← Zero Thread

Chapter Twenty Two

Jalan Memutar

[POV: Kanzaki Rei]

Dua hari sebelum berangkat ke Vellmoor, aku hampir jatuh di tangga barat.

Bukan hampir dalam arti kiasan. Aku sudah miring, aku sudah melewati titik di mana kaki bisa memperbaiki, dan satu-satunya alasan aku tidak sampai ke bawah adalah karena ada tangan yang menahan bagian belakang seragamku.

“Berdiri.”

“Aku—”

“Berdiri dulu, baru bicara.”

Butuh sekitar sepuluh detik.

Waktu pandanganku kembali, Hoshimiya sedang berdiri satu anak tangga di bawahku, memegang lengan atasku dengan kedua tangan, dengan wajah yang sepenuhnya datar dan mata yang sama sekali tidak.

“Anak tangga ketiga puluh tujuh,” katanya.

“...Iya.”

“Kamu tidak berhenti di kedelapan belas tadi.”

“Aku buru-buru.”

“Kenapa buru-buru?”

Aku tidak menjawab, karena jawabannya adalah karena kalau aku berhenti, akan ada yang lihat, dan aku sudah cukup lelah untuk tahu bahwa mengucapkannya akan menghasilkan percakapan yang tidak ingin kuhadapi.


Yang membuat malam itu buruk bukan tangganya.

Kami latihan sampai lewat tengah malam selama tiga belas malam berturut-turut. Ditambah Genkai Kaijo yang tidak pernah berhenti. Ditambah tiga jam tidur.

Tubuhku sudah mengirim tagihan sejak dua hari lalu dan aku terus menunda pembayarannya, dan hal seperti itu tidak bisa ditunda tanpa bunga.

Dan ditambah tadi malam.

Tidak ada satu pun dari kami yang menyebut tadi malam sepanjang hari itu. Dia masuk kelas seperti biasa, duduk di sebelahku seperti biasa, menjawab guru dengan dua kata seperti biasa. Matanya sedikit bengkak di pagi hari dan sudah normal menjelang siang.

Dan aku, karena aku memang seperti ini, menghabiskan seluruh hari itu untuk menyusun kesimpulan yang salah.

Kesimpulanku begini: aku lengah satu detik dan seseorang jatuh berlutut di lantai. Berarti masalahnya adalah aku kurang kuat menahan. Berarti solusinya adalah menahan lebih rapat.

Aku menghabiskan enam jam pelajaran untuk menghitung berapa tambahan biaya yang perlu kukeluarkan supaya kejadian itu tidak terulang.

Jawabannya sekitar tiga puluh persen.

Aku memutuskan untuk membayarnya, dan aku memutuskan untuk tidak memberitahunya, dan aku merasa cukup puas dengan diriku sendiri sepanjang sore itu.

“Kamu tidak akan latihan malam ini,” katanya.

“Kita berangkat lusa.”

“Justru karena kita berangkat lusa.”

“Kalau aku nggak latihan dua malam, presisinya turun—”

“Kalau kamu jatuh dari tangga dan kepalamu pecah, presisinya juga turun.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu.

Dan yang aneh — yang kupikirkan berkali-kali selama berminggu-minggu setelahnya — adalah dia tidak menyinggung tadi malam sama sekali.

Tidak sekali pun. Bukan di tangga, bukan setelahnya.

Padahal itu argumen terkuat yang dia punya. Kalau dia mau memaksaku berhenti latihan, dia tinggal menyebutkannya. Dia tinggal bilang aku berlutut di lantai kemarin karena kamu, dan aku akan menyerah dalam dua detik.

Dia tidak memakainya.

Aku mengira waktu itu dia sedang bersikap baik.

Butuh waktu lama sebelum aku mengerti bahwa dia bukan sedang bersikap baik. Dia sudah menghitung sesuatu, dan hasil hitungannya adalah bahwa bertanya padaku sudah tidak ada gunanya lagi.


