Chapter Fifteen
Penjelasan Setengah
[POV: Kanzaki Rei]
Yang akhirnya membuatku bicara bukan desakan.
Kalau dia mendesak, aku punya latihan tiga tahun untuk menghadapinya. Aku punya kalimat cadangan, punya cara mengalihkan, punya wajah datar yang sudah teruji.
Yang tidak kupunya adalah cara menghadapi seseorang yang menepati janjinya.
Sebelas hari.
Sebelas hari dia datang pukul empat pagi, duduk di bangkunya, membaca. Sebelas malam dia membuka jari-jariku di meja tanpa bertanya kenapa jari-jari itu menutup. Sebelas kali dia mengambil jalan memutar lewat taman belakang tanpa menyebut alasannya.
Dan tidak satu pun pertanyaan.
Di hari kedua belas, aku menyerah.
“Namanya Genkai Kaijo.”
Aku mengucapkannya pukul empat lewat sepuluh pagi, di kelas kosong, sambil memandangi meja.
Dia tidak langsung menjawab. Aku mendengar bukunya ditutup.
“Pelepas Batas,” lanjutku. “Kurang lebih begitu artinya.”
“Aku dengar.”
“Kamu nggak nanya apa-apa.”
“Aku sudah janji.”
“Sekarang boleh.”
Dia menunggu sekitar tiga detik, seperti orang yang memastikan pintunya benar-benar dibuka sebelum masuk.
Lalu dia bertanya, dan pertanyaan pertamanya bukan apa itu atau dari mana.
“Radiusnya berapa?”
Kami menghabiskan sekitar dua jam pagi itu, dan aku baru sadar setelahnya betapa efisien dia menyusun pertanyaannya.
Tidak ada satu pun pertanyaan tentang perasaan. Tidak ada “bagaimana rasanya”, tidak ada “kamu nggak capek?”.
Semuanya angka.
“Radius normal dua puluh lima meter. Bisa dilebarkan, tapi biayanya naik cepat. Lima puluh meter selama enam menit bikin aku izin sakit dua hari.”
Dia menulis.
“Efeknya apa ke orang lain?”
“Membuka kunci.” Aku mencoba mencari cara menjelaskannya. “Tubuh manusia nggak pernah dipakai penuh. Ada pengaman. Otot nggak akan dipakai sampai robek, mana nggak dikuras sampai pingsan, kaki nggak akan menahan beban yang bikin sendinya rusak. Itu ada gunanya — kalau nggak ada pengaman itu, orang bakal menghancurkan dirinya sendiri waktu panik.”
“Dan kamu membukanya.”
“Bukan membuka paksa. Lebih seperti... menaikkan batasnya.” Aku mengangkat bahu. “Mereka tetap aman. Mereka cuma bisa pakai seratus persen dari yang memang mereka punya.”
“Berapa persen normalnya?”
“Lima puluh sampai tujuh puluh. Beda-beda tiap orang.”
Penanya berhenti.
“Jadi selama tiga tahun,” katanya pelan, “semua orang di akademi ini bergerak di seratus persen.”
“Iya.”
“Termasuk aku.”
“Iya.”
Dia meletakkan penanya.
Aku sudah menyiapkan diri untuk beberapa reaksi. Marah, mungkin. Merasa dicurangi. Merasa prestasinya bukan miliknya sendiri — itu reaksi yang paling kutakutkan, dan itu salah satu alasan aku diam selama ini.
Yang dia lakukan adalah duduk diam sekitar setengah menit.
Lalu dia berkata:
“Kalau begitu rekorku yang keempat itu bukan aku.”
“Itu tetap kamu.”
“Bukan.”
“Hoshimiya—”
“Aku tidak sedang mengeluh.” Dia menoleh. “Aku sedang menghitung ulang. Ada perbedaan.”
Yang menarik, dan yang membuatku merasa lebih buruk daripada kalau dia marah, adalah dia langsung menerima kenyataannya dan pindah ke masalah berikutnya.
“Kamu bilang tidak pernah dimatikan.”
“Iya.”
“Berarti biayanya berjalan terus. Dua puluh empat jam.”
“Iya.”
“Termasuk waktu tidur.”
“Iya.”
Dia menulis sesuatu, lalu berhenti.
“Kanzaki, kamu tidur berapa jam?”
“Cukup.”
“Berapa jam.”
“...Empat. Kadang tiga.”
“Sejak kapan?”
“Sejak hari kedua.”
Dia meletakkan pena lagi, dan kali ini agak keras.
“Seribu seratus hari,” katanya. “Kamu tidur tiga sampai empat jam selama seribu seratus hari.”
“Aku nggak butuh lebih.”
“Semua orang butuh lebih.”
“Aku bukan—” Aku berhenti.
Kalimat itu hampir keluar utuh, dan aku menahannya di sepertiga terakhir.
Aku bukan semua orang.
