Chapter Eighteen
Distrik Selatan
[POV: Kanzaki Rei]
Kami turun ke kota hari Sabtu untuk mengambil pesanan perlengkapan ekspedisi.
Itu tugas logistik, jadi itu tugasku. Hoshimiya ikut tanpa diminta dan tanpa menjelaskan, dan aku sudah berhenti bertanya soal hal-hal seperti itu sekitar dua minggu lalu.
Kami berangkat pukul sembilan. Cuacanya bagus. Toko perlengkapannya ada di distrik tengah, dan pesanannya belum selesai, jadi kami disuruh kembali dua jam lagi.
Dua jam adalah waktu yang aneh. Terlalu lama untuk menunggu, terlalu pendek untuk pulang.
“Mau ke mana?” tanyanya.
“Terserah.”
“Aku tidak tahu kota ini.”
“Kamu tiga tahun di sini.”
“Aku tahu jalan dari akademi ke toko buku dan dari akademi ke toko pedang.” Dia bilang itu tanpa malu sedikit pun. “Itu saja.”
Jadi aku yang memilih arah, dan aku memilih ke selatan, karena di sana ada pasar dan pasar itu ramai dan ramai itu berarti tidak ada yang memperhatikan siapa pun.
Aku memilih arah itu.
Aku mau menulisnya sekali lagi supaya jelas: aku yang memilih arah itu.
Retakan kecil terbuka pukul sebelas lewat dua puluh, di jalan di belakang deretan kios kain.
Aku tidak melihat pembukaannya. Yang kulihat cuma orang-orang mulai berlari ke satu arah, lalu berlari ke arah sebaliknya, yang selalu jadi tanda paling jelas bahwa ada sesuatu.
Hoshimiya sudah bergerak sebelum aku selesai berbalik.
Retakan kecil itu tidak seperti yang orang bayangkan. Tidak ada langit terbelah, tidak ada cahaya. Yang ada cuma robekan setinggi manusia di udara, warnanya seperti asap yang berdiri, dan dari situ keluar tiga ekor makhluk sebesar anjing besar dengan kaki terlalu banyak.
Tiga ekor. Kelas rendah.
Kesatria kota datang dalam empat menit, dan itu waktu yang bagus.
Retakannya sendiri selesai dalam dua belas menit. Hoshimiya membunuh dua, kesatria membunuh satu, dan setelah itu robekan di udara menutup sendiri seperti biasanya.
Kalau ceritanya berhenti di situ, ini akan jadi hari yang biasa saja.
Masalahnya bukan makhluknya.
Masalahnya adalah kios kain itu punya kerangka kayu setinggi empat meter, dan salah satu makhluk itu menabraknya di menit ketiga.
Yang runtuh bukan seluruh bangunan. Cuma satu sisi — tiang penyangga dan dua balok melintang, jatuh menutupi mulut lorong sempit di antara dua kios.
Di dalam lorong itu ada tiga orang.
Aku tahu angkanya karena aku mendengar mereka.
Satu suara perempuan dewasa. Satu suara anak. Dan satu lagi yang tidak bersuara sama sekali, dan itu yang paling membuatku cemas.
Orang-orang langsung mengerumun. Enam, lalu sepuluh, lalu lima belas. Pedagang, pembeli, dua kesatria yang sudah selesai dengan makhluknya.
Mereka mulai mengangkat.
Aku berdiri sekitar dua puluh meter dari situ, di depan kios buah yang pemiliknya sudah kabur.
Dua puluh meter.
Dalam radius.
Aku melebarkan tanpa berpikir. Bukan keputusan — tanganku bahkan tidak bergerak, tidak ada yang perlu digerakkan. Aku cuma mendorong, sekuat yang bisa kudorong dari jarak segitu, dan aku merasakan tekanan itu langsung naik di belakang mataku seperti biasa.
Lima belas orang di depan reruntuhan itu mendadak bergerak di seratus persen.
