← Chapters Ch. 4 / 50

Chapter Four

“Kamu Ini Apa?”

[POV: Kanzaki Rei]

Meja paling ujung dekat tiang. Sup kacang. Roti keras yang harus dicelup dulu.

Aku sudah bilang aku akan berhenti mengambil sup, dan aku memang berniat begitu, tapi hari itu antriannya panjang dan sup adalah satu-satunya yang tidak perlu ditunggu. Jadi sup lagi.

Aku baru menyelesaikan sekitar sepertiga ketika seseorang menarik kursi di seberangku.

Bukan menarik pelan. Menarik seperti orang yang memang berniat duduk di situ dan tidak sedang mempertimbangkan pilihan lain.

Aku mengangkat kepala.

Hoshimiya Shion duduk di depanku. Seragamnya rapi seperti biasa, rambutnya diikat tinggi seperti biasa, dan ekspresinya persis seperti yang selalu dilihat semua orang dari jauh — datar, dingin, tidak menawarkan apa pun.

Kantin tidak langsung sepi. Tapi ada gelombang kecil yang menjalar, dan dalam sepuluh detik aku bisa merasakan setidaknya dua puluh pasang mata yang sedang berpura-pura tidak melihat.

Dia meletakkan sebuah buku catatan di meja. Sampulnya hitam, sudutnya sudah agak lecek.

Lalu dia membukanya, membalik beberapa halaman sampai menemukan yang dicari, memutar buku itu supaya menghadap ke arahku, dan berkata:

“Kamu ini apa?”


Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan tentang detik-detik berikutnya.

Yang pertama: dalam dua tahun terakhir, tidak ada satu orang pun yang memulai percakapan denganku. Amamiya tidak dihitung, karena Amamiya tidak memulai percakapan — dia cuma bicara, dan aku kebetulan ada di dekatnya. Guru tidak dihitung karena itu pekerjaan mereka.

Jadi kalimat itu, empat kata itu, secara teknis adalah kalimat pertama yang ditujukan orang lain kepadaku dalam waktu yang cukup lama sampai aku sempat lupa rasanya bagaimana.

Yang kedua: aku sudah membayangkan momen ini ribuan kali. Sungguh. Aku punya tiga tahun dan tidak banyak kegiatan.

Aku sudah menyiapkan jawaban untuk instruktur. Untuk petugas kerajaan. Untuk kesatria. Untuk orang yang menuduh, untuk orang yang menekan, untuk orang yang datang dengan surat resmi dan dua pengawal.

Aku tidak pernah menyiapkan jawaban untuk anak perempuan sekelas yang duduk di kantin sambil membuka buku catatan.

Yang ketiga, dan ini yang paling penting: aku melihat isi halaman itu.

Dan isinya membuat perutku dingin.


Itu tabel.

Ditulis tangan, rapi sekali, dengan garis-garis yang jelas ditarik pakai penggaris. Kolomnya empat: tanggal, jenis latihan, catatan waktu terbaik angkatan, dan satu kolom terakhir yang isinya cuma tanda centang atau tanda silang.

Ada mungkin sembilan puluh baris di situ. Tiga bulan.

Aku tidak perlu bertanya apa arti kolom terakhir. Aku sudah tahu sebelum mataku sampai ke bawah.

“Centang artinya kamu ada di lapangan,” katanya. Suaranya pelan dan datar, tidak menuduh. “Silang artinya kamu tidak ada. Kamu izin sakit empat kali dalam tiga bulan ini. Aku sudah cocokkan dengan catatan asrama.”

“...Oh.”

“Rata-rata catatan waktu di hari centang lebih baik dua belas koma tiga persen.” Dia menunjuk baris di bawah dengan ujung jari. “Bukan cuma waktu. Jumlah kesalahan formasi turun. Durasi bertahan naik. Isuzu Nono memanggil makhluk kontraknya lebih cepat. Amamiya Koharu menahan benturan lebih lama.”

Dia menutup buku catatannya.

“Dua belas persen itu bukan variasi harian. Dua belas persen itu efek.”

Aku menyendok supku sekali, pelan, supaya tanganku ada kerjaan.

“Mungkin kebetulan.”

“Sembilan puluh hari.”

“Bisa jadi cuacanya bagus di hari-hari itu.”

“Aku sudah cek cuaca.”

Aku berhenti menyendok.

Dia bilang itu tanpa nada bangga sama sekali. Bukan sedang memamerkan ketelitiannya. Dia mengucapkannya seperti orang menyebutkan bahwa dia sudah mengunci pintu — hal yang memang harus dilakukan, jadi dilakukan, selesai.

“Aku sudah cek jadwal makan, jadwal tidur, siapa instruktur yang bertugas, dan urutan latihan,” lanjutnya. “Semuanya berubah-ubah. Cuma ada satu variabel yang cocok seratus persen dengan grafiknya.”

Dia menatapku.

“Kamu.”


Aku punya beberapa pilihan waktu itu.

Aku bisa membantah keras. Buruk — orang yang membantah keras itu menarik perhatian, dan orang yang menarik perhatian akan diperiksa lebih lanjut.

Aku bisa mengaku sebagian. Lebih buruk lagi. Mengaku sebagian itu seperti membuka pintu dan berharap orang cuma melihat lorongnya.

Aku bisa bertanya balik, mengalihkan, membuat dia merasa pertanyaannya konyol.

Yang kupilih adalah yang paling murah dan paling kupercaya.

Aku mengangkat bahu.

“Aku nggak tahu.”

Dia diam.

