← Zero Thread

Chapter Twelve

Tiga Hari

[POV: Kanzaki Rei]

Dia tidak memindahkan bangkunya kembali.

Itu bagian yang paling membingungkan.

Aku sudah menyiapkan diri untuk melihat mejanya kosong pagi itu, atau dipindahkan ke depan, atau ke sisi lain ruangan. Aku sudah memikirkan bagaimana caraku bersikap kalau itu terjadi — mana yang lebih baik, pura-pura tidak sadar atau mengangguk sekali seperti orang dewasa.

Ternyata tidak perlu.

Dia datang pukul tujuh seperti biasa. Duduk di bangku yang sama. Mengeluarkan buku yang sama.

Dan tidak mengatakan apa-apa.


Hari pertama, aku pikir dia cuma sedang tidak ingin bicara, yang mana normal untuknya.

Guru bertanya sesuatu, dia menjawab. Ada anak yang meminjam catatan, dia meminjamkan. Waktu makan siang, dia duduk di meja yang sama dengan Amamiya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Amamiya dengan dua atau tiga kata seperti biasanya.

Semua normal.

Yang tidak normal adalah tidak ada satu pun kalimat yang ditujukan padaku.

Bukan didiamkan dengan sengaja — dia tidak membuang muka, tidak menghindari tatapan, tidak melakukan hal-hal kecil menyebalkan yang biasanya orang lakukan waktu sedang marah. Kalau aku menyerahkan lembar absen, dia menerimanya. Kalau aku bergeser supaya dia bisa lewat, dia lewat.

Dia cuma tidak bicara.

Dan aku baru sadar, sekitar pukul dua siang, bahwa selama ini akulah yang tidak pernah memulai. Semua percakapan kami dalam dua minggu terakhir dimulai olehnya. Setiap satu.

Jadi kalau dia berhenti, tidak ada yang tersisa.


Hari kedua, trio itu menyadarinya.

“Kanzaki.” Tsukumo menghampiri mejaku waktu istirahat dengan wajah orang yang sedang menangani krisis nasional. “Kalian berantem ya?”

“Nggak.”

“Bohong. Aku sensitif soal beginian.”

“Kamu nangis waktu lihat awan minggu lalu.”

“ITU AWANNYA MEMANG BAGUS.”

Sakuraba muncul dari belakangnya, menyibak poni. “Sudah kubilang. Dua entitas dengan perbedaan potensi sebesar itu tidak mungkin stabil dalam jangka panjang. Ini murni termodinamika.”

“Kamu nggak lulus teori dasar semester lalu,” kata Isuzu, yang sedang menggendong Mochi.

“Itu karena soalnya ambigu.”

“Kamu jawab ‘api’ untuk semua nomor.”

“Itu strategi.”

Mereka pergi setelah beberapa menit, setelah gagal mendapatkan informasi apa pun, dan Tsukumo sempat menepuk bahuku dua kali dengan kekuatan yang tidak dia sadari terlalu besar.

Aku duduk di sana dan menyadari sesuatu yang aneh: dua minggu lalu, tidak satu pun dari mereka akan menghampiri mejaku untuk urusan apa pun.


Amamiya tidak bertanya sama sekali.

Dia meletakkan kotak bekal seperti biasa, bicara tentang hal-hal tidak penting seperti biasa, dan tidak menyinggung Hoshimiya sekali pun sepanjang dua hari itu.

Yang dia lakukan cuma satu hal.

Hari kedua, kotak keduanya — yang biru, yang untuk Hoshimiya — tetap dia letakkan di meja. Bukan di tanganku, bukan di tangan Hoshimiya. Di tengah meja, di antara kami berdua.

Lalu dia pergi tanpa berkata apa-apa soal itu.

Hoshimiya mengambilnya, memakannya sampai habis, dan mengembalikan kotaknya ke Amamiya sore hari sambil bilang terima kasih.

Aku tidak tahu apakah itu strategi Amamiya atau kebetulan.

Sekarang, kalau kupikir-pikir lagi, aku cukup yakin Amamiya Koharu tidak pernah melakukan apa pun secara kebetulan.


Hari kedua malam, aku menyadari betapa banyak yang sudah berubah dalam dua minggu, dan betapa cepat aku terbiasa.

Aku berhenti di anak tangga kedelapan belas, seperti biasa.

Dan aku menunggu.

Aku berdiri di situ selama mungkin lima detik sebelum sadar apa yang sedang kulakukan.