Kami duduk di anak tangga ketiga puluh tujuh selama beberapa menit, karena aku belum sanggup naik dan dia tidak menawarkan untuk memapah.

Itu bagian yang kuhargai, dan aku tidak yakin apakah dia melakukannya dengan sengaja.

“Hoshimiya.”

“Ya.”

“Boleh minta tolong?”

Dia menoleh cepat. Aku baru sadar setelahnya bahwa itu kalimat yang belum pernah kuucapkan padanya, atau pada siapa pun, selama tiga tahun.

“Apa.”

“Jangan lewat sini.”

“Maksudnya?”

“Kalau kita turun nanti.” Aku memandangi anak tangga di bawah. “Ada yang lewat sini jam segini. Anak tahun tiga latihan malam.”

Dia diam sebentar.

“Kamu tidak mau ada yang lihat.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Ada beberapa jawaban.

Yang paling rapi: karena kalau ada yang melihat siswa bertier nol dipapah turun tangga oleh peringkat satu akademi, akan ada pertanyaan, dan pertanyaan itu akan sampai ke orang yang salah.

Yang paling jujur jauh lebih pendek dan jauh lebih memalukan, jadi aku memberikan yang rapi.

Dia mendengarkan sampai selesai.

“Bohong,” katanya.

“...Apa?”

“Itu alasan yang benar, tapi bukan alasanmu.” Dia berdiri. “Kamu sudah menyiapkannya di kepala selama sekitar dua puluh detik terakhir. Aku lihat kamu menyusunnya.”

Aku memandangi tanganku.

“Kanzaki.”

“Aku nggak mau dilihat begitu,” kataku.

Dan itu keluar lebih kecil dari yang kumaksudkan.

“Begitu bagaimana?”

“Ditolong.”


Dia tidak menjawab selama mungkin setengah menit.

Lalu dia mengulurkan tangan.

Aku menatapnya.

“Turun,” katanya. “Lewat sisi timur. Ada tangga servis di belakang gudang, keluarnya di taman belakang. Tidak ada yang lewat sana jam segini.”

“Kamu tahu ada tangga servis?”

“Aku sudah cari sejak tiga minggu lalu.”

Aku mengambil tangannya.


Ada beberapa hal yang perlu kucatat tentang berjalan turun tangga servis di belakang gudang pada pukul setengah satu malam dengan seseorang yang memegang tanganmu.

Yang pertama: tangganya sempit dan gelap, jadi memegang tangan memang masuk akal secara praktis, dan aku memutuskan untuk memakai penjelasan itu selama mungkin.

Yang kedua: dia tidak menggenggam seperti Amamiya.

Amamiya menggenggam penuh, tangan ke tangan, dan menariknya sedikit ke depan supaya orang di sekitar tahu ini sengaja.

Hoshimiya memegang pergelangan.

Bukan tangan. Pergelangan, dengan ibu jari di bagian dalam, di tempat denyut nadi biasanya.

Aku baru menyadari alasannya di anak tangga kelima.

Dia sedang menghitung denyutku.

Aku ingin bilang aku tersinggung. Aku tidak tersinggung. Aku cuma duduk dengan informasi itu di kepalaku sepanjang sisa tangga dan tidak tahu harus menaruhnya di mana.

Yang ketiga, dan yang paling merepotkan: tangga servis itu ada empat puluh sembilan anak tangga, dan taman belakangnya menambah sekitar tiga menit jalan kaki, dan sepanjang tiga menit itu dia tidak melepaskan pergelanganku.

Tidak ada tangga di taman belakang. Tidak ada alasan praktis.

Aku tidak menyebutkannya.

Dia juga tidak.


Kami berhenti di depan asrama.

“Kanzaki.”

“Ya.”

“Aku mau tanya sesuatu, dan aku tidak akan tanya dua kali.”

