Chapter Forty Six
Seratus Lima
[POV: Kanzaki Rei]
Aku merapal sebelas baris itu dalam waktu tujuh detik.
Aku tahu waktunya karena aku menghitung, dan aku menghitung karena empat lengan sedang turun dan aku punya sekitar dua detik lebih sedikit daripada yang kubutuhkan.
Aku tetap selesai.
Aku tidak pernah tahu bagaimana. Ada hal-hal tentang kelas ini yang tidak pernah kumengerti dan itu salah satunya.
“Aku tahu apa yang kuminta. Aku sudah membacanya sampai baris terakhir.
Selama tiga puluh detik, jangan biarkan mereka merasakan apa pun.
Jangan biarkan mereka tahu tulangnya sudah patah.
Jangan biarkan mereka mendengar tubuhnya sendiri menyerah.
Tutup lukanya. Palsukan sehatnya. Bohongi mereka semua.
Dan kirimkan tagihannya padaku — utuh, tanpa dikurangi.
Bukan dalam tiga puluh detik. Dalam sepuluh.
Aku tidak minta keringanan. Aku minta ketepatan.
Kalau kurang, tambahkan. Kalau berlebih, tetap kuambil.
Yang tidak kuserahkan cuma satu: hak untuk bangun lagi.
Mulai hitung.”
Empat lengan menghantam alun-alun pusat pada detik ketiga.
Empat ribu seratus dua puluh orang tidak merasakan apa pun.
Aku melihatnya dari panggung batu: batu alun-alun pecah, tubuh terlempar, blok tiga dan blok sembilan hancur formasinya sepenuhnya.
Dan mereka bangun.
Semuanya. Dalam waktu kurang dari dua detik. Tulang yang patah menyambung sambil mereka masih di udara, dan mereka mendarat berdiri, dan mereka mengangkat senjata lagi.
Aku mendengar sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya dan tidak pernah kudengar lagi sesudahnya.
Empat ribu orang tertawa sekaligus.
Bukan tertawa senang. Tertawa yang keluar dari orang yang tubuhnya baru saja hancur dan bangun lagi dan otaknya tidak punya cara lain untuk memproses itu.
Detik kelima.
Aku menggerakkan mereka.
Semuanya sekaligus, empat belas blok, ke dalam — bukan menghindar lagi. Masuk.
Karena selama tiga puluh detik ke depan, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa terluka dengan cara yang berarti.
Detik kesembilan.
Blok sebelas sampai empat belas — yang paling tinggi, yang paling kuat — masuk ke lengan yang sudah mati dan memotongnya dari pangkal.
Detik keempat belas.
Kuroba Jin dan Hoshimiya Shion, dua tier S, kugerakkan bersamaan dari dua sisi berlawanan ke titik yang sama.
Aku belum pernah menggerakkan dua tier S sekaligus. Itu seperti memegang dua benda yang tidak ingin dipegang.
Mereka bertemu di tengah, dan sesuatu yang seukuran gedung kehilangan lengan keduanya.
Detik kedua puluh dua.
Sakuraba Ren dan sekitar empat ratus penyihir merapal serentak — bukan bergantian, serentak, dengan rapalan yang selesai pada suku kata yang sama.
Detik kedua puluh delapan.
Gran Verg mundur.
Untuk pertama kalinya sejak turun dari langit, benda itu mundur.
Detik ketiga puluh.
Aku tidak berhenti.
Aku sudah memutuskannya sebelum baris kesebelas.
Aku ingin mencatat itu dengan sangat jelas, karena aku tahu bagaimana orang akan menceritakan hari ini nanti, dan sebagian besar versinya akan salah.
Aku tidak terbawa suasana. Aku tidak kehilangan kendali. Aku tidak mengorbankan diri di detik terakhir karena keadaan memaksa.
Aku sudah menghitungnya di panggung batu itu, dalam waktu kurang dari satu detik, sebelum mengangkat tangan.
Tiga puluh detik tidak cukup untuk membunuhnya.
Tiga puluh detik cukup untuk membuatnya mundur, dan makhluk yang mundur akan kembali, dan waktu dia kembali tidak akan ada empat ribu orang yang bisa berdiri.
Yang kubutuhkan bukan tiga puluh detik.
Detik ketiga puluh satu.
Rasa sakitnya tidak datang.
Itu yang paling menipu dari skill ini. Tagihannya tidak dikirim sampai selesai. Selama benda itu berjalan, kamu tidak merasakan apa-apa; kamu cuma tahu, dengan cara yang tidak bisa dijelaskan, bahwa ada sesuatu yang menumpuk di tempat yang tidak punya nama.
Yang datang bukan sakit.
Yang datang adalah berat.
Detik keempat puluh.
Blok tujuh maju.
Aku merasakan Amamiya Koharu di baris kedua, dan aku merasakan dia menahan diri lagi — condong ke belakang setengah langkah, melawan arah yang kuberikan.
Kali ini aku sempat berpikir kenapa, selama sekitar sepersekian detik, sebelum ada hal lain yang lebih mendesak.
