← Chapters Ch. 38 / 50

Chapter Thirty Eight

Tangga Asrama

[POV: Amamiya Koharu]

Berita soal tawaran itu sampai ke kelas dalam waktu satu hari, karena tidak ada yang bisa disembunyikan di sekolah asrama.

Versinya macam-macam. Ada yang bilang Kanzaki mau diangkat jadi bangsawan. Ada yang bilang dia bakal dijadikan senjata rahasia kerajaan. Ada yang bilang dia sudah menolak dan bakal ditangkap.

Yang benar cuma satu hal, dan itu satu-satunya yang kubutuhkan.

Tiga puluh hari.


Aku menghitung sejak malam itu juga.

Aku selalu menghitung. Aku cuma tidak menuliskannya.

Tiga puluh hari itu artinya dua puluh sembilan kali lagi aku bisa menaruh kotak bekal di mejanya. Mungkin dua puluh tujuh, karena ada dua hari libur di mana kelas kosong dan aku tidak punya alasan untuk ada di gedung itu.

Dua puluh tujuh kotak.

Aku memasak dua kotak setiap pagi selama tiga tahun. Kalau dihitung kasar, itu sekitar seribu seratus kotak, tidak termasuk hari libur, tidak termasuk waktu aku sakit dan tetap masak.

Dan sekarang tersisa dua puluh tujuh.


Ada hal yang tidak pernah kubilang ke siapa pun.

Aku tidak pandai apa-apa.

Aku tier A, jadi orang mengira aku pandai bertarung. Bukan begitu cara kerjanya. Guardian itu kelas yang paling gampang. Kamu berdiri, kamu tahan, kamu jangan mundur. Itu saja. Tidak ada teknik yang harus dipelajari sepuluh tahun seperti punya Hoshimiya. Tidak ada perhitungan mana seperti punya Ren.

Guardian cuma butuh satu hal: kamu harus rela.

Dan aku rela, jadi aku bagus, dan orang mengira itu bakat.

Aku juga tidak pandai bicara. Aku cuma berisik. Ada bedanya, dan bedanya besar sekali, dan aku sudah tahu bedanya sejak umur delapan.

Satu-satunya yang benar-benar bisa kulakukan adalah masak, dan itu pun karena ibuku meninggal waktu aku enam tahun dan tidak ada orang lain yang masak di rumah.

Jadi selama tiga tahun, aku memakai satu-satunya yang kupunya.

Dan sekarang tersisa dua puluh tujuh kali.


Hari kelima dari tiga puluh, aku berdiri di dapur asrama putra pukul sebelas malam dan bertanya pada diriku sendiri satu pertanyaan yang sudah kutunda sejak malam di ruang kesehatan.

Pertanyaannya begini.

Kalau dia pergi tiga puluh hari lagi, apa yang akan kusesali?

Aku menghitung.

Bukan menghitung yang biasa. Aku mengurutkan semuanya sejak hari pertama — bus, jalur hutan, ruang pengukuran, tiga tahun kotak bekal, koridor seratus dua puluh langkah, gang pelabuhan, dapur ini.

Dan jawabannya keluar dalam waktu kurang dari sepuluh detik, yang mana kaget juga, karena aku pikir aku akan berdiri di situ sampai pagi.

Yang akan kusesali bukan bahwa aku kalah.

Aku sudah tahu aku kalah sejak lama. Aku tahu persis kapan — malam di ruang kesehatan, waktu aku berdiri di celah pintu dan mendengar Hoshimiya bilang aku tidak akan berhenti minta, dan aku menyadari bahwa dalam tiga tahun aku tidak pernah minta apa pun sekali pun.

Kalah itu tidak apa-apa. Aku sudah menerimanya. Aku sudah selesai menangisinya di dapur ini, dua kali, dan aku bukan orang yang mengulang.

Yang akan kusesali adalah kalau dia pergi dan tidak pernah tahu.

Bukan supaya dia memilihku. Itu sudah lewat.

Cuma supaya dia tahu bahwa selama tiga tahun ada orang yang menaruh kotak di mejanya bukan karena kasihan, bukan karena kebetulan kebanyakan, bukan karena dia orang baik.

Karena aku memang sayang.

Dan kalau dia pergi tanpa pernah tahu itu, seluruh tiga tahun itu jadi cerita yang salah.


Hari keenam, sore, tangga asrama putra.

Bukan tangga utama. Tangga samping yang sepi, yang keluar ke taman belakang, yang dulu aku bawa dia ke situ waktu dia hampir jatuh di koridor dan aku kasih botol air yang sudah kubuka tutupnya.

Aku sudah menunggu di situ empat puluh menit karena aku tidak tahu jam berapa dia lewat.

Ternyata dia memang lewat situ setiap hari sekitar pukul lima. Aku tidak tahu itu sebelumnya. Ternyata masih ada yang tidak kutahu tentang dia, setelah tiga tahun, dan itu lucu.