Bukan karena sombong. Kalau kamu mendengarnya dari luar mungkin kedengaran begitu, tapi maksudku bukan itu sama sekali, dan justru itu yang lebih buruk.
Dia menungguku menyelesaikan kalimat itu.
Aku tidak menyelesaikannya.
Dan dia tidak memaksa, tapi dia menulis sesuatu di bukunya, dan aku tidak bisa melihat apa.
Sekitar pukul enam, waktu langit sudah mulai terang di jendela, dia mengajukan pertanyaan terakhir.
“Skill ini tingkat apa?”
“Maksudnya?”
“Ge, Chū, Kōi, atau Kodai.” Dia menyebutkan empat tingkatan itu seperti orang membaca daftar belanja. “Genkai Kaijo tidak pakai rapalan, jadi seharusnya Ge. Tapi efeknya seluas dua puluh lima meter dan bekerja terus-menerus selama tiga tahun. Itu bukan tingkat Ge.”
Aku sudah tahu pertanyaan ini akan datang. Aku sudah menyiapkan jawabannya sejak dua jam sebelumnya.
“Kōi,” kataku. “Tapi bentuknya beda. Kelas ini nggak ikut aturan tingkat yang biasa.”
“Kenapa tidak pakai rapalan kalau Kōi?”
“Karena yang ini pasif.”
Dan di situ aku salah.
Aku menyadarinya setengah detik setelah mengucapkannya, dan aku tahu dia menyadarinya di detik yang sama, karena aku melihat matanya bergerak — gerakan kecil yang sama seperti waktu dia menunjuk baris di tabelnya di kantin.
Yang ini.
Bukan ini. Yang ini.
Kata sandang yang cuma dipakai kalau ada yang lain.
Ruangan sunyi cukup lama.
Aku duduk di sana dan menunggu, dan aku sadar tanganku sudah mulai berkeringat, dan aku sadar bahwa satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang adalah tidak bergerak.
Dia melihatku.
Aku melihat meja.
Sepuluh detik. Dua puluh.
Lalu aku mendengar bukunya ditutup.
“Radius dua puluh lima meter,” katanya, dengan nada yang sama seperti sebelumnya, seolah tidak terjadi apa-apa. “Tiga sampai empat jam tidur. Biaya berjalan terus. Ada tiga hal yang mau kuusulkan.”
Aku mengangkat kepala.
“Yang pertama, kalau kamu melebarkan radius lewat tiga puluh meter, kamu bilang padaku. Setelahnya boleh. Sebelumnya lebih baik.”
“...Kenapa?”
“Karena kalau kamu jatuh, aku ingin tahu itu karena apa, bukan menebak.”
Masuk akal. Aku mengangguk.
“Yang kedua, jari kanan tiap malam. Aku tidak menerima penolakan soal ini.”
“Itu bukan usul, itu—”
“Yang ketiga.” Dia melanjutkan seolah aku tidak bicara. “Kalau suatu hari kamu memutuskan untuk cerita sisanya, kamu tidak perlu menyiapkan apa-apa. Tidak perlu alasan, tidak perlu urutan yang rapi. Cukup bilang.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu.”
“Aku menduga.”
“Sejak kapan?”
“Sejak kamu bilang ‘yang ini’.” Dia memasukkan bukunya ke tas. “Sekitar sebelas menit lalu.”
“...Dan kamu nggak nanya.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Dia berdiri, mengangkat tasnya, dan berjalan ke pintu karena sebentar lagi pukul tujuh dan orang-orang akan mulai datang.
Di ambang pintu dia berhenti.
“Karena kamu baru saja bicara selama dua jam,” katanya, “dan itu kalimat terpanjang yang pernah kudengar darimu dalam tiga tahun. Aku tidak akan merusaknya dengan meminta lebih.”
Dia keluar.
Aku duduk sendirian di kelas 2-C sampai bel pertama.
Ada perasaan yang tidak bisa kuberi nama waktu itu, dan aku baru menemukan namanya beberapa bulan kemudian, waktu semuanya sudah jauh lebih rumit.
Rasanya seperti meletakkan sesuatu.
Bukan menurunkan seluruhnya. Cuma memindahkan sedikit beratnya ke tangan yang lain selama beberapa menit, cukup lama untuk merasakan bahwa lenganmu ternyata sakit.
Dan begitu kamu merasakannya, kamu tidak bisa lagi berpura-pura tidak.
Malamnya aku menulis di buku cokelat:
Hari ke-1.123. Radius stabil. Tidak ada gejala baru.
Sudah cerita satu. Dua masih.
Lalu aku berhenti, dan menambahkan satu baris lagi yang membuatku merasa bodoh sambil menulisnya:
Kenapa aku lega.
Tanpa tanda tanya.
Karena itu bukan pertanyaan. Aku sudah tahu jawabannya. Aku cuma belum siap menuliskannya utuh-utuh.
[Bersambung — Bab 16: Piala]