Dan aku berdiri di situ dan menonton sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.
Tidak ada bedanya.
Aku harus menjelaskan ini dengan benar, karena butuh waktu lama sebelum aku sendiri mengerti.
Balok itu berat. Perkiraanku sekitar empat ratus kilo untuk yang paling bawah, karena kayu keras yang basah.
Lima belas orang di seratus persen jelas sanggup mengangkat empat ratus kilo. Secara angka, mereka sanggup mengangkat tiga kali lipat itu.
Yang tidak mereka punya bukan tenaga.
Aku menontonnya dari dua puluh meter dan aku melihat semuanya dengan sangat jelas, seperti orang yang membaca soal matematika dan langsung melihat di mana salahnya.
Mereka mengangkat pada waktu yang berbeda-beda.
Ada yang menarik napas dulu. Ada yang mengangkat setengah detik lebih cepat karena panik. Ada laki-laki besar di sisi kanan yang sebenarnya paling kuat di antara semuanya, dan dia menunggu aba-aba yang tidak pernah datang, jadi dia baru menekan waktu yang lain sudah mulai kehabisan.
Lima belas orang mengangkat empat ratus kilo dengan lima belas waktu yang berbeda.
Yang benar-benar terangkat mungkin cuma seratus lima puluh kilo pada satu waktu.
Dan setiap kali balok itu naik lima senti lalu turun lagi, dia turun ke posisi yang sedikit berbeda.
Ada seseorang yang mencoba memberi aba-aba. Seorang kesatria, suaranya keras, menghitung “satu, dua, TIGA”.
Itu membantu. Sedikit. Untuk hitungan pertama.
Lalu ada yang berteriak dari dalam lorong, dan sebagian orang panik dan mengangkat di luar hitungan, dan aba-abanya hancur.
Aku berdiri di sana dan menghitung ulang berkali-kali dan hasilnya selalu sama.
Kalau lima belas orang itu mengangkat pada detik yang persis sama, satu kali saja, balok itu naik cukup tinggi untuk menarik tiga orang keluar.
Satu kali. Satu detik.
Itu saja yang kurang.
Aku menyadari, sambil berdiri di sana dengan pandangan yang sudah mulai menyempit di pinggir, bahwa aku sedang salah memakai alat.
Genkai Kaijo membuka kunci.
Membuka kunci itu berguna kalau masalahnya adalah kunci.
Kalau masalahnya adalah lima belas orang yang tidak tahu kapan harus bergerak, membuka kunci tidak melakukan apa-apa. Lima belas orang yang salah waktu di lima puluh persen akan tetap gagal di seratus persen. Mereka cuma gagal lebih cepat.
Ada satu hal di dunia ini yang bisa membuat lima belas orang bergerak pada detik yang persis sama.
Aku tahu persis apa itu.
Aku bahkan tahu rapalannya, lima baris, dan aku hafal di luar kepala karena aku pernah mengucapkannya sekali, tiga tahun lalu, di jalur hutan Amberfell.
Tanganku ada di sisi tubuhku.
Jari-jarinya bergerak sedikit. Kelingking dan jari manis, seperti waktu latihan hari kelima, waktu Amamiya jatuh.
Aku menahannya.
Mereka berhasil mengangkatnya di percobaan keenam.
Empat belas menit setelah runtuh.
Perempuan itu keluar sendiri. Anak itu ditarik keluar oleh kesatria, menangis keras, dan menangis keras itu pertanda bagus.
Yang ketiga adalah laki-laki tua, dan dia tidak bersuara sejak awal karena dia sudah tidak bersuara sejak awal.
Balok kedua mengenai dadanya waktu jatuh. Tabib bilang kemungkinan besar sudah selesai dalam dua atau tiga menit pertama, dan tidak ada yang bisa dilakukan bahkan kalau reruntuhannya diangkat dalam satu menit.
Itu yang dikatakan tabibnya.
Kemungkinan besar.
