Chapter Thirteen
Jam Empat Pagi
[POV: Hoshimiya Shion]
Aku tidak sedang marah padanya.
Ini perlu kucatat karena aku cukup yakin semua orang mengira begitu, termasuk dia, terutama dia.
Aku berhenti bicara karena aku sudah mengatakan bahwa aku akan berhenti bertanya, dan aku tidak tahu cara berbicara dengan seseorang tentang hal-hal yang bukan itu.
Ini kelemahanku dan aku sudah lama menyadarinya. Aku bisa bicara kalau ada yang perlu dibicarakan. Kalau tidak ada, aku tidak punya cadangan. Orang lain punya cadangan — cuaca, makanan, keluhan tentang tugas. Aku tidak pernah belajar cara memakainya.
Jadi selama tiga hari, aku duduk di sebelahnya dan tidak menemukan satu pun kalimat yang memenuhi syarat.
Kalimat yang sebenarnya ingin kuucapkan ada dua, dan dua-duanya bermasalah.
Yang pertama: Kamu benar, aku tidak berhak.
Ini masalah karena tidak sepenuhnya benar. Aku sudah memikirkannya tiga malam berturut-turut dan kesimpulanku tetap sama: kalau ada orang yang menghitung dua puluh enam kematian sendirian selama dua tahun sepuluh bulan, seseorang harus ikut campur. Kalau perlu orang yang tidak berhak. Itu justru gunanya orang yang tidak berhak.
Kalau kuucapkan, aku berbohong.
Yang kedua: Aku minta maaf.
Ini lebih bermasalah, karena aku tidak yakin aku minta maaf untuk apa. Untuk bertanya? Aku tidak menyesal bertanya. Untuk cara bertanyanya? Mungkin. Untuk berdiri di kelas kosong jam empat pagi dan menyudutkan orang yang sudah tiga malam tidak tidur?
Ya. Itu.
Tapi kalau aku minta maaf untuk itu saja, terlalu spesifik, dan orang akan mengira aku sedang berkelit dari yang lain.
Jadi tidak ada yang kuucapkan selama tiga hari, dan setiap hari lebih sulit dari sebelumnya, karena kalau kamu diam satu hari itu jeda dan kalau kamu diam tiga hari itu keadaan.
Aku tidak memindahkan bangkuku.
Sempat terpikir. Selama sekitar lima detik di hari pertama.
Lalu aku sadar bahwa memindahkan bangku itu adalah kalimat juga, dan kalimatnya adalah sudah selesai, dan aku tidak berniat mengatakan itu.
Jadi aku tetap di sana. Diam, tapi di sana.
Aku tidak tahu apakah dia menangkap maksudnya. Kalau dilihat dari wajahnya selama tiga hari itu, kemungkinan besar tidak.
Hari keempat, aku memutuskan untuk menyelesaikannya.
Rencananya sederhana: datang ke kelas lebih awal, tunggu dia, ucapkan sesuatu sebelum ada orang lain masuk. Aku tidak tahu apa yang akan kuucapkan, tapi aku sudah cukup lelah dengan diriku sendiri untuk peduli.
Aku tahu dia datang pukul empat. Aku sudah tahu itu sejak malam konfrontasi.
Jadi aku sampai pukul tiga lewat empat puluh.
Kelasnya gelap. Aku tidak menyalakan lampu — aku duduk di bangkuku dan menunggu di gelap, yang mungkin kelihatan mengerikan kalau ada yang masuk, tapi tidak ada yang masuk pada jam segitu selain satu orang.
Pukul empat kurang tiga menit, aku mendengar langkah di koridor.
Dan entah kenapa — sampai sekarang aku tidak bisa menjelaskan kenapa — aku tidak jadi duduk di situ.
Aku berdiri, keluar lewat pintu belakang kelas, dan berdiri di koridor sisi lain, di balik dinding, di tempat yang bisa melihat ke dalam lewat jendela kaca kecil di pintu.
Aku bersembunyi.
Aku tidak berencana bersembunyi. Tubuhku memutuskan lebih dulu, dan aku baru menyusul beberapa detik kemudian dengan rasionalisasi yang buruk.
