← Chapters Ch. 41 / 50

Chapter Forty One

Menara Barat

[POV: Kanzaki Rei]

Gran Verg mulai bergerak pukul lima pagi keesokan harinya.

Pelan sekali. Sekitar dua ratus meter per jam, ke arah selatan, memakan distrik utara satu blok demi satu blok.

Tim pengamat menghitung ulang dan mengumumkan angka baru: dengan kecepatan itu, dia akan sampai ke alun-alun pusat dalam empat hari.

Empat hari.

Semua orang di aula itu memperlakukan angka empat sebagai kabar baik, dan aku mengerti kenapa, dan aku tidak bisa ikut.

Karena empat hari juga berarti empat hari orang mati di distrik utara, dan aku sudah mulai menghitung sejak pagi itu, dan angkanya bertambah setiap beberapa jam.


Malam pertama, aku naik ke menara barat.

Menara barat itu menara pengamat lama, tidak dipakai lagi sejak akademi membangun yang baru. Tangganya delapan puluh tiga anak tangga dan aku berhenti empat kali.

Dari atas, kamu bisa melihat seluruh ibu kota.

Dan kamu bisa melihat Gran Verg, di utara, sekitar empat kilometer jauhnya, sebagai bentuk yang lebih gelap dari langit malam.

Aku naik ke sana karena aku butuh melihat jaraknya sendiri.

Bukan dari peta. Dari mata.

Karena semua yang akan kucoba dalam tiga hari ke depan bergantung pada jarak, dan aku sudah cukup lama tidak mempercayai angka yang tidak kuukur sendiri.


Hoshimiya sampai sekitar dua puluh menit kemudian.

Dia tidak bertanya kenapa aku di sini. Dia tidak bertanya bagaimana aku naik delapan puluh tiga anak tangga. Dia cuma sampai di puncak, berdiri di sebelahku, dan ikut melihat ke utara.

Kami berdiri begitu selama mungkin sepuluh menit.

“Empat kilometer,” kataku akhirnya.

“Ya.”

“Radiusku dua puluh lima.”

“Ya.”

“Yang pernah kucoba paling jauh lima puluh, dan itu enam menit, dan aku izin sakit dua hari.”

“Aku ingat.”

Aku menghitung sekali lagi di kepalaku, walaupun aku sudah menghitungnya belasan kali sepanjang sore.

“Aku butuh empat ribu orang dalam jangkauan,” kataku. “Kalau mereka dikumpulkan rapat, itu area sekitar delapan ratus meter.”

“Delapan ratus.”

“Iya.”

“Enam belas kali lipat dari yang pernah kamu coba.”

“Tiga puluh dua kali lipat dari radius normal,” kataku. “Iya.”

Dia tidak menjawab.

Dan yang paling kuhargai dari dia — yang sudah kuhargai selama sepuluh bulan dan tidak pernah kukatakan — adalah dia tidak mengatakan satu pun dari kalimat yang akan diucapkan orang normal.

Dia tidak bilang jangan. Dia tidak bilang kamu bisa. Dia tidak bilang pasti ada cara lain.

Dia berdiri di sebelahku dan membiarkan angka itu ada di udara di antara kami, apa adanya.


“Kanzaki.”

“Ya.”

“Kamu belum menjawab Valdrein.”

“Belum.”

“Sepuluh hari lagi.”

“Iya.”

Dia menoleh.

“Kamu tahu kalau ini berhasil, kamu tidak akan punya pilihan lagi.”

Aku sudah memikirkan itu juga.

Kalau empat ribu orang berdiri di alun-alun dan melihat apa yang terjadi, tidak akan ada dokumen di dunia ini yang bisa membuatku kembali jadi anak yang duduk di pojok belakang. Valdrein boleh menulis apa saja. Tenggat tiga puluh hari boleh tetap tiga puluh hari.

Empat ribu orang akan tahu, dan setelah empat ribu orang tahu, tidak ada jalan pulang.

“Iya,” kataku.

“Dan kamu tetap akan melakukannya.”

“Iya.”

Dia mengangguk sekali.

“Oke,” katanya.

Dan itu saja.


Aku tidak tahu berapa lama kami berdiri di situ setelah itu.

Aku tidak menghitung, dan aku cukup yakin dia juga tidak, dan itu yang kedua kalinya.

Angin di atas menara barat kencang sekali dan dingin, dan rambutnya lepas sebagian dari ikatan, dan dia tidak repot membetulkannya.

Aku ingat memikirkan sesuatu yang sangat spesifik dan sangat tidak berguna.

Aku memikirkan bahwa dalam tiga hari, kalau semuanya berjalan seperti perkiraanku, aku akan berdiri di alun-alun pusat dengan empat ribu benang.

Dan aku memikirkan bahwa aku belum pernah, sekali pun dalam tiga tahun dua bulan, melakukan satu hal saja yang tidak punya alasan.

Bahkan yang jam empat pagi pun punya alasan. Itu penebusan. Itu punya nama dan punya sebab.

Satu hal saja. Tanpa alasan. Tanpa perhitungan. Tanpa kolom.


Kami bergerak pada waktu yang sama.

