Chapter Thirty Six
Jam Empat Pagi, Lagi
[POV: Kanzaki Rei]
Sebelas hari setelah aula, dan akademi itu sudah berubah dengan cara yang tidak kuperkirakan sama sekali.
Aku pikir orang akan memperlakukanku secara khusus. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu — untuk dilihat, ditunjuk, dibicarakan.
Yang terjadi lebih aneh.
Orang menyapaku.
Bukan dengan hormat, bukan dengan takut, bukan dengan rasa bersalah. Cuma menyapa. Anak tahun pertama yang tidak kukenal bilang “pagi, Kak” di koridor. Petugas dapur menaruh porsi lebih banyak di piringku tanpa berkata apa-apa. Penjaga gerbang mengangguk waktu aku lewat.
Tidak ada yang berterima kasih. Aku bersyukur soal itu; aku tidak akan sanggup.
Yang terjadi cuma tiga puluh atau empat puluh orang setiap hari memutuskan bahwa aku memang ada di ruangan.
Ternyata itu jauh lebih melelahkan daripada tidak ada.
Kirisawa menaruhku di kolom yang bukan pengamat untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
“Kanzaki. Logistik dan koordinasi.”
“Koordinasi, Pak?”
“Kamu berdiri di pinggir lapangan selama tiga tahun sambil mencatat. Aku sudah baca catatanmu.” Dia tidak mengangkat wajah dari papan jalannya. “Kamu menulis ‘kesalahan formasi 6’ selama tiga tahun tanpa sekali pun bilang kesalahannya apa. Mulai sekarang kamu bilang.”
“...Baik, Pak.”
“Dan Kanzaki.”
“Ya, Pak.”
“Duduk kalau capek.” Dia membalik halaman. “Nggak ada yang akan ngomong apa-apa. Aku sudah bilang ke semuanya. Kalau ada yang ngomong, lapor ke saya, saya yang urus.”
Aku berdiri di lapangan itu selama beberapa detik sebelum bisa menjawab.
“Baik, Pak.”
Yang tidak berubah adalah pukul empat pagi.
Yang berubah adalah sekarang ada dua orang.
Hari pertama setelah Bab yang tidak akan kuceritakan lagi, dia cuma berdiri di depan bangku itu sementara aku mengelap.
Hari kedua, dia mengambil laci — bukan bangkunya, laci mejanya sendiri — dan mengeluarkan lap kedua. Aku tidak tahu kapan dia membelinya.
Hari ketiga, kami membagi: aku permukaan dan sandaran, dia kaki-kakinya.
Hari kelima, dia berkata, “Kaki mejanya tidak kotor.”
“Iya.”
“Kamu tetap mengelapnya.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku memikirkan sebentar.
“Kalau nggak, rasanya belum selesai.”
Dia mengangguk sekali, dan tidak pernah bertanya lagi, dan mengelap kaki meja itu setiap pagi selama berbulan-bulan sesudahnya.
Hari kesebelas, dia mengambil lap dari tanganku.
Aku baru mulai. Belum sampai sandaran.
“Hoshimiya—”
“Duduk.”
“Aku bisa.”
“Aku tahu kamu bisa. Duduk.”
Aku duduk di bangku baris keempat, satu di belakang bangku Nanase, yaitu bangkuku sendiri.
Dan dia mengerjakan sisanya.
Aku duduk di bangkuku dan menonton peringkat satu Akademi Astel, Sword Saint tier S, mengelap kaki meja seseorang yang belum pernah dia temui, pukul empat pagi, di ruangan yang cuma diterangi satu lampu paling redup.
Dia mengerjakannya dengan sangat serius. Sama seriusnya dengan waktu memotong sayur di festival. Sama seriusnya dengan segala hal yang dia kerjakan.
Butuh sekitar empat menit.
Lalu dia berdiri, melipat lapnya, dan berjalan ke arahku.
Aku pikir dia mau mengembalikan lapnya.
Aku sudah mengulurkan tangan.
Yang terjadi adalah dia berhenti sekitar setengah langkah di depanku, menunduk sedikit karena aku sedang duduk, dan mencium pipiku.
Sisi kanan. Sebentar. Mungkin dua detik.
Lalu dia berdiri tegak lagi dan berkata:
“Sudah.”
Aku ingin mencatat apa yang kulakukan setelah itu, karena aku sudah memikirkannya berkali-kali dan setiap kali aku ingin memukul kepalaku sendiri.
Yang kulakukan adalah tidak bergerak sama sekali selama sekitar delapan detik.
Lalu tanganku — yang masih terulur untuk mengambil lap, yang sudah tidak ada gunanya sama sekali — turun ke pangkuanku.
Lalu naik lagi ke pipiku.
Lalu turun lagi, karena aku sadar sedang memegang pipi sendiri di depan orangnya.
“...Kenapa?” tanyaku.
Dan itu adalah satu-satunya kata yang berhasil kukeluarkan, dan itu kata yang salah, dan aku sudah tahu itu kata yang salah sebelum selesai mengucapkannya.
Dia tidak tersinggung.
Dia berdiri di situ sambil melipat lap itu jadi lebih kecil, dua kali, empat kali, seperti orang yang butuh sesuatu untuk dikerjakan tangannya.
“Aku menghitung,” katanya.
“...Oke.”
“Sudah sebelas hari. Aku menghitung mundur sejak hari pertama kamu masuk akademi ini.” Dia meletakkan lap itu di meja. “Ada dua puluh enam kali kamu disentuh orang lain dalam tiga tahun dua bulan. Itu yang kutahu — yang terjadi di depanku, atau yang kamu ceritakan, atau yang bisa kusimpulkan.”
