Chapter Twenty Four
Dua Menit
[POV: Kanzaki Rei]
Yang keluar dari retakan itu bukan satu makhluk.
Aku pikir awalnya begitu. Semua orang pikir begitu, karena bentuknya besar dan bergerak seperti satu benda.
Ternyata bukan.
Ada sekitar delapan puluh, mungkin seratus, dan mereka keluar sekaligus dan menumpuk sehingga dari jauh kelihatan seperti satu tubuh yang mengalir keluar dari pintu.
Jenisnya bukan yang kami temui dua hari sebelumnya. Yang ini punya empat kaki dan tubuh rendah, dan cara mereka bergerak sama sekali tidak seperti binatang — mereka tidak melompat, tidak menerjang, tidak berhenti untuk melihat. Mereka cuma terus maju dengan kecepatan yang sama, seperti air yang mengalir turun.
Kesatria yang lebih tua berteriak sesuatu yang tidak kudengar.
Kirisawa berteriak, “GERBANG TIMUR!”
Dan kami lari.
Kami tidak sampai ke gerbang timur.
Ini bukan kesalahan siapa pun. Jalan utama Vellmoor melengkung, dan makhluk-makhluk itu tidak perlu melewati jalan. Mereka melewati reruntuhan rumah. Mereka melewati apa saja.
Yang menghentikan kami adalah dinding.
Sisa dinding gudang, setinggi empat meter, memblokir persimpangan sebelah kiri. Di sebelah kanan ada jurang kecil, bekas kanal kering, sedalam mungkin lima meter.
Jadi kami berhenti di persimpangan itu — tujuh belas orang di ruang selebar sekitar dua belas meter, dengan dinding di satu sisi dan kanal di sisi lain, dan satu-satunya jalan masuk di depan.
Yang sebenarnya bukan posisi terburuk. Kalau kamu harus bertahan, celah sempit lebih baik daripada lapangan terbuka.
Kirisawa langsung menyusun.
“Guardian ke depan! Warrior di belakang guardian! Penyihir naik ke reruntuhan, kalian punya sudut!”
Dan aku ingin mencatat sesuatu di sini: mereka melakukannya dengan sempurna.
Tiga puluh detik. Formasi terbentuk dalam tiga puluh detik, tanpa satu pun tabrakan, tanpa satu pun yang salah posisi. Anak-anak SMA yang lima hari lalu masih ribut soal siapa yang bawa selimut.
Aku berdiri di paling belakang, di dekat dinding, dan aku sudah mengikat satu benang sebelum formasi itu selesai.
Sepuluh menit pertama, kami menang.
Sungguh. Kalau ada yang menonton dari luar, mereka akan melihat kelompok yang bertahan dengan sangat baik.
Amamiya Koharu berdiri di titik paling depan celah itu. Perisainya besar untuk ukuran tubuhnya — selalu begitu, itu jadi bahan lelucon selama tiga tahun — dan dia menahan gelombang pertama tanpa mundur satu langkah pun.
Nol langkah. Lagi.
Di belakangnya, Tsukumo mengayun. Satu, dua, tiga. Ayunan ketiganya tepat waktu setiap kali sekarang.
Di sisi kanan, Kuroba dan dua kesatria memotong apa pun yang mencoba naik dari kanal.
Di reruntuhan atas, Sakuraba merapal — dan untuk pertama kalinya sepanjang tiga tahun, tidak satu pun rapalannya salah. Bola api demi bola api, tepat, ke celah yang benar.
Dan Hoshimiya bergerak di sepanjang garis depan seperti sesuatu yang tidak punya kewajiban untuk mengikuti hukum tubuh manusia, karena memang tidak, karena ada benang di tulang dadanya.
Sepuluh menit.
Kami membunuh mungkin enam puluh.
Yang tidak kami perhitungkan adalah retakan itu masih terbuka.
Mereka tidak berhenti datang. Setiap kali barisan depan habis, ada barisan berikutnya yang sudah berjalan di jalan utama.
Menit kesebelas, kesatria yang lebih muda jatuh ke kanal.
Menit kedua belas, Sakuraba kehabisan mana. Bukan kelelahan — habis. Dia turun dari reruntuhan dengan wajah putih dan kakinya tidak bisa menahan berat badannya sendiri.
Menit ketiga belas, Isuzu Nono berhenti merapal karena Mochi sudah tidak muncul lagi.
Menit keempat belas, Tsukumo Daichi kena.
Aku melihat semuanya dari belakang.
Itu posisiku. Selalu posisiku. Dan dari posisi itu, aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang yang sedang bertarung.
Aku bisa melihat garis itu bergeser.
Bukan mundur. Bergeser. Setiap kali seseorang tumbang, celah selebar dua belas meter itu harus ditutup oleh orang yang lebih sedikit, dan yang tersisa harus melebar untuk menutupinya.
Dan setiap kali mereka melebar, jarak antar orang bertambah.
Dan setiap tambahan jarak berarti tambahan luka.
Aku menghitung terus-menerus sepanjang empat belas menit itu, dan aku sudah tahu jawabannya sejak menit kesebelas.
Kami tidak akan sampai ke gerbang timur.
Amamiya bertahan paling lama.
Aku mau menuliskan bagian ini dengan hati-hati, karena ada orang yang kemudian mengatakan bahwa dia bodoh, dan aku ingin membantahnya sekali untuk selamanya.
Dia tidak bodoh.
Dia berdiri di titik paling sempit, yang berarti kalau dia mundur, celah itu terbuka dan semua orang di belakangnya mati dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Jadi dia tidak mundur.
