Chapter Forty
Langit
[POV: Kanzaki Rei]
Hari itu hari Selasa dan tidak ada yang istimewa sama sekali.
Aku mau mencatat itu, karena setiap kali orang menceritakan hari-hari besar mereka selalu bilang ada firasat. Langit yang aneh. Burung yang diam. Perasaan tidak enak sejak pagi.
Tidak ada.
Pukul empat pagi, kelas 2-C, dua lap, empat menit. Sarapan — aku sarapan sekarang, karena ada yang menghitung. Pelajaran teori sampai jam sepuluh. Latihan lapangan sampai jam dua.
Aku berdiri di kolom koordinasi dan memberi tahu Tsukumo bahwa masalahnya bukan ayunan ketiga lagi tapi posisi kaki belakang di ayunan pertama, dan dia mendengarkan dengan wajah orang yang sedang menerima wahyu, dan Isuzu bilang “dia udah dibilangin gitu dari dulu” dan Tsukumo bilang “TAPI NGGAK ADA YANG JELASIN KENAPA”.
Sakuraba membakar sesuatu yang tidak seharusnya terbakar.
Amamiya meletakkan kotak bekal di mejaku tanpa melihat.
Hoshimiya duduk di sebelahku sepanjang pelajaran teori dan menendang kakiku satu kali di bawah meja waktu aku hampir tertidur, yang mana adalah hal baru, dan yang membuatku tidak bisa berkonsentrasi selama dua puluh menit sesudahnya.
Hari Selasa yang biasa.
Pukul empat lewat dua puluh sore, langitnya terbelah.
Yang pertama datang bukan suara.
Yang pertama datang adalah bayangan.
Aku sedang di lapangan, mencatat, dan lapangan itu mendadak gelap — bukan gelap seperti awan lewat. Gelap seperti seseorang menutup jendela.
Empat puluh orang di lapangan itu mengangkat kepala pada waktu yang hampir bersamaan.
Dan di atas ibu kota Astel, membentang dari ujung utara sampai ujung selatan kota, langitnya punya garis.
Garis hitam, lurus sempurna, dari cakrawala ke cakrawala.
Retakan kecil bentuknya seperti robekan di udara, setinggi manusia, warnanya seperti asap yang berdiri.
Yang ini bukan robekan.
Yang ini seperti seseorang menggores kaca dari sisi lain.
Selama sekitar delapan detik, tidak ada satu orang pun di lapangan itu yang bergerak.
Delapan detik. Empat puluh orang.
Lalu garis itu terbuka.
Aku tidak akan mencoba menggambarkan Gran Verg dengan baik, karena aku sudah mencoba tujuh kali dan hasilnya selalu jelek.
Yang bisa kukatakan cuma tiga hal.
Pertama: dia tidak keluar. Dia turun. Ada perbedaan, dan perbedaannya penting — sesuatu yang keluar berarti ada di dalam dan pindah ke luar. Yang ini seolah-olah selama ini memang sudah di sana, di atas kota, dan cuma perlu langitnya dibuka supaya bisa dilihat.
Kedua: delapan lengan. Semua orang bilang begitu dan aku juga akan bilang begitu, walaupun aku tidak pernah bisa menghitungnya sampai delapan.
Ketiga, dan ini yang paling penting untuk seluruh sisa cerita ini:
Dia tidak menyerang siapa pun selama tiga puluh menit pertama.
Dia turun sekitar dua ratus meter, berhenti di atas distrik utara, dan diam.
Dan tiga puluh menit itulah yang menyelamatkan sekitar delapan puluh ribu orang, karena itu cukup waktu untuk membunyikan lonceng evakuasi di seluruh kota.
Kirisawa bilang kemudian bahwa itu bukan kemurahan hati.
“Dia sedang melihat-lihat,” katanya. “Kayak orang masuk ke gudang dan mencari tahu di mana barangnya.”
Akademi jadi titik kumpul.
Itu bukan keputusan siapa-siapa; itu memang prosedur yang sudah tertulis sejak tujuh puluh empat tahun lalu, di lembar yang ditempel di setiap gedung publik dan tidak pernah dibaca siapa pun.
Dalam dua jam, halaman akademi berisi sekitar enam ribu orang.
Dalam empat jam, seluruh Garnisun Utara masuk kota.
Dalam enam jam, aku berdiri di aula utama — aula yang sama, podium yang sama, ruangan yang sama tempat namaku disebut delapan belas hari sebelumnya — di antara sekitar tiga ratus orang yang semuanya lebih tua dariku dan hampir semuanya membawa senjata.
Dan Adipati Valdrein berdiri di podium dengan peta ibu kota di belakangnya.
“Saya akan singkat karena waktunya tidak ada,” katanya.
Suaranya sama seperti di ruang tamu kepala akademi. Sopan, rata, tidak pernah naik.
“Kita punya empat puluh satu ribu personel di dalam dan sekitar kota. Kita punya sebelas orang tier S. Kita punya persediaan mana untuk sekitar enam jam pertempuran penuh.”
Dia mengetuk peta.
“Dan berdasarkan tiga jam pengamatan, kita tidak bisa membunuhnya.”
Ruangan itu tidak ribut. Itu yang paling menakutkan — tiga ratus orang mendengar kalimat itu dan tidak satu pun bersuara.
“Serangan tunggal tidak berfungsi. Kami sudah mencoba tujuh kali dari jarak aman, termasuk dua kali dengan artileri sihir kelas berat.” Dia mengangkat selembar kertas. “Kerusakan yang tercatat: nol. Bukan kecil. Nol.”
