← Chapters Ch. 21 / 50

Chapter Twenty One

Dua Arah

[POV: Hoshimiya Shion]

Yang kutulis di halaman kosong malam itu cuma satu baris.

Seratus dua puluh langkah. Aku tidak pernah menghitungnya.

Aku menutup bukunya dan tidak membukanya lagi selama sisa malam itu, dan aku juga tidak berniat membahasnya dengan siapa pun, termasuk dengan diriku sendiri.

Aku menghitung anak tangga. Aku menghitung sarapan. Aku menghitung berapa lama dia berdiri di lapangan sebelum ada yang menyadarinya.

Aku tidak pernah sekali pun menghitung koridor yang dia lewati dua kali sehari selama tiga tahun.

Amamiya Koharu menghitungnya, dan tidak menuliskannya di mana-mana, dan tidak memberitahu siapa pun sampai kemarin.

Aku tidak akan berpura-pura itu tidak mengganggu.


Latihan malam berjalan tujuh, delapan, sembilan malam.

Kami menaikkan durasinya pelan-pelan. Satu jam. Satu jam lima belas. Satu setengah jam.

Malam kedelapan, dia menggerakkanku melewati rangkaian delapan gerakan berturut-turut — bentuk latihan standar yang biasanya butuh dua koma empat detik untuk kuselesaikan.

Selesai dalam satu koma sembilan.

Malam kesembilan, dia mencoba sesuatu yang berbeda.

“Aku mau kamu bergerak duluan,” katanya. “Aku nggak akan menggerakkan. Aku cuma nempel.”

Hasilnya buruk. Aku bergerak, dia menyusul setengah detik terlambat, dan pedangku berhenti di tengah ayunan seperti orang yang lupa sesuatu. Kami mencobanya sebelas kali malam itu dan gagal sebelas kali.

“Bagus,” katanya setelah yang kesebelas.

“Kita gagal sebelas kali.”

“Iya, dan gagalnya selalu sama. Setengah detik, nggak pernah berubah.” Dia melihat tangannya. “Artinya ini bukan soal aku kurang latihan. Ini memang aturannya. Benang ini nggak bisa jadi kerja sama. Salah satu dari kita harus menyerah sepenuhnya, atau nggak jalan sama sekali.”

Aku memikirkan itu cukup lama setelahnya.

Aku masih memikirkannya sampai sekarang.


Yang ingin kutuliskan di bab ini sebenarnya bukan itu.

Yang ingin kutuliskan adalah malam kesepuluh.


Menit keenam puluh, aku merasakan sesuatu yang baru.

Awalnya kukira itu kelelahanku sendiri. Rasanya seperti berat di bahu — bukan sakit, cuma berat, seperti orang yang sudah lama membawa tas dan lupa bahwa tasnya masih ada di punggungnya.

Aku menurunkan pedang.

“Kenapa?”

“Sebentar.”

Berat itu tidak hilang waktu aku berhenti bergerak. Itu poin pertamanya.

Poin kedua: berat itu tidak ada di ototku. Aku sudah cukup lama berlatih pedang untuk tahu persis di mana ototku sendiri lelah, dan ini bukan di sana.

Ini di tempat yang tidak punya nama.

“Kanzaki. Benang ini dua arah?”

Dia diam terlalu lama.

“...Sedikit,” katanya akhirnya.

“Sedikit berapa?”

“Kamu bisa merasakan sebagian kondisiku. Samar.” Dia menurunkan tangannya dan benangnya larut. “Aku harusnya bilang dari awal. Maaf.”


Aku memintanya mengikatku lagi. Sepuluh menit, tanpa bergerak, cuma untuk merasakan.

Dia menolak dua kali dan menyerah di ketiga kalinya. Aku sudah mulai belajar berapa kali harus mengulang.

Aku sudah membayangkan bahwa yang akan kurasakan adalah kekuatan. Itu asumsi bodoh dan aku tahu itu bodoh bahkan sebelum sepuluh menitnya dimulai, tapi aku tetap membayangkannya. Kelas yang bisa menaikkan orang ke seratus lima puluh persen. Tier di luar skala. Sesuatu yang besar.

Yang kurasakan bukan itu.

Yang kurasakan adalah beban.

Bukan beban yang berat sekali. Itu bagian yang paling sulit kujelaskan. Beratnya sedang. Kalau kamu mengangkatnya sekali, kamu akan bilang ini tidak apa-apa.

Masalahnya, beban itu tidak punya ujung.

Tidak ada tanda bahwa sebentar lagi selesai. Tidak ada perubahan irama. Tidak ada momen di mana beban itu naik lalu turun. Beban itu cuma ada, rata, terus-menerus, seperti suara mesin yang sudah menyala begitu lama sampai kamu berhenti mendengarnya.

Enam ratus detik.

Dan di detik keempat ratus sekian, aku menyadari sesuatu yang membuatku harus mengatur napas.

Beban itu tidak berubah sedikit pun sejak detik pertama.

Yang berarti beban itu juga tidak berubah kemarin. Atau minggu lalu. Atau tiga tahun lalu.

