← Chapters Ch. 17 / 50

Chapter Seventeen

Berat

[POV: Hoshimiya Shion]

Dia yang mendatangiku.

Aku ingin mencatat itu lebih dulu, karena dalam tiga bulan terakhir ini belum pernah terjadi satu kali pun. Semua percakapan kami dimulai olehku. Semua. Aku sudah terbiasa dan sudah berhenti mengharapkan sebaliknya.

Empat hari setelah turnamen, pukul empat lewat sepuluh pagi, dia meletakkan bukunya dan berkata:

“Hoshimiya.”

“Ya.”

“Aku butuh sesuatu.”

Aku menutup bukuku.

Ada beberapa hal yang ingin kukatakan waktu itu dan semuanya tidak pantas, jadi yang keluar cuma:

“Apa.”


Penjelasannya buruk sekali.

Aku menuliskannya di sini semirip mungkin dengan aslinya, karena kalau kuperbaiki nanti tidak terasa betapa jelasnya dia sedang menghindari setengah dari informasinya.

“Ada hal kedua,” katanya. “Aku belum mau cerita apa.”

“Oke.”

“Tapi kalau suatu saat aku harus pakai, aku perlu tahu... berat seseorang.”

“Berat badan?”

“Bukan.” Dia berhenti, mencari kata, dan kelihatannya tidak menemukan kata yang dia mau. “Berat. Cara tubuh kamu memakai dirinya sendiri. Ke mana tumpuanmu jatuh waktu kamu berdiri diam. Seberapa cepat ototmu memutuskan sesuatu sebelum kamu memutuskannya.”

“Kamu tidak bisa melihat itu dari luar?”

“Bisa sedikit. Nggak cukup.”

“Berapa yang cukup?”

Dia diam agak lama.

“Kalau salah,” katanya, “orangnya bisa bergerak setengah langkah ke arah yang salah.”

Aku menulis di buku catatanku waktu itu. Aku ingat persis apa yang kutulis, karena aku menggarisbawahinya:

Setengah langkah.

Aku tidak tahu apa artinya waktu itu. Aku baru mengerti dua puluh dua bulan kemudian, dan waktu aku mengerti, aku ingat pernah menuliskannya dan tidak bertanya, dan aku duduk di kamarku memandangi baris itu cukup lama.


“Jadi caranya bagaimana?”

“Kontak punggung,” katanya. “Duduk membelakangi, punggung ketemu punggung. Diam. Sekitar sepuluh menit.”

“Kenapa punggung?”

“Karena punggung nggak bohong.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Tangan bisa dikontrol. Wajah bisa dikontrol. Punggung nggak. Kalau kamu duduk sepuluh menit, tubuhmu akan berhenti berpura-pura tanpa kamu suruh.”

“Berapa kali?”

“Nggak tahu. Beberapa kali sampai stabil. Mungkin seminggu.”

“Kalau aku menolak?”

“Ya sudah.”

Dua kata. Tanpa jeda, tanpa membujuk, tanpa satu pun usaha untuk meyakinkan.

Dan itulah yang membuatku sadar bahwa dia sudah menyiapkan diri untuk ditolak, dan bahwa dia mungkin memperkirakan penolakan sebagai hasil yang paling mungkin, dan bahwa dia tetap bertanya.

“Kapan mulai?” tanyaku.


Malam pertama berlangsung sangat buruk.

Kami memakai ruang latihan lantai dua yang tidak dipakai malam hari. Lantai kayu, satu lampu, jendela menghadap lapangan.

Kami duduk di lantai membelakangi, dan aku langsung sadar ada masalah teknis yang tidak dipikirkan siapa pun.

Tinggi badan kami beda sekitar sepuluh sentimeter.

Jadi kepala belakangku kena tengkuknya, dan punggungnya baru mulai di pertengahan punggungku, dan tidak satu pun dari kami tahu harus bagaimana selama sekitar dua menit pertama.

“Ini nggak pas.”

“Iya.”

“Kamu bisa agak turun?”

“Kalau aku turun, aku nggak bisa duduk tegak.”

“Aku yang naik?”

“Kamu mau duduk di apa?”

Kami akhirnya menyelesaikannya dengan cara yang paling tidak elegan: aku duduk bersila dan dia duduk dengan lutut ditekuk, dan itu membuat garis punggung kami akhirnya bertemu di tempat yang masuk akal.

Butuh empat menit untuk sampai ke posisi itu.

Sisanya, sepuluh menit, hening.


Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan sepuluh menit hening.

Ini kelemahanku, sudah kusebutkan sebelumnya. Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, aku tidak punya cadangan. Dan sekarang ada aturan resmi bahwa memang tidak boleh ada yang dibicarakan.

Jadi aku menghitung. Napasnya, karena itu yang paling mudah dihitung dari punggung.

Dan di situlah aku menemukan hal pertama.

Napasnya tidak teratur.

Bukan tersengal — dia tidak sedang kesulitan bernapas. Tapi jaraknya tidak konsisten. Ada jeda-jeda kecil yang tidak pada tempatnya, seperti orang yang setiap beberapa detik menahan sesuatu dan melepaskannya lagi.

