← Chapters Ch. 50 / 50

Chapter Fifty

Kristal

[POV: Kanzaki Rei]

Tiga tahun kemudian, aku kembali ke ruang pengukuran Akademi Astel.

Ruangannya tidak berubah sedikit pun. Langit-langitnya masih terlalu tinggi. Batunya masih dingin. Bola Ukur Kristal masih duduk di atas tiang perunggu yang sama, dengan retak halus di permukaannya, seperti gelas yang pernah kena air panas.

Aku datang bukan untuk diukur.

Aku datang karena angkatan baru — tiga puluh dua anak, dipanggil delapan bulan lalu dari dunia lain — meminta lewat instruktur mereka. Mereka sudah membaca berkasnya. Mereka penasaran.

Aku sudah menolak dua kali sebelumnya.

Kali ketiga aku bilang boleh, karena Hoshimiya bilang, “Kamu sudah menolak dua kali. Tiga itu kebiasaan.”


Ada beberapa hal yang perlu dicatat tentang tiga tahun itu, dan aku akan menuliskannya secepat mungkin karena bab ini bukan tentang itu.

Aku bekerja untuk Biro Aset Perang selama dua tahun tujuh bulan sampai sekarang. Bukan sebagai aset. Ada dokumennya, empat puluh satu halaman, sebagian argumen hukumnya ditulis oleh seseorang yang sekarang benar-benar sekolah hukum dan masih sering salah kutip undang-undang.

Berkasku masih tertulis nol. Diperbarui tiga kali. Selalu nol, selalu dengan tanggalnya, selalu dengan alasannya.

Nama Nanase Yuki ada di arsip permanen sekarang. Diperbaiki di halaman empat, dengan namaku di sebelahnya, seperti yang dijanjikan.

Bangkunya sudah tidak ada di kelas 2-C, karena kami lulus dan kelas itu sekarang milik orang lain. Bangkunya dipindahkan ke ruang arsip, atas permintaan tertulis dari seorang siswa peringkat satu yang sekarang jadi kesatria kerajaan dan masih tidak bisa memulai percakapan dengan orang asing.

Amamiya Koharu jadi komandan kompi Guardian di Garnisun Timur pada usia dua puluh, yang merupakan rekor. Dia menulis surat setiap bulan. Suratnya selalu tentang tukang roti.

Tsukumo Daichi menangis di upacara kelulusan. Sakuraba Ren menangis di upacara kelulusan dan menyangkalnya sampai sekarang. Isuzu Nono tidur di upacara kelulusan. Mochi tidur di kaki Isuzu dan tidak bangun sampai selesai.

Kuroba Jin dan aku bekerja di divisi yang sama sekarang. Dia masih orang paling sombong yang pernah kukenal.

Kirisawa Genya masih mengajar. Dia bilang dia akan berhenti tahun depan, dan dia sudah bilang begitu tiga tahun berturut-turut.

Retakan Besar berikutnya diperkirakan enam puluh sampai delapan puluh tahun lagi.

Ada dokumen sekarang. Dua ratus tiga belas halaman, disusun selama dua tahun, disimpan di lantai empat perpustakaan di rak yang boleh dipinjam.

Judulnya: Kelas 導 — Panduan untuk Pemegang Berikutnya.

Halaman pertamanya cuma satu kalimat.

Kamu tidak harus menanggungnya sendirian, dan itu bukan pendapat — itu mekanik.


Tiga puluh dua anak berdiri di ruang pengukuran itu, berbaris, memakai seragam yang belum rapi.

Instruktur mereka memperkenalkanku dengan jabatan yang panjang sekali dan aku tidak mendengarkan bagian tengahnya.

Lalu ada yang mengangkat tangan.

Anak laki-laki, barisan belakang, dekat dinding.

“Kak.”

“Ya.”

“Kata Bu Guru, tier Kakak nol.”

“Iya.”

“Itu bener?”

“Bener.”

Dia kelihatan bingung, dan aku tahu persis bingungnya yang mana, karena aku pernah punya bingung yang sama.

“Terus gimana caranya—”

“Coba pegang,” kataku.

“...Hah?”

“Bola ukurnya. Coba kamu pegang lagi.”

“Aku udah diukur, Kak. Delapan bulan lalu.”

“Bukan kamu,” kataku. “Aku.”


Aku naik ke podium.

Batunya masih dingin. Ternyata aku ingat itu.

Aku berdiri di depan Bola Ukur Kristal untuk kedua kalinya dalam hidupku, dengan tiga puluh dua anak menonton dari bawah, dan aku sadar bahwa aku sedang berdiri di titik yang persis sama dengan enam tahun lalu.

Perbedaannya cuma dua.

Yang pertama: enam tahun lalu ada seseorang di barisan yang menoleh ke arahku dan menghitung, dan aku tidak tahu itu, dan aku tidak akan tahu selama dua tahun lagi.

Yang kedua: sekarang aku tahu persis apa yang akan terjadi.

Aku sudah mengukurnya. Berkali-kali, dengan alat yang jauh lebih baik, di ruangan yang jauh lebih mahal, dengan tim yang dibayar oleh anggaran Biro.

Aku tahu berapa yang keluar dari tubuhku sekarang.

Masih nol.

Yang berubah adalah berapa yang masuk.


Aku meletakkan telapak tangan di atasnya.

Kristal itu menyala.

Cuma sebentar. Satu kedip — persis seperti enam tahun lalu, dan aku sempat berpikir oh, sama saja, dengan rasa yang tidak sepenuhnya kecewa.

Lalu cahayanya naik.

Lalu terus naik.

Lalu ruangan itu jadi putih dan beberapa anak di barisan depan mundur selangkah, dan salah satu dari mereka berteriak.

Dan Bola Ukur Kristal Akademi Astel — yang sudah berdiri di atas tiang perunggu itu selama seratus sembilan puluh tahun, yang sudah mengukur belasan ribu orang, yang punya retak halus di permukaannya seperti gelas yang pernah kena air panas —

pecah.


Serpihannya jatuh ke lantai batu dengan bunyi yang jauh lebih pelan daripada yang seharusnya.

Ruangan itu sunyi total selama beberapa detik.

Lalu tiga puluh dua anak mulai bicara sekaligus.

“—pecah—” “—itu tadi apa—” “—Kak, itu rusak?” “—BU GURU BOLANYA PECAH—”

Instruktur mereka berdiri di sisi ruangan dengan tangan menutupi mulut, dan aku cukup yakin dia sedang menghitung berapa yang harus dia laporkan dan kepada siapa.

Aku turun dari podium.

Dan aku berjalan melewati tiga puluh dua anak yang semuanya bicara sekaligus, ke arah pintu, di mana seseorang sedang bersandar di kusen dengan tangan dilipat.

Dia sudah di sana sejak awal. Tentu saja dia sudah di sana sejak awal.

Dia sedang berusaha sangat keras untuk tidak tersenyum, dan gagal di sudut kiri mulutnya, seperti biasa.

“Kanzaki.”

“Ya.”

“Bolanya pecah.”

“Iya.”

“Itu barang kerajaan.”

“Iya.”

“Kamu akan menulis laporan.”

“Iya.”

Dia mengangkat sebelah alis.

“Jadi hasilnya berapa?”

Dan aku berdiri di ambang pintu ruang pengukuran Akademi Astel, di ruangan yang sama, di depan orang yang enam tahun lalu berdiri sendirian di pinggir ruangan ini karena tidak ada satu pun dari tiga puluh anak yang berani menghampirinya.

Aku mengangkat bahu.

“Ya sudah,” kataku. “Tulis nol saja.”


《零糸》 — TAMAT