Chapter Forty Two
Seratus, Lalu Seribu
[POV: Kanzaki Rei]
Ada satu hal tentang benang yang belum pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk pada Hoshimiya, sampai pagi hari pertama itu.
Aturannya bilang: benang tidak akan mengikat orang yang menahan diri.
Aturan itu benar.
Yang tidak pernah kujelaskan adalah bahwa ada dua cara manusia berhenti menahan diri.
Cara pertama adalah menyerahkan diri dengan sadar. Berdiri, mengucapkannya keras-keras, memilih.
Cara kedua adalah ketakutan yang cukup besar.
Di jalur hutan Amberfell, dua puluh tiga anak SMA tidak mengucapkan apa pun.
Aku memikirkan itu selama tiga tahun. Kenapa berhasil. Kenapa benangnya menempel padahal tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa aku ada, apalagi menyetujui.
Jawabannya baru kudapat sekitar tahun kedua, dan begitu kudapat aku berhenti tidur selama beberapa malam.
Orang yang cukup takut akan menyerah sepenuhnya. Bukan menyerah pada seseorang — menyerah begitu saja, pada apa pun, karena bagian dari otak yang memegang kendali sudah berhenti bekerja.
Dua puluh tiga orang di jalan tanah itu semuanya terbuka.
Tidak satu pun dari mereka memilih.
“Jadi kenapa kamu bersikeras mereka harus mengucapkannya?”
Hoshimiya bertanya itu di halaman akademi, pukul tujuh pagi hari pertama, sambil melihat empat ribu orang yang sedang dikumpulkan dalam blok-blok di lapangan.
“Karena mereka akan tetap terbuka nanti,” kataku. “Waktu benda itu sampai empat ratus meter, semua orang di alun-alun akan cukup takut. Aku bisa mengikat mereka semua tanpa satu kata pun.”
“Terus?”
“Terus aku sudah pernah melakukan itu,” kataku.
Dia diam.
“Sekali,” kataku. “Selama sembilan detik. Dua puluh tiga orang.”
Dan itu satu-satunya penjelasan yang kuberikan, dan itu cukup, dan dia tidak bertanya lagi.
Hari pertama. Sepuluh benang.
Yang kubutuhkan dulu bukan jumlah. Yang kubutuhkan adalah membuktikan bahwa sistemnya bisa dijalankan sama sekali.
Sepuluh orang. Kelas 2-C, party inti, ditambah Kuroba.
Aku menjelaskannya di ruang latihan lantai dua, ke sepuluh orang yang berdiri dalam setengah lingkaran, dan aku menjelaskan semuanya.
Semuanya.
Bahwa tubuh mereka akan bergerak sesuai arahanku. Bahwa mereka akan sadar penuh. Bahwa mereka tidak akan bisa menolak perintah.
Dan bahwa mereka tidak akan bisa melepaskan diri sendiri, dan bahwa satu-satunya cara keluar adalah aku yang melepaskan.
Aku mengucapkan bagian terakhir itu pelan-pelan, dua kali, supaya tidak ada yang salah dengar.
“Kalau ada yang mau mundur,” kataku, “sekarang waktunya. Nggak ada yang akan menganggap kalian pengecut. Aku sendiri yang paling lama mundur di ruangan ini — tiga tahun.”
Hening beberapa saat.
Lalu Kuroba Jin melangkah maju dari barisan.
Aku sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan darinya. Kuroba selalu bertanya.
Yang dia lakukan adalah berlutut.
Satu lutut, di lantai kayu ruang latihan lantai dua, di depan sembilan orang lain dan di depanku.
“Kuroba—”
“Diam dulu.” Dia mengangkat kepala. “Aku sudah menyiapkan ini sejak semalam dan kalau kamu potong aku bakal lupa.”
Dia menarik napas.
“Aku Kuroba Jin. Peringkat dua Akademi Astel.” Suaranya keras dan rata, seperti orang membacakan sumpah, karena memang itu yang sedang dia lakukan. “Aku latihan tujuh jam sehari sejak umur sembilan. Aku nggak pernah nurut sama siapa pun seumur hidupku dan aku bangga soal itu.”
Dia menatapku.
“Aku menyerahkan diriku. Sepenuhnya. Gerakkan aku.”
