Chapter Forty Eight
Ikuti Kami
[POV: Hoshimiya Shion]
Catatan harian penjaga menara selatan, tahun keenam belas.
Ditulis oleh seorang laki-laki yang namanya tidak tercatat di mana pun, di antara laporan cuaca dan daftar persediaan gandum, tentang hal yang menurutnya tidak penting.
Aku menyalinnya kata per kata di buku catatan hitamku yang ketiga, dan aku akan menyalinnya lagi di sini, karena ini satu-satunya kutipan dalam seluruh catatanku yang tidak kuringkas.
Hari ini dia bertanya lagi apakah jendelanya boleh dibuka. Saya jawab tidak. Dia bilang tidak apa-apa, seperti biasa.
Malamnya saya duduk di luar pintunya seperti biasa dan tidak ada yang saya kerjakan, jadi saya bicara sendiri. Saya bilang terima kasih. Saya bilang anak saya di garnisun timur pulang bulan lalu dengan utuh dan saya tahu itu bukan kebetulan.
Saya tidak tahu apakah dia dengar. Pintunya tebal.
Tapi pagi ini tabib bilang angkanya naik untuk pertama kalinya dalam empat tahun.
Saya tidak tahu apakah ada hubungannya. Saya bukan tabib. Saya catat saja.
Aku membaca paragraf itu di lantai empat perpustakaan pukul dua pagi di hari kedua puluh delapan, dan aku duduk di sana sekitar empat puluh menit tanpa bergerak.
Lalu aku mulai mencari mundur.
Dan begitu kamu tahu apa yang kamu cari, kamu menemukannya di mana-mana.
Pemegang pertama, Aldric Venn. Mati usia tiga puluh satu. Catatan tabibnya: enam bulan terakhir hidupnya, tidak pernah benar-benar tidur, dan mengeluh bahwa ruangan selalu terasa penuh walaupun dia sendirian.
Aku selalu membaca kalimat itu sebagai gejala.
Bukan gejala.
Laporan yang sama menyebutkan bahwa Aldric Venn memimpin pertahanan tiga kota, dan bahwa setelah perang selesai dia dipindahkan ke kediaman pribadi di luar ibu kota, atas nama istirahat.
Sendirian.
Ruangan selalu terasa penuh — dan enam bulan kemudian dia mati, dan ruangan itu memang penuh, karena dia masih terhubung ke tiga kota yang tidak pernah tahu dan tidak pernah mengembalikan apa pun.
Pemegang keempat, Mira Solvane. Meninggal setelah Selat Havren. Enam puluh halaman pembedahan.
Aku membaca ulang seluruh enam puluh halaman itu di hari kedua puluh sembilan, dan aku menemukan satu baris di halaman lima puluh satu yang tidak pernah kuperhatikan karena letaknya di catatan kaki.
Subjek bertahan sebelas hari setelah pertempuran. Selama sebelas hari tersebut, pasukan yang diselamatkannya dipindahkan ke garnisun lain sesuai jadwal rotasi.
Sebelas hari.
Mereka memindahkan empat ribu orang menjauh darinya, satu per satu, sesuai jadwal, dan dia mati di hari kesebelas.
Aku menyusun teorinya di hari ketiga puluh, dan aku menyusunnya seperti biasa: dengan tabel, dengan kolom, dengan angka.
Dan begitu selesai, aku duduk di ruang kesehatan pukul dua pagi dan menyadari bahwa aku sudah menuliskan hal yang sama sepuluh bulan lalu, di ruang latihan lantai dua, tanpa mengerti apa yang kutulis.
Benang ini cuma satu arah untuk yang berat.
Itu yang dia bilang.
Dan itu benar.
Dia cuma tidak pernah bilang bahwa benang itu satu arah untuk yang berat, dan bahwa ada arah yang lain, dan bahwa arah yang lain tidak pernah dipakai karena tidak ada satu pun dari empat pemegang sebelumnya yang pernah punya empat ribu orang yang tahu namanya.
Kelas 《導》 tidak bisa mengambil.
Kelas 《導》 cuma bisa menerima.
Dan tidak ada satu orang pun dalam dua ratus tahun yang pernah memberi.
Aku menyampaikannya pada Adipati Valdrein pada hari ketiga puluh, pukul sepuluh pagi, di ruang peta yang masih penuh reruntuhan.
Aku menyampaikannya dengan tabel, dengan tiga buku catatan, dan dengan suara yang datar, karena kalau aku tidak datar aku tidak akan sampai ke kalimat kedua.
Dia mendengarkan selama dua puluh menit tanpa memotong.
Lalu dia bertanya satu hal.
