Chapter Thirty Five
Setengah Langkah
[POV: Kanzaki Rei]
Namanya Nanase Yuki.
Aku mengucapkannya keras-keras untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dua bulan, di ruang latihan lantai dua, dengan punggung menempel di punggung seseorang, di ruangan yang lampunya sudah mati.
Dan begitu diucapkan, nama itu ada di ruangan bersama kami, dan tidak bisa lagi kutarik kembali.
Kami tidak menyalakan lampu.
Aku mau mencatat itu karena penting: lampu ruang latihan mati otomatis pukul sebelas, dan ada saklar manual di dekat pintu, dan tidak satu pun dari kami berdiri untuk menyalakannya.
Jadi seluruh percakapan itu terjadi di gelap.
Aku rasa aku tidak akan sanggup kalau ada cahaya.
“Dia duduk di baris ketiga dari belakang,” kataku. “Tepat di depanku. Dari hari pertama pembagian kelas.”
“Dia sekelas denganmu?”
“Sekelas di duniaku. Kami satu SMA.”
“Kamu kenal dia sebelum dipanggil?”
“Nggak.”
Aku merasakan punggungnya bergerak sedikit.
“Aku tahu wajahnya,” kataku. “Aku tahu namanya karena absen. Itu aja. Dia duduk empat baris di depanku selama satu tahun setengah dan kami nggak pernah ngomong sekali pun.”
“Sampai?”
“Sampai di bus.”
Aku belum pernah menceritakan bagian bus pada siapa pun.
Sebagian besar anak-anak itu bahkan tidak ingat ada bus. Yang mereka ingat adalah cahaya, lalu lantai batu, lalu orang-orang berjubah yang bicara dalam bahasa yang tiba-tiba bisa mereka mengerti.
Aku ingat busnya.
Kami sedang dalam perjalanan pulang dari kunjungan industri. Empat puluh menit perjalanan, sore, macet.
Aku duduk di kursi paling belakang di sisi kiri, karena aku selalu duduk di kursi paling belakang, karena itu memang tempatku sejak SD.
Nanase Yuki pindah ke kursi di sebelahku sekitar dua puluh menit sebelum semuanya terjadi.
Dia tidak bilang apa-apa dulu. Dia duduk, membuka tasnya, mengeluarkan sesuatu, dan menoleh.
“Kanzaki-kun bawa permen nggak?”
“...Nggak.”
“Yah.” Dia mengeluarkan satu bungkus. “Nih.”
“Aku nggak—”
“Ambil aja. Aku kebanyakan.”
Aku berhenti bicara di ruang latihan lantai dua selama beberapa saat.
Hoshimiya tidak mengisi keheningannya. Dia tidak pernah mengisi keheningan. Itu salah satu hal terbaik tentang dia dan aku belum pernah memberitahunya.
“Aku baru sadar kata itu beberapa bulan lalu,” kataku akhirnya.
“Kata apa?”
“Kebanyakan.”
Aku mendengar napasnya berubah.
“Aku baru sadar waktu Amamiya ngomong gitu untuk yang kesekian ratus kali,” kataku. “Dan aku sadar aku udah dengar kata itu sebelumnya, dari orang lain, di bus, dua puluh menit sebelum dia mati.”
Yang terjadi di jalur hutan Amberfell berlangsung sekitar dua menit total.
Aku sudah mengulangnya di kepala mungkin sepuluh ribu kali, jadi aku bisa menceritakannya dengan urutan yang benar.
Kami sudah tiga hari di Elgaria waktu itu. Belum diukur, belum masuk akademi, belum tahu apa-apa. Rombongan tiga puluh anak dipindahkan dari kuil pemanggilan ke ibu kota dengan enam kereta.
Aku di kereta keenam. Bagian belakang. Dua puluh tiga orang.
Statusku sudah muncul di hari pertama. Semua orang punya. Itu hal pertama yang terjadi setelah pemanggilan — sesuatu yang cuma bisa dilihat pemiliknya sendiri, seperti daftar isi.
