← Chapters Ch. 39 / 50

Chapter Thirty Nine

Bukan Pergelangan

[POV: Kanzaki Rei]

Aku menghabiskan tujuh belas hari untuk memutuskan sesuatu yang ternyata sudah kuputuskan sejak hari pertama.

Aku tidak tahu itu waktu itu. Aku betul-betul mengira aku sedang menimbang.

Yang sebenarnya kulakukan selama tujuh belas hari adalah mencari alasan yang cukup bagus untuk sesuatu yang sudah kupilih tanpa sadar, karena aku tidak pernah bisa melakukan apa pun tanpa alasan yang bisa dituliskan.


Aku menulis daftar.

Aku memang begitu. Dua kolom, di halaman kosong buku cokelat, ditulis di malam hari kedelapan.

Kolom kiri: alasan menerima.

Panjang. Sangat panjang. Aku menulis empat belas baris dan setiap barisnya benar.

Anggaran riset. Tim tabib. Dokumen yang menyatakan aku bukan inventaris. Empat puluh ribu prajurit yang bisa bergerak pada detik yang sama. Enam ratus dua puluh sembilan orang mati tahun lalu di seluruh wilayah, dan aku tahu persis berapa dari mereka yang berada dalam jarak yang bisa kujangkau kalau aku ada di sana, karena aku sudah menghitungnya, karena aku selalu menghitung.

Kolom kanan: alasan menolak.

Aku menulis tiga baris dan menghapus ketiganya.

Yang pertama: arsip lantai empat. Kuhapus, karena Valdrein sudah mengakuinya duluan dan menawarkan dokumen untuk melawannya.

Yang kedua: aku tidak mau jadi milik. Kuhapus, karena setelah kubaca ulang aku sadar itu bukan alasan, itu perasaan, dan perasaan tidak boleh masuk kolom.

Yang ketiga aku tulis dan kuhapus tiga kali dalam satu malam yang sama.

Kelas 2-C.

Kuhapus karena konyol. Tiga puluh orang yang akan lulus tahun depan dan menyebar ke seluruh benua. Dalam lima tahun mereka akan jadi orang-orang yang saling berkirim surat dua kali setahun. Menolak seumur hidup demi ruangan yang bahkan tidak akan ada dalam delapan belas bulan adalah keputusan bodoh, dan aku bukan orang bodoh.

Aku menutup buku itu di malam kedelapan dengan kolom kanan kosong.


Hari kesembilan sampai keenam belas aku tidak menulis apa-apa.

Aku menjalani hari seperti biasa.

Pukul empat pagi, kelas 2-C, dua lap, empat menit. Kelas. Kolom koordinasi di papan jalan Kirisawa. Kotak bekal di mejaku tanpa dilihat. Ruang latihan lantai dua, punggung ke punggung, tanpa membicarakan alasannya karena alasannya sudah lama tidak ada.

Delapan hari.

Dan di hari ketujuh belas, di ruang latihan lantai dua, sekitar pukul sembilan malam, aku menyadari sesuatu yang membuatku berdiri terlalu cepat sampai pandanganku menyempit.


Aku sudah membuat daftarnya salah.

Bukan isinya. Isinya benar semua.

Judulnya yang salah.

Kolom kiri seharusnya bukan alasan menerima.

Judul yang benar adalah: alasan aku akan berguna.

Empat belas baris. Semuanya soal seberapa besar gunaku, seberapa banyak yang bisa kutolong, seberapa efisien penderitaanku kalau dikelola dengan benar oleh orang yang punya anggaran.

Empat belas baris, dan tidak satu pun dari empat belas itu menjawab pertanyaan apakah aku mau hidup seperti itu.

Aku berdiri di ruang latihan lantai dua dan menyadari bahwa aku sudah tiga tahun tidak pernah sekali pun mengajukan pertanyaan itu pada diriku sendiri.

