Chapter Forty Three
Halaman Ketiga
[POV: Hoshimiya Shion]
Aku mengambilnya karena disuruh.
Aku mau mencatat itu lebih dulu, bukan sebagai pembelaan, tapi karena urutannya penting.
Dia pingsan di lapangan besar pukul sebelas malam dan dibawa ke ruang kesehatan, dan Nyonya Belwen menyuruhku mengambil barang-barangnya dari kamar asrama karena dia jelas tidak akan pulang malam itu.
Tas. Seragam ganti. Buku pelajaran, kalau-kalau dia bangun dan bosan.
Aku masuk ke kamarnya untuk pertama kalinya.
Kamarnya kosong sekali. Itu hal pertama yang kusadari — bukan rapi, kosong. Tidak ada satu pun benda di ruangan itu yang tidak punya fungsi. Tidak ada gambar, tidak ada hiasan, tidak ada barang yang dibawa dari dunianya sendiri.
Tiga tahun tinggal di ruangan itu dan tidak ada satu pun tanda bahwa ada orang yang tinggal di sana.
Tasnya ada di sudut, di bawah meja.
Aku mengangkatnya dan dasarnya terbuka karena talinya sudah rusak, dan isinya jatuh ke lantai.
Aku bisa memungutnya dan memasukkannya kembali tanpa melihat.
Aku ingin sekali menulis bahwa itu yang kulakukan.
Yang sebenarnya terjadi adalah aku berlutut di lantai kamar itu dan melihat sebuah buku bersampul cokelat, lecek di keempat sudut, dengan pinggiran halaman yang sudah menghitam karena dipegang setiap malam selama seribu dua ratus lima puluh tujuh hari.
Dan aku membukanya.
Aku tidak akan berpura-pura ragu. Aku ragu sekitar dua detik.
Dua detik itu tidak cukup lama untuk disebut pertimbangan.
Halaman pertama.
Hari ke-1. Jangan sampai ada yang tahu.
Tulisannya rapi. Jauh lebih rapi daripada tulisan yang kukenal — huruf-hurufnya masih tegak dan jaraknya masih teratur.
Aku melihat tulisan tangan Kanzaki Rei sebelum tangannya rusak, dan aku duduk di lantai kamarnya cukup lama sebelum bisa membalik halaman.
Halaman kedua.
Hari ke-2. Perpustakaan lantai 4. Empat pemegang. Tidak ada yang mati tua.
Genkai Kaijo tetap nyala. Yang lain dikubur.
Radius terukur: ±22 m. Perlu diuji lagi.
Dan di bawahnya, di baris terakhir halaman itu, satu kalimat yang membuatku harus berhenti membaca selama beberapa menit:
Nanase Yuki, 152 cm. Rata-rata 164. Selisih 12.
Jangan pernah pakai rata-rata lagi.
Tiga tahun. Halaman kedua. Hari kedua.
Dia menulisnya di hari kedua dan tidak pernah menghapusnya, dan setiap malam selama seribu dua ratus lima puluh tujuh hari dia membuka buku ini dan halaman kedua ada di sana.
Aku membaca seluruhnya.
Aku duduk di lantai kamar asrama putra, di antara barang-barang yang berhamburan, dan membaca seribu dua ratus lima puluh tujuh baris.
Butuh sekitar satu jam empat puluh menit.
Sebagian besar isinya membosankan. Aku ingin menuliskan itu karena penting: sebagian besar isinya betul-betul membosankan.
Hari ke-400. Radius stabil. Tidak ada gejala baru. Hari ke-401. Radius stabil. Tidak ada gejala baru. Hari ke-402. Radius stabil. Tidak ada gejala baru.
Ratusan baris seperti itu, berturut-turut, selama berbulan-bulan.
Dan di antara ratusan baris membosankan itu, sesekali, ada baris yang berbeda.
Hari ke-217. Retakan kecil Distrik Selatan. 11 orang. Aku di pasar, 400 m.
11.
Hari ke-598. Longsor Jalur Havren. 4.
15.
Hari ke-871. Kebakaran gudang gerbang timur. 3, dua anak-anak. Aku di asrama, 800 m.
18.
Angkanya terus bertambah. Aku mengikutinya dengan jari sepanjang tiga tahun.
Delapan. Sebelas. Lima belas. Delapan belas. Dua puluh dua. Dua puluh enam.
Dua puluh tujuh.
Aku sampai ke bagian yang kukenal sekitar halaman tiga perempat.
Hari ke-1.096. Radius stabil. Tidak ada gejala baru.
Itu hari pertama aku duduk di depannya di kantin.