“Berapa orang yang dibutuhkan?”
“Saya tidak tahu, Tuan.”
“Perkiraan.”
“Saya tidak punya dasar untuk memperkirakan,” kataku. “Penjaga menara itu satu orang, dan efeknya terukur — angkanya naik untuk pertama kalinya dalam empat tahun. Tapi saya tidak tahu berapa besar naiknya, karena penjaga itu bukan tabib dan tidak mencatat angkanya.”
“Jadi bisa satu orang.”
“Bisa satu orang. Bisa seratus ribu.”
Valdrein melihat peta di depannya cukup lama.
“Dan apa yang harus mereka lakukan?”
Dan di sinilah aku harus mengucapkan bagian yang paling tidak masuk akal dari seluruh teoriku, dan aku sudah menyiapkan diri untuk ditertawakan.
“Mereka harus mengucapkannya, Tuan.”
“Mengucapkan apa?”
“Apa pun yang benar,” kataku. “Penjaga menara itu bilang terima kasih. Dia bilang anaknya pulang dengan utuh dan dia tahu itu bukan kebetulan.”
Aku menutup buku catatanku.
“Kelas ini tidak bekerja pada orang yang terpaksa. Tuan sendiri yang bilang begitu. Saya rasa itu berlaku dua arah.”
Valdrein tidak menertawakannya.
Dia berdiri, berjalan ke jendela, dan melihat ke arah alun-alun pusat yang masih berupa batu pecah.
“Hoshimiya Shion,” katanya.
“Ya, Tuan.”
“Saya akan bertanya sekali dan saya ingin jawaban yang jujur, bukan jawaban yang sopan.” Dia berbalik. “Berapa persen kemungkinan teori Anda benar?”
Aku sudah menghitungnya. Tentu saja aku sudah menghitungnya.
“Di bawah tiga puluh persen, Tuan.”
“Terima kasih,” katanya.
Lalu dia memanggil sekretarisnya.
Pengumuman itu dibacakan di seluruh Ibu Kota Astel pada sore hari ketiga puluh.
Aku tidak menulisnya. Valdrein yang menulisnya, sendirian, dan dia menunjukkannya padaku sebelum dicetak dan bertanya apakah ada yang salah, dan aku bilang tidak ada.
Isinya pendek. Empat paragraf.
Paragraf pertama menjelaskan apa yang terjadi di alun-alun pusat pada hari keempat, secara teknis, tanpa dilebih-lebihkan.
Paragraf kedua menjelaskan bahwa selama tiga tahun terakhir, seluruh Akademi Astel — dan, berdasarkan pengukuran ulang, sebagian besar distrik tengah ibu kota — telah beroperasi di seratus persen kemampuan tanpa mengetahuinya.
Paragraf ketiga menjelaskan bahwa orang tersebut belum sadar selama tiga puluh hari, dan bahwa penyebabnya kemungkinan bukan luka.
Paragraf keempat berbunyi begini:
Besok pagi, pukul enam, alun-alun pusat akan dibuka.
Tidak ada yang diwajibkan hadir. Tidak akan ada pencatatan kehadiran, dan tidak akan ada konsekuensi apa pun bagi yang tidak datang.
Bagi yang datang, tidak ada yang perlu dibawa dan tidak ada yang perlu dilakukan selain mengucapkan sesuatu yang benar.
Kemungkinan berhasilnya di bawah tiga puluh persen. Angka itu diberikan oleh orang yang menyusun teorinya, dan saya memutuskan untuk mencantumkannya karena saya tidak berniat meminta apa pun dari kota ini dengan cara yang tidak jujur.
— Valdrein, Biro Aset Perang
Aku tidak tidur malam itu.
Aku duduk di kursi di samping ranjang dan menghitung denyutnya seperti biasa. Enam puluh empat. Napas empat belas per menit, rata, sempurna.
Sekitar pukul tiga, Amamiya Koharu masuk.
Dia tidak pernah datang jam segitu.
Dia membawa kotak. Bukan yang biasa — yang lebih besar, kain pembungkusnya biru.
“Berapa orang yang bakal dateng?” tanyanya.
“Aku tidak tahu.”
“Tebak.”
“Aku tidak menebak.”
“Sekali aja.”
Aku memikirkannya.
“Empat ribu seratus dua puluh,” kataku. “Mereka yang paling mungkin. Mereka yang ada di sana.”
Amamiya menaruh kotak itu di meja.
“Salah,” katanya.
“Kamu tahu berapa?”
“Enggak.” Dia tersenyum. “Aku cuma tahu kamu salah.”