Aku diam.
“Dua puluh dua di antaranya olehku.”
Aku tetap diam.
“Dan aku memeriksanya satu per satu,” katanya. “Semuanya.”
Dia mulai menyebutkannya, dengan nada yang sama seperti waktu membacakan tabel di kantin sembilan bulan lalu.
“Aku memijat jarimu karena jarimu kejang. Itu medis. Aku menahan lenganmu di tangga karena kamu mau jatuh. Itu medis. Aku memegang pergelanganmu di tangga servis karena aku menghitung denyutmu — kamu sudah menyadarinya di anak tangga kelima, aku tahu, aku lihat wajahmu. Itu medis.”
“Hoshimiya.”
“Aku memelukmu di lorong Vellmoor karena kamu kejang dan kepalamu membentur tanah. Itu medis. Aku menahan rahangmu dengan telapak tanganku selama empat menit dua puluh detik. Itu medis.”
Dia berhenti.
“Amamiya menggandengmu di koridor karena kamu berpegangan pada pilar. Kirisawa menepuk bahumu satu kali setelah aula — itu juga bukan tanpa alasan. Tsukumo memeluk kamu waktu menangis di hari Senin, dan itu Tsukumo, jadi itu juga bukan soal kamu.”
“Kamu ngitung semuanya?”
“Aku selalu menghitung semuanya.”
Dia menatapku.
“Dua puluh enam kali disentuh dalam tiga tahun dua bulan,” katanya, “dan tidak satu pun karena orangnya ingin.”
Ruangan itu sunyi.
Lampu paling ujung berdengung sekali.
“Aku sudah memikirkannya selama sebelas hari,” katanya. “Aku menyusun beberapa cara untuk membicarakannya. Semuanya buruk. Aku tidak bisa menjelaskan sesuatu yang tidak punya alasan, karena aku cuma bisa menjelaskan hal yang punya alasan.”
“Jadi kamu—”
“Jadi aku melakukannya saja.”
Dia mengambil tasnya dari meja.
“Kamu tidak perlu menjawab,” katanya. “Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Aku tidak sedang menagih.”
“Hoshimiya—”
“Dan kalau kamu mau menghitungnya,” katanya, sudah di ambang pintu, “hitungannya sekarang dua puluh tujuh.”
Dia keluar.
Aku duduk sendirian di kelas 2-C sampai bel pertama.
Aku tidak melakukan apa-apa selama satu jam empat puluh menit. Aku tidak membaca, tidak menulis, tidak berpikir dengan urutan yang bisa disebut berpikir.
Sekitar pukul enam, aku menyadari sesuatu yang membuatku menunduk ke meja dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Dia bilang dua puluh tujuh.
Angka dua puluh tujuh sudah kupakai untuk hal lain.
Aku sudah menuliskannya di buku cokelat berbulan-bulan lalu, di halaman hari ke-1.147, setelah Distrik Selatan. Dua puluh tujuh orang yang mati dalam jangkauanku.
Dan dia tidak tahu itu. Dia tidak mungkin tahu; aku tidak pernah menyebut angka itu setelah malam di kelas kosong, dan waktu itu angkanya masih dua puluh enam.
Cuma kebetulan.
Tapi aku duduk di kelas 2-C pukul enam pagi dengan wajah di tangan, dan yang kupikirkan adalah bahwa selama tiga tahun aku punya satu daftar, dan daftar itu isinya orang yang tidak bisa kuselamatkan.
Dan sekarang ada daftar kedua.
Dan panjangnya sama.
Aku menulis di buku cokelat malam itu, dan ini catatan terpendek yang pernah kutulis dalam seribu dua ratus tiga puluh dua hari.
Hari ke-1.232.
Lalu, di bawahnya:
27.
Tanpa penjelasan. Tanpa keterangan.
Aku tahu persis yang mana yang kumaksud.
[Bersambung — Bab 37: Tawaran]
- 1 Angka Nol
- 2 Rutinitas Tak Terlihat
- 3 Lantai Empat
- 4 “Kamu Ini Apa?”
- 5 Data
- 6 Sebangku
- 7 Latihan Dungeon
- 8 Yang Tidak Ada di Peta
- 9 “Aku Tahu Kamu Bukan Nol”
- 10 Benang
- 11 Berapa Lama
- 12 Tiga Hari
- 13 Jam Empat Pagi
- 14 Jari yang Kejang
- 15 Penjelasan Setengah
- 16 Piala
- 17 Berat
- 18 Distrik Selatan
- 19 Satu Benang
- 20 Koridor
- 21 Dua Arah
- 22 Jalan Memutar
- 23 Vellmoor
- 24 Dua Menit
- 25 Sepuluh Detik
- 26 Hak untuk Menderita
- 27 Dapur
- 28 Dua Jam
- 29 Empat Puluh Lima Detik
- 30 Dua Malam
- 31 Festival
- 32 Grafik
- 33 Tiga Tahun
- 34 Ayunan Ketiga
- 35 Setengah Langkah
- 36 Jam Empat Pagi, Lagi reading
- 37 Tawaran
- 38 Tangga Asrama
- 39 Bukan Pergelangan
- 40 Langit
- 41 Menara Barat
- 42 Seratus, Lalu Seribu
- 43 Halaman Ketiga
- 44 Yang Kupilih Sendiri
- 45 Empat Ribu Seratus
- 46 Seratus Lima
- 47 Tiga Puluh Satu Hari
- 48 Ikuti Kami
- 49 Pemulihan
- 50 Kristal