Dia tidak menulis apa-apa tentang itu.
Hari ke-1.099. Ada yang menghitung.
Hari ke-1.104. Dia menghitung anak tangga.
Hari ke-1.112. Radius 50 m. Pemulihan >48 jam. Tujuh belas dan tujuh belas.
Hari ke-1.122. Durasi 11 jam. Jari kanan menutup tingkat 3. 37 dari 39.
Dua puluh menit.
Aku berhenti di baris terakhir itu cukup lama sebelum aku ingat apa yang berlangsung dua puluh menit, dan waktu aku ingat, aku menutup buku itu dan meletakkannya di lantai dan tidak menyentuhnya selama beberapa menit.
Aku membukanya lagi, tentu saja.
Hari ke-1.161. Tadi malam lepas 1 detik. Penahanan dinaikkan ke +30%.
Hari ke-1.174. Amamiya bertanya kenapa dia sembuh. Aku tidak menjawab.
Hari ke-1.232.
27.
Tanpa keterangan. Tanpa penjelasan.
Dan aku duduk di lantai kamar itu dan menyadari, dengan cara yang membuat perutku dingin, bahwa hari ke-1.232 adalah pagi setelah aku menciumnya di pipi dan bilang hitungannya sekarang dua puluh tujuh.
Aku tidak tahu dia punya daftar lain dengan angka yang sama.
Aku tidak tahu apa yang kulakukan padanya pagi itu.
Dan di halaman terakhir yang terisi:
Hari ke-1.255. Gran Verg bergerak 200 m/jam. Perkiraan 4 hari.
Lalu halaman berikutnya, yang isinya cuma satu baris di tengah, tanpa tanggal, tanpa angka:
Aku pengin hidup.
Aku menekan buku itu ke dadaku dan duduk di lantai kamar asrama putra pukul dua belas malam dan menangis untuk keempat kalinya dalam tiga bulan, dan kali ini aku bahkan tidak mencoba menghentikannya.
Aku hampir tidak membuka halaman ketiga.
Aku sudah membaca dari halaman pertama sampai terakhir. Aku sudah selesai. Aku sudah memasukkan semuanya kembali ke tas dan berdiri.
Lalu aku ingat sesuatu.
Halaman pertama: hari ke-1. Halaman kedua: hari ke-2, dan catatan tentang Nanase. Halaman ketiga seharusnya hari ke-3.
Tapi baris pertama di halaman keempat berbunyi Hari ke-9.
Aku sudah melewatinya tanpa sadar karena aku membaca dengan mengikuti tanggal, dan halaman ketiga tidak punya tanggal sama sekali.
Aku membukanya kembali.
Halaman ketiga bukan catatan harian.
Halaman ketiga adalah tabel.
Ditulis tangan, rapi, dengan garis-garis yang ditarik pakai penggaris — dan aku mengenali jenis kerapian itu, karena aku juga membuat tabel seperti itu, karena orang yang membuat tabel seperti itu sedang mencoba mengubah sesuatu yang menakutkan jadi sesuatu yang bisa dihitung.
Judulnya di baris paling atas:
JŪBYŌ NO AGANAI — PERKIRAAN BATAS
Empat kolom.
Durasi. Beban (kuadrat). Perkiraan kerusakan. Perkiraan pemulihan.
- 30 dtk — ×1 — muntah darah, pingsan 1-2 jam — 2-3 hari
- 45 dtk — ×2,25 — rusuk retak sendiri, pendarahan dalam ringan — 1-2 minggu
- 60 dtk — ×4 — pendarahan dalam, organ — 1-2 bulan?
- 90 dtk — ×9 — koma — tidak diketahui
- 120 dtk — ×16 — mati (semua pemegang sebelumnya) — —
Dan di bawah tabel itu, di baris terakhir halaman, ditulis dengan tulisan tangan yang masih tegak dan masih teratur karena tangan itu belum rusak:
Titik di mana kemungkinan bangun = 0.
Perkiraan terbaik: 105 detik.
Batas: 105.
Aku duduk di lantai kamar itu selama waktu yang tidak kuhitung.
Aku ingin menuliskan dengan tepat apa yang kurasakan, dan aku sudah mencoba enam kali dan semuanya gagal, jadi aku akan menuliskan yang paling dekat saja.
Aku tidak merasa sedih.
Yang kurasakan adalah sesuatu yang jauh lebih dingin dan jauh lebih sederhana.
Aku sedang melihat pekerjaan rumah.
Empat kolom, garis penggaris, angka kuadrat yang dihitung dengan benar, tulisan tangan seorang anak berumur tujuh belas tahun yang baru tiga hari berada di dunia asing.
