Chapter Forty Nine
Pemulihan
[POV: Kanzaki Rei]
Aku tidak bisa berjalan selama sembilan belas hari.
Bukan lumpuh. Nyonya Belwen menjelaskannya dengan sabar sekitar empat kali sebelum aku mengerti: tubuhku tidak rusak, tubuhku cuma sudah lama sekali tidak dipakai untuk hal-hal biasa.
“Kamu tiga puluh satu hari berbaring,” katanya. “Ditambah tiga tahun tidur tiga jam. Ditambah, maaf saja, entah apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri di alun-alun itu.”
“Saya—”
“Saya tidak bertanya,” katanya. “Saya cuma bilang bahwa saya empat puluh tahun jadi tabib dan ini kedua kalinya saya lihat orang yang seluruh tubuhnya sehat dan seluruh tubuhnya kelelahan.”
“Yang pertama siapa?”
“Prajurit dari Selat Havren,” katanya. “Dua puluh tahun lalu.”
Dan dia keluar sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, yang mana sengaja, dan yang mana baru kupahami sekitar seminggu kemudian waktu Kirisawa akhirnya masuk ke ruangan itu.
Perawat terburuk yang pernah ada di dunia ini adalah Hoshimiya Shion.
Aku ingin mencatat itu dengan sayang.
“Delapan.”
“Aku tahu.”
“Delapan langkah. Kemarin sembilan.”
“Aku tahu, Hoshimiya.”
“Kenapa turun?”
“Karena kemarin aku maksa dan malemnya nggak bisa tidur.”
Dia berdiri di ujung koridor ruang kesehatan dengan tangan dilipat dan wajah yang tidak menunjukkan apa pun, dan aku berdiri di ujung satunya sambil memegang dinding dengan dua tangan.
“Ulang,” katanya.
“Aku baru selesai.”
“Ulang. Empat saja.”
“Kamu baru bilang delapan itu turun dari sembilan.”
“Dan sekarang aku bilang empat,” katanya. “Aku menghitung ulang. Kemarin aku salah.”
Dan itu, sejujurnya, adalah cara paling aneh untuk minta maaf yang pernah kuterima dari siapa pun.
Kelas 2-C mengubah ruang kesehatan jadi sesuatu yang membuat Nyonya Belwen mengancam mengunci pintu sekitar tiga kali seminggu.
Tsukumo Daichi datang setiap hari dan membawa hal-hal yang tidak masuk akal. Bantal. Selimut kedua. Selimut ketiga. Sebuah kursi yang jelas dia ambil dari ruang guru.
“Daichi, ini kursi Pak Kirisawa.”
“Dia bilang boleh.”
“Kamu tanya?”
“...Dia bilang boleh nanti.”
Sakuraba Ren akhirnya datang di hari kelima setelah aku bangun.
Dia berdiri di ambang pintu selama sekitar sepuluh detik, lalu masuk, lalu meletakkan setumpuk kertas di meja.
“Berapa halaman?”
“Empat puluh satu.”
“Ren.”
“Ada tiga surat yang belum sempat kukirim.” Dia menyibak poni. “Dan yang keempat harus direvisi karena situasinya berubah.”
“Situasinya berubah gimana?”
“Kamu bangun,” katanya. “Argumen tentang kompensasi bagi warga yang tidak sadarkan diri jadi tidak relevan. Aku harus tulis ulang seluruh bagian tiga.”
Dia sudah di pintu waktu aku memanggil namanya.
“Ren.”
“Apa.”
“Undang-undang nomor empat ratus dua belas itu nggak ada.”
Dia berhenti.
“...Kamu ngecek?”
“Aku minta Hoshimiya ngecek.”
“Empat puluh satu halaman.”
“Iya.”
“Dan yang nggak ada cuma satu?”
“Tiga,” kataku. “Yang lain kamu salah kutip tapi ada.”
Dan Sakuraba Ren berdiri di ambang pintu ruang kesehatan dengan wajah orang yang baru saja dipuji untuk pertama kalinya seumur hidup, yang mana memang benar.
Isuzu Nono tidak pernah membawa apa-apa dan tidak pernah bicara banyak.
Dia cuma datang, meletakkan Mochi di kakiku, dan duduk di sudut sambil setengah tidur selama satu jam.
Mochi tidak pindah dari kakiku selama sembilan belas hari itu, dan waktu aku akhirnya bisa berjalan dia mengikutiku sepanjang koridor dengan kecepatan yang tidak pernah dia tunjukkan untuk hal lain.