Dia masuk dan menyalakan lampu paling ujung. Yang paling redup.
Lalu dia mengambil sesuatu dari laci mejanya sendiri. Kain lap.
Lalu dia keluar lagi lewat pintu depan — aku sempat panik dan menempel ke dinding — dan aku mendengar suara keran di koridor. Air. Peras. Keran ditutup.
Dia masuk lagi.
Dan berjalan melewati mejanya sendiri.
Dia berhenti di baris ketiga dari belakang. Bangku yang kosong itu.
Bangku yang sudah ada di ruangan itu sejak hari pertama kami masuk kelas 2-C, yang tidak pernah dipindahkan siapa pun, yang tidak pernah dibicarakan siapa pun.
Dia mengelapnya.
Dari kiri ke kanan. Dua kali.
Lalu sandarannya.
Lalu dia berlutut dan mengelap kaki-kaki mejanya, yang tidak masuk akal sama sekali, karena tidak ada orang yang melihat kaki meja dan tidak ada debu yang perlu diurus di sana.
Aku berdiri di koridor gelap itu dan tidak bergerak.
Ada beberapa hal yang kupikirkan sekaligus dan aku akan menuliskannya berurutan supaya tidak berantakan.
Yang pertama: aku tidak tahu itu bangku siapa.
Aku menyadari itu dengan sangat jelas, dan rasanya buruk sekali. Aku sudah tiga tahun di kelas itu. Aku duduk di ruangan yang sama dengan meja itu setiap hari. Aku bahkan tidak pernah bertanya-tanya.
Aku tahu ada anak yang meninggal di Amberfell. Semua orang tahu. Diumumkan di aula malam pertama.
Aku tidak ingat namanya.
Aku berdiri di koridor itu dan mencoba mengingat, dan aku tidak bisa, dan itu adalah salah satu dari sedikit hal dalam hidupku yang benar-benar membuatku merasa kotor.
Yang kedua: berapa lama.
Kalau ini kebiasaan, kebiasaan itu punya awal. Dan tidak ada yang memulai kebiasaan seperti ini di tahun ketiga.
Yang ketiga, dan ini yang membuatku akhirnya berbalik dan pergi tanpa masuk:
Dia melakukannya dengan lampu paling redup, pukul empat pagi, di ruangan kosong.
Artinya ini bukan untuk dilihat.
Artinya kalau aku masuk sekarang dan berkata sesuatu, aku akan mengambil satu-satunya hal di dunia ini yang masih sepenuhnya miliknya.
Jadi aku pergi.
Aku tidak tidur lagi setelah itu.
Aku kembali ke asrama, duduk di meja, dan menulis di buku catatan hitam.
Bangku baris ketiga dari belakang. Setiap pagi. Pukul empat. Lampu ujung. Sendirian. Jangan tanya.
Aku menggarisbawahi yang terakhir dua kali.
Lalu aku duduk memandangi tembok sampai matahari naik, dan waktu bel pertama berbunyi aku masuk kelas dan duduk di sebelahnya dan tetap tidak mengucapkan apa-apa.
Tapi kali ini alasannya berbeda, dan aku cukup yakin dia bisa membedakannya, karena dia menoleh sebentar pagi itu — bukan lama, cuma sekali — dengan ekspresi orang yang menyadari ada sesuatu yang berubah dan tidak tahu apa.
Besoknya aku datang pukul tiga lewat lima puluh.
Kali ini aku tidak bersembunyi.
Aku menyalakan lampu paling ujung sendiri, duduk di bangkuku, dan menunggu.
Dia masuk pukul empat kurang dua menit, berhenti di ambang pintu, dan berdiri di situ cukup lama.
“...Kamu belum tidur lagi?”
“Sudah. Empat jam.”
“Oh.”
Dia masih berdiri di ambang pintu.
Aku bisa melihat dia sedang menghitung sesuatu — kemungkinan-kemungkinan, mungkin, atau seberapa banyak yang sudah kulihat. Aku memutuskan untuk memotong itu sebelum dia sampai ke kesimpulan yang salah.