Aku menunggu.

“Tadi siang Amamiya menggandengmu di koridor penuh orang,” katanya. “Dia tidak bertanya dulu. Dia tidak peduli siapa yang lihat. Dia melakukannya di tempat yang paling terlihat di seluruh gedung.”

“Iya.”

“Dan aku baru saja membawamu lewat tangga servis di belakang gudang supaya tidak ada yang lihat, karena kamu minta.”

Aku tidak menjawab.

“Aku sudah memikirkannya sepanjang malam.” Suaranya tetap datar. “Amamiya melindungimu dari mereka. Aku menuruti kamu.”

Dia melepaskan pergelanganku.

“Aku belum tahu mana yang benar,” katanya.

Lalu dia masuk ke asrama putri tanpa menunggu jawaban, yang mana bagus, karena aku tidak punya jawaban — dan bukan karena aku tidak memikirkannya.

Karena aku sudah memikirkannya, dan jawabannya membuatku tidak nyaman.


Aku duduk di lantai kamar malam itu dan tidak membuka buku cokelat sama sekali.

Aku cuma duduk di sana, memandangi tembok, sambil memikirkan sesuatu yang sudah kuhindari selama beberapa minggu terakhir.

Amamiya sudah tahu selama tiga tahun.

Selama tiga tahun itu dia tidak pernah sekali pun memintaku melakukan apa pun. Dia tidak pernah mendesak, tidak pernah menyinggung, tidak pernah menuntut penjelasan. Dia menghitung koridor dalam diam dan tidak menuliskannya di mana-mana.

Dia membiarkan aku tetap seperti yang aku mau.

Hoshimiya baru tahu tiga bulan.

Dan dalam tiga bulan itu, dia sudah menyeretku bicara dua kali, memaksaku ke tribun barat baris depan, membuat aku mengucapkan angka dua puluh enam keras-keras untuk pertama kalinya, dan berdiri di kelas kosong pukul empat pagi untuk bertanya berapa lama aku bisa memilih tidak.

Salah satunya membuatku bisa bernapas.

Salah satunya membuatku tidak bisa berhenti bergerak.

Dan aku duduk di lantai kamar pukul satu pagi, dua hari sebelum berangkat ke Vellmoor, dan menyadari dengan sangat jelas bahwa aku sudah tahu mana yang aku butuhkan.

Aku cuma belum berani mengucapkannya, bahkan di dalam kepala sendiri.


Aku akhirnya membuka buku cokelat sekitar pukul dua.

Hari ke-1.161. Renjin ditunda 2 malam. Kondisi: buruk. Vellmoor lusa.

Tadi malam lepas 1 detik. Penahanan dinaikkan ke +30% mulai latihan berikutnya. Tidak boleh terulang.

Aku memandangi baris itu, dan aku ingat merasa lega karena masalahnya sudah selesai dan solusinya sudah ketemu.

Aku salah, tentu saja.

Bukan soal angkanya. Angkanya benar, tiga puluh persen memang cukup, dan setelah itu memang tidak pernah terulang lagi sampai jauh kemudian.

Yang salah adalah aku menganggap masalahnya adalah kebocoran satu detik itu.

Padahal masalahnya adalah bahwa aku, dengan sadar, memutuskan untuk membayar lebih mahal supaya seseorang tidak perlu tahu berapa yang sedang kubayar — dan aku menuliskannya di buku catatan seperti orang mencatat harga sayur.

Lalu, di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil dari biasanya:

Dia memegang pergelangan, bukan tangan. Untuk menghitung denyut.

Tiga menit di taman belakang tidak ada tangganya.

Aku menutup bukunya.

Lalu aku membukanya lagi, menghapus baris terakhir dengan jariku sampai tintanya berantakan, dan menutupnya lagi.

Baris itu masih bisa terbaca sedikit.

Aku membiarkannya.


[Bersambung — Bab 23: Vellmoor]