Pukul enam pagi, hari ketiga puluh satu.
Aku tidak ke alun-alun.
Itu keputusan yang kuambil semalam dan aku tidak pernah menyesalinya. Aku harus ada di ruangan ini. Kalau ada yang berubah, aku harus melihatnya — aku satu-satunya yang bisa melihat benangnya, dan kalau tidak ada yang mengukur, seluruh hal ini jadi sia-sia bahkan kalau berhasil.
Jadi aku berdiri di jendela ruang kesehatan lantai dua, yang menghadap ke selatan, ke arah kota.
Dan aku memakai Kansokugan.
Empat ribu seratus dua puluh benang, tipis, sebagian berserabut, menyebar ke seluruh ibu kota.
Pukul enam kurang sepuluh, tidak ada yang berubah.
Pukul enam lewat dua, ada satu benang yang berubah warna.
Aku hampir tidak melihatnya. Aku sudah menatap benang-benang itu selama tiga malam berturut-turut dan aku hafal bentuknya, dan yang berubah cuma satu, di arah barat daya, ke arah asrama akademi.
Bukan berubah warna, sebenarnya. Aku tidak punya kata yang tepat.
Selama tiga puluh satu hari, semua benang itu mengalir keluar dari ruangan ini.
Yang satu itu berbalik.
Aku tahu siapa itu.
Aku tahu persis siapa, karena arah barat daya dari ruang kesehatan adalah kamar nomor sebelas asrama putra, dan karena aku tahu siapa yang berlutut di depan pintu kamar itu pukul enam pagi tanpa pergi ke alun-alun sama sekali.
Kuroba Jin berlutut duluan.
Untuk kedua kalinya.
Dan sama seperti yang pertama, dia melakukannya bukan di depan orang banyak — dia melakukannya di tempat di mana tidak ada yang melihat, lebih awal daripada yang lain, supaya kalau ternyata konyol, dia yang paling konyol dan bukan orang lain.
Aku tidak pernah memberitahunya bahwa aku melihat.
Aku menulisnya di sini.
Pukul enam lewat delapan.
Delapan benang berbalik sekaligus.
Kelas 2-C. Aku tahu karena arahnya, dan karena mereka sudah berjanji akan berangkat bersama, dan karena Tsukumo Daichi tidak bisa diam.
Pukul enam lewat sebelas.
Sekitar empat ratus.
Pukul enam lewat lima belas.
Aku berhenti menghitung.
Dan aku ingin mencatat bahwa aku berhenti menghitung bukan karena terharu, dan bukan karena tidak sanggup.
Aku berhenti menghitung karena tidak bisa.
Karena pukul enam lewat lima belas pagi, di seluruh Ibu Kota Astel, benang-benang itu berbalik lebih cepat daripada kecepatan aku bisa mengikutinya dengan mata.
Aku tahu apa yang terjadi di alun-alun dari cerita orang lain, karena aku tidak ada di sana.
Ini yang mereka ceritakan.
Empat ribu seratus dua puluh orang datang, dan itu memang sudah diperkirakan.
Yang tidak diperkirakan adalah sisanya.
Pedagang dari distrik tengah. Kuli pelabuhan — dua puluh orang dari gang antara gudang tujuh dan gudang delapan, yang datang bersama-sama karena salah satu dari mereka mengingat sesuatu tentang hari itu dan menceritakannya pada yang lain semalam.
Anak-anak akademi tahun pertama. Seluruhnya. Termasuk yang sudah lulus dan sudah pindah ke garnisun dan naik kuda sepanjang malam.
Seorang perempuan dari distrik selatan yang membawa anak berumur lima tahun, yang bercerita pada siapa pun yang mau mendengar bahwa dua tahun lalu dia terjebak di bawah kios kain dan orang-orang mengangkat balok itu enam kali dan pada kali keenam berhasil, dan bahwa dia tidak pernah tahu kenapa yang keenam berbeda.
Delapan puluh ribu orang, kata laporan resmi.
Aku tidak percaya angka itu. Tidak ada yang menghitung. Mereka cuma mengarang angka yang terdengar masuk akal.
Yang mereka ucapkan tidak seragam.
Itu bagian yang paling penting, dan Valdrein sengaja tidak menyiapkan kalimat resmi, dan aku setuju dengan keputusan itu walaupun waktu itu aku takut sekali.
Ada yang bilang terima kasih. Ribuan orang, cuma itu.
Ada yang menyebutkan hal-hal spesifik. Rekorku bulan Maret. Adikku lulus ujian kualifikasi. Aku pulang dari Vellmoor.