Dia berhenti waktu melihatku.

“Amamiya.”

“Hai.”

“Kamu ngapain di sini?”

“Nunggu.”

“Nunggu siapa?”

“Kamu.”

Dia berdiri di anak tangga di bawahku. Aku di anak tangga ketiga dari atas, dia di lantai, jadi tinggi kami hampir sama, yang mana kebetulan sekali dan sangat membantu.

“Ada apa?” tanyanya.

Dan aku sudah menyiapkan tiga versi kalimat selama enam hari, dan seperti biasa aku tidak memakai satu pun.


Aku menciumnya di pipi.

Sisi kiri. Cepat sekali — mungkin satu detik, mungkin kurang. Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar kena pipinya atau sedikit ke rahang, karena aku menutup mata dan itu kesalahan besar.

Lalu aku mundur satu anak tangga.

Dia berdiri di situ dengan wajah yang, kalau aku sedang tidak dalam kondisi seperti itu, akan sangat lucu.

“Amamiya—”

“Ini bukan buat kamu balas,” kataku.

Dan aku ingat suaraku keluar sangat kencang, jauh lebih kencang dari yang kumau, karena kalau aku pelankan aku tidak akan bisa menyelesaikannya.

“Ini biar aku nggak nyesel.”


Lalu aku lari.

Beneran lari. Menuruni tangga, melewatinya, ke taman belakang, terus sampai gerbang asrama putri, tanpa menoleh sekali pun.

Aku Guardian tier A. Aku bisa lari cepat sekali kalau mau.

Aku tidak menoleh karena aku tahu persis apa yang akan kulihat kalau menoleh: seorang anak laki-laki berdiri di tangga dengan wajah bingung, yang tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya, yang mungkin akan mengejar karena dia orang baik dan orang baik selalu mengejar.

Dan kalau dia mengejar, dia akan bilang maaf.

Dan aku tidak sanggup mendengar itu.


Aku masuk ke kamarku dan duduk di lantai membelakangi pintu selama sekitar dua puluh menit.

Dan aku tidak menangis.

Aku mau mencatat itu karena aku bangga. Aku sudah selesai menangis dua kali di dapur itu dan aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengulang, dan aku tidak mengulang.

Yang kurasakan justru aneh sekali.

Ringan.

Seperti orang yang sudah tiga tahun menggendong sesuatu dan akhirnya menaruhnya di lantai — bukan karena ada yang mengambil alih, tapi karena akhirnya sadar boleh ditaruh.

Aku berpikir: oh.

Jadi ini rasanya minta sesuatu.

Aku tidak minta apa-apa, sebenarnya. Aku tidak minta dia menjawab, tidak minta dia memilih, tidak minta dia berpikir ulang.

Tapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku mengambil satu hal yang aku mau, dan aku mengambilnya sendiri, dan tidak ada yang perlu memberikannya padaku.

Aku duduk di lantai kamar dan tertawa sendiri sebentar, yang mungkin terdengar aneh dari luar, dan aku tidak peduli.


Besok paginya aku masak dua kotak seperti biasa.

Aku menaruh yang satu di mejanya, tanpa melihat, seperti seribu seratus kali sebelumnya.

“Kebanyakan,” kataku.

Dan dia berkata, “Terima kasih.”

Dan aku berkata, “Nggak usah, kan cuma kelebihan.”

Dan itu saja. Persis seperti biasa. Tidak ada yang berubah, dan tidak ada yang canggung, dan tidak satu pun dari kami menyinggung tangga.

Aku sudah memutuskan itu semalam. Kalau aku membuatnya canggung, dia akan menghindariku, dan menghindar itu bukan hal yang bisa dia lakukan setengah-setengah — dia akan menghilang total, dan aku akan kehilangan dua puluh enam kotak yang tersisa.

Jadi aku bicara tentang tukang roti.

Dia menjawab seperlunya.

Dan Hoshimiya, yang duduk di sebelahnya, menoleh ke arahku satu kali di tengah percakapan itu.

Cuma satu kali. Setengah detik.

Dan aku membalas dengan senyum yang paling lebar yang bisa kukeluarkan, dan dia mengangguk sekali, dan kami berdua kembali ke urusan masing-masing.

Aku tidak tahu apa yang dia simpulkan.

Aku cukup yakin dia sudah tahu semuanya, karena dia selalu tahu semuanya, karena dia menghitung.

Yang tidak dia tahu — dan yang tidak akan pernah kuberitahu siapa pun, termasuk dia, termasuk siapa pun — adalah bahwa aku sudah menghitung juga.

Dua puluh enam kotak lagi.

Dan aku sudah memutuskan menu untuk semuanya.


[Bersambung — Bab 39: Yang Kupilih]