Dia mengerjakan kematiannya sendiri seperti orang mengerjakan soal matematika.
Dan dia menyelesaikannya di hari ketiga.
Tiga hari.
Aku belum bertemu dengannya. Kami belum pernah bicara. Aku bahkan belum diukur oleh Bola Ukur Kristal. Aku masih anak berumur tujuh belas tahun yang belum tahu bahwa dia akan jadi peringkat satu akademi.
Dan di kamar lain, di gedung yang sama, seorang anak laki-laki sedang menarik garis pakai penggaris dan menulis angka seratus lima dengan tulisan yang rapi.
Aku memasukkan buku itu ke tas.
Aku menutup pintu kamarnya. Aku berjalan ke ruang kesehatan. Butuh sekitar sepuluh menit dan aku tidak mengingat satu pun dari sepuluh menit itu.
Dan sepanjang jalan aku menyusun apa yang akan kulakukan, dan aku menyusunnya seperti biasa, dengan pilihan-pilihan yang berurutan.
Pilihan pertama: menunjukkan halaman ketiga padanya dan menuntut penjelasan.
Kubuang. Dia akan bilang itu cuma perkiraan. Dia akan bilang itu ditulis tiga tahun lalu waktu dia belum tahu apa-apa. Dua-duanya benar, dua-duanya tidak menjawab apa pun, dan aku akan menghabiskan malam terakhir sebelum pertempuran untuk bertengkar.
Pilihan kedua: memberi tahu Valdrein.
Kubuang. Valdrein akan menghentikannya, dan kalau Valdrein menghentikannya, empat ribu orang akan berdiri di alun-alun tanpa satu-satunya hal yang membuat mereka berguna, dan kota ini akan jatuh dalam waktu kurang dari satu jam.
Pilihan ketiga: memberi tahu Kirisawa, Amamiya, Kuroba. Semua orang. Membuat semua orang tahu angka itu, supaya semua orang mengawasinya.
Kutimbang lebih lama.
Lalu kubuang juga, dan aku ingin menuliskan alasannya dengan jujur karena alasannya bukan alasan yang baik.
Kubuang karena dia sudah menghabiskan tiga tahun memutuskan sendiri berapa yang boleh diketahui orang lain tentang harga yang dia bayar.
Dan aku sudah pernah marah besar padanya soal itu.
Dan aku tidak berniat jadi orang yang melakukan hal yang sama padanya, bahkan untuk menyelamatkannya.
Aku sampai di ruang kesehatan pukul satu kurang.
Aku duduk di kursi di samping ranjang, dan aku meletakkan buku catatan hitamku di pangkuan, dan aku meletakkan buku cokelat itu di bawahnya.
Aku tidak menyembunyikannya.
Aku ingin dia melihatnya waktu bangun. Aku ingin dia tahu bahwa aku sudah membacanya. Aku tidak akan berbohong soal ini — bukan karena mulia, tapi karena aku sudah tahu persis apa yang terjadi kalau dua orang mulai menyimpan angka masing-masing.
Dia bangun pukul satu lewat sedikit.
“Berapa?” tanyanya.
“Seribu dua ratus.”
“Aku butuh empat ribu.”
“Aku tahu.”
Dia mencoba duduk dan gagal dan berbaring lagi.
“Kanzaki.”
“Ya.”
“Tasmu ada di sini,” kataku.
Dia menoleh.
Dan dia melihat buku cokelat itu di pangkuanku, di bawah buku catatan hitamku, dan aku melihat seluruh wajahnya berubah dalam waktu kurang dari satu detik.
Dia tidak bertanya apakah aku membacanya.
Dia langsung tahu, dan dia tahu bahwa aku tahu dia tahu, dan dia menutup matanya sebentar.
“Halaman ketiga,” katanya.
“Ya.”
Dia membuka matanya lagi dan menatap langit-langit ruang kesehatan.
“Aku nulis itu di hari ketiga,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku bahkan belum ngerti apa-apa waktu itu.”
“Aku tahu.”
“Angkanya mungkin salah.”
“Aku tahu.”
Dan setelah itu tidak ada yang bicara selama sekitar sepuluh menit, dan aku duduk di kursi itu memegang dua buku catatan, dan dia berbaring memandangi langit-langit.
Dan tidak satu pun dari kami menyebut angka seratus lima keras-keras.
Tidak malam itu.
Tidak keesokan harinya.
Baru dua hari kemudian, di alun-alun pusat, waktu aku sudah tidak bisa berteriak cukup keras untuk didengar siapa pun.
[Bersambung — Bab 44: Yang Kupilih Sendiri]