Aku sudah membacanya tiga kali.
Tiga skill. Tiga deskripsi. Nama kelas yang tidak ada di daftar mana pun.
Dan aku tidak mengerti satu pun dari ketiganya, karena membaca deskripsi skill itu sama seperti membaca petunjuk pemakaian alat yang belum pernah kamu lihat bentuknya.
Yang kubaca di deskripsi kedua adalah kalimat ini:
Mengikat anggota kelompok dengan benang penuntun. Yang terikat bergerak sesuai arahan caster.
Itu saja. Dua baris.
Tidak ada peringatan. Tidak ada catatan kaki. Tidak ada satu pun kata tentang perhitungan berat, tentang kalibrasi, tentang apa yang terjadi kalau kamu salah.
Itu bukan kesalahan sistem. Aku sudah memikirkannya bertahun-tahun dan aku yakin sekarang: deskripsi itu ditulis untuk orang yang sudah dilatih.
Kelas ini tidak pernah dimaksudkan untuk sampai ke tangan anak tujuh belas tahun yang belum pernah memegang apa pun.
“Yang menyerang itu kelas rendah,” kataku. “Aku baru tahu belakangan. Enam ekor. Kalau ada satu kesatria di kereta itu, selesai dalam empat puluh detik.”
“Tidak ada kesatria?”
“Ada. Di kereta pertama dan kedua.” Aku menarik napas. “Kereta keenam paling belakang. Mereka butuh sekitar sembilan puluh detik untuk sampai.”
“Dan kalian?”
“Kami tiga puluh anak SMA yang baru dapat status window tiga hari lalu.”
Aku tidak akan menceritakan dua puluh detik pertamanya.
Yang perlu diketahui: keretanya terbalik, dan dua puluh tiga orang tersebar di jalan tanah dan semak di sisi kiri, dan enam ekor makhluk itu tidak menyerang ke satu arah tapi ke segala arah sekaligus.
Yang perlu diketahui: aku terlempar keluar dan mendarat sekitar delapan meter dari kereta, dan aku bisa melihat semuanya dari sana.
Semuanya. Dua puluh dua orang, sekaligus, dari satu titik.
Dan otakku — yang tiga hari sebelumnya masih otak anak SMA yang duduk di kursi paling belakang — melakukan sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya dan tidak pernah kualami lagi sesudahnya.
Otakku menghitung semuanya sekaligus.
Siapa di mana. Siapa akan bergerak ke arah mana. Berapa detik sampai yang mana kena.
Aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku tidak melatihnya. Itu cuma terjadi, seperti orang yang tiba-tiba bisa melihat warna yang selama ini tidak ada namanya.
Dan aku tahu — dengan sangat jelas, dalam waktu kurang dari satu detik — bahwa aku bisa memindahkan mereka semua.
“Rapalannya lima baris,” kataku. “Aku belum pernah mengucapkannya. Aku baca sekali di deskripsi, tiga hari sebelumnya.”
“Kamu hafal?”
“Aku hafal.”
“Kanzaki—”
“Aku hafal sekali baca,” kataku. “Aku nggak tahu kenapa. Aku sampai sekarang nggak tahu kenapa. Ada hal-hal tentang kelas ini yang nggak pernah kumengerti dan itu salah satunya.”
Aku menelan.
“Aku ngucapin lima baris itu di jalan tanah sambil setengah duduk. Sembilan detik. Aku ngitung belakangan dari suara — ada burung yang bunyi dua kali dan aku tahu jaraknya.”
Dua puluh tiga benang.
Sepuluh jari.
Itu bagian yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk padanya sampai malam itu, dan itu bagian yang paling sulit.
Sepuluh jari cuma bisa sepuluh benang.
Kecuali kamu membagi satu jari untuk lebih dari satu orang.
Dan kalau kamu melakukan itu, kamu tidak bisa lagi menghitung berat mereka satu-satu. Kamu menghitung rata-ratanya.
Rata-rata dua puluh tiga orang.
