Chapter Twenty Seven
Dapur
[POV: Kanzaki Rei]
Asrama putra punya dapur kecil di lantai dasar yang hampir tidak pernah dipakai, karena semua orang makan di kantin dan tidak ada yang berniat repot.
Amamiya Koharu memakainya tiga sampai empat kali seminggu.
Dia bukan penghuni asrama putra. Ada aturan soal itu, dan aturannya jelas, dan penjaga asrama sudah menyerah sekitar dua tahun lalu karena Amamiya selalu datang membawa sesuatu untuk penjaganya juga.
“Kanzaki! Duduk.”
“Aku cuma mau ambil air.”
“Duduk.”
Aku duduk.
Hari kedua setelah pertengkaran itu.
Aku tidak tidur di hari pertama. Bukan karena sedih; aku memang tidak pernah tidur banyak, dan malam itu kebetulan tidak sama sekali. Hari kedua aku tidur sekitar satu jam menjelang subuh dan bangun karena tanganku kejang.
Jadi waktu Amamiya menyuruhku duduk di dapur lantai dasar, aku memang sudah dalam kondisi yang tidak layak untuk berdebat soal apa pun.
Dia sedang memotong sesuatu di meja. Bawang, sepertinya. Dia memotong dengan cepat sekali, jauh lebih cepat dari yang wajar, dan aku baru sadar setelah beberapa detik bahwa itu karena refleksnya memang cepat — dia Guardian tier A, dan itu berlaku juga untuk pisau dapur.
“Kamu bisa masak apa aja?” tanyaku.
“Semua yang pernah aku lihat.” Dia mengangkat bahu. “Aku ngintip ibuku dari umur enam tahun. Terus ibuku meninggal, terus aku yang masak. Jadi ya, semua yang sempat kulihat sebelum itu.”
Dia mengucapkannya dengan nada yang sama seperti waktu membicarakan tukang roti.
Aku tidak tahu harus menjawab apa, dan dia jelas tidak mengharapkan jawaban, karena dia sudah pindah ke topik berikutnya sebelum aku sempat menyusun kalimat.
“Kanzaki, aku sembuh cepat banget ya.”
Pisau di tangannya tidak berhenti.
“...Maksudnya?”
“Vellmoor.” Dia mengambil bawang berikutnya. “Aku bangun besoknya di tenda, terus aku duduk, terus aku sadar aku nggak sakit sama sekali. Nggak ada apa-apa. Malah lebih enak dari sebelum berangkat.”
“Bagus, dong.”
“Iya, bagus.”
Dia memotong.
“Aku dengar suara tulangku sendiri patah, Kanzaki.”
Aku tidak menjawab.
“Waktu itu. Di celah itu.” Dia bilang itu sambil memindahkan bawang ke wajan, dan minyaknya berbunyi. “Aku dengar. Bunyinya... ya, aku dengar. Terus aku masih berdiri sekitar tiga atau empat detik, terus Hoshimiya narik aku keluar.”
“Amamiya.”
“Terus aku bangun dan semuanya baik-baik saja.” Dia mengaduk. “Dan aku sudah tanya tabib di ibu kota. Aku bilang aku mau periksa, mau memastikan. Dia bilang tidak ada bekas apa pun. Nggak ada retak lama, nggak ada yang menyambung salah. Nggak ada apa-apa.”
Wajannya berbunyi.
“Padahal aku dengar.”
Ada sekitar tujuh detik di mana aku hampir mengatakannya.
Aku mau mencatat itu dengan jujur, karena aku sudah memikirkan tujuh detik itu ratusan kali sesudahnya.
Kalimatnya sudah tersusun di kepalaku. Itu aku. Namanya Jūbyō no Aganai. Aku menyerap semuanya dalam sepuluh detik dan aku muntah darah di lorong dekat gerbang timur dan Hoshimiya menahan kepalaku selama empat menit dua puluh detik.
Aku tidak mengatakannya.
Bukan karena rahasia. Bukan karena kerajaan, bukan karena arsip lantai empat, bukan karena empat orang yang tidak mati tua.
Aku tidak mengatakannya karena Amamiya Koharu sedang berdiri di dapur memasak untukku, dan kalau aku mengatakannya, dia tidak akan pernah bisa berdiri di dapur itu lagi tanpa memikirkan berapa banyak yang sudah kubayar untuk tulang rusuknya.
Jadi aku diam.
Dan aku tahu, bahkan waktu itu, bahwa itu bukan kebaikan.
Itu keputusan yang sama persis dengan yang membuat Hoshimiya berteriak padaku dua hari sebelumnya. Bentuknya beda, alasannya beda, tapi mesinnya sama: aku memutuskan sendiri apa yang boleh diketahui orang lain tentang harga yang kubayar untuk mereka.
Aku sudah tahu itu waktu itu.
Aku tetap melakukannya.
Dia menaruh piring di depanku.
Nasi, telur gulung, dan sesuatu bertumis yang aku tidak tahu namanya.
“Makan.”
“Amamiya, aku nggak—”
“Kanzaki.” Dia duduk di seberang meja dan menopang dagu. “Kamu kelihatan lebih capek sekarang daripada waktu kita hampir mati.”
Aku mengambil sendok.
