Chapter Eight
Yang Tidak Ada di Peta
[POV: Kanzaki Rei]
Dua hari pertama berjalan persis seperti yang dijanjikan.
Lantai satu isinya lorong batu yang lebar dan monster kelas rendah yang bahkan tidak repot-repot menyerang duluan. Lantai dua sedikit lebih sempit dan lebih gelap. Kami membunuh sekitar dua belas Ashgrave Hound — anjing tanpa bulu dengan kulit warna abu yang gerakannya kaku — dan Tsukumo menangis dua kali, satu karena terharu sudah bertarung sungguhan, satu lagi karena kakinya kena batu.
Aku membawa tas. Aku memasang lentera. Aku mencatat.
Dan aku berdiri di tempat yang bisa melihat semua orang sekaligus, setiap saat, tanpa satu pun dari mereka bertanya kenapa aku selalu berdiri di situ.
Malam kedua kami berkemah di ruang aman lantai dua bersama empat party lain. Api unggun, ransum kering, Sakuraba yang mencoba memanaskan sup dengan sihir dan malah menguapkannya seluruhnya.
“Itu sup buat delapan orang.”
“Itu eksperimen.”
“Itu sup buat DELAPAN ORANG, Ren.”
Amamiya membagi bekalnya sendiri ke semua orang, dan entah bagaimana cukup, yang mana secara matematis tidak masuk akal dan aku memutuskan untuk tidak menghitungnya.
Hoshimiya duduk agak jauh dari api, memoles pedangnya. Aku duduk lebih jauh lagi, di batas cahaya.
Dia pindah ke sebelahku sekitar sepuluh menit kemudian tanpa bilang apa-apa, dan kami duduk begitu sampai apinya mengecil.
Itu hari yang bagus.
Aku ingin mencatat itu dulu, sebelum bagian berikutnya, karena hari berikutnya bukan hari yang bagus.
Lantai tiga dimulai pukul sembilan pagi.
Peta bilang: satu lorong utama, empat cabang, satu ruang besar di ujung, jalan keluar melingkar kembali ke tangga.
Peta itu berumur enam puluh tahun. Itu bukan masalah — struktur dungeon tidak berubah. Yang berubah cuma isinya.
Kami masuk cabang ketiga sekitar pukul sebelas. Party Kuroba masuk lebih dulu, sekitar sepuluh menit di depan kami, dan party tahun pertama masuk paling belakang bersama seorang instruktur pendamping.
Jadi ada tiga kelompok di lorong yang sama, terpisah jarak, dengan satu instruktur di paling belakang.
Aku ingat menghitung: tiga kelompok, tujuh belas orang, satu instruktur.
Aku selalu menghitung. Aku tidak bisa berhenti melakukannya sejak Amberfell.
Yang pertama menyadari ada yang salah adalah Mochi.
Dia berhenti berjalan. Bukan tidur — berhenti, berdiri, telinganya yang biasanya terlipat itu berdiri tegak.
Isuzu langsung berhenti juga. “Eh.”
“Kenapa?”
“Dia nggak pernah begitu.”
Lalu lantainya bergetar.
Bukan gempa. Getaran pendek, satu kali, seperti ada sesuatu yang jatuh di kejauhan.
Lalu suara.
Kalau kamu pernah mendengar seratus ekor anjing menggonggong sekaligus di dalam gua batu, kamu akan tahu suaranya seperti apa. Kalau belum, deskripsi terbaik yang bisa kuberikan adalah: suaranya tidak berhenti. Itu yang paling salah darinya. Gonggongan biasa punya jeda. Ini tidak.
“Itu... berapa banyak?” tanya Tsukumo.
Hoshimiya sudah menarik pedangnya. “Terlalu banyak.”
Yang terjadi setelah itu terjadi cepat, jadi aku akan menuliskannya seperti yang kualami: berantakan, dan dari belakang.
Sebuah cabang lorong runtuh — bukan runtuh besar, cuma langit-langit di satu titik yang jatuh dan menutup jalur balik ke tangga. Itu jalur pulang kami. Sekarang tidak ada.
