Chapter Seven
Latihan Dungeon
[POV: Kanzaki Rei]
“Minggu depan kalian masuk Sarang Bawah.”
Kirisawa Genya mengumumkannya di lapangan dengan nada orang yang sedang membacakan daftar belanja. Tangan kiri buatannya berbunyi kecil waktu dia melipat lengan.
“Lantai satu sampai tiga. Tiga hari. Bermalam di dalam.”
Kelas langsung ribut.
“Serius, Pak?”
“Bermalam?!”
“Ada monster nggak, Pak?”
“Ada.” Kirisawa tidak repot-repot menoleh ke arah yang bertanya. “Kalau nggak ada, namanya bukan dungeon. Namanya gua.”
Sarang Bawah itu dungeon latihan. Setiap akademi punya satu, dan yang ini terletak dua jam berkuda dari ibu kota, di bawah reruntuhan kuil tua.
Lantai satu sampai tiga sudah dipetakan sejak enam puluh tahun lalu. Monsternya kelas rendah dan populasinya dijaga di angka tertentu — kerajaan bahkan punya petugas khusus yang tugasnya memastikan jumlahnya tidak turun terlalu banyak, karena dungeon yang terlalu bersih tidak berguna untuk latihan.
Lantai empat ke bawah ditutup. Ada gerbang besi, ada segel, dan ada dua kesatria yang berjaga bergantian.
Jadi ini bukan petualangan. Ini karyawisata dengan pedang.
Tapi tetap saja seluruh kelas heboh selama tiga hari, karena ini pertama kalinya kami masuk dungeon sungguhan, dan karena bermalam di luar asrama terdengar jauh lebih seru daripada kenyataannya nanti.
“Bentuk party. Empat orang. Kali ini permanen sampai akhir semester.”
Bagian ini selalu berjalan sama, dan aku sudah menyiapkan diri.
Orang bergerak. Kuroba dikelilingi dalam empat detik. Amamiya menarik Isuzu dan Tsukumo sekaligus, lalu menoleh ke sekeliling mencari orang keempat.
Aku berdiri di tempatku dan mulai menghitung.
Satu. Dua. Tiga.
“Kanzaki.”
Hitunganku berhenti di tiga.
Hoshimiya berdiri di sebelahku — entah sejak kapan, karena aku tidak melihatnya bergerak ke sini — dan mengangkat tangan.
“Pak. Party saya sudah lengkap.”
Kirisawa mengangkat alis. “Kamu belum ngajak siapa-siapa.”
“Sudah.”
“Kapan?”
“Barusan.”
Kirisawa melihat ke arahku.
Aku juga sedang melihat ke arahku, secara metaforis.
Yang terjadi setelah itu adalah tiga puluh detik paling berisik dalam tiga tahun terakhir.
“HAH?”
“Hoshimiya sama Kanzaki?”
“Party dua orang?”
“Nggak bisa dua orang, minimal empat—”
“Aku ikut!” Amamiya sudah mengangkat tangan sebelum kalimat itu selesai. “Party kami kurang satu. Kalau digabung jadi—” dia menghitung cepat “—lima. Lima boleh nggak, Pak?”
“Lima boleh,” kata Kirisawa. “Asal ada healer.”
Hening.
Kelas 2-C tidak punya healer. Tidak ada satu pun dari tiga puluh anak yang keluar dari ruang pengukuran dengan tulisan itu. Statistiknya memang begitu — healer muncul kira-kira satu dari dua ratus.
“Pak, nggak ada healer di kelas kami,” kata seseorang.
“Aku tahu.” Kirisawa mengangkat bahu. “Makanya jangan luka.”
Jadi begini susunan akhirnya.
Hoshimiya Shion — Sword Saint, tier S. Penyerang utama, dan sejujurnya juga penyerang kedua dan ketiga.
Amamiya Koharu — Guardian, tier A. Berdiri paling depan, badan paling kecil, suara paling besar.
Tsukumo Daichi — Warrior, tier B+. Kapak besar, tenaga besar, air mata besar.
Isuzu Nono — Summoner, tier B. Ditambah Mochi, yang secara resmi terdaftar sebagai aset tempur dan secara praktis terdaftar sebagai bantal.
Dan aku.
Kirisawa menulis di papan jalannya, lalu berhenti di kolom terakhir.
“Kanzaki. Peran?”
“Pengamat, Pak.”
“Di dalam dungeon nggak ada pengamat.”
“...Pembawa barang?”
“Itu baru masuk akal.” Dia menulis. “Logistik.”
Ada yang tertawa. Sakuraba, yang party-nya berdiri tidak jauh dari situ, berkata cukup keras, “Sudah kubilang alam semesta menuntut keseimbangan.”
