Chapter Twenty Nine
Empat Puluh Lima Detik
[POV: Amamiya Koharu]
Orang selalu mengira aku tidak memperhatikan apa-apa.
Aku tidak pernah keberatan. Kalau kamu berisik dan senyum terus, orang akan menganggapmu tidak punya ruang di kepala untuk hal lain, dan itu berguna sekali. Orang bicara lebih jujur di depan orang yang mereka anggap tidak sedang menghitung.
Aku menghitung.
Aku cuma tidak menuliskannya, karena kalau kamu menuliskannya, suatu hari ada yang akan membacanya.
Kejadiannya di distrik pelabuhan, tiga minggu setelah Vellmoor.
Bukan ekspedisi. Bukan latihan. Kelas dua ditugaskan membantu penjagaan waktu kapal barang bongkar muat, karena bulan itu ada tiga retakan kecil di ibu kota dan kerajaan mulai menempatkan orang di mana-mana.
Tugas yang membosankan. Berdiri, mengawasi, pulang.
Retakan itu terbuka pukul empat sore di antara gudang tujuh dan gudang delapan, di gang selebar tiga meter, tepat di tempat sekitar dua puluh kuli sedang mengangkut peti.
Aku yang paling dekat.
Jadi aku yang berdiri di mulut gang.
Aku tidak akan menceritakan pertarungannya panjang-panjang, karena bagian itu bukan yang penting.
Yang penting: gangnya sempit, jadi cuma muat satu perisai, jadi perisainya perisaiku. Yang penting: ada dua puluh orang di belakangku yang harus keluar lewat ujung satunya, dan mereka butuh waktu, dan waktu itu aku yang bayar.
Aku bertahan enam menit.
Menit keempat, bahu kiriku lepas dari tempatnya. Aku tahu persis rasanya karena ini kedua kalinya seumur hidup.
Menit kelima, aku memindahkan perisai ke tangan kanan sepenuhnya, yang tidak bisa dilakukan dengan benar, jadi aku menahannya dengan tubuh.
Menit keenam, ada sesuatu di tulang belakangku yang berbunyi.
Dan setelah bunyi itu, kakiku berhenti menerima perintah.
Aku jatuh ke depan dengan perisai masih di posisi, yang menurut Tsukumo kemudian kelihatan sangat keren, dan yang sebenarnya terjadi karena aku tidak punya pilihan untuk jatuh ke arah lain.
Aku berbaring di batu gang pelabuhan dan berpikir, dengan sangat tenang: ah, ini yang namanya begitu.
Lalu semuanya hilang.
Bukan berkurang. Hilang.
Bahuku kembali ke tempatnya — aku merasakannya bergerak, dan itu seharusnya membuatku berteriak, dan aku tidak berteriak karena tidak ada yang perlu diteriakkan.
Punggungku berhenti mengirim apa pun.
Kakiku menerima perintah lagi.
Dan aku bangun berdiri di gang pelabuhan itu, mengangkat perisai dengan dua tangan yang dua-duanya berfungsi, dan aku merasa lebih baik daripada waktu aku bangun tidur pagi itu.
Sama persis seperti Vellmoor.
Bedanya cuma satu.
Di Vellmoor aku terlalu sibuk untuk memperhatikan.
Kali ini aku memperhatikan.
Aku mulai menghitung sejak detik pertama.
Kenapa? Karena tiga minggu sebelumnya aku bertanya pada tabib kerajaan apakah ada bekas retak di tulang rusukku, dan tabib itu bilang tidak ada apa-apa, dan aku pulang sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih dan tidak percaya sepatah kata pun.
Aku mendengar tulangku sendiri patah.
Aku bukan orang yang salah dengar soal begitu.
Jadi ketika rasa sakitnya hilang untuk kedua kalinya, aku berhenti bertanya-tanya dan mulai menghitung.
Satu. Aku bangun. Bahuku kembali sendiri.
Empat. Aku menoleh ke belakang. Dua puluh kuli sudah keluar dari ujung gang.
