← Chapters Ch. 6 / 50

Chapter Six

Sebangku

[POV: Kanzaki Rei]

Rumor pertama muncul sebelum jam pelajaran kedua.

Versinya: Hoshimiya Shion dihukum instruktur dan disuruh duduk di bangku paling belakang sebagai bentuk peringatan.

Rumor kedua muncul sebelum makan siang, dan versinya lebih kreatif: Hoshimiya sedang menjalankan tugas rahasia dari kerajaan untuk mengawasi siswa bermasalah, dan siswa bermasalah itu adalah aku.

Rumor ketiga muncul sore hari dan ini yang paling bertahan lama: Hoshimiya kalah taruhan.

Aku pribadi menganggap yang ketiga paling masuk akal.


Kenyataannya jauh lebih membosankan dari ketiganya. Dia pindah, dia duduk, dan dia tidak menjelaskan apa pun kepada siapa pun, termasuk kepada guru yang bertanya. Jawabannya waktu itu cuma, “Di sini kosong.”

Guru itu melihat bangku kosong lain di ruangan — ada tiga — lalu memutuskan bahwa berdebat dengan peringkat satu akademi bukan cara yang baik untuk memulai hari.

Jadi dia duduk di sana. Dan hari berikutnya juga. Dan hari berikutnya lagi.


Ada beberapa hal yang tidak kuperkirakan dari punya teman sebangku.

Yang pertama: berisik.

Bukan Hoshimiya-nya. Hoshimiya justru orang paling sunyi yang pernah kutemui. Yang berisik adalah sekitarnya — karena ke mana pun Hoshimiya berada, ada gravitasi. Orang yang selama tiga tahun tidak pernah punya urusan denganku tiba-tiba punya urusan di dekat mejaku. Mereka datang menanyakan catatan, meminjam pena, bertanya soal ujian. Semuanya kepada Hoshimiya. Tapi jarak fisiknya kena aku juga.

Aku jadi seperti tiang di dekat lampu jalan. Bukan sumber cahayanya, tapi tetap terang.

Yang kedua: dia memperhatikan segalanya.

Dan maksudku segalanya.

“Kamu nggak sarapan.”

Itu hari keempat, pukul delapan pagi.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Nggak lapar.”

Dia diam sekitar sepuluh detik. Aku sudah mulai berharap dia menganggap topiknya selesai.

“Kamu juga tidak sarapan hari Selasa, Rabu, dan Jumat minggu lalu,” katanya. “Aku tidak menghitung Kamis karena aku tidak lihat.”

Aku menoleh.

“Kamu ngitung sarapanku?”

“Aku mencatat,” katanya, seolah itu klarifikasi yang bermakna.


Yang ketiga, dan ini yang paling merepotkan: dia tidak punya rasa canggung sama sekali.

Kebanyakan orang, kalau bicara denganku dan aku menjawab pendek, akan berhenti. Itu mekanisme normal. Orang membaca sinyal, orang mundur, semua senang.

Hoshimiya tidak membaca sinyal. Atau dia membacanya dan memutuskan sinyal itu tidak relevan.

“Kanzaki.”

“Ya.”

“Kamu berhenti dua kali di tangga barat.”

Aku sedang menyalin catatan waktu itu, dan penaku tetap bergerak, karena kalau berhenti dia akan tahu.

“Capek.”

“Selalu di anak tangga kedelapan belas dan ketiga puluh tujuh.”

Penaku tetap bergerak. Tulisanku jadi jelek.

“Kebetulan.”

“Sebelas kali berturut-turut bukan kebetulan.”

“...Kamu ngitung anak tangga?”

“Ya.”

Aku meletakkan pena.

“Hoshimiya.”

“Ya.”

“Kamu nggak punya kegiatan lain?”

Dia memikirkan pertanyaan itu dengan serius — betul-betul serius, aku bisa melihatnya menimbang — lalu menjawab:

“Tidak.”

Dan dia bilang itu tanpa nada sedih sedikit pun, cuma sebagai fakta, seperti melaporkan bahwa jendelanya menghadap timur.

Entah kenapa jawaban itu yang paling lama menempel di kepalaku hari itu. Bukan soal anak tangga.


Amamiya bereaksi dengan cara yang khas Amamiya, yaitu tidak bereaksi sama sekali di permukaan dan sangat bereaksi di bawahnya.

Bekalnya masih datang setiap hari. Tapi sekarang datangnya bertambah satu.

“Ini buat Hoshimiya,” katanya di hari kelima, meletakkan kotak kedua yang pembungkusnya biru. “Kebanyakan lagi.”

“Kebanyakan lagi?” tanyaku.

“Iya.”

“Setiap hari kebanyakan?”

“Aku memang nggak bisa ngukur.” Dia bilang itu sambil tersenyum lebar dan tanpa berkedip, dan aku memutuskan untuk tidak menyelidiki lebih jauh.

Hoshimiya membuka kotak itu, memakannya sampai habis, lalu berkata, “Enak. Terima kasih.”

