Chapter Thirty
Dua Malam
[POV: Hoshimiya Shion]
Ruang kesehatan akademi ada enam ranjang dan biasanya kosong semua.
Tabib jaga bernama Nyonya Belwen, umur sekitar enam puluh, dan dia mengizinkanku tinggal setelah malam pertama karena aku tidak pergi waktu disuruh pergi dan dia memutuskan bahwa berdebat denganku lebih melelahkan daripada mengambil satu kursi tambahan.
“Dia tidak sakit,” katanya di malam pertama, sambil memeriksa untuk kesekian kali. “Itu yang aneh.”
“Maksudnya?”
“Denyutnya normal. Napasnya normal. Suhunya normal. Tidak ada luka, tidak ada racun, tidak ada kelelahan mana yang bisa kuukur.” Dia menaruh alatnya. “Kalau kubawa anak ini ke depan sepuluh tabib dan kubilang dia sedang tidur siang, kesepuluhnya akan setuju.”
“Tapi dia tidak bangun.”
“Tapi dia tidak bangun,” ulangnya.
Dia berdiri di situ agak lama.
“Aku sudah empat puluh tahun jadi tabib,” katanya akhirnya. “Ini yang kedua kalinya aku lihat tubuh yang sehat sempurna dan tidak mau bangun.”
“Yang pertama?”
“Prajurit, dua puluh tahun lalu, setelah Selat Havren.” Dia mengangkat tasnya. “Dia bangun setelah lima hari. Katanya rasanya seperti berada di bawah air dan tidak tahu ke arah mana permukaannya.”
Aku duduk di kursi itu dua malam.
Aku pulang pagi untuk mandi dan ganti seragam, masuk kelas, mengerjakan apa yang harus dikerjakan supaya tidak ada yang bertanya, lalu kembali sore hari.
Kirisawa datang di sore hari pertama. Dia berdiri di ujung ranjang selama beberapa menit, tidak mengatakan apa-apa, dan pergi.
Sore hari kedua dia datang lagi, dan kali ini dia bicara.
“Hoshimiya.”
“Ya, Pak.”
“Di gang pelabuhan itu ada dua puluh delapan orang.” Dia melihat ke jendela, bukan ke arahku. “Dua puluh kuli, delapan dari kita. Retakan kelas rendah, gang sempit, enam menit. Amamiya bertahan di mulut gang.”
“Ya, Pak.”
“Aku sudah baca laporan Amamiya. Aku sudah baca laporan Tsukumo, Sakuraba, Isuzu, dan dua kesatria.” Dia mengetuk kusen jendela sekali dengan tangan buatannya. “Enam laporan. Enam orang. Tidak satu pun menyebutkan ada yang terluka.”
Aku tidak menjawab.
“Dua puluh delapan orang di gang sempit selama enam menit, dan yang masuk ruang kesehatan cuma anak yang berdiri di mulut gang sambil membawa tas.”
Dia diam cukup lama.
“Kamu tahu, aku pernah punya murid seperti itu,” katanya. “Dua puluh tahun lalu. Bukan seperti ini persisnya. Tapi punya sesuatu yang tidak dia ceritakan.”
“Apa yang terjadi padanya?”
“Kerajaan yang menemukannya duluan,” katanya.
Dan dia pergi.
Malam pertama aku tidak melakukan apa-apa selain duduk.
Aku membawa buku dan tidak membacanya. Aku membawa buku catatan hitam dan tidak menulis apa-apa.
Aku memandangi tangan kanannya, yang setengah menggenggam seperti biasa, dan aku ingat malam waktu tangan itu terbuka di menit keseratus, dan aku menunggu apakah itu akan terjadi lagi.
Tidak terjadi.
Sekitar pukul dua pagi, Nyonya Belwen keluar untuk ronde, dan aku sendirian di ruangan itu untuk pertama kalinya.
Dan aku melakukan sesuatu yang cukup memalukan.
Aku memakai Kansokugan.
Aku belum pernah memakainya secara sengaja pada orang yang tidak sadar. Rasanya seperti membuka laci orang. Aku tahu itu waktu melakukannya.
Aku tetap melakukannya.
Dan yang kulihat adalah sepuluh benang, keluar dari sepuluh jari, tipis seperti biasa, melewati dinding ruang kesehatan dan menyebar ke seluruh akademi.
Ke asrama. Ke gedung latihan. Ke kamar-kamar yang lampunya sudah lama mati.
Dia tidak sadarkan diri selama dua puluh sembilan jam.
Dan benang-benang itu tetap di sana.
Aku duduk di kursi itu dan menyadari bahwa aku salah selama berbulan-bulan. Aku selalu mengira Genkai Kaijo tidak pernah dimatikan karena dia memilih untuk tidak mematikannya.
Bukan.
Dia bahkan tidak sadar, dan bendanya masih menyala.
Itu bukan pilihan. Itu bukan kemurahan hati. Itu tidak pernah bisa dimatikan sejak awal, dan selama tiga tahun dia membiarkan semua orang — termasuk aku — mengira dia sedang memilih.
Malam kedua aku menulis di buku catatan hitam untuk pertama kalinya sejak dia masuk.