Kami makan tanpa banyak bicara selama beberapa menit, yang aneh, karena biasanya dia yang mengisi delapan puluh persen.
“Kamu nggak nanya soal Hoshimiya,” kataku akhirnya.
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Kamu mau aku nanya?”
Aku memikirkannya lebih lama dari yang seharusnya.
“...Nggak.”
“Ya sudah.”
Dia mengambil telur gulung dari piringnya sendiri dan memindahkannya ke piringku, tanpa bertanya, seperti biasa.
“Tapi aku ngomong satu hal aja,” katanya. “Boleh?”
“Boleh.”
“Kalian berdua sama-sama keras kepala, dan sama-sama mikir kalian lagi ngelindungin yang satunya.” Dia mengunyah. “Dan menurutku dua-duanya bener. Itu masalahnya. Kalau salah satu salah kan gampang.”
Aku berhenti menyendok.
“Kamu tahu kita berantem soal apa?”
“Nggak.” Dia menggeleng. “Aku nggak tahu, dan aku nggak mau tahu, dan aku nggak akan nanya.”
“Tapi kamu—”
“Aku lihat kalian dua hari nggak ngomong dan kalian berdua kelihatan kayak orang yang lagi nyesel. Itu doang. Nggak perlu tahu isinya buat tahu itu.”
Selesai makan, dia mencuci piring dan aku berdiri di sebelahnya untuk mengelap, karena berdiri diam sambil ditolongi orang adalah hal yang sudah tidak sanggup kulakukan lagi.
Tanganku tidak stabil dan aku hampir menjatuhkan gelas dua kali.
Dia tidak mengomentarinya. Dia cuma memindahkan piring ke sisi lain supaya aku mengambil yang lebih ringan.
“Amamiya.”
“Ya?”
“Kenapa kamu nggak pernah nanya apa-apa?”
Dia menutup keran.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia butuh waktu sebelum menjawab.
“Kamu inget nggak,” katanya, “waktu hari pertama kita nyampe? Yang di aula. Yang pidato panjang itu.”
“Inget.”
“Aku duduk di barisan kedua. Kamu di barisan paling belakang.” Dia mengelap tangannya di celemek. “Aku nengok ke belakang waktu mereka nyebutin Nanase, karena aku pengen tahu siapa yang nangis dan siapa yang enggak. Aku suka tahu hal kayak gitu. Nggak tahu kenapa.”
Aku diam.
“Semua orang nunduk,” katanya. “Kamu juga nunduk. Tapi kamu nunduknya beda.”
“Beda gimana?”
“Semua orang nunduk pelan-pelan. Kamu nunduk cepet, sekali, terus nggak gerak lagi sampai selesai.” Dia menggantung celemeknya. “Kayak orang yang nutup pintu, bukan kayak orang yang lagi sedih.”
Dapur itu sunyi. Kerannya menetes sekali.
“Terus?” tanyaku, dan suaraku keluar lebih kecil dari yang kumau.
“Terus nggak ada terusnya,” katanya, dan tersenyum, dan senyumnya biasa saja, tidak ada apa-apa di baliknya. “Aku cuma mikir, oh, anak itu lagi bawa sesuatu. Terus aku mikir lagi, kalau dia mau naruh, dia bakal naruh. Kalau dia dipaksa naruh, dia bakal pegangan lebih kenceng.”
Dia mengambil tasnya.
“Jadi aku nunggu aja,” katanya. “Udah tiga tahun. Nggak apa-apa. Aku sabar.”
Dia sudah sampai di pintu waktu aku memanggil.
“Amamiya.”
“Ya?”
Aku berdiri di dapur itu dengan lap piring di tangan kiriku, dan selama sekitar empat detik aku betul-betul hampir mengatakannya.
Semuanya. Amberfell. Dua puluh tiga. Setengah langkah. Nama anak perempuan yang bangkunya kulap setiap pagi selama tiga tahun.
“...Terima kasih makanannya.”
“Sama-sama,” katanya.
Dan dia keluar, dan pintunya menutup pelan, dan aku berdiri di dapur kosong itu cukup lama.
Aku menulis di buku cokelat malam itu.
Hari ke-1.174. Kondisi: buruk. Tidur ±1 jam.
Amamiya bertanya kenapa dia sembuh. Aku tidak menjawab.
Lalu, di bawahnya, setelah jeda yang cukup lama:
Hoshimiya bilang aku takut kehilangan satu-satunya yang aku punya.
Aku sudah memeriksanya selama dua hari, dari berbagai sisi, dan aku tidak menemukan cara untuk membuktikan bahwa dia salah.
Aku menutup bukunya.
Lalu aku membukanya lagi dan menambahkan satu baris, dan ini pertama kalinya aku menulis nama seseorang di buku itu dengan huruf lengkap.
Amamiya Koharu sudah menunggu tiga tahun tanpa memaksa apa pun.
Hoshimiya Shion menunggu enam hari, lalu mendobrak.
Yang satu membuatku bisa bernapas.
Yang satu membuatku tidak bisa berhenti.
Dan aku sudah tahu mana yang aku butuhkan sejak malam di taman belakang, dan aku belum berani menuliskannya sampai sekarang.
Aku menuliskannya.
[Bersambung — Bab 28: Dua Jam]