Rata-rata dari tiga puluh anak SMA yang tinggi badannya berbeda-beda, yang beratnya berbeda-beda, yang sepatunya berbeda-beda, yang sebagian sudah patah tulang dan sebagian belum.
Aku menggerakkan mereka semua dengan rata-rata.
Dua puluh dua orang cukup dekat dengan rata-rata itu.
“Nanase Yuki tinggi badannya seratus lima puluh dua sentimeter,” kataku.
Ruangan itu gelap total dan aku bersyukur.
“Dia yang paling kecil di kelas. Dia selalu di barisan paling depan waktu upacara. Semua orang tahu itu — itu bahan bercandaan yang biasa aja, nggak jahat, dia juga ikut ketawa.”
“Kanzaki.”
“Rata-ratanya seratus enam puluh empat.”
Aku menghitung sampai tiga dalam hati.
“Dua belas sentimeter,” kataku. “Langkah orang dewasa sekitar enam puluh lima sentimeter. Dua belas sentimeter dari rata-rata artinya langkahnya lebih pendek sekitar—”
“Berhenti.”
“—sekitar sepertiga langkah. Dan dia harus bergerak dua langkah untuk keluar dari jangkauan, jadi totalnya—”
“Kanzaki, berhenti.”
“Setengah langkah,” kataku.
Ruangan itu sunyi cukup lama.
Aku bisa mendengar napasnya. Aku bisa merasakan punggungnya, dan punggungnya tidak bergerak sama sekali, seperti orang yang sedang menahan supaya tidak bergerak.
“Dua puluh dua orang berdiri di tempat yang benar,” kataku. “Satu orang berdiri setengah langkah kurang jauh.”
“Kanzaki—”
“Dan dia sadar penuh.” Suaraku mulai jelek dan aku tidak repot memperbaikinya. “Itu bagian yang orang nggak ngerti. Yang terikat itu sadar penuh. Dia lihat tubuhnya sendiri bergerak, dia tahu bukan dia yang gerakin, dan dia nggak bisa apa-apa.”
“Kamu tidak tahu itu waktu—”
“Aku tahu sekarang.”
Aku menceritakan sisanya lebih cepat, karena sisanya lebih mudah.
Kesatria sampai di detik kesembilan puluh satu. Semua makhluknya mati dalam waktu kurang dari satu menit.
Dua puluh dua anak duduk di jalan tanah dengan luka ringan dan tidak satu pun dari mereka bisa menjelaskan apa yang barusan terjadi pada tubuh mereka sendiri.
Sebagian besar menyimpulkan bahwa mereka panik dan tubuhnya bergerak sendiri. Itu penjelasan yang masuk akal. Orang memang begitu waktu panik.
Aku tidak mengoreksi siapa pun.
Aku duduk di jalan tanah itu selama sekitar dua puluh menit sampai kereta pengganti datang, dan selama dua puluh menit itu aku memutuskan seluruh sisa hidupku.
Tiga hari kemudian aku menyentuh Bola Ukur Kristal dan layarnya menampilkan angka nol dan instrukturnya bilang ya sudah, tulis nol saja, dan aku tidak membantah.
“Aku bukan diam karena kerajaan,” kataku.
“Aku tahu.”
“Arsip lantai empat itu benar. Empat orang, nomor inventaris, enam puluh halaman. Semuanya benar dan semuanya alasan yang bagus.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku sudah memutuskan di jalan tanah itu, tiga hari sebelum aku pernah dengar soal arsip.”
Aku menutup mata, yang tidak ada gunanya karena ruangannya memang gelap.
“Aku cuma nyari alasan yang lebih rapi setelahnya,” kataku. “Alasan yang bisa kuucapkan kalau ada yang tanya. Alasan yang nggak bikin orang harus tahu bahwa aku pernah menggerakkan dua puluh tiga orang dengan rata-rata.”
Dan inilah yang dia lakukan.
Dia tidak bilang itu bukan salahku. Dia tidak bilang aku menyelamatkan dua puluh dua orang. Dia tidak bilang siapa pun akan melakukan hal yang sama. Dia tidak bilang aku terlalu keras pada diriku sendiri.
