← Zero Thread

Chapter Sixteen

Piala

[POV: Kanzaki Rei]

Turnamen Antar-Kelas diadakan setiap tahun di arena akademi, dan seluruh kota tahu tanggalnya.

Bukan berlebihan. Pedagang datang. Ada tenda makanan di luar gerbang. Ada bangsawan rendah yang datang untuk mencari calon pengawal, dan ada perwakilan resimen yang datang untuk mencari calon rekrutan.

Formatnya party lawan party. Enam belas party dari tiga angkatan, sistem gugur, dua hari.

Dan aturan nomor empat di lembar peraturan berbunyi begini:

Anggota party berperan logistik tidak diperbolehkan memasuki area arena selama pertandingan berlangsung. Yang bersangkutan menunggu di ruang persiapan.

Aku membaca aturan itu tiga hari sebelumnya, dan aku langsung mengukur jaraknya.

Ruang persiapan ke titik tengah arena: empat puluh enam meter, dengan dua dinding batu di antaranya.


“Empat puluh enam,” kataku pada Hoshimiya, pukul empat pagi, tiga hari sebelum turnamen.

“Terlalu jauh?”

“Bukan cuma jauh. Ada dindingnya.”

“Dinding berpengaruh?”

“Iya.” Aku sudah pernah mengujinya, sekali, tahun lalu. “Batu tebal makan sekitar sepertiga.”

Dia menulis. “Jadi berapa yang harus kamu lebarkan?”

“Tujuh puluh. Mungkin lebih.”

Penanya berhenti.

“Kamu bilang lima puluh selama enam menit bikin kamu izin dua hari.”

“Iya.”

“Pertandingannya dua hari. Total mungkin dua jam.”

“Iya.”

Dia menutup bukunya.

“Tidak.”

“Aku belum bilang mau.”

“Kamu sudah menghitungnya sampai angka tujuh puluh, Kanzaki. Orang tidak menghitung sampai angka tujuh puluh kalau tidak mau.”

Aku tidak menjawab.

Dia benar, tentu saja. Aku sudah menghitung sampai angka tujuh puluh, dan aku sudah menghitung juga berapa lama pemulihannya, dan aku sudah menghitung apakah aku sanggup menahannya sampai selesai.

Jawabannya: mungkin.

“Mungkin” adalah angka yang selalu kupakai selama tiga tahun, dan selama ini selalu cukup.


Yang tidak kuperhitungkan adalah dia sudah punya rencana sendiri.

Hari pertama turnamen, sekitar dua jam sebelum pertandingan pertama, dia menemuiku di ruang persiapan sambil membawa selembar kertas.

“Aku bicara dengan panitia.”

“Soal apa?”

“Aturan nomor empat.” Dia menyerahkan kertas itu. “Logistik dilarang masuk area arena. Tapi tribun penonton bukan area arena.”

Aku membaca. Itu salinan peraturan dengan satu baris yang digarisbawahi.

“Kamu boleh duduk di tribun barat, baris paling depan,” katanya. “Aku sudah minta izin instruktur Kirisawa dan sudah dicatat.”

Aku menghitung ulang di kepalaku.

Tribun barat baris depan ke titik tengah arena: sekitar dua puluh delapan meter. Tanpa dinding.

Dua puluh delapan.

“...Kamu ngukur ini?”

“Aku menghitung langkah kemarin sore. Dua kali, untuk memastikan.”

Aku memegang kertas itu dan tidak tahu harus bilang apa.

“Tiga meter di atas dua puluh lima,” katanya. “Kamu bilang biayanya naik cepat, tapi tiga meter seharusnya masih masuk akal. Kalau tidak, bilang sekarang.”

“...Masih masuk akal.”

“Bagus.”

Dia berbalik untuk pergi, lalu berhenti.

“Kanzaki.”

“Ya.”

“Kalau ternyata lebih berat dari yang kamu kira, berhenti di tengah.”

“Terus kalian kalah.”

“Ya.”

Dia mengucapkannya tanpa jeda dan tanpa nada berat sedikit pun, seperti orang menyebutkan bahwa hari ini kemungkinan hujan.