Sembilan. Tsukumo di sebelahku, mengayun, lengannya utuh padahal aku melihatnya kena di menit ketiga.
Lima belas. Sakuraba merapal empat kali berturut-turut tanpa jeda, padahal mananya sudah habis dua menit lalu — aku tahu karena aku melihat wajahnya waktu habis.
Dua puluh satu. Hoshimiya lewat di atas kepalaku dan menyelesaikan tiga sekaligus.
Dua puluh delapan. Gangnya bersih.
Dan aku tidak berhenti menghitung, karena aku sudah tahu sesuatu akan terjadi di angka tertentu.
Tiga puluh.
Tidak terjadi apa-apa.
Tiga puluh lima.
Masih tidak.
Empat puluh.
Aku menoleh ke belakang, ke mulut gang, ke tempat orang biasanya berdiri kalau dia sedang membawa tas dan tidak ikut bertarung.
Empat puluh tiga.
Dia berdiri di sana dengan tangan terangkat, kesepuluh jarinya, dan wajahnya —
Empat puluh lima.
— dan tangannya turun.
Dan dia jatuh.
Aku sampai duluan.
Aku Guardian tier A, aku paling dekat, dan aku sudah berlari sebelum lututnya menyentuh tanah.
Aku menangkapnya sebelum kepalanya kena batu.
Dan detik berikutnya, semua yang tadi hilang dari tubuhku kembali sekaligus.
Bukan ke tubuhku. Aku ingin sangat jelas soal ini karena aku sudah salah mengerti selama beberapa detik dan hampir berteriak.
Tubuhku baik-baik saja. Bahuku baik-baik saja. Punggungku baik-baik saja.
Yang kembali adalah pengetahuannya.
Aku tahu persis apa yang terjadi pada bahuku di menit keempat. Aku tahu persis bunyi apa yang kudengar di menit keenam. Aku tahu semua itu ada di suatu tempat sekarang, karena benda seperti itu tidak bisa hilang begitu saja, tidak ada yang gratis.
Dan aku sedang memegang orang yang jatuh empat puluh lima detik setelahnya.
Aku mau menuliskan bagian ini pelan-pelan.
Hoshimiya sampai sekitar tiga detik kemudian, dan yang pertama dia lakukan bukan memeriksa Kanzaki.
Yang pertama dia lakukan adalah melihat ke arahku.
Cuma sekali. Setengah detik. Dan yang ada di wajahnya bukan panik, bukan bingung, bukan pertanyaan.
Yang ada di wajahnya adalah orang yang sedang memeriksa apakah aku sudah tahu.
Aku menunduk ke arah Kanzaki dan bilang, dengan suara paling normal yang bisa kukeluarkan, “Kayaknya kecapekan. Dia dari kemarin nggak tidur.”
Hoshimiya melihatku sebentar lagi.
Lalu dia berkata, “Ya. Dia memang begitu.”
Dan kami berdua, di gang pelabuhan itu, saling berbohong dengan sangat sopan sambil memegang orang yang sama.
Yang terjadi setelah itu cepat. Kesatria datang, Kirisawa datang, Kanzaki dibawa ke ruang kesehatan akademi.
Aku ikut sampai gerbang, lalu pulang, lalu mandi, lalu turun ke dapur asrama putra karena aku selalu turun ke dapur asrama putra kalau ada yang harus kupikirkan.
Dan aku menghitung lagi. Di dapur. Sambil berdiri.
Karena ada satu hitungan yang belum kukerjakan dan aku sudah menundanya selama dua jam.
Begini hitungannya.
Aku Guardian.
Guardian berdiri paling depan. Guardian yang kena duluan, Guardian yang kena paling banyak, Guardian yang seluruh gunanya adalah memastikan orang lain tidak kena.
Itu bukan sifat. Itu definisi pekerjaan. Aku memilih kelas ini — bukan memilih, aku mendapatkannya, tapi aku senang mendapatkannya — karena aku suka berdiri di depan orang.