Enam ratus detik hampir membuatku ingin berbaring.

Dia sudah menjalani sembilan puluh lima juta detik.

Aku menghitung angka itu dua kali karena aku tidak percaya yang pertama.


Tapi ada yang salah, dan aku baru menyadarinya keesokan harinya, waktu pelajaran teori, sambil memandangi papan tulis tanpa mendengar satu kata pun.

Bebannya terlalu rata.

Itu masalahnya. Aku terus mengulang kata rata di kepalaku selama dua belas jam sebelum akhirnya sadar bahwa kata itu sendiri adalah kejanggalannya.

Tidak ada apa pun di tubuh manusia yang rata.

Denyut naik turun. Napas berubah. Rasa sakit datang bergelombang. Bahkan orang yang tidur pun tidak rata — ada saat dia bermimpi, ada saat dia hampir bangun.

Yang kurasakan malam itu tidak punya satu pun gelombang. Tidak ada satu lonjakan pun dalam enam ratus detik.

Sesuatu yang rata sempurna bukan benda alami.

Sesuatu yang rata sempurna berarti ada yang meratakannya.


Malam kesebelas aku tidak bertanya. Aku menunggu.

Malam kedua belas juga.

Malam ketiga belas, kami latihan sampai dua jam sepuluh menit — yang terlama sejauh ini — karena dia bersikeras mengejar presisi sebelum Vellmoor.

Aku terikat selama dua jam sepuluh menit.

Dan di sekitar menit keseratus, benangnya berubah.


Cuma satu detik.

Aku ingin menuliskan bagian ini dengan hati-hati karena aku sudah mencoba tiga kali dan hasilnya selalu terdengar berlebihan, padahal justru sebaliknya.

Yang terjadi bukan rasa sakit menghantam.

Yang terjadi adalah beban ratanya hilang, dan yang muncul di belakangnya adalah bentuk aslinya.

Dan bentuk aslinya bukan berat. Bentuk aslinya adalah sesuatu yang tidak berhenti menarik.

Bayangkan berdiri di air setinggi dada, dengan arus yang menarikmu ke satu arah, terus-menerus, tanpa jeda, tanpa satu detik pun kamu boleh berhenti melawan. Bukan arus yang kuat. Arus yang tidak berhenti. Dan kamu sudah berdiri di situ sejak lama sekali sampai kamu lupa bahwa dulu pernah ada tanah kering.

Ditambah sesuatu di belakang mata yang menekan.

Ditambah sepuluh jari yang semuanya, semuanya, ingin menutup.

Satu detik.

Aku jatuh berlutut di lantai kayu ruang latihan lantai dua dan pedang latihanku terlempar entah ke mana, dan aku tidak bisa menarik napas, dan aku tidak tahu apakah aku bersuara atau tidak.

Benangnya putus sebelum detik kedua.


Yang kuingat berikutnya adalah dia berlutut di depanku dengan wajah yang belum pernah kulihat sekali pun dalam tiga tahun.

Bukan panik. Lebih buruk dari panik.

Wajah orang yang menjatuhkan sesuatu yang tidak boleh dijatuhkan.

“Maaf. Maaf. Hoshimiya, aku—”

“Sebentar.”

“Aku kelepasan. Aku nggak—”

“Kanzaki, sebentar.”

Aku butuh mungkin dua menit sebelum bisa duduk dengan benar, dan sepanjang dua menit itu dia terus mengulang hal yang sama, dan aku baru sadar setelahnya bahwa itu jumlah kata terbanyak yang pernah dia ucapkan berturut-turut sepanjang aku mengenalnya.

Aku duduk bersandar ke dinding.

Dan aku bertanya.

“Berapa persen yang barusan?”

Dia tidak menjawab.

“Kanzaki.”

“Aku nggak tahu.”

“Perkiraan.”

“Hoshimiya—”

“Perkiraan.”

Dia melihat lantai cukup lama.

“...Kurang dari separuh,” katanya.


Aku duduk di sana dan mengerjakan hitungannya di kepalaku, dan hitungannya sangat sederhana, dan justru karena sangat sederhana makanya tidak bisa dihindari.

Satu detik, pada kurang dari separuh, membuatku jatuh berlutut dan tidak bisa bernapas.

“Yang sepuluh menit itu,” kataku. “Yang malam kesepuluh.”

“Iya.”

“Itu bukan sepersepuluh dari yang ini.”

“Bukan.”

“Itu apa?”

Dia masih melihat lantai.

“Itu yang sudah kutahan,” katanya.


Aku ingin mencatat bahwa aku menerima informasi itu dengan tenang.

Aku tidak menerimanya dengan tenang.

“Kamu menahannya.”

“Iya.”

“Sejak kapan.”

“Sejak malam pertama.”

“Setiap malam?”

“Iya.”

“Termasuk yang sepuluh menit itu? Waktu aku minta merasakannya?”

“...Iya.”

Aku menutup mata.

“Kanzaki, aku minta merasakannya.”

“Aku tahu.”