Genkai Kaijo tetap aktif dalam keadaan tidak sadar.
Berarti bukan dipertahankan. Berarti tidak bisa dilepas.
Berarti “aku sudah coba matikan, delapan detik” adalah bohong — atau delapan detik itu harganya jauh lebih besar dari yang dia bilang.
Aku memandangi baris terakhir cukup lama, lalu menambahkan:
Dia tidak pernah punya pilihan untuk berhenti.
Yang dia pilih selama tiga tahun cuma satu: tidak memberi tahu siapa pun bahwa dia tidak punya pilihan.
Aku menutup bukunya.
Dan aku duduk di kursi itu, pukul satu lewat, di ruangan yang cuma diterangi satu lampu kecil di meja tabib, dan aku menangis untuk ketiga kalinya dalam dua bulan.
Aku tidak akan menjelaskan lebih jauh soal itu. Tiga kali dalam dua bulan, setelah tujuh belas tahun tanpa sekali pun, adalah angka yang cukup menjelaskan dirinya sendiri.
Aku berdiri untuk pulang sekitar pukul dua.
Aku sudah mengambil tas. Aku sudah memakai mantel. Aku sudah sampai di pintu.
Lalu aku kembali.
Aku berdiri di samping ranjang itu selama mungkin dua puluh detik, dan aku ingin mencatat dengan jujur bahwa selama dua puluh detik itu aku betul-betul berdebat dengan diriku sendiri, dan bahwa argumen yang menang bukan argumen yang bagus.
Argumen yang menang adalah: tidak ada yang tahu.
Yang mana adalah argumen paling buruk yang bisa dipakai manusia untuk apa pun.
Aku menunduk dan mencium keningnya.
Sebentar saja. Mungkin dua detik. Keningnya hangat dan kulitnya kering dan rambutnya berantakan di satu sisi karena dua hari di bantal yang sama.
Lalu aku berdiri tegak lagi.
Dan aku berkata, dengan suara yang sangat pelan, kalimat yang sudah kuhafal dua ratus kali dan sudah kuucapkan sekali pada orang yang tidur, dan yang belum pernah sekali pun kuucapkan pada orang yang bangun:
“Aku tidak menarik isinya, tapi aku salah memakainya sebagai senjata, dan aku minta maaf.”
Lalu aku menambahkan satu kalimat yang tidak ada di ketiga versi mana pun, yang tidak pernah kususun, yang tidak pernah kulatih.
“Dan aku tidak akan berhenti minta. Kamu sudah tahu itu.”
Aku mengambil tasku dan keluar.
[POV: Amamiya Koharu]
Aku sampai di ruang kesehatan pukul dua kurang seperempat.
Aku bawa kotak yang kemarin, yang tidak dimakan, sudah kuganti isinya. Aku tahu dia tidak akan makan malam itu juga. Aku tetap membawanya karena kalau aku tidak membawa apa-apa, aku tidak punya alasan untuk berjalan ke sana, dan aku butuh alasan.
Pintunya tidak tertutup rapat.
Aku berdiri di celahnya sekitar satu meter dari ambang, dan aku melihat semuanya.
Hoshimiya Shion berdiri di samping ranjang dengan mantel sudah dipakai dan tas sudah di bahu, jadi jelas dia sudah mau pulang, jadi jelas dia kembali.
Aku melihat dia menunduk.
Aku melihat berapa lama.
Dan aku mendengar dua kalimat yang dia ucapkan, dua-duanya, karena ruangan itu sunyi sekali dan aku berdiri cukup dekat.
Ada beberapa hal yang bisa kulakukan.
Aku bisa masuk. Aku punya alasan yang sah — aku bawa makanan, aku teman sekelas, jam besuk memang tidak ada aturannya. Kalau aku masuk, semuanya akan jadi canggung selama sekitar dua menit dan setelah itu semuanya akan berubah.
Aku bisa berdiri di situ dan menunggu sampai dia keluar dan berpapasan dengannya di lorong.
Aku menutup pintunya.
Pelan sekali. Aku pakai dua tangan supaya gagangnya tidak berbunyi waktu balik ke tempatnya — aku sudah biasa; pintu dapur asrama putra juga begitu.
Lalu aku berjalan ke ujung lorong, belok, dan berdiri di tangga sekitar sepuluh menit sambil memegang kotak makan.
Aku tidak menangis. Aku sudah selesai menangis dua hari lalu di dapur dan aku bukan orang yang mengulang.
Yang kupikirkan cuma satu hal, dan aku memikirkannya berulang-ulang sampai bunyinya jadi aneh:
Dia bilang dia tidak akan berhenti minta.
Aku tidak pernah minta apa pun.
Tiga tahun. Sekali pun tidak.
Aku selalu mengira itu bentuk sayang yang paling baik. Aku masih mengira begitu, sebagian besar hari.
Tapi malam itu, di tangga lantai dua, aku berdiri memegang kotak makan yang tidak akan dimakan siapa pun dan untuk pertama kalinya aku bertanya pada diriku sendiri apakah tidak pernah meminta apa-apa itu benar-benar bentuk sayang.
Atau cuma cara paling aman untuk tidak pernah ditolak.
[Bersambung — Bab 31: Festival]