Ashgrave Hound keluar dari cabang keempat. Bukan dua belas. Aku berhenti menghitung di angka empat puluh.
Instruktur pendamping ada di paling belakang, di sisi lain reruntuhan. Aku mendengar suaranya berteriak sesuatu, tapi batunya terlalu tebal dan yang sampai cuma nada, bukan kata.
Party tahun pertama ada di tengah.
Enam anak, umur lima belas, yang tiga hari lalu masih bangga karena berhasil membunuh satu Hound dengan bertiga.
Mereka membeku.
Itu hal yang paling wajar di dunia, dan juga hal yang paling berbahaya di dunia.
Aku sudah mengeluarkan kartu darurat sebelum aku sadar tanganku bergerak.
Aku mematahkannya. Bunyinya kecil, kering, hampir tidak terdengar di tengah semua itu.
Empat menit.
Aku ingat berpikir sangat jernih: empat menit terlalu lama.
Kuroba dan party-nya sudah berbalik dan berlari ke arah kami dari depan. Hoshimiya sudah bergerak ke arah anak-anak tahun pertama. Amamiya menancapkan perisainya di celah lorong dan berteriak supaya semua orang mundur ke belakangnya.
Dan di belakang mereka semua, aku berdiri sambil memegang tas berisi tali dan lentera.
Aku menghitung.
Tujuh belas orang. Jarak terjauh sekitar empat puluh meter. Radius aman standarku dua puluh lima.
Aku bisa menjangkau sembilan orang tanpa terasa apa-apa.
Untuk tujuh belas, aku harus melebarkannya sampai lima puluh.
Aku tidak tahu apa yang terjadi kalau aku melebarkannya sampai lima puluh. Aku belum pernah mencobanya. Aku tidak pernah punya alasan, dan aku selalu punya alasan untuk tidak.
Salah satu anak tahun pertama jatuh. Yang perempuan, yang kurus, yang tombaknya terlalu panjang.
Aku melebarkannya.
Tidak ada yang meledak. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara.
Dari luar, yang terjadi adalah: seorang anak laki-laki bertier nol berdiri diam di belakang lorong sambil memegang tas.
Dari dalam, yang terjadi adalah seseorang menekan ibu jarinya ke belakang mataku dan menahannya di situ.
Aku tidak jatuh. Itu penting. Kalau aku jatuh, akan ada yang menoleh.
Aku bersandar ke dinding, yang bisa dijelaskan sebagai reaksi wajar orang ketakutan, dan aku menahan diri untuk tidak menyentuh wajahku sendiri walaupun aku yakin ada yang mengalir dari hidungku.
Dan di lorong itu, tujuh belas orang mendadak menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Amamiya menahan tiga Hound sekaligus di perisainya dan tidak mundur sama sekali — nol langkah, padahal dua hari lalu satu Hound membuatnya mundur setengah.
Tsukumo mengayun. Satu, dua, dan ayunan ketiganya — yang selalu lebih lambat, yang selalu jadi celah — datang tepat waktu untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Dia sendiri kelihatan kaget.
Isuzu menyelesaikan rapalan pemanggilan tanpa kehabisan napas di baris keempat, dan Mochi yang muncul kali ini bukan Mochi yang tidur di bawah kursi. Ada gigi di sana. Aku belum pernah melihat giginya.
Anak perempuan tahun pertama yang jatuh itu berdiri lagi, mengangkat tombaknya yang kepanjangan, dan menusuk. Kena. Dia sendiri berteriak kaget karena kena.
Dan Hoshimiya—
Hoshimiya bergerak melewati sembilan Hound dalam satu tarikan napas dan tidak satu pun sempat menyentuhnya.
Dia berhenti di tengah lorong, berbalik, dan aku melihat wajahnya waktu dia menyadari sesuatu.
Bukan wajah kaget karena musuh.
Wajah orang yang barusan berlari lebih cepat dari yang seharusnya bisa dia lakukan, dan tahu persis bahwa itu bukan miliknya.
