Chapter Thirty Three
Tiga Tahun
[POV: Kanzaki Rei]
Aula Utama Akademi Astel muat sekitar seribu orang dan hari itu penuh.
Tiga angkatan. Seluruh staf. Tabib. Petugas dapur. Penjaga gerbang. Kakek berkacamata dari perpustakaan yang tidak pernah mengangkat kepala, yang ternyata bernama Tuan Halden, yang duduk di barisan paling belakang bersama pegawai lain.
Aku duduk di barisan kelas dua, di ujung, di kursi paling pinggir dekat dinding.
Hoshimiya duduk di sebelahku.
Amamiya duduk di sebelah Hoshimiya, yang bukan urutan biasanya, dan yang tidak dibicarakan oleh siapa pun.
Tuan Sarel berdiri di podium.
Dia membuka map. Dia membetulkan kacamatanya. Dia mulai bicara dengan nada yang sama sopannya seperti waktu memperkenalkan diri di kelas.
“Terima kasih atas waktunya. Saya akan singkat.”
Dia mengangkat selembar kertas besar — grafik, digambar tangan, dengan sumbu waktu di bawah.
“Ini adalah indeks performa gabungan Akademi Astel selama sepuluh tahun terakhir. Indeks ini menggabungkan catatan waktu, tingkat kelulusan ujian, dan angka cedera latihan.”
Garisnya datar selama tujuh tahun pertama. Naik turun sedikit, seperti garis apa pun.
Lalu di titik tertentu, garis itu naik.
Dan tidak pernah turun lagi.
“Kenaikan dimulai pada minggu ketiga bulan Fenrast, tiga tahun lalu,” katanya. “Kenaikannya tidak melambat. Tidak ada penurunan musiman. Tidak ada koreksi. Dalam data statistik, garis seperti ini praktis tidak ada.”
Aula mulai berbisik.
“Biro kami memeriksa dua belas variabel. Perubahan kurikulum: tidak ada. Pergantian instruktur: ada dua, dan tidak berkorelasi. Perubahan gizi asrama: tidak ada. Perubahan standar seleksi masuk: tidak ada.”
Dia meletakkan grafik itu.
“Kami memeriksa satu variabel tambahan atas saran Instruktur Kirisawa, yang menolak memberi tahu alasannya.”
Aku menoleh.
Kirisawa Genya berdiri di sisi aula dengan tangan dilipat, dan dia sedang menatap lurus ke depan, dan wajahnya tidak menunjukkan apa pun.
Aku masih tidak tahu, sampai hari ini, apa maksudnya. Aku tidak pernah bertanya. Ada beberapa hal yang lebih baik tidak ditanyakan, dan aku sudah cukup lama hidup dengan prinsip itu.
“Variabel itu adalah kehadiran satu individu.”
Ada satu setengah detik hening.
“Minggu ketiga bulan Fenrast tiga tahun lalu adalah minggu kedatangan angkatan panggilan lintas dunia,” lanjut Tuan Sarel. “Tiga puluh siswa. Kami memeriksa ketiga puluhnya, satu per satu, terhadap catatan absensi harian selama seribu dua ratus hari.”
Dia membalik halaman.
“Dua puluh sembilan dari mereka tidak menunjukkan korelasi apa pun.”
Dia berhenti sebentar. Bukan untuk efek dramatis. Dia berhenti karena dia sedang mencari baris yang benar di catatannya, seperti pegawai mana pun.
“Yang satu menunjukkan korelasi nol koma sembilan tujuh.”
Aula sunyi.
“Setiap hari individu tersebut tidak hadir — dua puluh satu hari dalam tiga tahun — indeks performa seluruh akademi turun rata-rata sebelas koma delapan persen. Setiap hari individu tersebut hadir, indeks kembali.”
Dia menutup mapnya.
“Nama individu tersebut adalah Kanzaki Rei. Kelas dua-C. Tier tercatat: nol.”
Aku sudah membayangkan momen ini selama tiga tahun.
Aku sudah membayangkannya ratusan kali, dalam berbagai bentuk, sebagian besar di malam hari waktu tidak bisa tidur.
Aku selalu membayangkan dua kemungkinan reaksi.
