← Chapters Ch. 3 / 50

Chapter Three

Lantai Empat

Tiga tahun lalu, hari kedua.

Angka nol itu baru berumur satu malam. Pembagian kelas belum diumumkan. Sebagian besar anak-anak masih tidur karena kelelahan, dan yang tidak tidur sedang berkeliling asrama sambil kagum pada segalanya — keran yang airnya keluar tanpa listrik, lampu yang menyala tanpa saklar, kasur yang kerasnya minta ampun.

Aku pergi ke perpustakaan.

Bukan karena rajin. Karena aku perlu tahu sesuatu, dan aku tidak punya siapa-siapa untuk ditanyai.


Perpustakaan Akademi Astel bentuknya menara. Delapan lantai, tangga melingkar di tengah, dan bau kertas tua yang menempel di baju sampai berhari-hari. Lantai satu sampai tiga terbuka untuk semua siswa. Lantai empat ke atas dibatasi, dan ada meja penjaga di anak tangga terakhir sebelum masuk.

Penjaganya seorang kakek dengan kacamata tebal. Waktu aku lewat, dia sedang menghitung sesuatu di buku besarnya.

Dia tidak mengangkat kepala.

Aku berjalan melewatinya, pelan, dan dia tetap tidak mengangkat kepala.

Ini kejadian pertama dari sekian ribu kejadian serupa selama tiga tahun berikutnya, dan waktu itu aku masih menganggapnya keberuntungan.


Lantai empat isinya rak-rak kayu tinggi dan tidak ada jendela. Lampunya sihir, warnanya kuning kotor. Debu di lantai punya jejak sepatu yang sudah lama, artinya tidak banyak orang naik ke sini.

Aku mencari selama hampir dua jam.

Sebagian besar isinya catatan administratif membosankan: daftar panen, silsilah bangsawan, laporan pajak dari kota yang namanya sudah tidak ada. Aku hampir menyerah waktu menemukan satu rak di sudut yang bukunya tidak dijilid sama seperti yang lain — sampulnya lebih gelap, dan nomor katalognya ditulis tangan, bukan dicetak.

Judul di punggung buku ketiga dari kiri:

《導》— CATATAN KELAS YANG TIDAK DIAJARKAN

Aku menariknya keluar.

Bukunya tipis. Itu yang pertama kali kusadari. Untuk sebuah kelas yang katanya ada sejak awal kerajaan berdiri, isinya cuma sekitar sembilan puluh halaman.

Aku duduk di lantai, bersandar ke rak, dan membukanya.


Halaman pertama menjelaskan hal-hal yang sudah kuduga, dengan bahasa yang jauh lebih dingin dari yang kuduga.

Kelas 《導》. Dibaca Shirube. Diterjemahkan sebagai Penuntun.

Tidak memancarkan mana. Tidak bisa menyerang. Tidak bisa bertahan. Tidak bisa menyembuhkan. Nilai tempur individual dicatat sebagai nol, dan di sebelah angka itu ada catatan kaki kecil: bukan kiasan.

Lalu satu paragraf yang kubaca tiga kali.

Nilai kelas ini tidak dapat diukur dengan alat standar, karena alat standar mengukur pancaran. Nilai sesungguhnya hanya muncul dalam kelompok, dan bertambah seiring jumlah. Batas atasnya belum pernah ditemukan, karena belum pernah ada pemegang yang bertahan cukup lama untuk mengujinya.

Aku ingat membaca kalimat terakhir itu dan merasa ada yang dingin di tengkuk.

Belum pernah ada pemegang yang bertahan cukup lama.

Aku membalik halaman.


Ada empat.

Empat orang, sepanjang sejarah Elgaria yang tercatat. Masing-masing dapat satu bab.

Pemegang pertama. Aldric Venn. Dijuluki Jenderal Tanpa Pedang. Memimpin pertahanan tiga kota selama Retakan Besar keempat. Catatannya paling panjang di antara keempatnya, dan paling banyak memakai kata “gemilang”.

Meninggal pada usia tiga puluh satu.

Penyebab tertulis: kelelahan mana.

Ada catatan tambahan di bawahnya, ditulis oleh tabib yang menanganinya: bahwa selama enam bulan terakhir hidupnya, Aldric Venn tidak pernah benar-benar tidur, dan mengeluh bahwa ruangan selalu terasa penuh walaupun dia sendirian di dalamnya.

Aku berhenti membaca sebentar di bagian itu.

Pemegang kedua. Namanya tidak ditulis. Cuma disebut sebagai Penuntun Menara Selatan. Ditemukan di sebuah desa pada usia empat belas, dibawa ke ibu kota, dan ditempatkan di menara.

Dua puluh dua tahun.

Fungsinya dijelaskan secara teknis: dari menara, dia bisa menjangkau pasukan di garis depan tanpa harus hadir di medan. Efisiensi militer meningkat sekian persen. Ada tabel. Tabelnya rapi sekali.

Di bagian akhir bab itu, ada kutipan dari catatan harian penjaga menara. Cuma satu kalimat, dan aku tidak yakin kenapa penjaga itu merasa perlu menulisnya:

Hari ini dia bertanya lagi apakah jendelanya boleh dibuka. Saya jawab tidak. Dia bilang tidak apa-apa, seperti biasa.