Ada yang tidak tahu harus bilang apa dan akhirnya cuma menyebutkan namanya sendiri.
Ada anak berumur delapan tahun yang bertanya keras-keras pada ibunya apa yang harus dia ucapkan, dan ibunya bilang “bilang aja yang bener”, dan anak itu bilang “aku nggak kenal”, dan itu tercatat di tiga laporan berbeda karena orang-orang di sekelilingnya mendengarnya dan tertawa dan menangis pada waktu yang sama.
Dan sekitar pukul setengah tujuh, Tsukumo Daichi — yang menangis, tentu saja — berteriak sesuatu dari tengah alun-alun.
Dua kata.
Yang dia teriakkan adalah baris terakhir rapalan yang sudah didengar empat ribu orang di alun-alun itu tiga puluh satu hari sebelumnya, dan yang dibalik.
“IKUTI KAMI.”
Dan delapan puluh ribu orang mengulanginya.
Tidak rapi. Tidak serempak. Sebagian ketinggalan setengah baris, sebagian salah ucap, anak-anak berteriak lebih keras dari orang dewasa karena anak-anak selalu begitu.
Berulang-ulang, selama sekitar dua puluh menit, sampai suaranya sampai ke ruang kesehatan lantai dua di akademi, tiga kilometer dari alun-alun pusat.
Aku mendengarnya dari jendela.
[POV: Kanzaki Rei]
Aku sudah pernah membaca sesuatu di duniaku sendiri tentang orang yang tenggelam.
Katanya, yang paling berbahaya bukan air. Yang paling berbahaya adalah kalau kamu kehilangan arah — kalau kamu tidak lagi tahu yang mana atas dan yang mana bawah, kamu bisa berenang sekuat tenaga ke arah yang salah.
Aku tidak tahu ada di mana selama tiga puluh satu hari.
Aku bukan tidak sadar. Itu bagian yang tidak pernah bisa kujelaskan pada sembilan tabib yang bertanya. Aku tidak tidur; aku juga tidak bangun. Aku ada di suatu tempat yang tidak punya arah dan tidak punya waktu, dan aku tidak merasa takut, dan itu yang paling buruk.
Aku tidak merasa apa-apa.
Aku ingat berpikir — kalau itu bisa disebut berpikir — bahwa aku sudah pernah begini sebelumnya.
Tiga tahun. Duduk di kursi paling belakang dekat jendela. Ada di ruangan dan tidak ada di ruangan.
Dan aku ingat berpikir bahwa aku sudah terbiasa, dan bahwa ini tidak apa-apa, dan bahwa aku bisa tinggal di sini.
Lalu ada yang memanggil.
Bukan namaku. Itu yang aneh. Aku sudah mencoba mengingatnya berkali-kali dan aku yakin tidak ada yang memanggil namaku.
Yang datang lebih seperti arah.
Satu, dulu. Dari sebelah kiri, kalau di tempat itu ada kiri. Dan aku ingat berpikir bahwa itu tidak masuk akal karena tidak ada apa-apa di sana.
Lalu delapan.
Lalu terlalu banyak untuk dihitung, dan aku selalu bisa menghitung, dan untuk pertama kalinya aku tidak bisa.
Dan sesuatu menarik.
Aku sudah menghabiskan tiga tahun menarik orang. Empat ribu seratus dua puluh benang di alun-alun pusat. Dua puluh tiga di jalur hutan Amberfell.
Aku belum pernah sekali pun berada di ujung yang satunya.
Ternyata rasanya begini.
Ternyata rasanya seperti seseorang menyalakan lampu di ruangan yang sudah lama sekali gelap sampai kamu lupa bahwa gelap itu ada namanya.
Yang pertama kembali adalah suara.
Sesuatu dari jauh, banyak, tidak rapi, seperti ribuan orang yang salah ucap bersamaan.
Yang kedua adalah rasa sakit.
Semuanya sekaligus. Rusuk, punggung, kedua tangan, sesuatu di belakang mata.
Dan aku ingin mencatat, dengan sangat jelas, apa yang kulakukan waktu rasa sakit itu datang.
Aku menangis.
Bukan karena sakit — walaupun sakit sekali, dan aku tidak akan berpura-pura.
Aku menangis karena selama tiga puluh satu hari aku ada di tempat yang tidak ada apa-apanya, dan hal pertama yang membuktikan bahwa aku kembali adalah punggungku yang nyeri.
Aku tidak pernah tahu bahwa nyeri itu kabar baik.
Yang ketiga adalah tangan.
Ada tangan di tanganku waktu aku membuka mata.
Bukan pergelangan.
[Bersambung — Bab 49: Pemulihan]