Aku tidak keberatan dengan istilah logistik. Logistik itu bagus. Logistik berarti berdiri di belakang, di dalam jangkauan, dan tidak ada yang mempertanyakan kenapa aku selalu ada di posisi yang bisa melihat semua orang sekaligus.
Yang aku keberatkan adalah Hoshimiya, yang membuka mulut untuk membantah.
Aku menginjak sepatunya.
Dia menoleh.
Aku menggeleng, sekali, sangat kecil.
Dia menutup mulutnya lagi. Tapi wajahnya sepanjang sisa latihan hari itu adalah wajah orang yang sedang menyimpan sesuatu untuk nanti.
Latihan persiapan berlangsung seminggu, dan seminggu itu memberiku kesempatan untuk melihat sesuatu yang sudah lama kuhindari: aku melihat mereka bertarung dari dekat.
Selama tiga tahun aku selalu di pinggir lapangan, jarak dua puluh meter, memegang buku catatan. Sekarang aku di dalam formasi. Lima meter.
Dan dari lima meter, kamu melihat hal-hal yang tidak kelihatan dari dua puluh.
Kamu melihat Amamiya menahan benturan dan bibirnya menggigit bagian dalam pipinya sendiri setiap kali, walaupun wajahnya tetap ceria.
Kamu melihat Tsukumo yang ayunan ketiganya selalu lebih lambat dari dua yang pertama, dan dia sendiri tidak sadar, dan kalau ada yang memberitahunya dia akan bisa memperbaikinya dalam dua minggu.
Kamu melihat Isuzu yang mengucapkan rapalan pemanggilan sambil menahan napas, yang membuatnya kehabisan udara di baris keempat.
Kamu melihat semuanya. Semua celah, semua kunci yang masih terpasang di tubuh mereka.
Dan kamu berdiri di situ memegang tas berisi tali dan lentera dan tidak mengatakan apa-apa.
Ada satu momen di hari kelima ketika Amamiya terpelanting dan jatuh dengan bunyi yang tidak enak didengar, dan sebelum aku sadar, tanganku sudah bergerak — jari kelingking dan jari manis, sedikit, ke arah dia.
Aku menahannya di tengah jalan.
Amamiya bangun sendiri sambil tertawa dan bilang dia baik-baik saja.
Aku memasukkan tangan ke saku dan tidak mengeluarkannya sampai latihan selesai.
Hoshimiya melihat.
Aku tahu dia melihat, karena malam itu dia berkata satu kalimat waktu kami berjalan pulang, dan tidak menjelaskannya:
“Kamu tadi hampir.”
Aku tidak menjawab, dan dia tidak mengulanginya.
Malam terakhir sebelum berangkat, Kirisawa mengumpulkan semua party di aula dan membagikan sesuatu.
Kartu kecil dari batu tipis, seukuran telapak tangan, dengan retakan halus di tengahnya.
“Ini kartu darurat. Satu per party. Patahkan, dan dalam sekitar empat menit ada kesatria yang datang.” Dia mengangkat satu kartu tinggi-tinggi. “Empat menit. Bukan empat detik. Kalau kalian patahkan waktu sudah kepepet, kalian tetap mati, cuma nanti mayatnya ketemu.”
“Pak, itu terlalu—”
“Patahkan lebih awal daripada terlambat. Malu itu sembuh. Yang satunya nggak.”
Dia melempar kartu itu satu per satu ke tiap party.
Hoshimiya menangkap punya kami, melihatnya sebentar, lalu menyodorkannya padaku.
“Kamu yang pegang.”
“Kenapa aku?”
“Karena kamu satu-satunya yang akan mematahkannya lebih awal.”
Aku menerimanya dan memasukkannya ke saku dalam.
Aku ingat merasa sedikit tersinggung waktu itu, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan.
Aku juga ingat bahwa dia benar.
Kami berangkat pukul lima pagi dengan tiga kereta.
Aku duduk di bagian belakang kereta ketiga, di dekat tumpukan tas, karena di situ paling sepi dan paling mudah untuk tidak diajak bicara.
Hoshimiya duduk di seberangku, membaca peta lantai satu sampai tiga yang sudah dia baca setidaknya empat kali sepanjang minggu ini.
Amamiya tidur dengan mulut terbuka. Tsukumo tidur di bahunya dan ngiler. Isuzu tidak tidur, tapi juga tidak bangun; dia berada di kondisi ketiga yang cuma dia yang bisa. Mochi menggelinding pelan ke arahku setiap kali kereta berbelok, sampai akhirnya menyerah dan tidur di kakiku.
Cuaca bagus. Jalannya mulus. Semua orang senang.
Dan aku duduk di kereta bagian belakang, di jalur yang menembus hutan, dengan dua puluh tiga orang di sekitarku.
Aku tidak tidur sedetik pun sepanjang perjalanan.
Tidak ada yang bertanya kenapa.
[Bersambung — Bab 8: Yang Tidak Ada di Peta]