← Chapters Ch. 44 / 50

Chapter Forty Four

Yang Kupilih Sendiri

[POV: Amamiya Koharu]

Tersisa dua puluh dua kotak waktu langitnya terbelah.

Aku sudah memutuskan menunya sampai kotak terakhir, sejak hari keenam. Aku menuliskannya — itu satu-satunya hal yang pernah kutulis seumur hidup — di selembar kertas yang kuselipkan di bawah talenan di dapur asrama putra.

Dua puluh dua menu.

Yang terakhir, kotak nomor dua puluh dua, seharusnya ayam bumbu manis dengan telur gulung dua lapis. Yang paling susah. Yang butuh waktu paling lama.

Aku memasaknya di malam sebelum pertempuran, pukul sebelas, di dapur yang sama, sendirian.

Bukan karena tahu apa-apa.

Cuma karena aku menghitung mundur, dan tiga hari lagi bukan angka yang bisa dipercaya untuk apa pun, dan aku tidak mau kehabisan waktu untuk yang paling susah.


Hoshimiya datang ke dapur pukul dua belas kurang.

Aku tidak kaget. Aku sudah menunggu dia sejak sore.

“Amamiya.”

“Hai. Duduk aja. Bentar lagi selesai.”

Dia tidak duduk. Dia berdiri di ambang pintu dapur dengan buku catatan hitamnya di tangan, seperti biasa, dengan wajah orang yang sudah menyusun urutan bicara dan tidak yakin urutannya benar.

Aku sudah kenal wajah itu.

Aku kenal wajah itu karena aku juga sering punya wajah itu, cuma tidak ada yang pernah memperhatikan wajahku.

“Kamu mau ngomong sesuatu,” kataku.

“Ya.”

“Aku duluan ya.”

Dia berkedip.

“...Baik.”


Aku menaruh spatula.

Aku mau mencatat ini dengan jujur: aku sudah menyiapkan ini selama sembilan hari, dan aku menyiapkannya bukan untuk membuat siapa pun merasa apa-apa. Aku menyiapkannya karena kalau aku tidak menyiapkan, aku akan berputar-putar dan akhirnya tidak mengucapkan apa-apa, seperti tiga tahun terakhir.

“Aku kalah,” kataku.

Hoshimiya tidak bergerak.

“Aku nggak lagi ngeluh, dan aku nggak lagi minta kamu ngapa-ngapain, dan tolong jangan bantah karena kalau kamu bantah nanti aku harus jelasin dari awal dan itu lama.”

“...Baik.”

“Aku udah tahu dari lama. Aku tahu persis kapan.” Aku mengaduk. “Malam di ruang kesehatan. Aku berdiri di celah pintu dan denger kamu bilang kamu nggak akan berhenti minta.”

Dia diam.

“Aku nggak pernah minta apa-apa, Hoshimiya. Tiga tahun. Sekali pun nggak.”


“Dan aku selalu mikir itu bentuk sayang yang paling bagus,” kataku. “Aku beneran mikir gitu. Aku bangga malah.”

Aku mengangkat wajan dari api.

“Aku mikir: dia udah cukup ditagih sama dunia. Semua orang butuh sesuatu dari dia, cuma nggak ada yang tahu. Jadi kalau aku satu-satunya orang yang nggak pernah minta apa-apa, aku jadi tempat dia bisa istirahat.”

“Itu tidak salah.”

“Iya. Itu nggak salah.” Aku menoleh. “Itu cuma bukan yang dia butuhin.”


Ini bagian yang paling lama kususun, sembilan hari, dan aku mengucapkannya pelan-pelan supaya tidak keliru.

“Kalau aku yang dapet dia,” kataku, “dia bakal aman. Beneran. Aku bakal pastiin dia makan, aku bakal pastiin dia tidur, aku bakal berdiri di depan dia sampai aku hancur, dan aku nggak akan pernah nanya apa-apa sampai dia siap.”

“Ya.”

“Dan dia nggak akan pernah siap.”

Hoshimiya tidak menjawab.

“Dia bakal umur tiga puluh, empat puluh, masih nulis di buku cokelat itu tiap malam, masih ngitung sendirian, masih mikir dia nol.” Aku mengangkat bahu. “Dan aku bakal ada di sebelahnya, tiap hari, bawain kotak. Sampai dia mati. Dan aku bakal ngerasa aku udah ngasih yang terbaik.”

Aku menaruh wajan itu di meja.

“Aku bakal nyembunyiin dia dari dunia sampai dia nggak ada,” kataku. “Dengan sopan. Sambil senyum. Sambil bawain makan.”


“Kamu nyeret dia keluar,” kataku.

“Aku juga menyakitinya.”

“Iya.”

“Aku mengucapkan sesuatu yang benar dan memakainya sebagai senjata.”

“Iya, aku tahu, dia cerita.” Aku mengambil kotak dan mulai menata isinya. “Terus dia tidur enam jam malemnya, buat pertama kali dalam tiga tahun. Aku ngitung jam berapa lampunya mati. Aku selalu ngitung.”

Aku menutup kotaknya.

“Kamu bikin dia sakit dan bikin dia idup,” kataku. “Aku bikin dia nyaman dan bikin dia awet.”

Aku mengikat kain pembungkusnya. Kuning, motif kelinci, sudah pudar.

“Kalau disuruh milih, aku juga bakal milih kamu.”


Aku ingin mencatat bahwa aku tidak menangis, dan aku ingin mencatat bahwa itu bukan karena aku kuat.

Aku sudah menangis dua kali di dapur ini. Sekali waktu sadar aku yang paling banyak melukainya. Sekali lagi entah kapan.

