← Chapters Ch. 11 / 50

Chapter Eleven

Berapa Lama

[POV: Kanzaki Rei]

Dia menungguku di kelas 2-C pukul empat pagi.

Aku tahu ada yang salah sebelum membuka pintu, karena lampu paling ujung — yang paling redup, yang selalu kunyalakan sendiri — sudah menyala.

Hoshimiya Shion duduk di bangkunya, seragam lengkap, dengan buku catatan hitam di depannya yang tidak dibuka.

Aku berdiri di ambang pintu memegang lap yang belum sempat kubasahi.

“Kamu bangun pagi,” kataku.

“Aku belum tidur.”

Aku masuk. Menutup pintu. Berpikir cepat, dan tidak menemukan apa-apa yang berguna.

“Kanzaki.” Dia tidak berbalik. “Duduk.”

Aku duduk di bangkuku sendiri, di sebelahnya.

Dan selama beberapa detik, tidak ada yang bicara.


“Aku sudah tahu,” katanya akhirnya.

“Tahu apa?”

“Jangan.”

Satu kata. Tidak keras. Dia bahkan tidak menoleh waktu mengucapkannya.

Aku menutup mulutku.

“Aku tidak akan tanya apa itu,” lanjutnya. “Kamu tidak akan jawab, dan aku akan buang waktu. Aku juga tidak akan tanya sejak kapan, karena aku sudah tahu jawabannya.”

“...Oke.”

“Tiga tahun. Tidak pernah dimatikan.”

Aku tidak menjawab.

Itu jawaban juga, tentu saja, dan dia tahu itu.

“Aku juga tidak akan tanya kenapa kamu sembunyikan.” Dia akhirnya menoleh. “Aku bisa tebak. Ada empat atau lima alasan yang masuk akal dan kamu pasti punya salah satunya, mungkin semuanya. Kalau aku tanya, kamu akan pilih yang paling rapi, dan kita berdua akan pura-pura itu selesai.”

Aku memandangi mejaku.

“Jadi kamu mau tanya apa?”

Dia diam sebentar.

Lalu dia bertanya, dan pertanyaannya bukan salah satu dari yang sudah kusiapkan selama tiga tahun.

“Berapa lama kamu bisa menolong mereka, dan memilih tidak?”


Ada beberapa jenis pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena terlalu sulit.

Ini bukan itu.

Ini jenis yang lain. Ini pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena jawabannya sudah ada, sudah lengkap, sudah tertulis rapi di suatu tempat, dan satu-satunya alasan kamu tidak mengucapkannya adalah karena begitu diucapkan, benda itu jadi ada di ruangan bersamamu.

Aku diam cukup lama sampai lampu ujung berdengung sekali.

“Kamu nggak paham,” kataku akhirnya.

“Kalau begitu jelaskan.”

“Kalau aku pakai—” Aku berhenti. Mulai lagi. “Kalau ada yang tahu, aku bukan jadi pahlawan. Aku jadi milik. Ada catatannya. Ada empat orang sebelum aku dan semuanya berakhir di—”

“Aku tahu.”

Aku menoleh.

“Aku juga bisa naik ke lantai empat, Kanzaki.” Suaranya tetap datar. “Penjaganya tidur jam delapan.”

“...Kamu baca?”

“Aku baca.”

“Semuanya?”

“Termasuk enam puluh halaman terakhir.”

Aku memandanginya, dan untuk pertama kalinya sejak dia pindah bangku, aku benar-benar tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.

“Kalau kamu sudah baca,” kataku pelan, “kamu harusnya paham kenapa aku diam.”

“Aku paham.”

“Terus kenapa—”

“Karena itu bukan alasannya.”


Dia membuka buku catatan hitamnya. Bukan ke halaman tabel. Ke halaman baru, yang cuma ada lima baris tulisan tangan di situ, dan dia memutarnya ke arahku seperti waktu di kantin.

Aku membaca sampai baris keempat dan berhenti.

Serabut di pangkal jari.

“Kamu sudah membayar,” katanya. “Setiap hari, selama tiga tahun, tanpa berhenti. Kamu tidak sedang menyembunyikan kekuatanmu supaya aman. Kalau kamu mau aman, kamu tinggal matikan. Sekali. Selesai. Tidak ada yang akan pernah tahu.”

“Nggak segampang itu.”

“Kamu sudah pernah coba.”

Aku menutup mulut.

“Berapa lama?” tanyanya.

“...Delapan detik.”

“Kenapa berhenti?”

Aku tidak menjawab.

Dia mengangguk sekali, seperti orang yang baru saja mengisi kolom terakhir di tabelnya.

“Jadi bukan soal aman,” katanya. “Kamu bayar penuh, terus-menerus, tanpa satu pun keuntungan. Kamu tidak menyembunyikannya supaya selamat. Kamu menyembunyikannya supaya tidak ada yang melihat.”

“Itu sama saja.”

“Itu sangat berbeda.”


Aku berdiri.

Aku tidak berencana berdiri. Kursinya berbunyi keras di ruangan kosong dan bunyinya membuat kami berdua terkejut.

“Kamu pikir aku nggak mau?” Suaraku keluar lebih keras dari yang kuinginkan, dan itu sendiri sudah membuatku panik, karena aku tidak pernah bersuara keras. “Kamu pikir aku duduk di pinggir lapangan tiga tahun karena aku senang?”