Sepanjang tiga tahun ini aku sudah menghitung berapa kali aku menahan sesuatu yang harusnya kena orang lain.
Aku berhenti di angka empat ratus sekian tahun lalu karena angkanya sudah tidak berguna.
Dan hari ini, di gang pelabuhan, aku bertahan enam menit.
Enam menit.
Bahu lepas. Sesuatu di tulang belakang. Dan sekitar dua puluh hal lebih kecil yang tidak sempat kuhitung karena aku sedang sibuk.
Semua itu — semuanya — masuk ke tubuh yang jatuh di mulut gang empat puluh lima detik kemudian.
Dan di Vellmoor, aku bertahan delapan belas menit.
Aku berdiri di dapur asrama putra dan memegang pinggiran meja, dan yang kupikirkan bukan kasihan dia.
Yang kupikirkan adalah:
Aku yang paling banyak.
Dari lima belas orang di Vellmoor, dari dua puluh orang di pelabuhan, dari semua yang pernah dia tanggung — bagian terbesarnya selalu dariku. Setiap kali. Tanpa kecuali. Karena itu memang pekerjaanku, karena itu memang yang kulakukan, karena setiap kali aku bertahan satu menit lebih lama untuk melindungi semua orang, aku sedang menambah satu menit ke tubuh yang akan menerima tagihannya.
Tiga tahun aku duduk di sebelahnya dan memastikan dia makan.
Dan sepanjang tiga tahun itu, akulah yang paling banyak melukainya.
Aku menangis di dapur itu.
Cukup lama. Aku tidak akan bilang berapa lama karena aku memang tidak menghitung yang itu; itu satu-satunya hal hari itu yang tidak kuhitung.
Aku menangis sambil berdiri, dengan tangan menutup mulut, karena kamarnya orang-orang ada di atas dan dinding asrama itu tipis.
Dan waktu selesai, aku mencuci muka di bak cuci piring, dan aku berpikir dengan sangat jernih tentang apa yang harus kulakukan.
Ada dua pilihan.
Pilihan pertama: berhenti berdiri paling depan. Mundur. Biarkan orang lain yang kena. Kurangi jatahku.
Aku menimbangnya selama mungkin sepuluh detik.
Lalu aku membuangnya, karena kalau aku mundur, yang kena adalah Tsukumo, atau Nono, atau anak tahun pertama yang tombaknya kepanjangan. Dan mereka semua tetap akan masuk ke tubuh yang sama.
Aku tidak bisa mengurangi jumlahnya. Aku cuma bisa memindahkan namanya.
Pilihan kedua: bilang padanya untuk berhenti.
Aku menimbangnya lebih lama.
Lalu aku membuangnya juga, karena aku sudah tahu jawabannya. Aku sudah tahu jawabannya sejak tiga tahun lalu, sejak jalur hutan Amberfell, sejak aku terlempar keluar dari kereta dan tertelungkup menghadap ke arah yang salah dan melihat sesuatu yang tidak kumengerti sampai sekarang.
Kalau dipaksa naruh, dia bakal pegangan lebih kenceng.
Jadi tidak ada pilihan.
Aku berdiri di dapur asrama putra dengan muka basah dan menyadari bahwa satu-satunya yang bisa kulakukan adalah persis yang sudah kulakukan selama tiga tahun: masak, bawa kotak, duduk di sebelahnya, bicara tentang tukang roti.
Dan itu tidak cukup. Itu tidak pernah cukup. Itu bahkan tidak mendekati cukup.
Aku memasak dua porsi malam itu.
Yang satu kubawa ke ruang kesehatan akademi keesokan paginya, dan tidak dimakan, karena orangnya tidak bangun selama dua hari.
Yang satu lagi kumakan sendiri di dapur, sambil berdiri, jam dua belas malam.
Rasanya asin sekali, dan aku tahu persis kenapa, dan aku menghabiskannya juga.
[Bersambung — Bab 30: Dua Malam]