Dia tidak mengatakan satu pun dari kalimat-kalimat itu, dan aku sampai sekarang tidak tahu bagaimana dia tahu bahwa satu saja dari kalimat itu akan membuatku berhenti bicara selamanya.
Yang dia lakukan adalah bergerak.
Aku merasakan punggungnya lepas dari punggungku, dan selama satu detik aku pikir dia akan pergi, dan aku ingat berpikir ya, wajar.
Lalu aku merasakan lantai bergetar sedikit di sebelah kiriku.
Dia pindah. Dari belakangku ke sebelahku. Duduk di lantai kayu, bahu menempel bahu, menghadap ke arah yang sama denganku.
Dan tinggal di sana.
Kami tidak bicara lagi setelah itu.
Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak menghitung, dan dia juga tidak — aku tanya beberapa hari kemudian dan dia bilang dia tidak menghitung, dan aku percaya, dan itu satu-satunya kali dia tidak menghitung sesuatu.
Jendela ruang latihan lantai dua menghadap ke timur.
Jadi kami melihat langit berubah warna dari tempat kami duduk, tanpa berdiri, tanpa pindah.
Sekitar pukul empat kurang, aku bergerak untuk berdiri karena ada bangku yang harus dilap.
Dia berdiri juga.
“Aku ikut,” katanya.
“Nggak usah.”
“Aku ikut.”
Kami turun ke kelas 2-C bersama pukul empat kurang dua menit.
Aku menyalakan lampu paling ujung. Aku mengambil lap dari laci. Aku ke koridor, membasahi, memeras.
Waktu aku kembali, Hoshimiya sudah berdiri di depan bangku baris ketiga dari belakang.
Dia tidak menyentuhnya. Dia cuma berdiri di sana.
Aku mengelapnya seperti biasa. Dari kiri ke kanan, dua kali. Sandaran. Kaki-kakinya.
Dan waktu aku selesai dan berdiri, dia berkata satu kalimat.
Bukan kalimat penghiburan. Bukan permintaan maaf. Bukan janji.
“Nanase Yuki,” katanya.
Cuma namanya. Sekali. Diucapkan dengan benar.
Tiga tahun dua bulan, dan itu pertama kalinya aku mendengar orang lain mengucapkan nama itu keras-keras.
[Bersambung — Bab 36: Jam Empat Pagi, Lagi]
- 1 Angka Nol
- 2 Rutinitas Tak Terlihat
- 3 Lantai Empat
- 4 “Kamu Ini Apa?”
- 5 Data
- 6 Sebangku
- 7 Latihan Dungeon
- 8 Yang Tidak Ada di Peta
- 9 “Aku Tahu Kamu Bukan Nol”
- 10 Benang
- 11 Berapa Lama
- 12 Tiga Hari
- 13 Jam Empat Pagi
- 14 Jari yang Kejang
- 15 Penjelasan Setengah
- 16 Piala
- 17 Berat
- 18 Distrik Selatan
- 19 Satu Benang
- 20 Koridor
- 21 Dua Arah
- 22 Jalan Memutar
- 23 Vellmoor
- 24 Dua Menit
- 25 Sepuluh Detik
- 26 Hak untuk Menderita
- 27 Dapur
- 28 Dua Jam
- 29 Empat Puluh Lima Detik
- 30 Dua Malam
- 31 Festival
- 32 Grafik
- 33 Tiga Tahun
- 34 Ayunan Ketiga
- 35 Setengah Langkah reading
- 36 Jam Empat Pagi, Lagi
- 37 Tawaran
- 38 Tangga Asrama
- 39 Bukan Pergelangan
- 40 Langit
- 41 Menara Barat
- 42 Seratus, Lalu Seribu
- 43 Halaman Ketiga
- 44 Yang Kupilih Sendiri
- 45 Empat Ribu Seratus
- 46 Seratus Lima
- 47 Tiga Puluh Satu Hari
- 48 Ikuti Kami
- 49 Pemulihan
- 50 Kristal