“Aku minta secara khusus. Aku bilang aku mau tahu.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa kamu—”

“Karena kamu nggak akan sanggup,” katanya, dan untuk pertama kalinya suaranya naik sedikit. “Karena kamu barusan lihat sendiri apa yang terjadi kalau aku lengah satu detik. Satu detik, Hoshimiya. Kamu berlutut.”

“Ya. Dan kamu berdiri.”

Dia menutup mulut.

“Kamu berdiri,” ulangku. “Kamu berdiri di situ selama seratus menit dan kamu masih sanggup menahan benangnya sampai menit keseratus, dan waktu akhirnya lepas kamu langsung menyambungnya lagi dalam satu detik. Kamu berdiri, Kanzaki. Kamu berdiri setiap detik selama tiga tahun.”


Ada hal lain yang harus kutanyakan dan aku sudah tahu jawabannya sebelum bertanya, dan aku tetap bertanya karena aku perlu mendengarnya diucapkan.

“Menahannya ada harganya?”

Dia tidak menjawab.

“Kanzaki.”

“Nggak besar.”

“Ada atau tidak.”

“...Ada.”

Aku membuka mataku.

“Berapa?”

“Nggak usah dihitung.”

“BERAPA.”

Dan itu pertama kalinya aku meninggikan suara pada siapa pun sejak umur sebelas tahun.

Ruangan hening cukup lama setelah itu. Lampu satu-satunya di atas kami berdengung.

“Sekitar dua puluh persen di atas biaya normal,” katanya akhirnya. “Kadang lebih, tergantung berapa lama.”

Dua puluh persen.

Aku duduk di lantai dan menyusun ulang tiga belas malam terakhir di kepalaku dengan angka itu terpasang di setiap malamnya.

Malam pertama, satu benang empat puluh menit, kejang tingkat empat.

Aku selalu mengira tingkat empat itu harga dari empat puluh menit.

Bukan. Tingkat empat itu harga dari empat puluh menit ditambah dua puluh persen supaya aku tidak merasakan apa-apa.

Tiga belas malam. Tiga belas kali dua puluh persen. Semuanya dibayar oleh orang yang jarinya sudah tidak bisa lurus sejak Sarang Bawah.

Supaya aku tidak perlu tahu.


Aku menangis malam itu.

Aku tidak berniat menuliskannya. Aku sudah menghapus paragraf ini dua kali. Tapi buku ini gunanya untuk mencatat yang benar, dan kalau aku menghapusnya berarti aku sedang melakukan hal yang persis sama dengan yang baru saja kumarahi.

Jadi: aku menangis.

Tidak keras. Aku bahkan tidak tahu kapan mulainya. Aku sedang duduk bersandar di dinding, mengerjakan hitungan dua puluh persen itu, dan tiba-tiba pipiku basah dan napasku pendek dan aku tidak bisa menghentikannya.

Aku memalingkan wajah supaya dia tidak melihat.

Dia melihat.

Dan yang dia lakukan — dan ini bagian yang paling membuatku marah waktu mengingatnya, dan paling membuatku ingin menangis lagi waktu menuliskannya — adalah dia menggeser posisi duduknya.

Bukan mendekat.

Dia bergeser supaya menghadap ke arah lain, ke jendela, membelakangi aku.

Supaya aku bisa menangis tanpa ada yang melihat.

Dia bahkan tidak tahu harus memberi apa selain itu. Itu satu-satunya yang dia punya. Dia sudah tiga tahun tidak menerima apa pun dari siapa pun, jadi dia tidak punya persediaan; yang bisa dia berikan cuma memalingkan wajah.

Kami duduk begitu, saling membelakangi di lantai ruang latihan lantai dua, tanpa bicara, sampai lampunya mati otomatis pukul sebelas.

Sama seperti dua puluh malam sebelumnya.

Cuma kali ini aku tahu apa yang sedang ada di punggung yang menempel di punggungku.


Aku menulis di buku catatan hitam malam itu, di kamar, dengan tangan yang masih tidak stabil.

Beban rata = beban yang sudah ditahan. Bukan aslinya.

Aslinya: menarik. Terus-menerus. Tidak ada tanah kering.

1 detik, kurang dari separuh → aku berlutut, tidak bisa bernapas.

Dia: 95.000.000 detik, penuh, sambil berdiri.

Menahannya untukku = +20% biaya. Tiga belas malam. Setiap malam.

Lalu aku berhenti menulis cukup lama.

Lalu:

Dia bilang tidak ada caranya membagi beban.

Dia juga bilang biayanya tidak akan turun, dan biayanya turun.

Dia juga bilang benang ini “sedikit” dua arah.

Aku menggarisbawahi baris terakhir tiga kali.

Lalu di paling bawah halaman, dengan huruf yang lebih besar dari semua yang lain, aku menulis:

Cari caranya.

Dan jangan tanya dia lagi, karena dia akan bohong lagi — bukan untuk melindungi rahasianya.

Untuk melindungi aku.


[Bersambung — Bab 22: Jalan Memutar]