Amamiya Koharu datang di hari kedua setelah aku bangun, membawa kotak dengan kain pembungkus biru.
Kotak yang dia titipkan ke Hoshimiya sebelum pertempuran, yang disimpan Hoshimiya di ruang kesehatan selama tiga puluh satu hari dan tidak pernah dibuka siapa pun, yang isinya sudah lama harus dibuang.
Dia membawa yang baru dengan isi yang sama persis.
Ayam bumbu manis. Telur gulung dua lapis.
“Yang paling susah,” katanya. “Aku masak yang ini malem sebelum. Nomor dua puluh dua.”
“Nomor?”
“Nggak usah tahu.”
Aku memakannya semuanya. Butuh waktu lama karena tanganku masih jelek.
Dia duduk di kursi dan bicara tentang tukang roti sepanjang itu, dan waktu selesai dia mengambil kotaknya dan berdiri.
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Aku daftar Garnisun Timur.”
Aku berhenti.
“Bulan depan berangkat. Aku udah tanda tangan minggu lalu.” Dia mengikat kain pembungkusnya. “Guardian dibutuhin banyak sekarang. Dan aku lumayan.”
“Kamu bukan lumayan.”
“Iya, aku tahu.” Dia tersenyum. “Aku bagus. Aku cuma nggak pernah bilang gitu di depan orang.”
Dia berjalan ke pintu, lalu berhenti.
“Aku bakal masak dua kotak tiap pagi di sana,” katanya. “Kebiasaan. Yang keduanya bakal aku kasih ke siapa aja yang keliatan paling capek di barak.”
“Amamiya—”
“Dan itu bukan gara-gara kamu,” katanya cepat. “Jangan ge-er. Aku emang gitu dari dulu.”
Itu bohong, dan kami berdua tahu itu bohong, dan aku tidak mengoreksinya.
“Makasih,” kataku.
“Buat apa?”
Dan aku duduk di ranjang itu dan mencoba menyusun jawabannya, dan tidak ada satu pun versi yang cukup, jadi aku memakai yang paling pendek.
“Seribu seratus kotak,” kataku.
Dia berdiri di ambang pintu cukup lama.
“Seribu seratus dua puluh tiga,” katanya.
Lalu dia keluar, dan aku mendengar langkahnya di koridor, dan langkahnya berhenti sekitar sepuluh langkah dari pintu selama beberapa detik sebelum melanjutkan.
Kirisawa Genya masuk ke ruangan itu di hari ketujuh.
Pertama kalinya. Tiga puluh delapan hari berdiri di lorong.
Dia duduk di kursi — kursinya sendiri, yang dibawa Tsukumo — dan tidak mengatakan apa-apa selama sekitar dua menit.
“Namanya Iori,” katanya akhirnya.
Aku tidak bertanya siapa.
“Kelasnya bukan seperti kamu. Dia Summoner, tier A. Yang aneh dari dia bukan kekuatannya — yang aneh adalah makhluk kontraknya bisa dipinjamkan ke orang lain.” Dia melihat tangan buatannya. “Itu tidak seharusnya bisa. Sampai sekarang tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa.”
“Terus?”
“Terus laporannya sampai ke meja yang salah, dan dia pergi dengan sukarela, dan alasannya bagus.” Dia mengangkat bahu. “Empat tahun kemudian aku dapat surat bahwa dia meninggal karena sakit. Aku minta melihat jenazahnya. Ditolak. Aku minta salinan laporan tabib. Ditolak.”
Dia berdiri.
“Aku berdiri di lorong rumah sakit empat puluh enam hari waktu dia kena luka di perbatasan,” katanya. “Aku tidak pernah masuk sekali pun. Aku pikir kalau aku masuk, aku akan bilang sesuatu yang membuatnya tinggal, dan aku pikir aku tidak berhak.”
Dia berjalan ke pintu.
“Pak.”
“Ya.”
“Kenapa hari ini masuk?”
Dia berhenti tanpa berbalik.
“Karena kamu bangun,” katanya.
Adipati Valdrein datang di hari kesebelas.
Dia tidak membawa map.
“Tawaran itu batal,” katanya. “Tenggatnya lewat lima minggu lalu. Secara hukum tidak ada apa-apa lagi di antara kita.”
“Saya tahu, Tuan.”
