Chapter Twenty Eight
Dua Jam
[POV: Hoshimiya Shion]
Aku menyiapkan permintaan maaf itu selama empat hari.
Aku menulisnya. Betul-betul menulis, di buku catatan hitam, tiga versi.
Versi pertama panjangnya sebelas baris dan menjelaskan urutan berpikirku sejak Vellmoor. Aku membacanya ulang keesokan paginya dan menyadari bahwa sepuluh dari sebelas baris itu isinya pembelaan diri.
Versi kedua panjangnya empat baris. Lebih baik. Tapi masih ada kata “walaupun” di baris ketiga, dan aku sudah cukup mengenal diriku untuk tahu bahwa “walaupun” adalah tempat aku menyelundupkan argumen.
Versi ketiga panjangnya satu kalimat.
Aku tidak menarik isinya, tapi aku salah memakainya sebagai senjata, dan aku minta maaf.
Aku menghafalnya. Aku mengulangnya di kepala mungkin dua ratus kali selama hari keempat.
Aku tidak pernah mengucapkannya.
Hari keempat, malam, aku ke ruang latihan lantai dua.
Dia tidak datang ke ruangan itu sejak pertengkaran. Aku tetap datang setiap malam, duduk sendirian, dan pulang waktu lampunya mati. Empat malam berturut-turut.
Malam itu lampunya menyala waktu aku sampai.
Aku berdiri di ambang pintu dan mengatur napas, yang konyol, karena mengatur napas untuk satu kalimat yang sudah dihafal dua ratus kali seharusnya tidak perlu.
Lalu aku masuk.
Dia tidur di lantai.
Bukan berbaring. Dia duduk bersandar ke dinding, di posisi biasanya, dan kepalanya sudah jatuh ke samping sampai bahunya menopang, dengan sudut yang jelas akan membuat lehernya sakit besok pagi.
Tasnya masih di bahu. Dia bahkan belum sempat menurunkannya.
Aku berdiri di tengah ruangan cukup lama.
Lalu aku menutup pintu, pelan, dan duduk di lantai sekitar satu meter darinya.
Aku sudah tahu dia tidur tiga sampai empat jam sehari.
Aku sudah menghitungnya, aku sudah menuliskannya, aku sudah memarahinya soal itu di kelas kosong pukul empat pagi berminggu-minggu lalu.
Tapi aku belum pernah melihatnya tidur.
Malam waktu hujan itu tidak dihitung, karena aku membelakanginya dan yang kutahu cuma beratnya di bahuku.
Ini pertama kalinya aku melihatnya.
Dan yang paling mengganggu bukan wajahnya yang pucat, bukan bayangan hitam di bawah matanya, bukan tangan kanannya yang bahkan dalam tidur masih setengah menggenggam.
Yang paling mengganggu adalah dia tidak kelihatan tenang.
Orang yang tidur biasanya kelihatan lebih muda. Semua orang bilang begitu dan ternyata memang benar; aku pernah melihat Amamiya tidur di kereta dan dia kelihatan seperti anak kecil.
Kanzaki Rei tidak kelihatan lebih muda.
Dia kelihatan seperti orang yang sedang mengangkat sesuatu, dan kebetulan matanya tertutup.
Dia miring.
Pelan, beberapa sentimeter, ke arah kiri — ke arah tempat aku duduk. Sudut bersandarnya sudah salah sejak awal dan gravitasi akhirnya menang.
Aku punya sekitar satu detik untuk memutuskan.
Aku bisa menahan bahunya dan mendorongnya kembali ke dinding. Itu yang paling masuk akal, dan itu yang akan kulakukan kalau aku sedang jadi diriku yang biasa.
Aku bergeser.
Aku bergeser sekitar setengah meter dan duduk di posisi yang membuat kepalanya jatuh ke pahaku, bukan ke lantai kayu.
Dan begitu itu terjadi, aku sadar aku tidak bisa bergerak lagi sampai dia bangun.
Aku duduk di sana selama dua jam empat menit.
Aku menghitung, tentu saja. Aku selalu menghitung. Tapi kali ini aku tidak menghitung karena ingin tahu — aku menghitung karena kalau aku berhenti menghitung, aku harus memikirkan hal lain, dan hal lain itu adalah bahwa ada kepala seseorang di pahaku dan aku tidak ingin memberi nama pada apa yang sedang kurasakan.
Jadi aku menghitung.
Napasnya, di jam pertama: tidak teratur. Pola yang sama seperti di punggung. Tiga normal, satu tertahan, dua normal, satu tertahan.