Aku ingin mencatat kenapa itu penting, karena kalau tidak dijelaskan nanti terdengar seperti adegan biasa.
Kuroba Jin tidak melakukan itu untukku.
Dia melakukannya untuk sembilan orang lain di ruangan itu, dan untuk empat ribu orang di luar sana, dan dia tahu persis apa yang sedang dia kerjakan.
Karena kalau peringkat dua akademi berlutut duluan, sisanya jadi jauh lebih mudah.
Dia orang paling sombong yang pernah kukenal, dan dia berlutut duluan supaya orang lain tidak perlu merasa malu waktu giliran mereka.
Aku belum pernah mengucapkan terima kasih padanya soal itu.
Aku menulisnya di sini.
Sisanya menyusul dalam waktu kurang dari dua menit.
Tsukumo Daichi, sambil menangis, dan dia berkata “Aku menyerahkan diriku, sepenuhnya, gerakkan aku, dan tolong ayunan ketigaku juga ya”.
Isuzu Nono, sambil menguap, dan Mochi ikut duduk di sebelahnya seolah-olah ikut menyerahkan diri, dan aku tidak pernah memastikan apakah makhluk kontrak bisa terikat atau tidak.
Sakuraba Ren mengucapkannya dengan pose. Betul-betul dengan pose. Tangan kanan di depan dada, tangan kiri menunjuk langit, poni disibak. Tidak ada yang tertawa dan itu justru membuatnya lebih baik.
Amamiya Koharu mengucapkannya dengan suara biasa, seperti orang membicarakan tukang roti, dan menambahkan di akhir: “Tapi kalau kamu gerakin aku ke belakang, aku bakal marah.”
“Kenapa ke belakang?”
“Karena aku Guardian,” katanya. “Aku di depan. Titik.”
Aku tidak menjawab.
Aku sudah tahu, sejak Vellmoor, apa artinya dia berdiri di depan.
Sepuluh benang.
Tanganku bertahan empat puluh menit sebelum jari kelingking kanan berhenti menerima perintah.
Tapi berhasil.
Sepuluh orang bergerak dalam formasi dengan presisi yang tidak mungkin, dan Kirisawa Genya berdiri di pinggir ruangan menonton, dan waktu selesai dia tidak mengatakan apa-apa selama sekitar satu menit penuh.
Lalu dia berkata, “Aku sudah dua puluh tahun mengajar formasi.”
“Ya, Pak.”
“Yang barusan itu bukan formasi,” katanya. “Itu satu orang dengan sepuluh badan.”
Hari kedua. Seratus benang.
Dan di sinilah masalah sesungguhnya muncul, dan aku sudah tahu masalahnya sejak tiga tahun lalu.
Sepuluh jari.
Sepuluh jari cuma bisa sepuluh benang, kecuali kamu membagi satu jari untuk banyak orang. Dan begitu kamu membagi, kamu berhenti menghitung mereka satu per satu.
Kamu menghitung rata-ratanya.
Aku menjelaskan ini pada Valdrein dan Kirisawa dan tiga perwira senior di ruang peta, pukul enam pagi hari kedua, dan mereka mendengarkan dengan wajah orang yang tidak mengerti kenapa aku begitu tegang soal masalah teknis kecil.
“Berapa selisih yang bisa ditoleransi?” tanya salah satu perwira.
“Aku nggak tahu,” kataku. “Yang aku tahu, dua belas sentimeter dari rata-rata itu terlalu banyak.”
“Dua belas sentimeter menghasilkan apa?”
Ruangan itu menunggu.
“Setengah langkah,” kataku.
“Saya butuh mereka diurutkan,” kataku.
“Diurutkan bagaimana?”
“Berdasarkan tinggi badan. Lalu berat. Lalu panjang langkah, kalau ada waktu untuk mengukurnya.”
Perwira itu menatapku. “Empat ribu orang?”
“Empat ribu orang.”
“Kanzaki, kita punya tiga hari dan sedang menghadapi—”
“Saya butuh mereka diurutkan,” kataku lagi, dan aku ingat suaraku keluar dengan cara yang membuat ruangan itu diam.
Aku belum pernah memakai suara seperti itu pada siapa pun.