“Saya tidak akan menawarkannya lagi hari ini, karena kamu baru bangun sebelas hari dan orang yang baru bangun sebelas hari tidak boleh menandatangani apa pun.”
Dia duduk di kursi.
“Jadi saya datang untuk sesuatu yang lain,” katanya. “Saya ingin tahu apakah ada yang bisa saya kerjakan.”
Dan aku duduk di ranjang itu dan menyadari bahwa aku sedang berhadapan dengan pertanyaan yang belum pernah kuhadapi seumur hidup.
Selama tiga tahun aku tidak pernah meminta apa pun pada siapa pun. Bahkan pada Amamiya yang meletakkan kotak di mejaku seribu seratus dua puluh tiga kali. Bahkan pada Hoshimiya yang datang jam empat pagi selama sepuluh bulan.
Aku menerima. Aku tidak pernah meminta.
“Ada tiga hal, Tuan,” kataku.
Dan aku ingat suaraku keluar sangat pelan, dan aku ingat harus mengulangnya karena dia tidak dengar.
“Yang pertama,” kataku, “ada nama yang harus dicatat.”
Aku menceritakan Amberfell padanya.
Semuanya. Dua puluh tiga benang di sepuluh jari, rata-rata seratus enam puluh empat sentimeter, seorang anak perempuan seratus lima puluh dua sentimeter yang berdiri setengah langkah kurang jauh.
Aku menceritakannya selama sekitar dua puluh menit, dengan Hoshimiya berdiri di jendela dan tidak menoleh sekali pun.
Waktu selesai, Valdrein diam cukup lama.
“Apa yang kamu minta?”
“Catatan resminya bilang dia mati karena serangan monster,” kataku. “Saya minta itu diperbaiki.”
“Kamu tahu apa artinya kalau itu diperbaiki.”
“Iya, Tuan.”
“Itu akan tertulis di arsip permanen. Selamanya. Dengan namamu di sebelahnya.”
“Iya, Tuan.”
Dia melihatku cukup lama.
“Baik,” katanya.
Dan dia tidak mengatakan satu pun kalimat penghiburan, dan aku bersyukur soal itu sampai sekarang.
“Yang kedua,” kataku, “saya mau berkas saya diperbarui.”
“Tier?”
“Iya, Tuan.”
“Diubah jadi apa?”
Dan aku sudah memikirkan ini selama sebelas hari dan aku sudah tahu jawabannya sejak hari kedua.
“Nol, Tuan.”
Valdrein mengangkat alis.
“Bukan diubah,” kataku. “Diperbarui. Tulis tanggalnya. Tulis bahwa sudah diperiksa ulang dan hasilnya tetap nol, dan tulis alasannya — bahwa alatnya mengukur mana yang keluar dari tubuh dan kelas ini tidak mengeluarkan apa pun.”
“Kenapa?”
“Karena angka itu benar,” kataku. “Dan karena selama tiga tahun itu satu-satunya baris di berkas saya yang nggak pernah diperbarui, dan saya nggak mau baris itu jadi bohong cuma karena orang sekarang mau baik sama saya.”
“Dan yang ketiga?”
Aku menoleh ke jendela, ke tempat Hoshimiya berdiri.
“Yang ketiga bukan untuk saya, Tuan.”
“Untuk siapa?”
“Anggaran risetnya,” kataku. “Yang Tuan tawarkan waktu itu. Yang keempat.”
“Itu sudah berjalan,” kata Valdrein. “Atas nama Hoshimiya Shion, sejak hari kesembilan.”
“Saya tahu. Saya minta dilanjutkan.”
“Kelasmu sudah tidak membunuhmu, Kanzaki. Kami sudah punya jawabannya.”
“Kita punya jawaban untuk saya,” kataku.
Ruangan itu sunyi.
“Empat orang sebelum saya, Tuan,” kataku. “Dan setiap enam puluh sampai delapan puluh tahun ada Retakan Besar, dan setiap kali ada Retakan Besar kerajaan akan memanggil orang dari dunia lain, dan cepat atau lambat kristalnya akan menampilkan angka nol lagi.”
Aku menarik napas.
“Waktu itu terjadi, saya mau ada dokumen. Bukan arsip yang isinya laporan pembedahan. Dokumen yang bilang bahwa anak itu bisa hidup, dan caranya begini.”
Valdrein tidak menjawab selama mungkin setengah menit.
Lalu dia berdiri.
“Kanzaki Rei,” katanya. “Saya sudah dua puluh enam tahun di Biro Aset Perang.”