“Tierku nol,” lanjutku. “Ada di berkas. Kalau aku bisa bikin orang lari lebih cepat, kayaknya bakal ada yang sadar sejak tiga tahun lalu.”

“Justru itu.”

“Maksudnya?”

“Justru tidak ada yang sadar.” Dia sedikit memiringkan kepala. “Itu bagian yang paling menarik.”

Aku tidak menjawab.

Dia menunggu. Cukup lama. Aku sudah cukup berpengalaman soal keheningan untuk tahu bahwa dia sedang memakai keheningan itu sebagai alat, dan aku juga cukup berpengalaman untuk tahu bahwa aku lebih tahan daripada dia.

Ternyata tidak.

Dia bertahan lebih lama dariku, dan yang akhirnya bicara duluan adalah aku, walaupun cuma untuk bilang:

“Supku dingin.”

“Ya.”

“Aku mau ambil roti.”

“Rotinya sudah habis dari sepuluh menit lalu.”

Aku duduk kembali.


Amamiya datang di menit yang paling tidak tepat, membawa kotak bekal berpembungkus kuning motif kelinci.

Dia berhenti sekitar tiga langkah dari meja.

“...Oh,” katanya.

Lalu, dengan kecepatan yang cuma dimiliki orang yang memang tidak pernah kikuk seumur hidupnya, dia langsung tersenyum lebar dan duduk di sebelahku.

“Hoshimiya! Halo! Kamu makan di sini? Biasanya kamu di perpustakaan, kan?”

“Ya.”

“Wah, jarang banget.” Amamiya meletakkan kotak bekal itu di depanku tanpa melihat, seperti orang menaruh kunci di meja sendiri. “Kanzaki, ini kebanyakan lagi. Nono tetap nggak mau makan nasi. Aku sudah nyerah.”

“Terima kasih.”

Hoshimiya melihat kotak bekal itu. Lalu melihat Amamiya. Lalu melihatku.

Aku tidak tahu apa yang dia simpulkan dari urutan itu, tapi dia menyimpulkan sesuatu, karena aku melihat matanya bergerak sedikit — gerakan yang sama seperti waktu dia menunjuk baris di tabelnya.

“Amamiya,” katanya.

“Ya?”

“Kamu sudah berapa lama melakukan itu?”

Amamiya berkedip. “Melakukan apa?”

“Membawakan bekal.”

“Oh.” Amamiya menghitung dengan jari, terlalu lama untuk sesuatu yang seharusnya bisa dijawab cepat. “Nggak tahu. Lumayan lama, kali ya.”

“Berapa lama.”

“...Dari tahun pertama.”

Hoshimiya mengangguk sekali, pelan.

Lalu dia berdiri, mengambil buku catatannya, dan menyelipkannya ke bawah lengan.

“Kanzaki.”

Aku mengangkat kepala.

“Aku tidak akan lapor siapa-siapa,” katanya. “Aku juga tidak akan tanya lagi hari ini.”

“...Oke.”

“Tapi aku akan tanya lagi.”

Dia pergi.


Amamiya menunggu sampai Hoshimiya benar-benar keluar dari kantin sebelum menoleh ke arahku dengan mata membesar.

“Kalian barusan ngobrol?”

“Nggak juga.”

“Kanzaki, dia duduk di depan kamu selama lima menit. Itu ngobrol.”

“Dia yang ngobrol.”

“Itu tetap ngobrol!” Dia menepuk meja pelan, kelewat semangat. “Kamu tahu nggak, selama tiga tahun aku belum pernah lihat dia duduk semeja sama siapa pun. Beneran. Nggak pernah. Aku sampai mikir dia makan sambil berdiri.”

“Mungkin dia salah meja.”

“Nggak ada yang salah meja selama lima menit.”

Aku membuka kotak bekal itu dan mulai makan supaya tidak perlu menjawab.

Amamiya masih bicara — sesuatu tentang betapa mengagetkannya kejadian tadi, sesuatu tentang tukang roti di gerbang timur, sesuatu tentang Mochi lagi. Aku menjawab seperlunya.

Dan sepanjang itu, aku menahan tanganku tetap di bawah meja.

Karena tangan itu gemetar sejak sekitar dua menit sebelum Hoshimiya berdiri, dan belum berhenti sampai sekarang.


Malamnya aku duduk di lantai kamar dan membuka buku catatan cokelat di dasar tas.

Aku membalik ke halaman terakhir yang terisi.

Hari ke-1.099. Radius stabil. Tidak ada gejala baru.

Aku memandangi baris itu cukup lama, lalu menambahkan satu baris di bawahnya. Bukan tentang radius. Bukan tentang gejala.

Ada yang menghitung.

Aku menutup bukunya.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak hari kedua di dunia ini, aku duduk di sana dan sungguh-sungguh mempertimbangkan untuk mematikannya.

Cuma sebentar. Cuma untuk melihat apa rasanya.

Aku mencoba.

Delapan detik.

Delapan detik hening di seluruh gedung, dan aku tidak melihat apa pun berubah dari kamarku, karena memang tidak ada yang bisa dilihat dari kamar — tapi aku tahu, di suatu tempat, ada anak tahun pertama yang sedang latihan malam dan tiba-tiba merasa tombaknya jadi lebih berat daripada satu menit sebelumnya, dan bingung kenapa.

Aku menyalakannya lagi.

Dan besoknya aku tidak izin sakit, walaupun aku ingin.

Karena kalau aku izin sakit, akan ada satu tanda silang lagi di tabel itu.


[Bersambung — Bab 5: Data]