Yang pertama: marah. Orang merasa dicurangi, merasa prestasinya dipalsukan, merasa dipermainkan. Aku sudah menyiapkan diri untuk ini sejak lama, dan aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan membela diri kalau itu yang terjadi.
Yang kedua: terima kasih. Aku juga sudah menyiapkan diri untuk ini, dengan cara yang berbeda, yaitu dengan memutuskan untuk keluar dari ruangan secepat mungkin.
Yang terjadi bukan keduanya.
Yang terjadi adalah seribu orang berbalik dan mencariku dengan mata, dan tidak menemukan.
Butuh sekitar delapan detik sebelum ada yang menemukan.
Delapan detik. Seribu orang. Di ruangan yang sama.
Dan waktu akhirnya ada yang menemukan — anak tahun pertama, di barisan seberang, yang menunjuk dengan wajah bingung — reaksi orang-orang di sekitarnya bukan kaget.
Reaksinya adalah: “Yang mana?”
Aku ingin mencatat ini dengan jujur karena aku sudah salah menduga diriku sendiri.
Aku selalu mengira aku tidak keberatan.
Selama tiga tahun aku betul-betul percaya itu. Aku menulisnya di buku, aku memikirkannya di lapangan, aku mengucapkannya pada Hoshimiya di kelas kosong pukul empat pagi. Aku tidak pahit. Aku memilih ini. Aku senang mereka menang.
Semua itu benar.
Dan tetap saja, waktu seribu orang berbalik ke arah barisan kelas dua-C dan seseorang bertanya “yang mana?”, ada sesuatu di dadaku yang bereaksi dengan cara yang tidak kuizinkan.
Aku tidak menangis. Aku tidak melakukan apa pun.
Aku cuma duduk di sana dan menyadari, terlambat sekali, bahwa aku sudah tiga tahun membangun sesuatu dengan sangat rapi dan sangat sabar, dan bahwa hasilnya persis seperti yang kurancang, dan bahwa aku ternyata membencinya.
Dan di detik itu, tangan Hoshimiya menutupi tanganku di atas pahaku.
Bukan menggenggam. Ditutupi. Telapaknya di atas punggung tanganku, sekali, ditekan.
Dia tidak menoleh ke arahku sama sekali. Dia terus menatap podium.
Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya seumur hidup aku tidak menghitung sesuatu yang seharusnya kuhitung.
Yang terjadi berikutnya berlangsung sekitar dua menit dan aku akan menuliskannya berurutan.
Pertama: tidak percaya.
“Nggak mungkin.” “Anak yang mana?” “Yang tiernya nol itu?” “Tunggu — yang dipanggil Rei-nol itu?”
Kedua: tawa. Beberapa orang tertawa, refleks, karena itu terdengar seperti lelucon dan mereka menunggu bagian di mana ada yang bilang ini lelucon.
Tuan Sarel menunggu dengan sabar sampai tawanya habis sendiri, dan tawa yang habis sendiri karena tidak ada yang menyusul adalah suara yang sangat tidak enak didengar.
Ketiga: perhitungan ulang.
Dan ini bagian yang paling lama, dan yang paling sunyi, dan yang paling tidak kuperkirakan.
Karena seribu orang di ruangan itu mendadak melakukan hal yang sama pada waktu yang sama, yaitu memikirkan ulang tiga tahun terakhir hidup mereka sendiri.
Aku bisa melihatnya terjadi. Wajah demi wajah.
Rekor yang pecah. Ujian yang lulus tipis. Hari-hari waktu badannya kebetulan enak. Sesuatu yang berat yang ternyata bisa diangkat.
Seribu orang, dalam waktu bersamaan, sedang memeriksa apakah hidup mereka masih milik mereka.
Sakuraba Ren berdiri.
Dia berdiri di tengah aula, tanpa izin, dan suaranya pecah di kata ketiga.
“Itu bohong.”
“Sakuraba—” kata seseorang.
“ITU BOHONG.” Dia menunjuk ke podium, lalu ke grafik, lalu ke arahku, lalu tangannya turun karena dia sendiri tidak tahu harus menunjuk apa. “Aku latihan. Aku latihan tiap hari. Aku bangun jam lima. Aku—”
Suaranya berhenti.