Lalu dia pergi ke arena.


Turnamennya sendiri, sejujurnya, berlangsung dengan cara yang agak konyol.

Party kami tidak kalah satu pun. Bahkan tidak dekat.

Babak pertama melawan party tahun ketiga, dan selesai dalam empat menit. Amamiya berdiri di depan dan tidak bergerak sama sekali sepanjang serangan pertama mereka — nol langkah mundur, lagi — sementara Hoshimiya lewat dari sisi kiri dan menyelesaikan tiga orang sebelum yang keempat sempat berbalik.

Babak kedua lebih cepat. Tiga menit.

Babak ketiga, Tsukumo menjatuhkan lawannya dengan ayunan ketiga, dan berteriak “AYUNAN KETIGA!” dengan suara yang terdengar sampai tribun, dan seluruh arena tertawa, dan dia menangis di tengah pertandingan.

Party Sakuraba tersingkir di babak pertama karena Sakuraba merapal ke arah yang salah dan membakar bendera party-nya sendiri.

“Itu taktik psikologis,” katanya kemudian.

“Kamu bakar bendera sendiri.”

“Untuk mengacaukan ekspektasi lawan.”

“Kamu langsung diskualifikasi.”

“Ekspektasi mereka jadi kacau.”


Aku duduk di tribun barat baris paling depan selama dua hari.

Dua puluh delapan meter. Aku mengukurnya sendiri di hari pertama dengan menghitung ubin, dan hasilnya dua puluh tujuh koma sekian, jadi dia menghitungnya dengan benar.

Tiga meter di atas batas.

Terdengar sedikit. Ternyata tidak sedikit.

Hari pertama, empat pertandingan, total sekitar tiga puluh menit di arena. Setelah pertandingan terakhir aku duduk di tribun sampai orang-orang pulang, karena berdiri sebelum tribunnya sepi bukan ide yang bagus.

Hari kedua ada tiga pertandingan. Yang terakhir final.

Di babak semifinal aku mulai melihat bintik-bintik di pinggir pandangan, dan aku menghitung mundur dari seratus dalam hati untuk memastikan aku masih bisa berhitung.

Aku masih bisa. Jadi aku lanjut.


Final melawan party Kuroba Jin.

Itu pertandingan terbaik sepanjang turnamen dan semua orang tahu itu sejak sebelum dimulai. Tribun penuh. Ada bangsawan yang berdiri.

Sembilan menit empat puluh detik.

Hoshimiya dan Kuroba bertukar sekitar empat puluh kali sebelum salah satu dari mereka mundur setengah langkah, dan yang mundur adalah Kuroba, dan setelah setengah langkah itu semuanya selesai dalam enam detik.

Arena meledak.

Aku ikut berdiri. Semua orang berdiri.

Dan aku ingin mencatat sesuatu di sini, dengan jujur, karena aku sudah pernah menulis hal serupa sebelumnya dan aku tidak mau salah dimengerti.

Aku senang.

Bukan senang yang dipaksakan. Aku berdiri di tribun barat baris paling depan dan aku betul-betul senang, dan waktu Tsukumo melompat-lompat di arena sambil menangis aku tertawa keras, dan itu tawa sungguhan.

Itu bukan bagian yang menyakitkan.

Bagian yang menyakitkan datang sekitar delapan menit kemudian, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan perasaanku sendiri.


Upacara penyerahan piala diadakan di arena.

Aku tidak boleh masuk arena.

Aturan nomor empat. Aku sudah membacanya tiga hari sebelumnya, dan aku sudah tahu bagian ini akan terjadi, dan aku sudah memutuskan bahwa aku tidak keberatan.

Jadi aku turun dari tribun dan kembali ke ruang persiapan, karena ada tas yang harus dirapikan, ada perlengkapan yang harus dihitung dan dikembalikan ke gudang, dan itu memang tugas logistik.

Ruang persiapan letaknya di balik dinding utara arena.

Dindingnya batu, tebal, dan tidak ada jendela.

Aku bisa mendengar semuanya.