Aku ingin sangat jelas soal ini karena aku sudah memikirkannya berkali-kali dan aku tetap tidak bisa memastikan siapa yang duluan.

Aku pikir aku. Dia bilang dia. Kami sudah membahasnya beberapa kali sesudahnya dan tidak pernah selesai.

Yang bisa kucatat: dia berbalik dari pagar menara, dan aku berbalik dari pagar menara, dan tidak satu pun dari kami harus melangkah maju.

Dan aku menciumnya, atau dia menciumku, di puncak menara pengamat lama Akademi Astel, pukul sebelas malam, dengan angin yang dingin dan kota yang setengah kosong dan sesuatu setinggi gedung berdiri di utara sana.


Aku tidak akan menulis banyak tentang bagian itu.

Bukan karena tidak ingat. Aku ingat semuanya, sampai sekarang, sampai hal-hal yang tidak masuk akal untuk diingat — bahwa tangannya dingin, bahwa ada helai rambut yang menempel di pipiku dan tidak ada yang menyingkirkannya, bahwa aku tidak tahu harus taruh di mana tangan kananku dan akhirnya taruh di bahunya karena itu tempat pertama yang kutemukan.

Aku tidak menuliskannya karena aku sudah menulis segalanya selama tiga tahun.

Radius. Durasi. Gejala. Biaya. Angka korban. Seribu dua ratus lima puluh empat baris.

Dan aku sudah memutuskan, di menara itu, bahwa yang satu ini tidak akan masuk buku.


Waktu kami akhirnya berhenti, tidak satu pun dari kami menjauh.

Aku menempelkan keningku ke keningnya, karena itu yang paling masuk akal untuk dilakukan dan karena berdiri tegak butuh usaha yang tidak kupunya.

Dan aku berkata sesuatu yang tidak kurencanakan, dengan suara yang nyaris tidak terdengar, ke jarak sekitar sepuluh sentimeter.

“Aku baru sadar aku pengin hidup.”

Aku merasakan dia berhenti bernapas.

“...Baru?”

“Baru.”

“Sejak kapan baru?”

“Sekarang,” kataku. “Tadi. Barusan.”

Dan aku ingin mencatat bahwa aku tidak sedang berpuisi.

Aku mengucapkannya sebagai laporan. Sebagai data. Seperti orang yang baru menemukan bahwa alat ukurnya sudah tiga tahun menampilkan angka yang salah dan baru sekarang menyadarinya.

Selama tiga tahun aku tidak pernah ingin mati. Aku ingin sangat jelas soal itu.

Aku cuma tidak pernah secara khusus ingin hidup.

Ada bedanya, dan bedanya besar sekali, dan aku baru tahu bedanya di puncak menara barat pukul sebelas malam sepuluh bulan setelah seseorang duduk di depanku di kantin dan bertanya kamu ini apa.


Dia menahan bagian belakang kepalaku dengan satu tangan, dan menekan sedikit, dan tidak mengizinkanku mundur.

“Ulangi,” katanya.

“Hoshimiya—”

“Ulangi.”

“Aku pengin hidup.”

“Sekali lagi.”

“Aku pengin hidup.”

Dia diam beberapa saat.

“Bagus,” katanya.

Dan aku tertawa — pendek, satu kali, di jarak sepuluh sentimeter — karena itu kata yang kuucapkan di lorong Vellmoor waktu dia bertanya apakah semuanya selamat, dan karena dia baru saja mengembalikannya padaku dengan sengaja, dan karena dia menunggu sekitar tiga bulan untuk melakukannya.

“Kamu nyimpen itu?”

“Aku menyimpan semuanya,” katanya.


Kami tinggal di menara barat sampai sekitar pukul dua.

Sebagian besar tanpa bicara. Duduk di lantai batu bersandar ke pagar, bahu ke bahu, menghadap ke utara.

Sekali, sekitar pukul satu, dia berkata:

“Kanzaki.”

“Ya.”

“Aku tidak akan memintamu berjanji apa-apa.”

“Oke.”

“Aku sudah memikirkannya sepanjang sore. Aku sudah menyusun tiga versi permintaan dan semuanya bagus dan semuanya akan berhasil, karena kamu akan menyetujui apa pun yang kuminta malam ini.”

Aku tidak menjawab, karena itu benar.

“Dan itu sebabnya aku tidak akan meminta,” katanya.


Aku turun dari menara barat pukul dua lewat, dan aku menulis di buku cokelat sebelum tidur.

Hari ke-1.255. Gran Verg bergerak 200 m/jam. Perkiraan 4 hari.

Jarak menara barat ke utara: ±4 km. Area target 4.000 orang: ±800 m. Radius yang dibutuhkan: 400 m dari titik pusat.

Belum pernah dicoba di atas 50.

Lalu aku berhenti.

Aku membuka halaman berikutnya, yang masih kosong.

Dan aku menulis satu baris di tengah halaman kosong itu, sendirian, tanpa tanggal dan tanpa angka.

Aku pengin hidup.

Aku menutup bukunya.

Dan aku tidur enam jam, yang merupakan rekor kedua dalam tiga tahun, dan yang mungkin adalah keputusan paling penting yang kuambil sepanjang minggu itu.


[Bersambung — Bab 42: Seratus, Lalu Seribu]