← Chapters Ch. 14 / 50

Chapter Fourteen

Jari yang Kejang

[POV: Kanzaki Rei]

Ujian kualifikasi tahun pertama diadakan setiap akhir semester, dan aturannya sederhana: kalau tidak lulus dua kali berturut-turut, kamu dikeluarkan dari akademi.

Bukan dikeluarkan dengan kasar. Astel sopan soal ini. Mereka menyebutnya penyaluran — kamu dipindahkan ke sekolah keterampilan di kota asalmu, dengan surat rekomendasi dan sedikit uang saku.

Tapi kamu tidak pulang membawa gelar. Dan kalau kamu datang dari desa yang mengirimmu ke sini dengan patungan sekampung, kamu pulang membawa hal lain.

Tiga puluh sembilan anak ikut. Aku tahu angkanya karena aku menghitung, seperti biasa.


Ujiannya berlangsung dua hari penuh di lapangan besar.

Aku datang di hari pertama, pukul tujuh pagi, dan berdiri di tepi lapangan di belakang garis kapur.

Tidak ada yang bertanya kenapa siswa tahun kedua berdiri di situ selama sebelas jam. Instruktur pun tidak. Ada beberapa siswa lain yang menonton, datang dan pergi, dan aku sekadar salah satu dari mereka — kecuali aku tidak pergi.

Jam pertama tidak terasa apa-apa.

Jam ketiga, ada denyut di belakang mata. Itu normal.

Jam keenam, aku duduk di rumput karena berdiri mulai butuh perhatian, dan aku tidak bisa membagi perhatian.

Jam kesembilan, tanganku mulai.


Aku harus menjelaskan bagian ini dengan benar, karena orang biasanya salah membayangkannya.

Yang terjadi bukan kesemutan. Bukan pegal. Bukan capek.

Yang terjadi adalah jari-jariku mulai menutup sendiri.

Pelan sekali. Sepersekian milimeter per menit, seperti daun yang mengering. Dimulai dari kelingking, lalu jari manis, dan yang paling parah selalu telunjuk kanan karena entah kenapa jari itu yang paling banyak dipakai.

Kalau kubiarkan, dalam beberapa jam tanganku akan berhenti di posisi setengah menggenggam dan tidak mau dibuka. Bukan tidak mau dalam arti sakit. Tidak mau dalam arti tidak menerima perintah.

Aku sudah pernah mengalaminya tiga kali sebelum ini. Yang terparah tahun lalu, waktu banjir di distrik utara, dan butuh dua hari sebelum aku bisa memegang pena lagi.

Aku duduk di rumput di tepi lapangan, menyembunyikan tangan kanan di bawah tangan kiri, dan terus menonton.


Di lapangan, anak dengan tombak kepanjangan itu sedang menjalani giliran keempatnya.

Namanya Fien. Aku mengetahuinya dari daftar peserta yang ditempel di papan, bukan dari bertanya.

Dia sudah gagal di percobaan pertama dan kedua. Yang ketiga lulus tipis. Yang keempat ini menentukan.

Dari jarak delapan meter, aku bisa melihat lengannya gemetar sebelum dia mulai. Aku bisa melihat dia mengganti pegangan tiga kali. Aku bisa melihat instruktur penilai melirik jam.

Aku melebarkan sedikit. Bukan radius — durasi dan kedalaman. Aku tidak yakin istilah teknisnya karena tidak ada yang pernah menulis buku tentang ini, dan satu-satunya buku yang ada isinya laporan pembedahan.

Yang bisa kukatakan: aku mendorong.

Fien mengangkat tombaknya, dan kali ini lengannya tidak gemetar.

Dia lulus dengan selisih empat detik.

Aku melihat dia menoleh ke temannya di pinggir lapangan, dan temannya melompat, dan mereka berteriak seperti orang yang baru memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar dari ujian kualifikasi.

Yang mana memang benar.

Aku duduk di rumput dan tanganku menutup satu tingkat lagi.


Tiga puluh tujuh dari tiga puluh sembilan lulus.

Dua yang tidak, gagal karena hal-hal yang tidak bisa kuperbaiki. Satu terkilir di percobaan pertama dan tidak bisa melanjutkan. Satu lagi memang tidak siap, dan tidak ada jumlah dorongan yang bisa mengubah itu — membuka kunci hanya berguna kalau ada sesuatu di balik kunci itu.

Aku tetap menghitungnya dua.

Aku selalu menghitung yang dua.


Aku pulang sekitar pukul tujuh malam, jalan pelan, dengan tangan kanan di dalam saku.

Aku sampai di kelas 2-C karena tasku masih di sana, dan karena aku butuh duduk di ruangan yang tidak ada orangnya selama beberapa menit sebelum menghadapi tangga asrama.

Lampu paling ujung menyala.

Hoshimiya duduk di bangkunya, membaca. Tasnya masih di meja. Dia jelas belum pulang sejak siang.

“Kamu belum pulang?”

“Belum.”

“Ujiannya sudah selesai dari tadi.”

“Aku tahu.”

Aku duduk di bangkuku. Menyeret tas dengan tangan kiri. Berusaha melakukannya dengan wajar.

Dia menutup bukunya.

“Kanzaki.”

“Ya.”

“Tangan kananmu.”

“Kenapa?”

“Keluarkan dari saku.”

Aku tidak bergerak.

“Kanzaki.”

“Ini nggak—”

Dia tidak menunggu aku selesai.

Dia meraih pergelangan tanganku dan menariknya keluar dari saku, dan aku terlalu lambat untuk menahan, dan sejujurnya aku juga tidak yakin aku akan menahan kalau aku cukup cepat.