Kalau kamu menangis di tempat yang sama tiga kali, tempat itu berubah jadi tempat menangis, dan aku butuh dapur ini tetap jadi dapur.

Jadi aku tidak menangis.

Aku menata kotak nomor dua puluh dua dan menutupnya dan mengikatnya, dan tanganku sama sekali tidak gemetar, dan aku bangga soal itu sampai sekarang.


“Amamiya,” kata Hoshimiya. “Aku ingin mengatakan sesuatu dan aku tidak yakin bagaimana.”

“Jangan minta maaf ya.”

Dia berhenti.

“...Itu yang mau kukatakan.”

“Iya, kelihatan.” Aku tersenyum. “Jangan. Beneran. Kalau kamu minta maaf, artinya kamu ngambil sesuatu dari aku. Kamu nggak ngambil apa-apa. Aku nggak pernah punya.”

“Kamu—”

“Aku nggak pernah punya, Hoshimiya.” Aku menaruh kotak itu di meja. “Aku nunggu tiga tahun tanpa pernah ngomong sekali pun. Itu bukan kalah. Itu nggak pernah ikut.”

Aku mengangkat bahu.

“Aku baru ikut sekali. Enam hari lalu, di tangga. Sekali doang, dan itu pun aku langsung lari.”

“Amamiya—”

“Dan itu udah cukup, karena aku bikin sendiri.” Aku menepuk meja dua kali. “Aku nggak nunggu dikasih. Aku ambil sendiri. Baru sekali seumur hidup dan rasanya enak banget.”


Dia berdiri di ambang pintu dapur cukup lama.

Lalu dia berkata, “Aku tidak tahu harus menjawab apa.”

“Nggak usah dijawab.”

“Aku tidak pandai—”

“Aku tahu. Kanzaki juga cerita soal itu.” Aku tertawa sedikit. “Kalian berdua sama-sama nggak bisa ngomong. Kalian cocok banget, itu nyebelin.”

Dan Hoshimiya Shion — peringkat satu Akademi Astel, Sword Saint tier S, yang wajahnya tidak pernah menunjukkan apa pun — tertawa satu kali.

Pendek. Satu kali. Lewat hidung.

Aku belum pernah dengar sebelumnya dan aku tidak dengar lagi sesudahnya sampai bertahun-tahun kemudian.


“Aku minta satu hal,” kataku.

“Apa saja.”

“Jangan bilang ‘apa saja’ sebelum denger.”

“Apa?”

Aku mengambil kotak nomor dua puluh dua dari meja dan menyerahkannya padanya.

“Bawain ini besok. Habis semuanya selesai.”

Dia menerimanya dengan dua tangan.

“Kenapa aku?”

“Karena aku bakal di garis depan dan kamu bakal di deket dia,” kataku. “Itu doang. Nggak ada arti apa-apa.”

Itu bohong, dan kami berdua tahu itu bohong, dan dia tidak mengoreksinya.

“Dan satu lagi.”

“Ya.”

Dan di sinilah aku berhenti tersenyum, untuk pertama kalinya sepanjang percakapan itu.

“Kalau dia nggak bangun,” kataku, “aku yang bakal marah paling lama.”

Hoshimiya menatapku.

“Kamu bakal sedih paling dalem, aku tahu. Tsukumo bakal nangis paling keras. Kuroba bakal ngamuk paling berisik.” Aku menatap balik. “Tapi aku yang bakal marah paling lama. Sepuluh tahun. Dua puluh. Aku bakal masak dua kotak tiap pagi sampai aku tua dan aku bakal marah tiap kali kotak keduanya nggak ada yang ambil.”

Aku menarik napas.

“Jadi jangan biarin dia nggak bangun.”


Besok paginya aku berdiri di barisan depan alun-alun pusat, blok ketujuh, tinggi badan seratus lima puluh tiga sampai seratus lima puluh delapan sentimeter.

Aku mengucapkan kalimat itu bersama tiga ratus orang lain di blokku, serentak, karena mereka mengaturnya per blok supaya cepat.

Aku menyerahkan diriku. Sepenuhnya. Gerakkan aku.

Dan aku merasakan benang itu menempel di tulang dadaku, dan rasanya seperti ada yang meletakkan tangan di punggungku dari jarak dua ratus meter.


Ada satu hal yang kuputuskan malam itu dan tidak kuberitahukan pada siapa pun, dan itu keputusan paling susah yang pernah kuambil sebagai Guardian.

Aku memutuskan untuk tidak nekat.

Kedengarannya kecil. Kedengarannya seperti bukan keputusan sama sekali.

Selama tiga tahun, satu-satunya hal yang membuatku berguna adalah aku rela. Aku berdiri paling depan dan aku tidak mundur dan aku menahan lebih lama dari yang wajar, dan itu bukan keberanian, itu cuma satu-satunya bakat yang kupunya.

Dan setiap kali aku melakukannya, tagihannya masuk ke tubuh anak laki-laki yang berdiri di belakang sambil bawa tas.

Jadi pagi itu, di blok ketujuh, aku memutuskan untuk mundur kalau memang harus mundur.

Untuk pertama kalinya seumur hidup.

Bukan supaya aku selamat.

Supaya tagihannya lebih kecil.

Dan aku berdiri di barisan itu sambil menyadari bahwa itulah satu-satunya hadiah yang bisa kuberikan padanya, dan bahwa dia tidak akan pernah tahu, dan bahwa itu memang seharusnya begitu.


[Bersambung — Bab 45: Empat Ribu Seratus]