“Tidak.”

“Kamu pikir aku nggak menghitung?”

Dia diam.

Dan aku sudah terlanjur mengucapkan kata itu, jadi sisanya keluar sendiri.

“Retakan kecil di Distrik Selatan, dua tahun lalu. Sebelas orang. Aku ada di pasar, empat ratus meter dari situ.” Tanganku gemetar dan aku tidak repot-repot menyembunyikannya kali ini. “Longsor di Jalur Havren, tahun lalu. Empat. Kebakaran di gudang gerbang timur, sembilan bulan lalu. Tiga, dua di antaranya anak-anak. Aku ada di asrama. Delapan ratus meter.”

“Kanzaki—”

“Dua puluh enam.” Aku menarik napas dan suaranya jelek. “Dua puluh enam orang, dua tahun sepuluh bulan, dalam jarak yang bisa kujangkau kalau aku mau membayar cukup mahal. Aku tahu nama sembilan di antaranya karena beritanya ditempel di gerbang.”

Ruangan hening.

“Jadi jangan tanya berapa lama aku bisa memilih tidak,” kataku. “Aku sudah punya angkanya. Aku punya angkanya sejak lama. Aku menulisnya.”


Aku ingin bilang bahwa dia terkejut.

Dia tidak terkejut.

Yang terjadi jauh lebih buruk.

Dia melihat wajahku cukup lama, dan ekspresinya berubah — bukan jadi kasihan, bukan jadi kaget. Berubah jadi sesuatu yang lebih menyerupai orang yang baru saja membuka pintu dan menemukan ruangan yang jauh lebih besar dari yang dia kira.

Lalu dia berkata:

“Kamu menghitungnya sendirian.”

“...Apa?”

“Dua puluh enam.” Dia berdiri juga. “Kamu menghitung dua puluh enam orang, selama dua tahun sepuluh bulan, dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tahu kamu sedang menghitung.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu.

“Kanzaki, itu bukan alasan untuk diam.” Suaranya masih datar, dan justru karena masih datar makanya sakit. “Itu alasan untuk tidak diam.”

“Kamu nggak—”

“Kamu sudah menanggung akibatnya seolah-olah kamu memilih untuk menolong.” Dia menutup buku catatannya. “Kamu bayar harga dari dua-duanya. Kamu bayar harga karena memakai, dan kamu bayar harga karena tidak memakai. Kamu satu-satunya orang di dunia yang berhasil rugi dari dua sisi sekaligus, dan kamu sebut itu strategi.”


Aku seharusnya berhenti di situ.

Kalau aku berhenti di situ, mungkin kami cuma akan diam beberapa jam, lalu makan siang seperti biasa, dan semuanya baik-baik saja.

Tapi aku sudah lelah, dan aku belum tidur, dan aku baru saja mengucapkan angka yang tidak pernah kuucapkan pada siapa pun.

Jadi aku berkata:

“Kamu nggak berhak.”

Dia berhenti.

“Kamu baru tahu empat hari,” kataku. “Kamu baca satu buku, kamu bikin satu tabel, terus kamu berdiri di sini jam empat pagi dan bilang aku salah menghitung. Aku sudah menghitung sebelum kamu tahu namaku.”

“Aku tahu namamu sejak hari pertama.”

“Kamu nggak pernah menyapaku.”

Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menghentikannya.

Dan begitu keluar, aku tahu itu tidak adil, karena aku juga tidak pernah menyapa dia, dan karena itu bukan hal yang sedang kami bicarakan.

Wajahnya tidak berubah.

Tapi ada sesuatu yang berhenti di situ. Aku bisa merasakannya, seperti waktu suara di ruangan tiba-tiba berubah karena satu orang berhenti bernapas.

“Ya,” katanya. “Aku tidak pernah.”

Dia mengambil buku catatannya.

“Tiga tahun aku berdiri di ruangan yang sama denganmu dengan mata yang bisa melihat aliran mana,” katanya, “dan aku tidak pernah sekali pun memeriksa pojok belakang dekat jendela. Aku sudah tahu itu sejak seminggu lalu dan aku memikirkannya setiap malam.”

Dia berjalan ke pintu.

“Aku akan berhenti bertanya,” katanya, tanpa berbalik. “Kamu benar. Aku memang tidak berhak.”

Pintunya tertutup pelan. Bukan dibanting. Kalau dibanting mungkin lebih baik.


Aku berdiri sendirian di kelas 2-C pukul setengah lima pagi, memegang lap kering.

Setelah beberapa saat, aku membasahinya di keran koridor, memerasnya, dan berjalan ke baris ketiga dari belakang.

Aku mengelap meja itu dari kiri ke kanan, dua kali. Lalu sandarannya. Lalu kaki-kakinya.

Tanganku masih gemetar, jadi hasilnya jelek dan ada bagian yang harus kuulang.

Dan sepanjang itu, satu kalimat terus berputar di kepalaku — bukan yang dia ucapkan terakhir, bukan yang paling keras, tapi yang paling pelan:

Kamu bayar harga dari dua-duanya.

Aku sudah tahu itu.

Aku sudah tahu itu sejak lama, sejak jauh sebelum dia datang, sejak malam pertama aku menulis angka di buku cokelat.

Yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah ada orang lain yang mengucapkannya keras-keras.


[Bersambung — Bab 12: Tiga Hari]