Valdrein mengangkat tangannya sedikit, dan perwira itu berhenti bicara.
“Kenapa?” tanya Valdrein.
Dan aku menatapnya, dan aku sudah memutuskan sejak semalam bahwa aku tidak akan menjelaskan Amberfell pada siapa pun di ruangan ini, tidak pada Adipati, tidak pada perwira, tidak pada risalah rapat.
“Karena rata-rata,” kataku.
Valdrein menunggu kelanjutannya.
Tidak ada kelanjutannya.
Dia menatapku selama mungkin lima detik. Lalu dia berbalik ke perwiranya.
“Urutkan mereka,” katanya.
“Tuan—”
“Berdasarkan tinggi badan, lalu berat,” katanya. “Selesai sebelum tengah malam. Kalau kurang orang, ambil dari Garnisun Timur. Kalau kurang waktu, batalkan patroli sisi barat.”
“Baik, Tuan.”
Valdrein melihat ke arahku sekali lagi sebelum keluar, dan ekspresinya tidak berubah sama sekali, dan aku cukup yakin dia sudah menebak sebagian.
Dia tidak pernah bertanya. Tidak hari itu, tidak sesudahnya, tidak sekali pun seumur hidupnya.
Empat ribu orang berbaris di halaman akademi dan di tiga lapangan sekitarnya, sepanjang hari kedua, diukur satu per satu dengan tongkat kayu bertanda.
Mereka mengeluh. Tentu saja mereka mengeluh. Ada prajurit veteran berumur empat puluh tahun yang harus berdiri di barisan selama tiga jam untuk diukur tingginya seperti anak sekolah, dua hari sebelum kemungkinan besar mati.
Aku mendengar keluhannya. Aku berjalan di antara barisan sepanjang sore.
Aku tidak menjelaskan apa-apa pada siapa pun.
Dan sekitar pukul empat sore, seorang prajurit tua di barisan keenam belas — kumis abu-abu, tangan penuh bekas luka — menghentikanku waktu aku lewat.
“Nak.”
“Ya, Pak.”
“Ini soal seseorang, ya.”
Aku berhenti berjalan.
“Aku sudah tiga puluh tahun di ketentaraan,” katanya. “Perintah bodoh itu ada dua jenis. Yang dari orang yang nggak ngerti, dan yang dari orang yang pernah kehilangan seseorang.”
Dia mengangkat bahu.
“Kamu jenis kedua. Ya sudah. Aku berdiri.”
Dan dia kembali ke barisan.
Aku berdiri di lapangan itu cukup lama sebelum bisa melanjutkan berjalan.
Hari ketiga. Seribu dua ratus benang.
Aku tidak akan menceritakan seluruh hari ketiga karena sebagian besar isinya adalah aku pingsan dan bangun lagi.
Yang bisa kucatat:
Seratus benang: tangan kanan mati total selama empat jam.
Empat ratus benang: mimisan yang tidak berhenti selama empat puluh menit, dan Nyonya Belwen mengancam akan melapor ke Adipati kalau aku mencoba lagi hari itu.
Seribu dua ratus benang, pukul sebelas malam hari ketiga, di lapangan besar, dengan seribu dua ratus prajurit yang sudah mengucapkan kalimat itu satu per satu sepanjang sore.
Seribu dua ratus orang bergerak dalam satu gerakan.
Satu.
Aku melihatnya dari tengah lapangan dan aku ingat berpikir bahwa ini yang paling dekat dengan sesuatu yang indah yang pernah kulakukan seumur hidup.
Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi selama sekitar dua jam.
Aku bangun di ruang kesehatan pukul satu pagi hari keempat.
Hoshimiya duduk di kursi di samping ranjang, seperti sebelumnya, dengan buku catatan hitam di pangkuannya.
“Berapa?” tanyaku.
“Seribu dua ratus.”
“Aku butuh empat ribu.”
“Aku tahu.”
Aku mencoba duduk dan tidak berhasil, jadi aku berbaring lagi.
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Tasmu ada di sini,” katanya.
Aku menoleh.
Dan di pangkuannya, di bawah buku catatan hitam, ada buku bersampul cokelat yang sudah lecek di sudut.
[Bersambung — Bab 43: Halaman Ketiga]