Hoshimiya menemukanku sekitar setengah jam kemudian, duduk di anak tangga sebuah rumah dua blok dari situ.
Dia tidak bertanya apa-apa. Dia duduk di sebelahku.
“Kemungkinan besar,” kataku.
“Apa?”
“Tabibnya bilang kemungkinan besar sudah nggak bisa ditolong dari awal.”
Dia tidak menjawab.
“Kemungkinan besar itu bukan angka,” kataku. “Itu kata.”
“Kanzaki—”
“Aku melebarkan radius.” Suaraku keluar datar, dan itu justru membuatku takut sendiri. “Dua puluh meter. Lima belas orang, seratus persen, empat belas menit. Nggak ada bedanya.”
Dia menoleh cepat.
“Kamu—”
“Nggak ada gunanya.” Aku memandangi jalanan. “Aku bawa satu-satunya hal yang bisa kubawa, aku pakai sampai habis, dan hasilnya persis sama seperti kalau aku duduk di rumah.”
“Itu tidak sama.”
“Iya, sama.”
“Dua orang keluar hidup.”
“Mereka akan keluar hidup juga tanpa aku.” Aku menggosok wajahku dengan tangan. “Balok itu turun ke posisi yang beda-beda tiap kali gagal. Kalau ada satu percobaan yang lebih buruk dari yang lain, mungkin ceritanya beda. Tapi itu bukan aku. Itu keberuntungan.”
Kami duduk di situ cukup lama.
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Apa yang kamu lihat tadi?”
Aku menoleh.
“Kamu berdiri di depan kios buah selama empat belas menit,” katanya. “Kamu tidak melihat orang panik. Kamu melihat sesuatu yang spesifik. Aku tahu wajahmu waktu sedang menghitung.”
Aku tidak menjawab.
“Kanzaki.”
“Yang kurang bukan tenaga,” kataku akhirnya.
“Terus apa?”
“Waktu.”
Malamnya aku duduk di lantai kamar dan membuka buku cokelat.
Aku menulis:
Hari ke-1.147. Radius 45 m, durasi ±14 menit. Distrik Selatan.
Lalu aku berhenti.
Ada satu baris lagi yang harus ditulis, dan aku sudah menulis baris seperti itu enam kali sebelumnya selama dua tahun sepuluh bulan, dan tidak pernah sekali pun terasa lebih mudah.
Aku menulisnya.
27.
Aku memandangi angka itu.
Enam kali sebelumnya, angka itu selalu berarti hal yang sama: orang yang mati dalam jangkauanku karena aku memilih tidak.
Kali ini beda, dan bedanya lebih buruk.
Kali ini aku memilih iya. Aku membayar penuh. Aku memakai satu-satunya hal yang berani kupakai, sampai batas yang bisa kutanggung.
Dan angkanya tetap naik.
Aku duduk di lantai kamar sampai lewat tengah malam.
Ada dua kesimpulan yang mungkin dari hari itu, dan aku sudah tahu keduanya sejak sore.
Kesimpulan pertama: yang kupunya memang tidak cukup, tidak pernah cukup, dan tiga tahun ini aku sudah membayar mahal untuk sesuatu yang cuma memperbaiki nilai ujian orang.
Kesimpulan kedua lebih pendek, dan itu yang membuatku tidak bisa tidur.
Yang kupunya tidak cukup.
Yang kukubur, cukup.
Pukul empat pagi aku ke kelas 2-C seperti biasa.
Lampu paling ujung sudah menyala, seperti biasa. Dia sudah duduk di bangkunya, seperti biasa.
Aku tidak mengambil lap.
Aku berdiri di ambang pintu cukup lama sampai dia menoleh.
“Hoshimiya.”
“Ya.”
“Nanti malam, ruang latihan lantai dua.”
“Seperti biasa?”
“Bukan.”
Dia menutup bukunya.
“Aku mau cerita yang kedua,” kataku.
[Bersambung — Bab 19: Satu Benang]