Napasnya, di jam kedua: teratur.
Aku tidak tahu apa yang berubah di antara jam pertama dan jam kedua. Aku masih tidak tahu sampai sekarang.
Yang kuingat cuma bahwa di suatu titik di jam kedua, tangan kanannya — yang setengah menggenggam bahkan dalam tidur, yang jari-jarinya sudah tidak pernah lurus sejak Sarang Bawah — terbuka.
Tidak sepenuhnya. Tapi terbuka.
Dan aku duduk di lantai ruang latihan lantai dua, menatap tangan yang terbuka itu, dan menangis untuk kedua kalinya dalam tiga minggu, tanpa suara, sambil tidak bergerak sedikit pun supaya tidak membangunkannya.
Aku mengucapkan permintaan maafku sekitar menit keseratus.
Aku mengucapkannya keras-keras, dengan suara sangat pelan, di ruangan yang cuma ada dua orang dan salah satunya tidur.
“Aku tidak menarik isinya, tapi aku salah memakainya sebagai senjata, dan aku minta maaf.”
Satu kalimat. Yang sudah kuhafal dua ratus kali.
Ternyata mudah sekali kalau orangnya tidak mendengar.
Dan aku duduk di sana setelahnya dan merasa sangat, sangat kecil, karena aku baru saja membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku tidak lebih baik dari orang yang sedang tidur di pahaku.
Dia menyembunyikan harga yang dia bayar supaya tidak ada yang perlu menanggungnya.
Aku menyembunyikan permintaan maafku supaya tidak ada yang perlu mendengarnya.
Bentuknya beda. Mesinnya sama.
Dia bangun di menit keseratus dua puluh empat.
Bukan bangun kaget. Bangun pelan, dan itu sendiri sudah aneh untuk orang yang selalu waspada.
Dia diam sekitar tiga detik, dan aku bisa merasakan momen persis waktu dia sadar di mana kepalanya berada, karena seluruh tubuhnya menegang sekaligus.
Lalu dia bangun duduk dengan sangat cepat, dan langsung memegang belakang lehernya karena bangun secepat itu jelas bukan ide yang baik.
“—Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
“Aku ketiduran.”
“Aku tahu.”
“Berapa lama?”
Aku sudah menyiapkan jawabannya sejak menit kesepuluh.
Dan aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya, di ruangan yang sama, waktu hujan turun dan lampunya berkedip dua kali. Waktu itu aku bilang sepuluh menit padahal empat puluh.
“Dua jam empat menit,” kataku.
Dia menatapku.
“Kamu bilang jujur.”
“Ya.”
“Kenapa?”
Aku memikirkan sekitar empat jawaban dan tidak satu pun cukup pendek.
“Karena aku sudah cukup,” kataku akhirnya.
“Cukup apa?”
“Cukup jadi orang yang menyembunyikan hal-hal kecil supaya orang lain tidak perlu memikirkannya.”
Dia tidak menjawab selama beberapa saat.
Lalu dia menunduk, memandangi tangan kanannya, dan menggerakkan jari-jarinya.
Terbuka. Masih terbuka.
“Ini nggak pernah begini pas bangun,” katanya.
“Aku tahu. Aku lihat.”
“Sejak jam berapa?”
“Sekitar menit keseratus.”
Dia mengangguk pelan, seperti orang yang sedang mencatat angka.
Lalu dia berkata, tanpa mengangkat wajah:
“Aku nggak akan melepaskan penahannya.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak akan pernah membiarkan kamu terikat waktu aku pakai yang ketiga. Nggak sekarang, nggak nanti.”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak akan berhenti minta.”
“Tidak.”
“Oke,” katanya.
Dan itu saja.
Tidak ada yang minta maaf. Tidak ada yang menarik ucapannya. Kalimat satu baris yang kuhafal dua ratus kali tetap tidak pernah kuucapkan pada orang yang bangun.
Kami cuma duduk di lantai ruang latihan lantai dua sampai lampunya mati otomatis pukul sebelas, dan besok paginya dia datang ke kelas 2-C pukul empat kurang dua menit seperti biasa, dan aku sudah di sana pukul tiga lewat lima puluh seperti biasa, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebut apa pun.
Empat hari.
Aku menandainya di buku catatan sebagai selesai, dan aku tahu itu bukan kata yang tepat, dan aku memakainya juga.
[Bersambung — Bab 29: Yang Dihitung Amamiya]