“Ya, Tuan.”
“Dalam dua puluh enam tahun itu, saya sudah bicara dengan sekitar empat ratus orang yang punya sesuatu yang diinginkan kerajaan.” Dia mengambil mantelnya. “Empat ratus orang, dan setiap satu dari mereka, tanpa kecuali, meminta sesuatu untuk dirinya sendiri.”
Dia berhenti di pintu.
“Kamu meminta tiga hal,” katanya. “Yang pertama untuk orang yang sudah mati. Yang kedua untuk mempertahankan angka nol di berkasmu sendiri. Yang ketiga untuk anak yang belum lahir dan mungkin tidak akan pernah ada.”
Dia membuka pintu.
“Saya akan mengerjakan ketiganya,” katanya. “Dan saya akan meminta Anda mempertimbangkan kembali tawaran saya dalam enam bulan, karena terus terang saya belum pernah bertemu orang yang lebih tidak cocok untuk dipekerjakan oleh kerajaan, dan itu justru sebabnya saya menginginkan Anda.”
Aku bisa mematikannya sekarang.
Aku mencobanya di hari keenam belas, sendirian, pukul dua pagi.
Delapan detik.
Lalu sembilan. Lalu tiga puluh. Lalu satu menit penuh.
Aku duduk di ranjang ruang kesehatan akademi selama satu menit penuh dengan Genkai Kaijo mati total, untuk pertama kalinya dalam seribu tiga ratus dua puluh sekian hari.
Dan yang paling kuingat dari satu menit itu bukan lega.
Sepi.
Bukan sunyi — sepi. Seperti orang yang sudah tiga tahun tinggal di rumah dekat rel dan mendadak keretanya berhenti beroperasi.
Aku menyalakannya lagi setelah satu menit.
Bukan karena tubuhku mengambil alih. Aku bisa menahannya kalau mau; aku sudah mengujinya beberapa kali sesudahnya.
Aku menyalakannya lagi karena aku mau.
Dan itu, sejauh yang bisa kupahami, adalah satu-satunya hal yang berubah dari seluruh peristiwa itu, dan itu perubahan yang paling besar.
Hari kesembilan belas.
Dua puluh tiga langkah, dari pintu ruang kesehatan ke jendela di ujung koridor, tanpa memegang dinding.
Hoshimiya menghitungnya keras-keras dari belakang, seperti sembilan belas hari terakhir.
“Dua puluh satu. Dua puluh dua. Dua puluh tiga.”
Aku sampai di jendela dan memegang kusennya dan berdiri di sana sambil mengatur napas.
Di luar, matahari sudah naik. Lapangan latihan sudah penuh. Aku bisa mendengar Kirisawa berteriak sesuatu tentang formasi.
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Besok dua puluh lima.”
“Kamu selalu naikin dua.”
“Aku menghitung,” katanya. “Dua itu angka yang benar.”
Aku berbalik dari jendela.
Dan dia berdiri di koridor sekitar setengah langkah dariku, dengan buku catatan hitam di tangan, dengan wajah yang selama sepuluh bulan orang sebut dingin karena mereka tidak pernah cukup dekat untuk tahu.
Aku sudah memulai sesuatu dua kali seumur hidup.
Sekali di ruang latihan lantai dua, waktu aku merapal lima baris dan mengikat satu benang.
Sekali lagi di ruangan yang sama, waktu aku bicara tiga menit empat puluh detik tentang lap dan kaki meja dan mengucapkan hal yang salah di tengah kalimat.
Yang ketiga di koridor ruang kesehatan akademi, pukul delapan pagi, di hari kesembilan belas.
Aku menciumnya duluan.
Dia menjatuhkan buku catatannya.
Aku ingin mencatat itu karena dia tidak pernah menjatuhkan apa pun, dan karena selama bertahun-tahun sesudahnya, setiap kali aku menyebut hal ini, dia bilang bukunya memang sudah mau jatuh.
Waktu kami berhenti, dia tidak mundur.
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Dua puluh tiga langkah,” katanya. “Kamu belum boleh melakukan hal yang meningkatkan denyut.”
“Kamu ngitung denyutku?”
“Aku selalu menghitung denyutmu.”
“Berapa sekarang?”
Dia diam sebentar.
“Aku tidak tahu,” katanya.
Dan itu kedua kalinya — atau ketiga, aku tidak pernah bisa memastikan — dia berhenti menghitung sesuatu.
[Bersambung — Bab 50: Kristal]