Tangan itu keluar dalam posisi setengah menggenggam. Jari-jarinya melengkung ke dalam, kaku, dengan jarak yang tidak sama antara satu jari dan jari lainnya — telunjuk paling parah, hampir menyentuh telapak.

Kami berdua melihatnya untuk beberapa saat.

“...Berapa lama kamu di lapangan hari ini?”

“Nggak lama.”

“Kanzaki.”

“Sebelas jam.”

Dia menutup mata sebentar. Cuma sebentar. Lalu membukanya lagi.

Dan dia tidak marah, dan dia tidak mengomel, dan dia tidak mengulang satu pun argumen dari malam itu.

Yang dia lakukan adalah menarik kursinya lebih dekat, meletakkan tanganku di atas mejanya, dan mulai membuka jari-jariku satu per satu.


Sakit.

Bukan sakit yang tajam. Sakit yang seperti membuka pintu yang engselnya berkarat — ada perlawanan, lalu ada bunyi kecil di dalam sendi yang lebih terasa daripada terdengar.

Aku menarik tanganku secara refleks.

Dia menariknya kembali.

“Diam.”

“Hoshimiya—”

“Aku belum selesai.”

Dan dia melanjutkan.

Kelingking dulu. Lalu jari manis. Dia mengurutnya dari pangkal ke ujung dengan ibu jarinya, pelan, berulang-ulang, sampai jari itu mau turun sedikit. Lalu ditahan di posisi barunya beberapa detik supaya tidak menutup lagi. Lalu pindah ke jari berikutnya.

Aku duduk di sana dan tidak tahu harus melakukan apa dengan seluruh sisa tubuhku.

Ini bagian yang sulit dijelaskan.

Sakitnya bukan masalah. Aku sudah biasa dengan sakit; sakit itu urusan yang jelas, dan aku tahu cara menanganinya, yaitu dengan tidak menghiraukannya.

Yang tidak kutahu cara menanganinya adalah bahwa ada orang yang memegang tanganku selama lebih dari dua detik.

Aku mencoba menghitung kapan terakhir kali. Bukan bersalaman, bukan tidak sengaja bersenggolan di koridor. Dipegang.

Aku sampai ke ibuku, di duniaku sendiri, waktu umurku mungkin sepuluh atau sebelas.

Dan begitu aku sampai ke angka itu, aku memutuskan untuk berhenti menghitung, karena ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui jumlahnya.


Butuh sekitar dua puluh menit.

Dia tidak bicara selama itu, dan aku juga tidak, dan lampu paling ujung berdengung sekali di menit kesebelas.

Waktu selesai, tanganku masih tidak bisa lurus sepenuhnya. Tapi jari-jarinya sudah tidak menutup lagi, dan aku bisa menggerakkan telunjuk.

Dia melepaskannya.

“Besok pagi bakal kaku lagi,” katanya.

“Iya.”

“Berarti besok pagi juga.”

Aku menoleh.

Dia sudah kembali membuka bukunya, seolah baru saja menyelesaikan tugas piket, dan tidak melihat ke arahku sama sekali.

“...Kamu nggak mau tanya apa-apa?”

“Tidak.”

“Beneran?”

“Aku sudah bilang aku tidak akan tanya sampai kamu yang mulai.”

Aku duduk di sana memandangi tanganku sendiri.

“Kenapa kamu masih di sini?” tanyaku akhirnya. “Kamu nunggu dari siang.”

Dia membalik satu halaman.

“Aku menghitung,” katanya.

“Menghitung apa?”

“Kamu berdiri di lapangan sebelas jam. Aku sudah pernah lihat kamu setelah enam menit, dan hasilnya kamu izin sakit dua hari.” Dia membalik halaman lagi, walaupun aku cukup yakin dia belum membaca yang sebelumnya. “Jadi aku menunggu untuk memastikan kamu sampai ke asrama.”

Aku tidak menjawab.

Ada beberapa kalimat yang bisa kuucapkan waktu itu. Beberapa di antaranya baik.

Yang keluar cuma:

“...Kamu belum makan malam.”

“Belum.”

“Kantinnya sudah tutup.”

“Aku tahu.”

Dan dia bilang itu tanpa nada mengeluh sedikit pun, cuma sebagai fakta, seperti melaporkan bahwa jendelanya menghadap timur.


Kami turun bersama sekitar pukul delapan.

Dia mengambil jalan memutar lewat taman belakang tanpa berkata apa-apa, dan aku tidak protes, dan kami berjalan empat menit lebih lama daripada yang seharusnya.

Di depan asrama, dia berhenti.

“Kanzaki.”

“Ya.”

“Tiga puluh tujuh dari tiga puluh sembilan.”

Aku berhenti berjalan.

“Aku juga menonton,” katanya. “Dari menara. Sepanjang hari.”

Lalu dia masuk ke asrama putri tanpa menunggu jawaban, yang mana bagus, karena aku tidak punya jawaban.


Malamnya aku menulis di buku cokelat dengan tangan kiri, karena tangan kanan belum bisa memegang pena dengan benar. Tulisannya jelek sekali, hampir tidak terbaca.

Hari ke-1.122. Durasi 11 jam. Jari kanan menutup tingkat 3. Perkiraan pulih 2-3 hari.

37 dari 39.

Lalu, di baris paling bawah, dengan huruf yang lebih jelek lagi:

Dua puluh menit.

Aku tidak menjelaskan apa yang berlangsung dua puluh menit.

Aku tidak perlu. Aku tahu aku akan ingat.


[Bersambung — Bab 15: Penjelasan Setengah]