Dia menoleh ke belakang. Ke arah lorong. Ke arah dinding tempat aku bersandar.
Aku menunduk dan berpura-pura memeriksa tas.
Kesatria datang di menit ketiga lewat empat puluh detik.
Sisanya cepat. Tiga kesatria kerajaan menghadapi empat puluh Ashgrave Hound seperti orang membereskan meja makan.
Tidak ada yang mati. Tidak ada yang luka berat. Satu anak tahun pertama patah jari kelingking dan itu luka terparah sepanjang hari.
Di ruang aman lantai dua, semua orang duduk di lantai dan tertawa dengan cara yang cuma dilakukan orang yang baru saja sangat ketakutan.
“Aku ayunan ketigaku nyampe!” Tsukumo berdiri dan memperagakannya berulang-ulang. “Lihat nggak? Nyampe! Selama ini aku mikir emang segitu!”
“Kamu memang selama ini kelambatan,” kata Isuzu.
“KENAPA NGGAK ADA YANG BILANG?”
Anak-anak tahun pertama mengerumuni Kuroba, karena Kuroba yang berlari dari depan, karena Kuroba yang menebas paling banyak, karena Kuroba yang berdiri di tengah lorong waktu kesatria datang.
Kuroba menerima itu dengan gaya orang membayar parkir.
Instruktur pendamping mengucapkan terima kasih pada Kuroba dua kali. Kirisawa, yang datang belakangan, mencatat nama Kuroba di laporannya.
Dan seseorang di antara anak-anak tahun pertama itu berkata, cukup keras, “Kakak keren banget! Aku juga tadi rasanya kuat banget, kayak—kayak lagi hoki!”
Semua tertawa.
Aku juga.
Aku ikut bertepuk tangan waktu Kirisawa mengangkat nama Kuroba di depan semua orang.
Aku ingin memperjelas bagian ini, karena kalau tidak diperjelas nanti terdengar seperti aku sedang pahit.
Aku tidak pahit.
Aku bertepuk tangan karena aku memang senang. Tujuh belas orang masuk lorong itu dan tujuh belas orang keluar. Anak perempuan kurus dengan tombak kepanjangan itu sedang duduk di sana sekarang, memegang tangannya sendiri yang gemetar, dan tertawa.
Itu satu-satunya angka yang penting.
Dua puluh tiga masuk, dua puluh dua keluar — itu angka yang kubawa selama tiga tahun. Hari ini angkanya utuh. Tujuh belas dan tujuh belas.
Jadi aku bertepuk tangan, dan aku bersungguh-sungguh.
Cuma satu hal yang tidak beres.
Aku bertepuk tangan di barisan paling belakang, dan tangan kananku tidak mau berhenti gemetar, dan aku harus menahannya dengan tangan kiri supaya kelihatan seperti orang yang cuma bersemangat.
Hoshimiya menemukanku di lorong menuju kereta, sendirian, sekitar satu jam kemudian.
Dia tidak bertanya apa-apa.
Dia berhenti di depanku, mengambil sapu tangannya dari saku, dan menyodorkannya.
Aku tidak mengerti sampai aku menyentuh bawah hidungku dan jariku merah.
“Sudah dari tadi,” katanya.
“...Oh.”
“Sejak di lorong.”
Aku mengambil sapu tangan itu.
Kami berdiri di situ agak lama. Dari luar terdengar suara semua orang menaikkan tas ke kereta, Tsukumo yang masih memperagakan ayunan ketiganya, Amamiya yang menghitung kepala.
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Kalau lain kali kamu mau melakukan itu lagi—”
“Aku nggak melakukan apa-apa.”
Dia diam sebentar.
“Oke,” katanya. “Kalau lain kali kamu mau tidak melakukan apa-apa lagi.”
Aku menunggu.
“Berdiri lebih dekat.”
Dia pergi ke kereta.
Aku berdiri di lorong itu memegang sapu tangan orang lain, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
[Bersambung — Bab 9: “Aku Tahu Kamu Bukan Nol”]