← Chapters Ch. 23 / 50

Chapter Twenty Three

Vellmoor

[POV: Kanzaki Rei]

Reruntuhan Vellmoor dulunya kota.

Itu hal pertama yang membuatku tidak nyaman, dan aku tidak menyebutkannya pada siapa pun selama lima hari.

Dungeon itu bangunan yang dibuat untuk jadi dungeon. Sarang Bawah punya lorong yang lebarnya sama di mana-mana, ruang aman yang letaknya masuk akal, dan tangga yang jelas menuju ke bawah. Kamu masuk, kamu tahu kamu sedang di dalam sesuatu.

Vellmoor punya jalan.

Punya alun-alun. Punya sisa pagar rumah dengan engsel yang masih menempel. Punya sumur di tengah persimpangan yang batunya sudah aus di satu sisi karena ratusan tahun ditarik tali di posisi yang sama.

Tujuh puluh empat tahun lalu ada tiga puluh ribu orang tinggal di sini.

Sekarang ada retakan kecil di bekas gedung balai kota, dan tiga puluh anak SMA datang untuk latihan.


Perjalanannya dua hari. Rombongannya besar: tiga party dari kelas dua — party kami, party Kuroba, party Sakuraba — ditambah instruktur Kirisawa dan dua kesatria kerajaan.

Total tujuh belas orang.

Aku menghitungnya di kereta, seperti biasa, dan menyadari itu angka yang sama dengan Sarang Bawah, dan memutuskan untuk tidak menganggap itu pertanda apa-apa.

“Aturan,” kata Kirisawa di malam pertama, di depan api unggun di alun-alun. “Satu, tidak ada yang keluar dari alun-alun sendirian. Dua, retakan di balai kota tidak disentuh sampai hari ketiga. Tiga—” dia melihat ke arah Sakuraba, “—tidak ada yang memasak.”

“Itu diskriminatif.”

“Itu preventif.”


Dua hari pertama berjalan baik.

Kami memetakan sisi timur kota. Kami membunuh sekitar dua puluh makhluk kelas rendah — jenis yang keluar dari retakan dan berkeliaran, bukan yang datang langsung dari dalam. Kirisawa mencatat. Kesatria mengawasi.

Aku membawa tas. Aku memasang lentera. Aku mencatat.

Dan setiap kali ada pertempuran, aku mengikat satu benang.


Kami sudah menyepakati ini tiga hari sebelum berangkat.

“Satu benang,” kataku. “Cuma kamu.”

“Kenapa cuma aku?”

“Karena kamu satu-satunya yang bisa lihat.” Aku mengangkat bahu. “Kalau aku ikat orang lain, mereka akan merasa tubuhnya bergerak sendiri dan mereka akan panik dan mereka akan cerita. Kamu nggak akan panik karena kamu tahu apa yang kamu lihat.”

“Dan aku tidak akan cerita.”

“Itu juga.”

Jadi begitulah caranya berjalan.

Setiap kali ada pertempuran, aku berdiri di belakang dengan tas di bahu, dan satu benang keluar dari telunjuk kananku.

Dan Hoshimiya Shion menjadi sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun di akademi itu.


Hari kedua, dia menyelesaikan sembilan makhluk dalam sebelas detik.

Aku menghitung. Kirisawa juga menghitung — aku melihat tangannya bergerak di sisi tubuhnya.

Setelah selesai, Kuroba Jin berdiri di tempatnya dengan pedang yang belum sempat dia pakai, menatap punggung Hoshimiya cukup lama.

“Hoshimiya.”

“Ya.”

“Kamu latihan apa?”

“Bentuk dasar.”

“Bohong.”

“Aku latihan bentuk dasar,” ulangnya, dan itu sepenuhnya benar, dan itulah yang membuatnya sempurna.

Kuroba tidak percaya. Aku bisa melihat dia tidak percaya. Tapi tidak ada yang bisa dia tuduhkan, karena apa yang mau dituduhkan — bahwa seseorang bergerak terlalu bagus?

Dia berbalik dan pergi.

Dan malam itu, aku melihatnya berlatih sendirian di sisi lain alun-alun sampai lewat tengah malam.

Aku memperlebar radius sedikit ke arahnya. Cuma sedikit.

Bukan karena kasihan. Aku juga tidak tahu kenapa.


Malam kedua adalah malam yang bagus, dan aku ingin mencatatnya sebelum bagian berikutnya.