Amamiya kelihatan agak kaget, seperti dia sudah menyiapkan diri untuk penolakan dan tidak punya rencana cadangan untuk penerimaan.

“...Sama-sama.”

Setelah itu mereka berdua duduk di meja yang sama setiap makan siang, dan mengobrol dengan cara yang aneh sekali — Amamiya bicara delapan puluh persen, Hoshimiya menjawab dua puluh persen, dan entah bagaimana itu berhasil.

Aku makan dan tidak ikut campur.

Aku ingat berpikir, waktu itu, bahwa ini kondisi yang cukup baik dan sebaiknya tidak berubah.


Trio itu, tentu saja, tidak bisa membiarkannya lewat begitu saja.

“Kanzaki.” Tsukumo menghampiri mejaku di hari keenam dengan wajah orang yang membawa berita penting. “Aku harus tanya sesuatu.”

“Ya.”

“Kamu... apa ya... kamu bayar dia?”

“Tsukumo.”

“Bukan menuduh! Aku cuma nggak paham!”

Sakuraba muncul dari belakangnya sambil menyibak poni. “Kalian semua terlalu dangkal. Ini jelas soal keseimbangan. Hoshimiya berada di puncak, Kanzaki berada di dasar, dan alam semesta menuntut titik tengah—”

“Kamu barusan bilang temanmu sendiri berada di dasar,” kata Isuzu Nono, yang muncul entah dari mana sambil menggendong Mochi yang tertidur.

“Itu istilah teknis.”

“Itu jahat.”

“Itu istilah teknis yang jahat.”

Mochi membuka satu mata, melihat sekeliling, lalu turun dari gendongan Isuzu, berjalan tiga langkah, dan tidur lagi tepat di bawah kursiku.

“Lho,” kata Isuzu.

“Kenapa?”

“Dia nggak pernah mau tidur di dekat orang lain.”

“Mungkin di sini adem.”

“Mungkin,” katanya, dan tidak terdengar yakin.

Sejak hari itu Mochi tidur di bawah kursiku hampir setiap hari, dan Isuzu berhenti mempertanyakannya, dan aku juga berhenti mempertanyakannya karena aku punya cukup banyak hal untuk dikhawatirkan tanpa menambahkan seekor makhluk kontrak ke dalam daftar.


Yang tidak berubah adalah pukul empat pagi.

Aku masih bangun. Masih turun lewat tangga samping. Masih menginjak pinggir anak tangga keenam.

Kelas 2-C masih kosong dan bau kapur, dan bangku baris ketiga dari belakang masih di tempatnya.

Aku mengelapnya dari kiri ke kanan, dua kali. Lalu sandarannya. Lalu kaki-kakinya.

Hoshimiya belum tahu soal ini. Dia tidak akan tahu selama beberapa minggu lagi.

Aku pernah berpikir untuk berhenti — bukan karena bosan, tapi karena sekarang ada orang yang mencatat pola, dan pola ini adalah pola yang paling tidak boleh dicatat siapa pun.

Aku memikirkannya selama sekitar satu menit di suatu pagi, sambil berdiri memegang lap basah.

Lalu aku mengelap mejanya seperti biasa.

Ada hal-hal yang lebih penting daripada tidak ketahuan, dan waktu itu aku belum sadar bahwa aku baru saja mengakuinya pada diriku sendiri.


Hari kesembilan, sore, aku hampir jatuh di koridor.

Bukan hal besar. Kepalaku berdenyut, pandanganku menyempit sebentar di pinggir, dan aku menabrak dinding dengan bahu. Itu saja. Sudah sering.

Yang tidak sering adalah ada orang di belakangku.

Hoshimiya tidak berteriak, tidak panik, tidak bertanya “kamu nggak apa-apa?” seperti yang biasanya orang lakukan.

Dia cuma menahan lenganku sampai aku berdiri lurus, lalu melepaskannya, lalu berdiri di situ.

“Aku nggak apa-apa.”

“Ya.”

“Beneran.”

“Ya.”

Dia tidak mendebat. Itu justru yang membuatku tidak nyaman — kalau orang mendebat, aku bisa bertahan. Kalau orang cuma mengatakan “ya”, aku tidak punya apa-apa untuk didorong.

Kami berjalan ke asrama tanpa bicara. Dia mengambil jalan memutar lewat taman belakang, yang lebih jauh sekitar empat menit.

Aku baru sadar kenapa setelah sampai di depan asrama.

Jalan memutar itu tidak ada tangganya.


Malamnya aku menulis di buku catatan cokelat.

Hari ke-1.104. Radius stabil. Tidak ada gejala baru.

Lalu, di bawahnya:

Dia menghitung anak tangga.

Aku memandangi baris itu agak lama.

Lalu aku menambahkan satu baris lagi, dan ini pertama kalinya aku menulis sesuatu di buku itu yang tidak ada hubungannya dengan pengukuran, gejala, atau perhitungan risiko.

Sebaiknya berhenti sebelum jadi kebiasaan.

Aku tidak menjelaskan siapa yang harus berhenti.

Aku juga tidak berhenti.


[Bersambung — Bab 7: Latihan Dungeon]