Detik keempat puluh lima.
Dua koma dua lima kali.
Aku tahu angkanya. Aku menulisnya di halaman ketiga tiga tahun lalu dengan penggaris.
Dan angka di kertas ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang kurasakan, karena kertas tidak bisa menuliskan bagaimana rasanya sesuatu menekan dari dalam tulang.
Kakiku berhenti bekerja di sekitar detik kelima puluh.
Aku berlutut di panggung batu dan tetap mengangkat sepuluh jari, dan empat ribu seratus dua puluh orang di bawah sana tidak melambat sedikit pun, karena mereka tidak digerakkan oleh kakiku.
Detik keenam puluh.
Empat kali.
Dan di sinilah penahannya lepas.
Aku sudah menahannya sejak awal. Tiga puluh persen di atas biaya normal, seperti setiap malam selama sepuluh bulan.
Empat ribu seratus dua puluh benang, tiga puluh persen tambahan, di detik keenam puluh dari skill yang seharusnya berhenti di ketiga puluh.
Aku tidak sanggup.
Dan aku mencoba melakukan satu hal, satu-satunya hal yang terpikir, dan aku gagal.
Aku mencoba memutus satu benang.
Satu. Yang di blok delapan, baris pertama, seratus enam puluh delapan sentimeter, tumpuan sedikit ke kaki kanan karena terbiasa siap menarik pedang.
Aku tidak bisa menemukannya.
Ini bagian yang harus kutuliskan dengan benar karena ini inti dari seluruh hidupku.
Di angka empat ribu, aku tidak memegang orang.
Aku memegang blok.
Empat belas blok, diurutkan berdasarkan tinggi badan, karena kalau kamu memegang empat ribu orang satu per satu kamu tidak akan sanggup memegang lebih dari sepuluh.
Aku sudah memerintahkan empat ribu orang berbaris berdasarkan tinggi badan supaya rata-ratanya cukup rapat.
Rata-rata.
Aku memakai rata-rata lagi.
Dan rata-rata bekerja dengan sangat baik — cukup baik untuk menyelamatkan empat ribu orang — dengan satu harga yang tidak pernah kupikirkan sampai detik keenam puluh:
Kamu tidak bisa mengecualikan satu orang dari rata-rata.
Aku bisa melepaskan blok delapan. Empat ratus orang sekaligus.
Aku tidak bisa melepaskan satu orang di dalamnya.
Detik keenam puluh tiga.
Penahannya lepas dan empat ribu seratus dua puluh orang merasakan sebagian dari apa yang kutanggung.
Sebagian kecil. Dibagi empat ribu seratus dua puluh, jadi masing-masing dapat sepersekian ribu.
Aku dengar suaranya.
Bukan teriakan. Suara empat ribu orang menarik napas pada waktu yang sama.
Dan satu orang di blok delapan, baris pertama, yang benangnya tidak bisa kupisahkan dari empat ratus lainnya, mendapat bagian yang sama seperti semua orang.
Sepersekian ribu.
Dari sesuatu yang, pada detik keenam puluh, sudah empat kali lipat dari sesuatu yang membuatnya berlutut di lantai ruang latihan waktu bocor satu detik.
Detik ketujuh puluh.
Gran Verg berhenti mundur.
Aku menggerakkan seluruh empat belas blok ke dalam untuk terakhir kalinya.
Detik kedelapan puluh dua.
Aku melepaskan blok satu sampai enam. Dua ribu orang, langsung jatuh berlutut begitu benangnya lepas, karena tubuh mereka akhirnya sempat melapor.
Bukan karena aku baik hati.
Karena aku tidak sanggup memegang empat belas blok lagi.
Detik kedelapan puluh sembilan.
Blok tujuh, delapan, sembilan, sepuluh lepas.
Dan begitu blok delapan lepas, ada orang berlari ke arah panggung batu.
Detik kesembilan puluh.
Sembilan kali.
Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi dari sekitar detik kedelapan puluh lima. Warnanya hilang duluan, lalu pinggirannya, lalu semuanya kecuali bentuk-bentuk besar.
Aku tahu blok sebelas sampai empat belas masih terikat karena aku masih memegangnya.
Aku tahu Gran Verg masih berdiri karena aku masih merasakan empat ribu tubuh yang bergerak ke arahnya.
Aku tidak tahu apa-apa lagi selain itu.
Lalu ada yang memegang wajahku dengan dua tangan.
“—BERHENTI—”
Suaranya sampai. Aku ingat itu. Sebagian besar hal lain hilang tapi aku ingat bahwa suaranya sampai.
“KANZAKI. Berhenti. Sudah cukup. Sudah—”
“Belum.”
“SUDAH CUKUP.”
“Belum,” kataku, dan aku tidak tahu apakah suaraku keluar sama sekali.
Dua tangan itu di pipiku, dan aku bisa merasakan keduanya gemetar hebat, dan aku tahu persis kenapa gemetar, dan aku tidak bisa melakukan apa pun soal itu karena aku tidak bisa memisahkannya dari rata-rata.
