← Chapters Ch. 26 / 50

Chapter Twenty Six

Hak untuk Menderita

[POV: Hoshimiya Shion]

Aku menunggu enam hari.

Itu bukan kesabaran. Itu perhitungan. Tangan kanannya baru bisa memegang pena di hari ketiga, dan aku tidak berniat mengajukan sesuatu yang penting pada orang yang belum bisa memegang pena.

Hari keenam, malam, ruang latihan lantai dua.

Kami tidak berlatih sejak Vellmoor. Kami tetap datang ke ruangan itu setiap malam. Tidak ada yang mengusulkan, tidak ada yang menjadwalkan; kami cuma datang, duduk, dan biasanya tidak melakukan apa-apa.

Malam itu aku duduk di lantai membelakanginya seperti biasa, dan setelah sekitar sepuluh menit aku berkata:

“Aku mau ikut terikat.”


“Terikat waktu apa?”

“Waktu kamu memakai yang ketiga.”

Punggungnya tidak bergerak.

“Nggak.”

“Aku belum selesai bicara.”

“Nggak.”

Aku sudah memperkirakan ini. Aku sudah menyiapkan urutannya selama enam hari, dan aku memutuskan untuk tidak berdebat soal ‘ya’ atau ‘tidak’ dulu, melainkan menjelaskan mekanismenya, supaya kalau dia menolak, dia menolak sesuatu yang konkret dan bukan sesuatu yang dia bayangkan sendiri.

“Benang itu dua arah,” kataku. “Kamu sudah mengakuinya.”

“Iya.”

“Dan kamu menahannya. Tiga puluh persen di atas biaya normal — aku tahu kamu menaikkannya setelah malam ketiga belas, karena kejang tanganmu naik satu tingkat tanpa alasan lain.”

Punggungnya bergerak sedikit.

“Aku tidak minta kamu berhenti memakai skill itu,” lanjutku. “Aku tahu itu percuma. Aku minta satu hal saja: waktu kamu memakainya, jangan ditahan.”

“Hoshimiya—”

“Lepaskan penahannya. Biarkan sebagian lewat. Aku tidak tahu berapa yang akan sampai padaku — mungkin sepertiga, mungkin lebih kecil. Tapi berapa pun itu, itu berkurang dari yang kamu tanggung.”

Aku menunggu.

“Itu saja,” kataku. “Itu seluruh permintaanku.”


Dia berdiri.

Aku ikut berdiri, karena berdebat sambil membelakangi terasa salah.

“Kamu tahu apa yang barusan kamu tawarkan?”

“Tidak sepenuhnya.”

“Nah.”

“Aku tahu satu detik dari kurang dari separuh membuatku berlutut,” kataku. “Aku menghitungnya. Kalau sepertiga dari sepuluh detik itu sampai padaku, kemungkinan besar aku tidak sadarkan diri, mungkin beberapa jam, mungkin lebih. Aku sudah memperhitungkan itu dan aku tetap mengajukannya.”

“Kamu nggak—”

“Aku sudah menulis perkiraannya. Mau lihat?”

Aku mengeluarkan buku catatan hitam dan membukanya ke halaman yang sudah kusiapkan.

Dia tidak melihatnya.


“Nggak bisa,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena itu bukan cara kerjanya.”

“Kanzaki, jangan berbohong. Kamu jelek sekali kalau berbohong dan kamu tidak menyadarinya.”

Dia diam.

Lalu dia berkata sesuatu yang sudah kutunggu selama enam hari, dan aku tetap tidak siap waktu mendengarnya.

“Karena kalau kamu terikat, kamu nggak bisa melepaskan diri sendiri.”

Aku berhenti.

“...Apa?”

“Benang itu cuma bisa diputus dari sisiku.” Dia mengucapkannya rata, tanpa nada, seperti orang membacakan aturan. “Yang terikat nggak punya kendali apa pun. Nggak bisa menolak perintah, nggak bisa memutus, nggak bisa keluar. Sekali nempel, satu-satunya cara lepas adalah aku yang melepaskannya.”

Ruangan itu sunyi cukup lama.

“Tiga belas malam,” kataku.

“Iya.”

“Tiga belas malam aku terikat di ruangan ini.”

“Iya.”

“Dan kamu tidak pernah memberitahuku.”

“Nggak.”


Aku ingin mencatat sesuatu dengan jujur di sini.

Yang kurasakan pertama bukan marah.

Yang kurasakan pertama adalah malu.

Karena aku berdiri di ruangan yang sama, tiga belas malam sebelumnya, dan berkata aku menyerahkan diriku, sepenuhnya, gerakkan aku — dan aku mengucapkannya dengan bangga, seperti orang yang sedang memberikan sesuatu.

Ternyata aku tidak memberikan apa-apa.

Aku cuma tidak tahu bahwa pintunya memang tidak punya gagang dari sisiku.

Marah datang sekitar lima detik kemudian.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Karena kamu nggak akan mau.”

“Kamu tidak tahu itu.”

“Aku tahu itu.”

“Kamu tidak—”

“Hoshimiya.” Suaranya naik. Bukan berteriak; naik. “Nggak ada orang waras yang mau menyerahkan kendali atas tubuhnya sendiri ke orang lain tanpa jalan keluar. Nggak ada. Kalau aku bilang di malam pertama, kamu akan berpikir dulu, dan berpikir dulu itu artinya ragu, dan benangnya nggak akan nempel ke orang yang ragu.”