Menit keenam belas, aku melihat perisainya turun sekitar sepuluh sentimeter.
Menit ketujuh belas, dia mengganti tumpuan ke kaki kiri, yang berarti kaki kanannya sudah tidak bisa dipakai.
Menit kedelapan belas, aku mendengar suara.
Aku tidak akan menjelaskan suaranya.
Yang bisa kukatakan cuma bahwa Amamiya Koharu tetap berdiri setelah suara itu, selama sekitar empat detik lagi, dan selama empat detik itu perisainya masih di posisi yang benar.
Lalu Hoshimiya menariknya keluar dari garis dan Kuroba menutup celahnya, dan Amamiya jatuh di belakangku, sekitar dua meter dari tempatku berdiri.
Kami tidak punya healer.
Aku sudah menyebutkan ini sebelumnya. Kelas 2-C tidak punya. Kelas mana pun di angkatan kami tidak punya. Satu dari dua ratus, dan tiga puluh anak itu tidak cukup untuk mengharapkan satu.
Kirisawa punya tiga botol ramuan pemulihan di tasnya, dan dia sudah memakai dua.
Aku berlutut di sebelah Amamiya.
Matanya terbuka. Itu hal pertama yang kuperiksa.
“Kanzaki.” Suaranya normal. Itu bagian yang paling salah — suaranya normal sekali. “Aku nggak bisa berdiri.”
“Diam dulu.”
“Perisainya masih bisa dipakai. Ambil, kasih ke Kuroba, dia—”
“Amamiya, diam.”
“Bekalnya di tas biru.” Dia menoleh sedikit, dan menoleh sedikit saja membuat sesuatu di wajahnya berubah. “Kalau nanti kalian nunggu bantuan, itu cukup buat delapan orang. Aku sudah hitung.”
Aku menutup mata sebentar.
Tiga tahun. Setiap hari. Kotak bekal di mejaku tanpa melihat.
“Kebanyakan,” katanya. Dan dia tertawa sedikit, lalu berhenti tertawa karena tertawa ternyata bukan ide yang bagus.
Aku berdiri dan menghitung.
Ini yang kudapat, dalam waktu sekitar delapan detik.
Yang masih bisa bertarung: empat. Hoshimiya, Kuroba, satu kesatria, Kirisawa dengan satu tangan.
Yang tidak bisa bertarung tapi masih sadar: tujuh.
Yang tidak sadar: lima.
Yang di kanal: satu, dan tidak ada yang tahu bagaimana keadaannya.
Yang masih datang dari jalan utama: aku berhenti menghitung di angka empat puluh.
Waktu sampai celah itu terbuka: kurang dari dua menit.
Dan di sinilah aku harus menuliskan hal yang paling penting dari seluruh malam itu, karena kalau tidak, sisanya tidak akan masuk akal.
Aku sudah punya Renjin.
Sepuluh benang. Aku bisa mengikat sepuluh orang sekaligus. Seratus lima puluh persen. Presisi yang mustahil.
Dan aku berdiri di sana dan menghitungnya dan hasilnya nol.
Karena Renjin menggerakkan tubuh.
Tubuh Tsukumo Daichi ada tiga tulang yang patah di lengan kanan. Kalau aku menggerakkannya di seratus lima puluh persen, yang kudapat bukan pendekar; yang kudapat adalah lengan yang hancur lebih cepat.
Kaki kanan Amamiya sudah tidak bisa menahan berat badannya sendiri. Seratus lima puluh persen dari kaki yang tidak bisa menahan berat badan tetap nol.
Sakuraba kehabisan mana. Benang tidak menciptakan mana.
Aku bisa menggerakkan mereka semua. Aku betul-betul bisa. Mereka akan berdiri, mereka akan maju, mereka akan bertarung.
Dan mereka akan hancur dalam empat puluh detik, dan mereka akan sadar penuh sepanjang empat puluh detik itu.
Alat yang kupunya membuka kunci. Alat kedua yang kupunya menggerakkan tubuh.
Tidak satu pun dari keduanya bisa menutup luka.
Aku berdiri di persimpangan Vellmoor dengan lima belas orang di belakangku dan sekitar dua menit tersisa, dan aku menyadari — dengan sangat tenang, yang membuatku takut sampai sekarang — bahwa aku sudah tahu jawabannya sejak menit kesebelas.
Aku sudah tahu sejak menit kesebelas dan aku terus menghitung ulang selama tujuh menit, mencari kemungkinan lain, karena aku tidak mau sampai ke sana.
Ada satu hal lagi yang kupunya.
Aku belum pernah memakainya. Sekali pun. Bahkan tidak untuk mencoba.
Aku cuma pernah membaca deskripsinya, di lantai empat perpustakaan, tiga tahun lalu, di halaman terakhir sebelum enam puluh halaman laporan pembedahan.
Aku hafal sebelas baris rapalannya.
Aku juga hafal satu baris terakhir dari kotak deskripsinya, yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk pada Hoshimiya Shion di ruang latihan lantai dua tiga belas malam berturut-turut.
Efek maksimal: koma, hingga kematian.
Hoshimiya menoleh ke belakang.
Dia selalu menoleh ke belakang. Dia menghitung.
Dan dari jarak dua belas meter, di tengah semua itu, aku melihat matanya menemukan tanganku — yang sudah terangkat, kesepuluh jarinya, dalam posisi yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Aku melihat bibirnya membentuk namaku.
Aku tidak mendengar apa-apa.
Dan aku mulai merapal.
[Bersambung — Bab 25: Sepuluh Detik]