“Aku sudah menghitung,” kataku. “Kalau berhenti sekarang, dia balik lagi. Aku sudah—”
“SERATUS LIMA.”
Aku berhenti.
Detik kesembilan puluh empat.
“Aku baca,” katanya, dan suaranya pecah di kata kedua. “Halaman ketiga. Aku baca semuanya. Seratus lima detik, kamu tulis sendiri, kamu tulis pakai penggaris—”
“Aku tahu.”
“—kamu tulis di hari ketiga, Kanzaki, kamu belum kenal aku, kamu belum kenal siapa-siapa—”
“Aku tahu.”
“KAMU NULIS PERKIRAAN TERBAIK.”
Aku ingin tertawa dan tidak ada yang keluar.
Karena itu memang benar. Aku menulis perkiraan terbaik di halaman ketiga, dengan tulisan yang masih rapi, karena aku tujuh belas tahun dan aku sedang mencoba jujur pada diriku sendiri tentang seberapa banyak yang tidak kuketahui.
“Perkiraan itu bisa salah,” katanya. “Perkiraan itu bisa salah, kamu sendiri yang bilang, kamu bilang angkanya mungkin salah—”
“Iya.”
“Jadi berhenti sekarang dan kita cari tahu—”
“Hoshimiya.”
“Jangan.”
“Aku nggak bisa lihat kamu.”
Tangannya berhenti gemetar untuk sesaat.
“...Apa?”
“Dari tadi. Sekitar delapan puluh lima.” Aku mencoba mengangkat kepala ke arah suaranya dan tidak yakin berhasil. “Jadi kalau kamu mau ngomong sesuatu, sekarang.”
Detik kesembilan puluh delapan.
Dan yang dia lakukan adalah menarik wajahku dan menciumku.
Di alun-alun pusat, di atas panggung batu, dengan empat ribu orang di sekeliling dan sesuatu setinggi gedung tujuh lantai yang belum jatuh.
Bukan perpisahan. Aku ingin sangat jelas soal itu, karena orang menceritakannya sebagai perpisahan dan itu salah.
Itu paksaan.
“Kamu bilang kamu pengin hidup,” katanya, di jarak sepuluh sentimeter, dengan suara yang sama sekali tidak seperti suaranya. “Di menara. Kamu bilang dua kali karena aku suruh.”
“Iya.”
“Jangan bohong padaku dua kali.”
Detik keseratus.
Aku tersenyum.
Aku tahu aku tersenyum karena dia bilang begitu, bertahun-tahun kemudian, dan karena dia tidak pernah berbohong padaku sekali pun kecuali soal sepuluh menit di ruang latihan lantai dua.
“Aku nggak bohong,” kataku.
Detik keseratus dua.
Aku menggerakkan blok sebelas sampai empat belas untuk terakhir kalinya.
Seribu dua ratus orang, satu gerakan, satu titik.
Detik keseratus empat.
Gran Verg jatuh.
Detik keseratus lima.
Aku melepaskan semuanya.
Aku tidak akan menuliskan sepuluh detik berikutnya.
Bukan karena tidak ingat.
Aku sudah mencoba dua belas kali selama bertahun-tahun dan setiap kali aku berhenti di kalimat ketiga, dan aku sudah memutuskan bahwa ada hal-hal yang memang tidak dimaksudkan untuk punya kalimat.
Yang bisa kucatat cuma dua hal.
Yang pertama: aku sempat berpikir, dengan sangat jernih, di suatu tempat di antara detik ketiga dan keempat, kalimat yang persis sama dengan yang kupikirkan di lorong Vellmoor.
Empat ribu seratus dua puluh dan empat ribu seratus dua puluh.
Yang kedua: aku salah.
Delapan orang mati di alun-alun pusat hari itu. Empat prajurit dari Garnisun Utara yang tertimbun reruntuhan sisi utara sebelum aku sempat merapal, dan empat warga yang tidak ikut evakuasi.
Aku baru tahu angkanya tiga puluh satu hari kemudian, dan orang pertama yang kutanya waktu aku bisa bicara lagi adalah berapa, dan Hoshimiya menjawabnya dengan jujur karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah menyembunyikan angka dariku.
Delapan.
Tiga puluh lima.
Aku menambahkannya ke daftar dari ranjang rumah sakit, dengan tangan kiri, karena tangan kanan belum kembali.
Kota itu selamat.
Empat ribu seratus dua puluh orang berdiri di alun-alun pusat, dan sekitar tiga ribu di antaranya jatuh berlutut dalam waktu sepuluh detik berikutnya karena tubuh mereka akhirnya sempat melapor, dan tidak satu pun dari mereka mati.
Dan di atas panggung batu di tengah alun-alun, seseorang memegang wajah seorang anak laki-laki bertier nol dengan dua tangan dan berteriak namanya berulang-ulang.
Aku tidak mendengarnya.
Aku sudah tidak mendengar apa pun sejak sekitar detik keseratus tiga.
[Bersambung — Bab 47: Tiga Puluh Satu Hari]