“Jadi kamu memilih tidak memberitahuku supaya benangnya nempel.”

Dia tidak menjawab.

“Kanzaki. Jawab.”

“...Iya.”


Kami berdiri di situ, sekitar tiga langkah, sama seperti tiga belas malam sebelumnya.

“Jadi jangan bicara soal hak,” katanya. “Kamu nggak punya hak apa pun begitu benangnya nempel. Yang ada cuma keputusanku. Itu sudah begitu sejak malam pertama, dan itu nggak akan berubah, dan itu justru alasan kenapa aku nggak akan pernah memakainya untuk membagi apa pun.”

“Itu tidak masuk akal.”

“Itu satu-satunya yang masuk akal.”

“Kamu memakainya tiga belas malam untuk latihan, tapi tidak boleh dipakai untuk yang ini?”

“Latihan nggak bisa membunuhmu.”

“Sepuluh detik itu juga tidak akan membunuhku.”

“Kamu nggak tahu itu.”

“Kamu juga tidak!” Dan aku meninggikan suara untuk kedua kalinya dalam hidupku, pada orang yang sama, dalam waktu tiga minggu. “Kamu juga tidak tahu, Kanzaki. Kamu memakai skill itu untuk pertama kalinya di tengah pertempuran tanpa tahu efeknya, dengan lima belas orang bergantung padanya, dan kamu berdiri di sini sekarang menceramahiku soal risiko yang tidak diketahui.”


Dia tidak punya jawaban untuk itu, dan aku melihatnya tidak punya jawaban, dan seharusnya aku berhenti di situ.

Kalau aku berhenti di situ, mungkin sisanya berbeda.

Tapi aku sudah menunggu enam hari, dan aku sudah menghitung sepanjang enam hari itu, dan ada satu kesimpulan yang kudapat di hari keempat dan kusimpan karena terlalu kejam untuk diucapkan.

Aku mengucapkannya.

“Kamu tidak sedang melindungi aku,” kataku.

“Apa.”

“Kamu bilang kamu tidak mau ada yang terluka. Tapi kamu memakai benang itu tiga belas malam berturut-turut tanpa masalah, dan waktu aku minta satu hal yang bisa mengurangi bebanmu, tiba-tiba semua alasan keamanan muncul sekaligus.”

“Karena skalanya beda—”

“Kalau ada yang ikut menanggung,” kataku, “kamu bukan siapa-siapa lagi.”

Ruangan itu jadi sangat sunyi.

“Itu yang kamu takutkan. Bukan aku terluka. Kamu takut kalau bebanmu bisa dibagi, artinya beban itu bukan milikmu, dan kalau beban itu bukan milikmu, kamu cuma anak yang duduk di pojok belakang.”

Aku masih ingat wajahnya.

Dia tidak marah. Aku sudah menyiapkan diri untuk marah dan aku bisa menghadapi marah.

Yang terjadi adalah wajahnya kosong selama sekitar dua detik, seperti orang yang sedang memeriksa sesuatu di dalam dirinya sendiri untuk memastikan bahwa yang barusan dikatakan itu salah.

Dan aku melihat pemeriksaan itu selesai.

Dan aku melihat hasilnya di wajahnya sebelum dia sempat menyembunyikannya.


“Oke,” katanya.

“Kanzaki—”

“Oke,” ulangnya, dan mengambil tasnya.

“Aku tidak bermaksud—”

“Kamu bermaksud.” Dia berjalan ke pintu. “Kamu selalu bermaksud. Itu hal yang paling kusukai darimu.”

Dan dia keluar.


Aku berdiri di ruang latihan lantai dua sampai lampunya mati otomatis pukul sebelas.

Lalu aku duduk di gelap sekitar setengah jam lagi.

Aku sudah pernah menyakiti orang sebelumnya. Aku tahu rasanya. Biasanya rasanya seperti salah menghitung — kamu melihat angka yang keliru, kamu memperbaikinya, selesai.

Yang ini tidak seperti itu, karena angkanya tidak keliru.

Yang kuucapkan benar. Aku yakin itu benar waktu mengucapkannya dan aku masih yakin itu benar sekarang, bertahun-tahun kemudian, dan itulah yang membuatnya tidak bisa diperbaiki.

Aku mengambil sesuatu yang benar dan memakainya sebagai senjata pada orang yang sedang berdiri tiga langkah di depanku dengan tangan yang belum sembuh.


Aku menulis di buku catatan hitam malam itu.

Benang tidak bisa diputus dari sisi yang terikat. 13 malam. Dia tidak memberitahuku.

Alasannya: karena aku tidak akan mau. (Benar.)

Aku bilang dia takut kehilangan satu-satunya yang dia punya. (Benar.)

Dua-duanya benar. Dua-duanya tidak boleh diucapkan.

Lalu, lebih ke bawah:

Dia bilang “itu hal yang paling kusukai darimu” sambil keluar dari ruangan.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan kalimat itu.

Dan di paling bawah, di sudut halaman, dengan huruf kecil:

Tiga hari. Kalau dia tidak bicara dalam tiga hari, aku yang datang.

Ternyata butuh empat.


[Bersambung — Bab 27: Dapur]