Dan aku melihat wajahnya, dan aku tahu persis apa yang sedang terjadi di kepalanya, karena aku sudah memperkirakannya selama tiga tahun dan itulah tepatnya alasan aku diam.
Sakuraba Ren tier A-minus.
Sakuraba Ren yang sering salah rapal, yang membakar bendera party-nya sendiri, yang menyusun surat pembelaan dua halaman soal insiden sup.
Sakuraba Ren yang, di Vellmoor, di celah selebar dua belas meter, merapal bola api demi bola api tanpa satu pun yang salah, dan yang di gang pelabuhan merapal empat kali berturut-turut setelah mananya habis.
Dia berdiri di tengah aula dengan tangan yang sudah turun dan tidak menyelesaikan kalimatnya.
Lalu dia duduk.
Dan dia tidak bicara pada siapa pun selama enam hari.
Keempat, dan yang terakhir:
Seseorang di barisan belakang bertanya, cukup keras, dengan nada yang bukan marah dan bukan berterima kasih tapi betul-betul cuma bingung:
“Kalau dia bisa dari dulu, kenapa nggak bilang?”
Dan seribu orang menunggu jawabannya.
Aku tidak berdiri. Tidak ada yang menyuruhku berdiri. Tuan Sarel bahkan tidak melihat ke arahku sepanjang seluruh acara — dia menyampaikan laporan, dan laporannya sudah selesai.
Tapi aku tahu pertanyaan itu untukku.
Dan aku duduk di kursi paling pinggir dekat dinding, dengan tangan seseorang di atas tanganku, dan aku menyadari bahwa aku punya jawaban yang benar dan lengkap dan tidak satu pun bagiannya bisa diucapkan di ruangan itu.
Empat orang yang tidak mati tua. Nomor inventaris tujuh-C. Enam puluh halaman gambar organ. Dua puluh tiga benang di jalur hutan Amberfell. Setengah langkah.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Dan hening yang mengikuti pertanyaan itu adalah hal terburuk yang terjadi hari itu, jauh lebih buruk daripada grafiknya, jauh lebih buruk daripada delapan detik waktu seribu orang mencariku dan tidak menemukan.
Karena hening itu terdengar persis seperti seribu orang yang menyimpulkan sesuatu.
Dan di tengah hening itu, sesuatu terjadi yang tidak ada hubungannya denganku.
Seseorang di barisan kelas dua-C berkata, cukup keras untuk terdengar sekitarnya, tapi tidak untuk seluruh aula:
“Karena kalau dia bilang, dia bakal dibawa.”
Aku menoleh.
Amamiya Koharu duduk tegak di kursinya, memandang lurus ke depan, dengan wajah yang sama sekali tidak seperti wajah yang biasa dia pakai.
“Kalian nggak baca sejarah, ya,” katanya. Suaranya biasa. Tidak marah. “Orang yang berguna banget buat kerajaan itu nggak dikasih penghargaan. Dia dikasih tempat tinggal yang nggak boleh dia tinggalkan.”
Beberapa orang menoleh ke arahnya.
Dan di sinilah hal itu terjadi — hal yang, menurut Hoshimiya kemudian, memberi tahu seluruh ruangan lebih banyak daripada seluruh laporan Tuan Sarel.
Amamiya Koharu tidak terkejut.
Tidak sedikit pun. Tidak di detik pertama, tidak waktu grafiknya diangkat, tidak waktu namaku disebut.
Dan tiga puluh orang di barisan kelas dua-C, yang sudah tiga tahun duduk di ruangan yang sama dengannya, menyadari itu semua bersamaan.
Tsukumo Daichi menoleh ke arahnya dengan mulut terbuka.
“...Koharu, kamu tahu?”
Amamiya tidak menjawab.
Dia cuma menoleh ke arahku, dan tersenyum, dan senyumnya adalah senyum yang sama persis dengan senyum yang dia pakai waktu meletakkan kotak bekal di mejaku tanpa melihat.
“Kanzaki,” katanya. “Nanti kacang merahnya jangan lupa dimakan ya.”
[Bersambung — Bab 34: Ayunan Ketiga]