Chapter Thirty Four
Ayunan Ketiga
[POV: Kanzaki Rei]
Aku pikir yang paling berat adalah hari Sabtu itu.
Ternyata bukan. Hari Sabtu cuma dua jam dan setelah itu semua orang pulang.
Yang paling berat adalah hari Senin.
Aku datang pukul empat pagi seperti biasa.
Lampu paling ujung sudah menyala, seperti biasa. Hoshimiya sudah duduk di bangkunya, seperti biasa.
Aku mengambil lap, membasahinya di keran koridor, memerasnya, dan mengelap bangku baris ketiga dari belakang.
Dari kiri ke kanan, dua kali. Lalu sandarannya. Lalu kaki-kakinya.
Itu satu-satunya bagian hari itu yang berjalan seperti biasa.
Pukul tujuh, kelas mulai terisi.
Dan tidak ada yang duduk.
Bukan bermaksud dramatis — maksudku secara harfiah. Anak-anak masuk, melihat ke arah pojok belakang dekat jendela, lalu berdiri di dekat meja mereka masing-masing tanpa duduk, seperti orang yang masuk ke ruangan yang isinya sudah berubah dan sedang mencari tahu bagaimana cara memakainya.
Ini berlangsung sekitar empat menit.
Empat menit adalah waktu yang sangat lama untuk tiga puluh orang berdiri diam di ruangan kelas.
Lalu Tsukumo Daichi berjalan ke mejaku.
Dia berdiri di depan mejaku dan tidak mengatakan apa-apa selama sekitar sepuluh detik.
Aku menunggu.
Aku sudah menyiapkan diri untuk beberapa kemungkinan. Marah adalah yang paling mungkin, dan sejujurnya juga yang paling mudah kuhadapi.
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Ayunan ketigaku.”
Aku mengangkat kepala.
“Yang di Sarang Bawah,” katanya. “Yang pertama kali nyampe. Aku inget banget hari itu. Aku pulang, aku nggak bisa tidur, aku latihan sendiri sampai jam dua pagi karena aku pikir—”
Suaranya berhenti.
Badannya paling besar di kelas. Suaranya paling besar di kelas. Dia berdiri di depan mejaku dan bahunya turun sekitar lima sentimeter dan itu membuatnya kelihatan seperti orang lain sama sekali.
“Aku pikir aku jadi kuat sendiri,” katanya.
Dan dia menangis.
Tsukumo Daichi menangis rata-rata dua kali seminggu selama tiga tahun.
Dia menangis waktu lulus ujian. Dia menangis waktu ada anak kecil bilang makanannya enak. Dia menangis waktu bintangnya bagus. Dia menangis waktu melihat awan.
Setiap kali, seseorang akan tertawa. Selalu. Itu sudah jadi bagian dari cara kelas itu berjalan — Daichi menangis, seseorang tertawa, Daichi ikut tertawa, selesai.
Hari Senin itu tidak ada yang tertawa.
Tiga puluh orang berdiri di ruangan itu dan tidak satu pun mengeluarkan suara.
“Aku minta maaf,” katanya.
“Buat apa?”
“Nggak tahu.” Dia menyeka mukanya dengan lengan seragam, yang mana tidak efektif sama sekali. “Aku cuma... aku ngerasa harus. Selama tiga tahun kamu duduk di sini terus dan aku manggil kamu paling sering dua belas kata sehari dan—”
“Dua belas kata itu rekor.”
“HAH?”
“Waktu pengukuran,” kataku. “Hari pertama. Kamu nanya aku deg-degan nggak. Total dua belas kata. Itu percakapan terpanjangku selama dua minggu pertama.”
Dia menatapku.
Lalu dia menangis lebih keras.
“KENAPA ITU MALAH BIKIN LEBIH PARAH.”
Yang terjadi setelah itu berlangsung sekitar dua puluh menit dan aku tidak akan menceritakan semuanya karena sebagian besar isinya orang mengucapkan hal-hal yang tidak selesai.
Yang bisa kucatat:
Isuzu Nono datang ke mejaku, meletakkan Mochi di atas kakiku tanpa penjelasan, dan berkata: “Dia dari dulu tahu. Aku baru sadar sekarang. Maaf ya, aku lambat.”
Lalu dia pergi. Total sepuluh detik. Mochi tidak pindah selama sisa hari itu.
Kuroba Jin datang dari kelas sebelah, yang mana bukan haknya sama sekali, dan berdiri di ambang pintu.
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Rekorku yang keempat.”
“Itu tetap kamu.”
“Aku belum nanya apa-apa.”
“Aku tahu apa yang mau kamu tanya.”
Dia berdiri di situ agak lama.
“Aku latihan tujuh jam sehari,” katanya. “Sejak umur sembilan.”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak bisa bikin orang jadi bisa sesuatu yang dia nggak bisa.”
“Nggak bisa.”
“Berarti itu tetap aku.”
“Iya.”
Dia mengangguk sekali, dan pergi, dan itu adalah percakapan terpanjang yang pernah kulakukan dengan Kuroba Jin sampai titik itu.
Aku menyadari beberapa hari kemudian bahwa dia datang bukan untuk bertanya. Dia datang untuk mengucapkan kalimat terakhir itu di depan orangnya, karena dia perlu mendengar dirinya sendiri mengucapkannya.