Aku sedang menunggu ada yang berkata “kamu berhenti dua kali.”

Tidak ada. Tangganya kosong. Tentu saja kosong.

Aku naik ke atas dan tidak berhenti di anak tangga ketiga puluh tujuh, karena aku memaksa diri untuk tidak berhenti, dan sampai di kamar dengan pandangan yang menyempit di pinggir selama hampir satu menit.

Bodoh sekali. Aku tahu itu bodoh sambil melakukannya.


Malam itu aku membuka buku cokelat dan menulis:

Hari ke-1.118. Radius stabil. Tidak ada gejala baru.

Aku menatap baris itu.

Lalu aku menulis di bawahnya:

Dua minggu itu terlalu cepat untuk jadi kebiasaan.

Lalu, karena aku memang belum tidur dan tidak sedang dalam kondisi terbaik untuk menilai apa yang layak ditulis:

Aku salah bicara. Aku tahu waktu mengucapkannya bahwa aku salah bicara. Aku tetap mengucapkannya.

Aku memandanginya cukup lama, lalu menutup bukunya tanpa menghapus apa pun.


Hari ketiga, aku mencoba menyusun permintaan maaf.

Ini terdengar sederhana. Ternyata tidak.

Masalahnya bukan kalimatnya. Aku sudah menyusun sekitar sembilan versi di kepalaku waktu pelajaran teori, dan semuanya benar secara isi.

Masalahnya adalah setiap versi mengandung asumsi yang sama: bahwa aku punya tempat untuk berdiri waktu mengucapkannya.

Maaf soal yang kemarin — kemarin yang mana, kalimat yang mana, dan kenapa aku merasa berhak menentukan bagian mana yang perlu diminta maaf.

Aku nggak bermaksud begitu — bohong. Aku bermaksud begitu waktu mengucapkannya. Yang tidak kumaksudkan adalah akibatnya.

Kamu benar — ini yang paling jujur, dan justru ini yang paling tidak bisa kuucapkan, karena kalau aku bilang dia benar, artinya aku setuju untuk berhenti diam. Dan aku belum siap untuk itu. Aku bahkan tidak tahu apakah aku akan pernah siap.

Jadi aku tidak mengucapkan satu pun dari sembilan versi itu.

Aku duduk di sebelahnya selama enam jam pelajaran, dan setiap kali aku hampir membuka mulut, aku menemukan alasan baru untuk menunggu satu menit lagi.

Enam jam terdiri dari tiga ratus enam puluh menit.


Sore hari ketiga, aku pergi ke lapangan.

Latihan angkatan bawah sedang berlangsung. Anak-anak tahun pertama, sekitar empat puluh orang, sedang dilatih formasi dasar oleh dua instruktur.

Aku biasanya duduk di tangga batu di pinggir. Jaraknya dari titik tengah lapangan sekitar dua puluh dua meter — masih di dalam radius aman, dan aku memilih tempat itu tiga tahun lalu justru karena angkanya pas.

Hari itu aku tidak duduk di tangga batu.

Aku berjalan lebih dekat. Berdiri di tepi lapangan, di belakang garis kapur, sekitar delapan meter dari mereka.

Tidak ada yang menyadari. Kenapa juga harus.

Aku berdiri di situ sekitar satu jam, sampai latihan selesai, dan tidak melakukan apa pun yang bisa dilihat siapa pun.

Yang berubah cuma satu: dari delapan meter, aku bisa mendengar mereka bernapas.

Aku bisa mendengar anak yang tombaknya kepanjangan itu — yang di Sarang Bawah, yang jatuh lalu berdiri lagi — mengeluh pelan pada temannya bahwa lengannya sakit dari kemarin dan dia takut tidak lulus ujian kualifikasi minggu depan.

Aku mendengar temannya bilang tidak apa-apa, kita latihan bareng nanti malam.

Aku berdiri di sana dan mendengarkan semuanya.

Berdiri lebih dekat, katanya.


Malamnya, waktu aku kembali ke asrama, aku berhenti di anak tangga kedelapan belas dan di anak tangga ketiga puluh tujuh, dua-duanya, seperti biasa.

Tidak ada yang menghitung.

Dan pukul empat pagi keesokan harinya, waktu aku membuka pintu kelas 2-C dengan lap kering di tangan, lampu paling ujung sudah menyala lagi.


[Bersambung — Bab 13: Jam Empat Pagi]