Pemegang ketiga. Babnya cuma dua halaman.

Tidak ada nama. Tidak ada tanggal lahir. Tidak ada catatan tentang bagaimana dia ditemukan atau siapa keluarganya.

Yang ada cuma nomor.

Aset No. 7-C.

Dan sebuah daftar penempatan: tahun sekian di garnisun utara, tahun sekian di perbatasan timur, tahun sekian dikembalikan ke ibu kota untuk pemeliharaan.

Pemeliharaan. Kata itu yang dipakai.

Catatannya berhenti di tengah kalimat. Bukan karena dramatis — kelihatannya memang halamannya hilang, atau tidak pernah ditulis. Petugas arsip menambahkan keterangan di bawah: sisa dokumen tidak ditemukan.

Pemegang keempat. Mira Solvane. Yang paling baru. Seratus sembilan puluh tahun lalu.

Bab ini yang paling tebal, dan aku hampir tidak menyelesaikannya.

Bukan karena isi hidupnya. Hidupnya cuma dapat empat halaman — direkrut umur enam belas, bertugas sembilan tahun, meninggal umur dua puluh lima setelah pertempuran di Selat Havren, dan ada satu baris yang menyebutkan bahwa seluruh pasukannya selamat.

Sisanya, enam puluh halaman, adalah laporan pembedahan.

Sangat rinci. Ada gambar. Struktur saraf di lengan, kondisi jantung, ukuran organ, dan halaman demi halaman analisis tentang mengapa jari-jari tangannya mengalami perubahan bentuk permanen — melengkung ke dalam, dengan penebalan di sendi kedua, pada kesepuluh jarinya.

Kesimpulan penulis laporan: deformasi konsisten dengan penggunaan berulang. Disarankan pemegang berikutnya diawasi sejak dini agar data dapat dikumpulkan lebih lengkap.

Agar data dapat dikumpulkan lebih lengkap.

Aku menutup buku itu.

Lalu aku duduk di lantai berdebu itu cukup lama, dan melihat tanganku sendiri.

Sepuluh jari. Masih lurus. Masih baik-baik saja.

Empat hari sebelumnya, sepuluh jari itu sudah dipakai sekali. Selama sembilan detik.


Aku ingin bilang bahwa aku marah waktu itu. Atau takut. Atau merasa dikhianati oleh dunia yang baru saja menyeretku ke sini tanpa bertanya.

Yang sebenarnya kurasakan lebih sederhana dan lebih memalukan dari itu.

Aku merasa lega.

Karena selama satu malam penuh sebelumnya, aku masih menyisakan sedikit kemungkinan bahwa aku harus bicara. Bahwa aku punya kewajiban untuk maju, mengaku, menjelaskan bahwa alat itu salah baca dan sebenarnya aku bisa melakukan sesuatu.

Dan buku ini baru saja memberiku izin untuk tidak melakukan itu.

Empat orang. Tidak satu pun mati tua. Tidak satu pun tercatat sebagai manusia utuh — mereka tercatat sebagai fungsi, sebagai aset, sebagai efisiensi militer sekian persen, sebagai enam puluh halaman gambar organ.

Kalau aku bicara, aku jadi nomor lima.

Jadi aku punya alasan yang bagus. Alasan yang masuk akal, yang bisa kupertahankan di depan siapa pun kalau suatu hari aku harus mempertahankannya.

Cuma satu masalahnya.

Alasan bagus itu bukan alasan yang sebenarnya.

Alasan yang sebenarnya jauh lebih pendek, dan tidak butuh sembilan puluh halaman untuk dijelaskan:

Empat hari sebelumnya, di jalur hutan Amberfell, aku menarik dua puluh tiga orang sekaligus.

Dua puluh dua sampai di ibu kota.

Dan sampai hari ini aku masih ingat persis berapa jauh salah perhitunganku. Bukan satu langkah. Bukan dua.

Setengah langkah.


Aku mengembalikan buku itu ke raknya, di posisi yang persis sama, dengan punggung buku sejajar dengan yang lain.

Aku turun tangga melewati kakek berkacamata itu, dan dia masih tidak mengangkat kepala.

Aku tidak pernah naik ke lantai empat lagi. Tiga tahun, sekali pun tidak.

Dan malam itu, di kamar asrama yang masih bau cat, aku memutuskan hal yang akan kupegang selama seribu sembilan puluh enam hari berikutnya.

Yang pertama — yang tidak menarik siapa pun, yang tidak menyentuh siapa pun, yang cuma membuka kunci yang sudah ada di tubuh orang lain — itu boleh tetap menyala. Itu tidak merampas apa-apa. Itu tidak bisa membunuh siapa pun karena salah setengah langkah.

Dua yang lain kukubur.

Yang kedua, yang menarik orang seperti menarik boneka.

Dan yang ketiga, yang bahkan tidak berani kubaca deskripsinya sampai habis sampai berbulan-bulan kemudian.


[Bersambung — Bab 4: “Kamu Ini Apa?”]