar dari telapak tangan orang.
Punyaku tidak memancar ke mana-mana.
Punyaku masuk ke tubuh orang lain.
Jadi kristal itu tidak rusak. Tidak salah baca. Tidak error. Kristal itu justru sangat jujur — dia berdiri di sana dan melaporkan dengan setia bahwa tidak ada apa pun yang keluar dari tubuhku, dan laporan itu seratus persen akurat.
Dia cuma sedang mengukur hal yang salah.
Dan aku diam.
Bukan karena aku tidak yakin. Bukan karena aku menunggu momen keren untuk mengungkapkannya. Bukan karena aku ingin diremehkan dulu supaya nanti bisa mengejutkan semua orang, seperti di komik.
Aku diam karena empat hari sebelumnya, di jalur hutan Amberfell, aku sudah pernah mencoba untuk tidak diam.
Sekali.
Selama kurang lebih sembilan detik.
Dan dari dua puluh tiga orang, dua puluh dua selamat.
Tiga tahun kemudian, di kelas 2-C, aku duduk di kursi paling belakang dekat jendela.
Di depanku ada satu bangku yang tidak pernah dipindahkan siapa pun. Tidak ada yang pernah membicarakannya, dan tidak ada yang pernah mengeluh kenapa ruangan jadi sempit gara-gara satu meja menganggur. Kadang aku berpikir mereka sudah lupa itu bangku siapa. Kadang aku berpikir mereka ingat, hanya tidak ada yang mau jadi orang pertama yang memindahkannya.
Aku bangun pukul empat setiap pagi untuk mengelap meja itu sebelum ada orang datang.
Nilaiku menengah. Tidak pernah dipilih waktu pembentukan party. Guru olahraga selalu memasukkanku ke kelompok pengamat. Kalau ada yang menyapaku di koridor, biasanya karena mereka salah orang.
Dan angka nol itu masih tertulis di berkasku, di baris paling atas, di kolom yang tidak pernah diperbarui.
Aku tidak pernah minta diukur ulang.
Sekali pun.
[Bersambung — Bab 2: Rutinitas Tak Terlihat]