Sakuraba Ren tidak datang.
Dia masuk kelas, duduk, dan tidak bicara pada siapa pun sepanjang hari. Tidak juga di hari berikutnya. Tidak juga di hari ketiga.
Enam hari.
Di hari ketujuh, dia berdiri di depan mejaku waktu istirahat, dengan poni yang tidak disibak sama sekali, dan berkata:
“Aku pikir aku jenius.”
“Kamu memang lumayan.”
“Jangan.” Dia mengangkat tangan. “Jangan yang begitu. Aku nggak butuh yang begitu.”
Aku menutup mulut.
“Aku pikir aku jenius,” ulangnya. “Aku pikir alasan aku bisa masuk tier A-minus padahal aku nggak pernah serius belajar itu karena aku memang berbakat. Aku pikir alasan rapalanku di Vellmoor nggak ada yang salah satu pun — padahal seumur hidup aku selalu salah minimal satu — itu karena aku akhirnya fokus.”
“Sebagian memang—”
“Kanzaki.” Dia menatapku. “Aku ngitung. Aku ngitung selama enam hari. Aku salah rapal rata-rata satu koma tiga kali per sesi selama tiga tahun. Di Vellmoor aku merapal tiga puluh satu kali dan nol yang salah.”
Dia meletakkan sesuatu di mejaku.
Kertas. Dua halaman, ditulis tangan, penuh.
“Apa ini?”
“Surat pembelaan,” katanya.
“...Untuk siapa?”
“Buat kamu. Kalau nanti ada yang mau bawa kamu.” Dia menyibak poninya, akhirnya, tapi gerakannya jelek karena tangannya gemetar. “Aku nggak tahu ini berguna atau nggak. Kayaknya nggak. Tapi aku cuma bisa nulis, jadi aku nulis.”
Dia berbalik dan pergi sebelum aku sempat mengatakan apa-apa.
Aku membaca dua halaman itu malam harinya.
Isinya argumen hukum yang setengahnya salah, dengan tiga kutipan undang-undang yang aku cukup yakin tidak ada, ditulis oleh anak berumur tujuh belas tahun yang tidak pernah membaca satu pun kitab hukum seumur hidupnya.
Aku menyimpannya di dasar tas, di bawah buku cokelat.
Masih ada di sana sampai sekarang.
Yang tidak berubah sama sekali cuma satu orang.
Amamiya Koharu meletakkan kotak bekal di mejaku hari Senin itu, tanpa melihat, seperti tiga tahun terakhir.
“Kebanyakan.”
“Amamiya.”
“Ya?”
“Kemarin di aula.”
“Oh iya, kacang merahnya udah aku masukin. Yang bulet itu ya, jangan yang lonjong, yang lonjong itu punya Nono.”
“Amamiya.”
Dia berhenti.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia tidak mengganti topik.
“Aku capek, Kanzaki,” katanya, dengan nada yang persis sama seperti waktu membicarakan tukang roti. “Tiga tahun aku diem. Kemarin aku ngomong sekali dan rasanya lega banget dan aku langsung takut.”
“Takut kenapa?”
“Takut kalau aku ngomong lagi, aku bakal ngomong semuanya.” Dia tersenyum. “Terus kamu bakal pegangan lebih kenceng.”
Dia menepuk kotak bekal itu dua kali.
“Jadi udah, segitu aja. Sekali doang. Cukup.”
Dan dia pergi ke mejanya sendiri.
Malam itu Hoshimiya menungguku di ruang latihan lantai dua.
Kami tidak berlatih. Kami sudah tidak berlatih sejak pelabuhan.
Kami duduk di lantai membelakangi, seperti dua puluh sekian malam yang sudah lewat, tanpa membicarakan alasannya, karena alasannya sudah lama tidak ada.
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Hari ini gimana?”
Aku memikirkannya cukup lama.
“Aneh,” kataku.
“Aneh bagaimana?”
Dan aku duduk di sana dengan punggung menempel di punggungnya, di ruangan yang cuma ada satu lampu, dan mengucapkan sesuatu yang bahkan tidak kusadari sedang kupikirkan sampai keluar dari mulutku.
“Selama tiga tahun aku mikir kalau ada yang tahu, aku bakal kehilangan semuanya.”
“Iya.”
“Ternyata yang terjadi cuma Tsukumo nangis dan Sakuraba nulis surat yang undang-undangnya ngarang.”
Dia tidak menjawab.
“Aku nggak tahu harus gimana,” kataku.
“Aku juga tidak.”
“Kamu selalu tahu.”
“Tidak selalu.”
Kami duduk begitu sampai lampunya mati otomatis pukul sebelas.
Dan sebelum kami berdiri, dia berkata satu hal, pelan, ke arah jendela dan bukan ke arahku:
“Kanzaki. Boleh aku tanya satu hal?”
Aku sudah tahu apa yang akan dia tanyakan.
Aku sudah tahu sejak dia mengucapkan kata “boleh”, karena dalam sembilan bulan terakhir dia tidak pernah sekali pun meminta izin sebelum bertanya.
“Boleh,” kataku.
“Bangku baris ketiga dari belakang itu bangku siapa?”
[Bersambung — Bab 35: Setengah Langkah]