Bukan tidak menemukan jawabannya.

Tidak pernah mengajukannya.


“Kanzaki?”

Hoshimiya sudah duduk di lantai, di posisi biasa, menghadap jendela.

“Aku mau ngomong.”

“Duduk dulu. Kamu pucat.”

“Nggak bisa duduk.”

Dia menoleh. Dan aku rasa dia melihat sesuatu di wajahku, karena dia berdiri juga.


Yang keluar setelah itu adalah kekacauan.

Aku akan menuliskannya apa adanya karena kalau kurapikan, seluruh bab ini jadi bohong.

“Aku hampir bilang iya.”

“...Ke Valdrein?”

“Iya. Aku hampir bilang iya di ruangan itu, waktu itu juga, sebelum dia selesai ngomong.” Aku menggosok wajahku. “Dan aku bikin daftar. Empat belas alasan. Semuanya bener. Aku ngecek tiga kali.”

“Kanzaki—”

“Tapi semuanya salah judul.” Aku menggeleng. “Semuanya jawaban buat pertanyaan ‘berapa banyak orang yang bisa kutolong’. Nggak ada satu pun yang jawab pertanyaan lain.”

“Pertanyaan apa?”

“Aku nggak tahu pertanyaannya apa,” kataku. “Itu masalahnya. Aku nggak pernah punya pertanyaan lain. Selama tiga tahun cuma ada satu pertanyaan di kepalaku dan pertanyaannya selalu itu.”

Aku berjalan dua langkah, lalu berhenti karena tidak ada tujuan.

“Terus aku sadar ada satu tempat,” kataku. “Cuma satu. Di seluruh tiga tahun ini.”

“Tempat apa?”

“Jam empat pagi.”


Dia tidak menjawab.

“Bangku itu bukan bangkumu,” kataku. “Kamu nggak kenal Nanase. Kamu bahkan nggak tahu namanya sampai dua minggu lalu. Nggak ada satu pun alasan kenapa kamu harus bangun jam setengah empat dan datang ke ruangan kosong buat ngelap kaki meja yang nggak kotor.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Kamu nggak nolong siapa-siapa di situ. Aku nggak berguna di situ. Nggak ada yang diukur, nggak ada yang dicatat, nggak ada angka. Empat menit, tiap pagi, dan hasilnya nol.”

Suaraku pecah sedikit di kata terakhir dan aku memutuskan untuk tidak peduli.

“Dan itu satu-satunya empat menit dalam sehari di mana aku nggak—”

Aku berhenti.

“Nggak apa?”

“Nggak ngitung.”


Aku berdiri di sana beberapa saat.

“Aku nggak tahu cara ngomongnya,” kataku. “Aku udah nyoba nyusun sejak sore dan urutannya kacau semua. Harusnya aku mulai dari yang lain. Harusnya aku mulai dari—”

“Kanzaki.”

“—dari Vellmoor, atau dari malam kamu ngomong soal dua puluh enam kali disentuh, atau dari waktu kamu pindah duduk ke sebelahku waktu aku cerita soal Nanase, karena itu—”

“Kanzaki.”

“—karena itu yang paling, karena kamu nggak bilang apa-apa, kamu cuma pindah, dan aku—”

“Kanzaki.”

Aku berhenti.

“Aku sayang kamu,” kataku.

Dan itu keluar di tempat yang paling salah dalam seluruh kalimat, di tengah-tengah, tanpa persiapan, setelah tiga menit bicara berputar-putar tentang lap dan kaki meja.

Ruangan itu sunyi.

“Urutannya salah,” kataku.

“Ya.”

“Harusnya di akhir.”

“Ya.”

“Atau di awal.”

“Ya.”


Dia tidak mengatakan apa-apa selama mungkin sepuluh detik, dan sepuluh detik itu adalah sepuluh detik terpanjang sejak sepuluh detik yang lain.

Lalu dia berjalan ke arahku.