Bukan kata-katanya — batunya terlalu tebal untuk itu. Yang sampai cuma bentuknya. Suara pembawa acara, naik turun. Jeda. Lalu gemuruh, dan gemuruhnya panjang sekali.

Aku sedang menghitung tali. Ada dua belas gulung dan seharusnya ada dua belas.

Gemuruh kedua. Ini pasti waktu pialanya diangkat.

Ada satu tali yang hilang. Aku menghitung ulang.

Gemuruh ketiga, lebih pendek. Mungkin foto.

Talinya ternyata ada di bawah bangku. Sebelas ditambah satu, dua belas. Aku memasukkannya ke peti.

Lalu aku duduk di bangku ruang persiapan yang dingin itu, sendirian, dengan peti perlengkapan yang sudah rapi, dan mendengarkan sisa upacara sampai selesai.

Kira-kira sebelas menit.

Aku ingat itu karena aku menghitung. Aku selalu menghitung.


Pintu ruang persiapan terbuka sekitar dua menit setelah suaranya reda.

Aku sedang menutup peti dan tidak menoleh, karena kupikir itu petugas gudang.

“Kanzaki.”

Hoshimiya berdiri di ambang pintu. Masih memakai perlengkapan lengkap. Rambutnya lepas sebagian dari ikatan. Ada goresan tipis di pipi kiri yang belum sempat dibersihkan.

Dia tidak membawa piala.

“Kok di sini?” tanyaku. “Fotonya belum?”

“Sudah.”

“Terus?”

Dia masuk dan menutup pintu di belakangnya.

“Aku cari kamu.”

“Aku memang di sini. Ini kan tugas logistik—”

“Aku cari kamu waktu fotonya.”

Aku berhenti.

“Waktu semua orang naik ke podium,” katanya, “aku menoleh ke belakang. Kebiasaan. Aku menghitung.”

Dia melihat peti perlengkapan yang sudah rapi.

“Empat orang di podium. Aku menghitung empat dan berhenti, dan butuh sekitar dua detik sebelum aku sadar kenapa angkanya salah.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Party kita lima orang,” katanya.

“Aturan nomor empat—”

“Aku tahu aturan nomor empat. Aku yang minta salinannya.”

Dia berdiri di situ, di ruang persiapan yang dingin, dengan goresan di pipi dan rambut yang setengah lepas, dan tidak melanjutkan kalimatnya.

Dan aku, karena tidak tahu harus bagaimana, mengucapkan satu-satunya kalimat yang terpikir:

“Selamat, ya.”

Dia menatapku cukup lama.

“Terima kasih,” katanya akhirnya.

Lalu dia duduk di bangku di sebelahku, di ruang persiapan tanpa jendela, sementara di luar sana masih ada beberapa ratus orang yang belum pulang.

Kami duduk di situ sampai petugas gudang datang mengambil peti.


Malam itu Kirisawa mengumpulkan seluruh kelas dua di aula.

“Bulan depan,” katanya, “kelas dua berangkat ke Reruntuhan Vellmoor. Ekspedisi lapangan, lima hari.”

Aula langsung ribut.

“Itu bukan dungeon latihan,” lanjutnya, dan keributannya berhenti. “Vellmoor punya retakan aktif kelas rendah. Sudah disurvei, sudah dijaga, dan kalian akan didampingi. Tapi ini bukan Sarang Bawah.”

Dia melihat ke seluruh ruangan.

“Kalau ada yang merasa belum siap, bilang sekarang. Nggak ada yang akan menghina kalian.”

Tidak ada yang bilang.

Tentu saja tidak ada yang bilang. Kami baru saja memenangkan turnamen. Tiga puluh anak dengan piala di lemari kelas, yang seumur hidupnya bergerak di seratus persen tanpa pernah tahu, yang baru saja mendapat bukti bahwa angkatan ini memang beda.

Aku berdiri di barisan paling belakang dan mendengarkan mereka semua tidak mengangkat tangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak hari kedua di dunia ini, aku mulai memikirkan yang kedua.


[Bersambung — Bab 17: Berat]