Api unggun di alun-alun, tujuh belas orang, langit yang tidak ada awannya sama sekali.

Sakuraba dilarang memasak, jadi dia menyusun teori tentang kenapa larangan itu tidak sah secara prosedural, sepanjang empat puluh menit, kepada siapa pun yang belum kabur.

Tsukumo menangis karena bintangnya bagus.

“Kamu nangis karena bintang.”

“BINTANGNYA MEMANG BAGUS.”

Isuzu tidur duduk. Mochi tidur telentang dengan keempat kakinya ke atas, yang menurut Isuzu berarti dia merasa sangat aman, dan yang menurutku berarti dia memang begitu di mana saja.

Amamiya membagi bekal ke tujuh belas orang. Aku sudah berhenti menghitung apakah itu masuk akal.

Dia duduk di sebelahku sebentar dan bilang, “Kanzaki, kamu makan dua ya. Yang satu buat besok.”

“Besok kan ada jatah.”

“Jatah itu roti keras.”

“Roti keras juga makanan.”

“Roti keras itu batu yang punya cita-cita.”

Hoshimiya, dari seberang api, berkata tanpa mengangkat wajah dari peta: “Sup juga air yang punya cita-cita.”

Amamiya menoleh cepat. “Kamu ingat?”

“Aku ingat semua yang kamu bilang.”

Amamiya kelihatan sangat senang selama sekitar dua detik, lalu kelihatan seperti orang yang baru sadar dia sedang senang, lalu kembali membagi bekal dengan wajah normal.

Aku memperhatikan itu dan tidak tahu harus menaruhnya di kolom mana.


Hari ketiga, kami ke balai kota.

Retakannya ada di ruang bawah, di bekas aula sidang. Robekan setinggi dua meter, warnanya seperti asap yang berdiri, sama seperti yang kulihat di Distrik Selatan.

Bedanya cuma satu.

Yang di Distrik Selatan lebarnya sekitar setengah meter.

Yang ini lebarnya sekitar dua meter, dan bernapas.

Aku memakai kata itu dengan sadar. Robekan itu mengembang dan mengempis, pelan, dengan irama yang teratur, sekitar sekali setiap empat detik.

“Ini nggak ada di laporan,” kata salah satu kesatria.

Kirisawa tidak menjawab selama beberapa saat.

“Laporan survei bulan lalu?”

“Iya, Pak. Tertulis kelas rendah, stabil, lebar nol koma enam meter.”

“Ini bukan nol koma enam meter.”

“Bukan, Pak.”

Kirisawa berdiri di sana cukup lama.

Lalu dia berkata, “Semua mundur ke alun-alun. Kita pulang besok pagi. Aku kirim burung malam ini.”

Dan itu keputusan yang benar.

Aku ingin mencatat itu dengan sangat jelas, karena banyak hal terjadi setelahnya dan sebagian orang menyalahkan Kirisawa Genya selama bertahun-tahun sesudahnya.

Keputusannya benar. Waktunya benar. Prosedurnya benar.

Yang salah cuma satu: retakan itu tidak menunggu sampai besok pagi.


Kami mundur dalam formasi. Tertib, tanpa panik, sesuai latihan.

Aku berjalan di posisi ketiga dari belakang, di antara party Sakuraba dan salah satu kesatria.

Kami sudah keluar dari balai kota. Kami sudah di jalan utama, sekitar tiga ratus meter dari alun-alun.

Dan aku, karena aku memang selalu melakukan ini, menoleh ke belakang untuk menghitung apakah semua orang masih ada.

Tujuh belas.

Lalu aku menoleh ke depan lagi.

Dan tiga detik kemudian, di belakang kami, ada suara yang tidak bisa kuceritakan dengan benar karena tidak ada benda di duniaku sendiri yang mengeluarkan suara seperti itu.

Yang paling mendekati: suara kain yang sangat besar dirobek, di dalam ruangan yang sangat sempit, sangat pelan.

Kirisawa berbalik lebih dulu dari siapa pun.

Aku melihat wajahnya.

Dan wajah itu — wajah mantan kesatria yang tangannya hilang di Retakan Besar keempat, yang sudah dua puluh tahun mengajar anak-anak SMA dan tidak pernah sekali pun kelihatan terganggu oleh apa pun — adalah hal paling menakutkan yang kulihat sepanjang hari itu.

“LARI,” katanya.


[Bersambung — Bab 24: Dua Menit]