Dan aku, karena aku memang begitu, mulai menyiapkan diri untuk penolakan yang sopan — aku sudah menyusun kalimat untuk memudahkannya, sesuatu seperti nggak apa-apa, aku ngerti, yang sudah kusiapkan sejak sore.

Dia berhenti di depanku.

Lalu dia mengambil tanganku.

Bukan pergelangan.

Tangan. Telapak ke telapak, jari-jarinya masuk di antara jari-jariku, termasuk yang kanan, termasuk yang tidak pernah bisa lurus sejak Sarang Bawah.

“Ya,” katanya.


Aku menunggu kelanjutannya.

Tidak ada kelanjutannya.

“...Cuma itu?”

“Kamu sudah bicara tiga menit empat puluh detik,” katanya. “Tidak ada yang tersisa untuk kutambahkan.”

“Kamu ngitung?”

“Tidak,” katanya. “Aku menebak.”

Dan itu, sejujurnya, adalah hal paling mengejutkan yang dia ucapkan sepanjang malam itu.


Kami berdiri di ruang latihan lantai dua sambil berpegangan tangan selama beberapa menit, yang mana canggung sekali, karena tidak satu pun dari kami tahu apa yang seharusnya dilakukan setelah bagian ini.

“Hoshimiya.”

“Ya.”

“Aku nggak tahu harus ngapain sekarang.”

“Aku juga tidak.”

“Kamu selalu tahu.”

“Aku sudah bilang berkali-kali bahwa itu tidak benar.”

Kami berdiri beberapa saat lagi.

“Duduk?” tanyaku.

“Duduk.”

Jadi kami duduk di lantai. Bukan membelakangi.

Bahu ke bahu, menghadap jendela, dengan tangan yang tidak dilepaskan.

Dan setelah beberapa menit dia berkata, ke arah jendela dan bukan ke arahku:

“Kanzaki.”

“Ya.”

“Kamu belum bilang apa jawabanmu ke Valdrein.”

“Aku nggak tahu.”

“Kamu tahu.”

“Aku beneran nggak tahu,” kataku. “Aku cuma tahu bahwa daftarku salah judul. Itu bukan jawaban.”

Dia diam agak lama.

“Kalau kamu terima,” katanya, “kamu akan menolong lebih banyak orang.”

“Iya.”

“Jauh lebih banyak.”

“Iya.”

“Dan kalau kamu tolak, kamu akan menghabiskan sisa hidupmu menghitung berapa orang yang mati karena kamu memilih tinggal.”

Aku menoleh.

“...Kamu nggak nyuruh aku nolak?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Dan dia menjawab dengan kalimat yang kupikirkan berulang-ulang selama bertahun-tahun sesudahnya, termasuk pada malam-malam yang paling buruk.

“Karena aku sudah pernah mengambil sesuatu yang benar dan memakainya sebagai senjata padamu,” katanya. “Sekali sudah cukup.”

Dia menggenggam sedikit lebih erat.

“Kamu putuskan sendiri,” katanya. “Dan apa pun yang kamu putuskan, aku sudah tahu ke mana aku akan pergi.”


Aku menulis di buku cokelat malam itu.

Hari ke-1.253. Radius stabil.

Lalu aku membuka halaman daftar dua kolom itu, yang kolom kanannya kosong sejak hari kedelapan.

Dan aku menulis satu baris di sana.

Bukan alasan. Aku sudah menyerah mencari alasan yang bisa dituliskan.

Jam empat pagi.

Aku memandanginya cukup lama.

Sebelas hari tersisa dari tiga puluh.

Ternyata aku tidak butuh sebelas hari.

Ternyata aku tidak butuh satu hari pun, karena dua hari kemudian langit di atas ibu kota terbelah, dan tidak ada satu orang pun di seluruh Astel yang sempat menjawab pertanyaan apa pun.


[Bersambung — Bab 40: Langit]