Aku menghitung selama sepuluh menit dan mendapat pola yang sama berulang: tiga napas normal, satu tertahan, dua normal, satu tertahan.

Aku menuliskannya setelah selesai. Dia melihat aku menulis dan tidak bertanya apa.


Malam kedua lebih mudah karena posisinya sudah ketemu.

Malam ketiga aku menemukan hal kedua.

Punggungnya panas.

Bukan demam — aku memeriksa keningnya waktu dia lengah, dan dia menepis tanganku dan bilang dia tidak demam, dan memang tidak. Tapi punggungnya lebih hangat daripada yang wajar untuk orang yang duduk diam di ruangan dingin selama sepuluh menit.

Aku menulis itu juga.

Malam keempat aku menemukan hal ketiga, dan ini yang paling mengganggu.

Di menit kedelapan, tubuhnya turun.

Bukan jatuh. Turun — beberapa milimeter, sekali, seperti sesuatu yang selama ini ditahan dan akhirnya berhenti ditahan.

Aku hampir menoleh.

Aku tidak menoleh.

Aku duduk di sana dan menghitung sampai sepuluh menit, dan waktu selesai dia berdiri lebih cepat dari biasanya dan bilang “cukup untuk hari ini” dengan suara yang normal sekali.

Malam kelima, kejadian lagi. Menit kedelapan.

Malam keenam, menit ketujuh.

Malam ketujuh, menit keenam.


Malam kedelapan, aku bertanya.

“Kamu bilang seminggu.”

“Iya.”

“Sudah tujuh.”

“Iya.”

Aku menunggu.

“Belum stabil,” katanya.

Aku tahu itu bohong.

Aku tidak tahu banyak hal tentang kelasnya, dan aku tidak tahu apa itu “berat” dalam arti yang dia maksud, dan aku tidak akan tahu sampai berbulan-bulan kemudian.

Tapi aku tahu satu hal: pada malam kelima, aku sudah bisa memperkirakan dalam hati kapan napasnya akan tertahan, dan aku benar delapan dari sepuluh kali.

Kalau aku bisa mengenali pola punggungnya dalam lima malam, orang yang memang punya kelas untuk itu pasti selesai lebih cepat.

Jadi aku bilang, “Oke,” dan duduk membelakangi seperti biasa.

Dan aku tidak menyebutnya lagi.


Sekitar malam kesebelas atau kedua belas, kami berhenti membicarakan alasannya.

Bukan keputusan. Tidak ada yang mengumumkan apa pun. Cuma pada suatu malam aku datang ke ruang latihan lantai dua dan dia sudah di sana, duduk di posisi biasa, dan aku duduk di posisi biasa juga, dan tidak satu pun dari kami menyebut kata kalibrasi.

Sepuluh menitnya juga berhenti sepuluh menit.

Malam kelima belas jadi dua puluh menit. Aku tahu karena aku menghitung.

Malam kedua puluh, aku berhenti menghitung.

Aku mau menuliskan alasannya dengan jujur, karena buku ini gunanya untuk itu.

Aku berhenti menghitung karena aku sadar aku sedang menghitung mundur — bukan menghitung durasinya, tapi menghitung berapa lama lagi sebelum dia bilang cukup.

Dan begitu aku menyadari itu, aku menutup buku catatan hitam itu dan tidak menulis apa-apa tentang malam-malam itu selama beberapa minggu.


Ada satu malam, entah yang keberapa, waktu hujan turun keras di luar dan lampunya berkedip dua kali.

Kami duduk seperti biasa.

Dan di menit yang entah keberapa, aku merasakan berat di punggungku bertambah.

Kepalanya jatuh ke belakang, kena bahuku.

Aku diam.

Napasnya berubah — jaraknya jadi teratur untuk pertama kalinya sejak malam pertama, tiga napas, tiga napas, tiga napas, tanpa jeda yang tertahan.

Dia tertidur.

Aku duduk di sana, di ruang latihan lantai dua, dengan hujan di luar dan lampu yang berkedip, dan berat kepala seseorang di bahuku.

Aku tidak bergerak selama empat puluh menit.

Bukan karena romantis. Aku ingin sangat jelas soal ini, terutama pada diriku sendiri, karena aku sudah cukup lama menghindari kesimpulan yang paling sederhana.

Aku tidak bergerak karena dia tidur tiga sampai empat jam sehari selama seribu seratus hari, dan ini kali pertama aku melihatnya benar-benar tidur, dan aku tidak berniat jadi orang yang membangunkannya.

Itu alasan yang bagus. Itu alasan yang benar.

Itu juga bukan satu-satunya alasan, dan aku tahu itu.

Waktu dia bangun, dia langsung menegakkan punggung dan minta maaf tiga kali dalam sepuluh detik, yang mana adalah jumlah kata terbanyak yang pernah dia ucapkan berturut-turut tanpa dipancing.

“Nggak apa-apa,” kataku.

“Aku ketiduran.”

“Iya.”

“Berapa lama?”

Aku sudah menyiapkan jawabannya.

“Sepuluh menit.”

Dia mengangguk, kelihatan lega, dan mengambil tasnya.

Empat puluh menit.

Aku tidak pernah mengoreksinya sampai sekarang.


[Bersambung — Bab 18: Distrik Selatan]