“Aku nggak akan tanya.”
Dia menoleh.
“Aku nggak akan tanya soal apa pun,” kataku. “Hari ini, besok, atau kapan pun sampai kamu yang mulai duluan.”
“...Kenapa?”
Aku memikirkan beberapa jawaban dan memilih yang paling pendek, karena yang panjang mengandung hal-hal yang tidak boleh kusebut.
“Karena aku salah caranya.”
Dia berdiri di sana beberapa saat lagi.
Lalu dia masuk, mengambil lap dari lacinya, dan keluar ke koridor. Aku mendengar keran. Peras. Keran ditutup.
Dia masuk lagi.
Dan dia berhenti sebentar di dekat mejanya sendiri — setengah detik saja, aku bisa melihat bahunya menegang — sebelum berjalan melewatinya, ke baris ketiga dari belakang, dan mulai mengelap.
Dia tahu aku melihat.
Dia tetap melakukannya.
Aku tidak menawarkan bantuan. Aku tidak bertanya itu bangku siapa. Aku tidak menoleh ke arahnya sama sekali.
Aku membuka buku dan mulai membaca materi ujian teori minggu depan, di kelas kosong, pukul empat pagi, dengan lampu paling redup menyala.
Butuh sekitar delapan menit sampai selesai. Aku menghitung karena aku memang selalu menghitung.
Waktu dia kembali dari koridor setelah mencuci lapnya, dia duduk di bangkunya sendiri di sebelahku.
Kami tidak bicara.
Dia mengeluarkan bukunya juga setelah beberapa menit, dan membalik halaman, dan aku cukup yakin dia tidak membacanya sama sekali.
Matahari naik sekitar pukul lima lewat.
Dan besoknya aku datang lagi pukul tiga lewat lima puluh, dan begitu juga hari berikutnya, dan hari berikutnya lagi, sampai itu jadi hal yang tidak perlu dibicarakan sama sekali.
Butuh dua puluh dua bulan sebelum aku akhirnya tahu nama anak perempuan yang bangkunya dia lap setiap pagi.
Dan waktu aku akhirnya tahu, aku menyesal tidak bertanya lebih awal — bukan karena aku salah menunggu, tapi karena selama dua puluh dua bulan itu, aku duduk di ruangan yang sama dengannya setiap pagi tanpa pernah tahu bahwa dia sedang membayar sesuatu.
[Bersambung — Bab 14: Jari yang Kejang]
- 1 Angka Nol
- 2 Rutinitas Tak Terlihat
- 3 Lantai Empat
- 4 “Kamu Ini Apa?”
- 5 Data
- 6 Sebangku
- 7 Latihan Dungeon
- 8 Yang Tidak Ada di Peta
- 9 “Aku Tahu Kamu Bukan Nol”
- 10 Benang
- 11 Berapa Lama
- 12 Tiga Hari
- 13 Jam Empat Pagi reading
- 14 Jari yang Kejang
- 15 Penjelasan Setengah
- 16 Piala
- 17 Berat
- 18 Distrik Selatan
- 19 Satu Benang
- 20 Koridor
- 21 Dua Arah
- 22 Jalan Memutar
- 23 Vellmoor
- 24 Dua Menit
- 25 Sepuluh Detik
- 26 Hak untuk Menderita
- 27 Dapur
- 28 Dua Jam
- 29 Empat Puluh Lima Detik
- 30 Dua Malam
- 31 Festival
- 32 Grafik
- 33 Tiga Tahun
- 34 Ayunan Ketiga
- 35 Setengah Langkah
- 36 Jam Empat Pagi, Lagi
- 37 Tawaran
- 38 Tangga Asrama
- 39 Bukan Pergelangan
- 40 Langit
- 41 Menara Barat
- 42 Seratus, Lalu Seribu
- 43 Halaman Ketiga
- 44 Yang Kupilih Sendiri
- 45 Empat Ribu Seratus
- 46 Seratus Lima
- 47 Tiga Puluh Satu Hari
- 48 Ikuti Kami
- 49 Pemulihan
- 50 Kristal