Seorang perwira di barisan depan mengangkat tangan.
“Tuan, laporan Retakan Besar keempat—”
“Ya,” kata Valdrein. “Saya sudah membacanya. Semuanya. Tujuh ratus halaman.”
Dia meletakkan kertas itu.
“Tujuh puluh empat tahun lalu, makhluk yang setara dengan ini dijatuhkan di Selat Havren. Bukan dibunuh — dijatuhkan, dan retakannya menutup sendiri sesudahnya.”
“Bagaimana caranya, Tuan?”
“Tiga ribu empat ratus serangan,” kata Valdrein. “Dalam jendela waktu sebelas detik.”
Ruangan itu mulai berbisik.
“Bukan tiga ribu empat ratus serangan berturut-turut,” lanjutnya, dan bisikannya berhenti. “Tiga ribu empat ratus serangan yang mendarat di dalam rentang sebelas detik yang sama. Ini tertulis di halaman empat ratus dua puluh sembilan, dan penulisnya menambahkan catatan bahwa itu terjadi karena kebetulan, karena formasi kacau, karena satu sayap pasukan menyerang lebih awal dari perintah dan sisanya ikut karena panik.”
Dia melihat ke seluruh ruangan.
“Kita tidak bisa mengandalkan kebetulan dua kali.”
Aku berdiri di barisan paling belakang, di dekat dinding.
Aku selalu berdiri di sana. Kebiasaan tiga tahun tidak hilang dalam delapan belas hari.
Dan dari barisan paling belakang, aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang yang sedang berdiri di depan.
Aku bisa melihat kepala-kepala mulai berputar.
Satu per satu. Pelan sekali. Perwira di barisan ketiga menoleh ke belakang, lalu yang di sebelahnya, lalu tiga orang di barisan kelima.
Delapan belas hari sebelumnya, seribu orang di ruangan ini berbalik mencariku dan butuh delapan detik untuk menemukan, dan waktu akhirnya menemukan mereka bertanya “yang mana?”.
Kali ini tidak ada yang bertanya.
Kali ini mereka semua tahu persis siapa yang mereka cari, dan mereka menemukannya langsung.
Valdrein tidak menoleh.
Dia terus menghadap ke depan, ke peta, dengan punggung ke arahku, dan dia berbicara pada tiga ratus orang yang sudah tidak melihat ke arahnya lagi.
“Saya ingin sesuatu dicatat dalam risalah rapat ini,” katanya.
Sekretaris di sisi ruangan mengangkat pena.
“Delapan belas hari lalu, saya menyampaikan sebuah tawaran kepada seorang siswa di akademi ini. Saya memberinya waktu tiga puluh hari. Sebelas hari masih tersisa.”
Dia berbalik.
Dan dia menatapku dari podium, melewati tiga ratus kepala, dan ekspresinya tidak berubah sama sekali.
“Saya tidak menarik tenggat itu,” katanya. “Sebelas hari tetap sebelas hari. Saya tidak akan memakai keadaan ini untuk mendapatkan jawaban yang tidak akan saya dapatkan kemarin.”
Ruangan itu betul-betul sunyi.
“Catat itu,” katanya pada sekretaris. “Kata per kata.”
Lalu dia berbalik lagi ke peta.
“Kanzaki Rei tidak berada di bawah wewenang siapa pun di ruangan ini,” katanya. “Apa yang dia lakukan malam ini adalah urusannya sendiri. Kalau ada perwira di ruangan ini yang berniat memerintahnya, saya sarankan dia memikirkan ulang, karena saya akan menuntutnya secara pribadi dan saya belum pernah kalah.”
Aku berdiri di barisan paling belakang di dekat dinding.
Tiga ratus orang, semuanya menunggu.
Dan aku memikirkan hal yang sangat kecil dan sangat tidak pada tempatnya, yang sampai sekarang aku tidak tahu kenapa muncul di kepalaku di detik itu.
Aku memikirkan lima belas orang yang mengangkat balok kayu di depan kios kain di Distrik Selatan, enam kali gagal, empat belas menit, karena tidak ada yang bisa membuat mereka mengangkat pada detik yang sama.
Sebelas orang keluar hidup dari situ. Satu tidak.
Dan sekarang ada empat puluh satu ribu.
“Berapa yang dibutuhkan?” tanyaku.
Suaraku tidak keras. Aula itu sunyi sekali, jadi tidak perlu keras.
Valdrein menoleh.
“Dari laporan Havren,” katanya, “tiga ribu empat ratus dalam sebelas detik. Untuk makhluk yang ini, perkiraan tim saya lebih tinggi.”
“Berapa?”
“Antara empat ribu dan lima ribu.”
Aku menghitung.
Sepuluh jari. Dua puluh tiga benang di Amberfell, dengan rata-rata, dan satu orang berdiri setengah langkah kurang jauh.
Seratus benang belum pernah kucoba. Seribu belum pernah kubayangkan.
Empat ribu.
“Berapa lama sampai dia bergerak?” tanyaku.
“Tim pengamat memperkirakan besok pagi. Mungkin lebih cepat.”
Aku mengangguk.
Lalu aku berkata satu kalimat, dan aku ingat suaraku keluar sangat biasa, seperti orang menyebutkan bahwa besok kemungkinan hujan.
“Saya butuh malam ini,” kataku. “Dan saya butuh semua orang mengucapkan sesuatu.”
[Bersambung — Bab 41: Empat Ribu]